Jumat, 08 April 2011

Teguran Allah


 Baru saja ditelpon my old sister.... walau jarak cuma 2 tahun, naluri ke-kakak-an-nya kayaknya mulai muncul lagi. Bla, bla, bla.... nasihat dan masukan meluncur dari speaker hp... 
jadi terinspirasi memposting esai yang 2 tahun lalu kutulis...

Teguran Allah

Beberapa tahun lalu, suatu hari saya pernah berada pada titik perasaan yang menyimpulkan bahwa tidak ada teman yang benar-benar mengerti apa yang saya pikirkan, apa yang saya inginkan. Tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti perasaan saya, terutama perasaan yang saya pendam di dalam hati. Tidak ada teman yang selalu ada ketika saya perlukan, menjadi teman bercerita ketika saya dilumpuhkan kekecewaan atau ketika  kegembiraan membakar semangat saya.
                Tapi untunglah, saat mendongak ke atas, ke langit, kesadaran itu muncul. Bukankah  ada Allah! Dia selalu tahu apa yang saya pikirkan. Dia selalu mengerti apa yang saya rasakan. Dia Mahapengasih, memberi apa yang memang terbaik yang saya inginkan. Dia yang Mahamenyayangi , selalu ada pada saat saya kecewa, terluka, atau bahagia. Dia yang Mahaperkasa, yang akan melindungi dari setiap marabahaya.
                Ya!  Allah akan selalu ada. Dengan ke-Mahakuasaan-Nya, Dia selalu melihat dan mendengar apa yang saya lakukan dengan pikiran, lisan, dan semua aktivitas  yang saya lakukan. Dengan tak disangka-sangka, apa yang saya inginkan, baru terlintas di benak dan belum saya utarakan berulangkali  Dia wujudkan. Begitu pula, kadang kesalahan dan kesombongan yang saya lakukan,  langsung dibalas, ditegur oleh-Nya tidak berapa lama setelah saya melakukannya.
                Awal Ramadhan lalu saat membonceng sepupu saya yang akan mengajar di kampus, saya berkata padanya bahwa dalam beraktifitas anggota tubuh sebelah kananlah yang banyak memegang peranan. Saya katakan bahwa mengendalikan sepeda motorpun saya cukup menggunakan sebelah tangan kanan saya saja. Dalam mengingat dan mengenali jalanpun, arah kananlah yang menjadi perhatian mata kanan saya.  Walau sekilas, saya sadar dari pernyataan saya itu tersirat perasaan yang mengabaikan, meremehkan arti penting  anggota tubuh sebelah kiri saya. Pada saat itu saya juga sedang menghadapi hal penting, hal yang akan membawa saya menghadapi ‘tantangan’ masa depan yang saya berusaha meyakinkan diri akan mampu, sabar menghadapinya.
                Kira-kira seminggu kemudian,  Allah langsung membalas ucapan saya yang meremehkan bagian kiri tubuh dan memberi gambaran tingkat kesabaran, kesanggupan  yang saya miliki.  Tanggal 4 September ketika pulang kampong untuk berlebaran di rumah, kakak perempuan saya yang tinggal di Palembang mengantar saya ke rumah orang tua kami yang berada di kabupaten Banyuasin, di tepi sungai Musi. Saat melintasi jalan Trans Sumatera, tangannya tak henti-hentinya memukul pundak saya setiap kali saya berancang-ancang menyalib mobil atau bis di depan kami. Dia mengomeli saya, tetapi saat itu saya memintanya diam dan mengatakan saya telah memperhitungkan kecepatan kami.  Walau, jujur saja pada saat itu saya tegang bukan main. Pengemudi di jalanan antar kota di Kalsel, tidak ada apa-apa bila di bandingkan kenekatan pengemudi yang berseliweran di jalan yang menghubungkan kota-kota di Pulau sumatera itu.
                Alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan hamper 2  jam,  perjalanan kami berjalan lancar. Sampai kami berjarak kira-kira 300 M dari rumah, saya berhenti. Sebuah selang yang cukup besar , kira-kira berdiameter  10 cm melintang di jalan, ada yang sedang mengeringkan kolam ikan dan membuang airnya ke sungai Musi. Saya meminta kakak saya turun dari sepeda motor, karena merasa tidak yakin bisa melewati selang itu tanpa terjatuh. Pengalaman jatuh  dari sepeda motor saat menyusuri  pasir pantai Batakan, memberikan saya pelajaran  bahwa benda yang lembut justru tidak stabil dan lebih sulit di lewati.
                Namun,  anehnya kakak saya tidak bersedia  turun dan menyuruh saya tetap melanjutkan perjalanan. Dia mengatakan tidak akan terjadi apa-apa, saya hanya dimintanya menggeser  agak ke kanan supaya tidak melalui jalan becek di depan kami. Karena barang-barang yang kami bawa cukup banyak, saya merasa kesulitan menggeser arah sepeda motor. Saya putuskan mencoba melewati selang besar itu tanpa menggeser arahnya.
                Roda ban depan sepeda motor dapat melewati selang itu dengan baik. Namun, saat roda belakang sepeda motor menggilas selang itu, roda depan sepeda motor tidak bisa saya kendalikan. Kami terbanting ke sebelah kiri.  Kakak saya dapat segera berdiri dan tidak mengalami cedera. Namun, tidak demikian dengan saya. Kaki kanan saya melepuh karena menempel pada kenalpot sedangkan lutut kiri saya nyeri setelah membentur bagian jalan yang keras. Perjanan 300 M berikutnya, dilanjutkan oleh kakak saya. Di belakangnya, saya hanya bisa duduk menahan sakit.
                Walaupun mengalami luka bakar, kaki kanan  dapat saya gunakan untuk berdiri menopang tubuh. Akan tetapi, tidak  dengan kaki kiri. Saat terbanting, lutut kiri saya membentur bagian jalan yang keras, beban sepeda motor yang menimpa kaki kiri juga cukup berat. Kalau tidak retak, ada bagian tulang lutut saya yang bergeser.  Kaki kiri saya sakit dan ngilu sehingga walau bisa menyangga tubuh, tetapi hanya bisa bertahan beberapa menit.
Saat itu saya mendapati kenyataan bahwa ternyata saya tidak bisa berjalan atau berdiri dengan baik tanpa kestabilan kaki kiri. Saya baru menyadari walau dominasi kaki kanan begitu terasa, saya tetap tak bisa berjalan bahkan sekedar berdiri  tanpa kstabilan kaki kiri.
                Dua minggu berikutnya, luka bakar di kaki kanan saya sempurna mengering. Minyak but-but dengan cepat mengeringkan luka sedangkan minyak zaitun yang saya oleskan setelah minyak but-but mengering dengan cepat memulihkan jaringan kulit yang melepuh. Sedangkan kaki kiri walaupun tidak begitu terasa sakit, masih saja terasa nyeri bila saya gunakan sebagai tumpuan. Saya masih terpincang-pincang .
                Ibu dan kakak perempuan saya bergantian membujuk agar saya mau berobat ke tukang urut khusus tulang. Kakak saya bersedia mengantar saya atau menjemput tukang urut itu. Tak lupa mereka menakut-nakuti saya dengan mengatakan bahwa saya akan pincang seumur hidup bila tulang di lutut saya tidak diurut. Sebenarnya, waktu itu saya juga cemas. Saya ngeri membayangkan akankah bisa melewati medan mengajar ke Rantau Bujur dengan kondisi kaki yang seperti itu. Namun, membayangkan rasa sakit akibat tulang-tulang yang digeser membuat saya tetap tidak bersedia di obati oleh tukang urut khusus tulang itu.
                Beberapa hari sebelum Lebaran Idul Fitri 1330 H, saya mengambil keputusan penting. Saya memutuskan untuk mundur dari ‘rencana masa depan’ yang sebelumnya saya yakini akan bisa menghadapinya.  Sambil membujuk hati untuk ikhlas dan berdamai dengan kesedihan, saya berusaha pasrah dengan kondisi kaki kiri yang pincang.
                Satu hari setelah mengambil keputusan itu, saat akan menyibukkan diri dengan dua orang keponakan  di kebun belakang rumah, memetik kacang hijau untuk berbuka puasa terjadilah kejadian itu. Seekor sapi yang sedang diikat direrumputan di belakang rumah menatap  kea rah saya tajam.  Serta merta sapi itu merunduk dan berlari kea rah saya. Saya dan dua keponakan di belakang terkejut  dan lari pontang-panting. Saya meloncat dan melupakan sentakan  rasa sakit di bagian lutut kaki kiri saya.        Setelah kehabisan napas saya berhenti dan menoleh kebelakang. Sapi itu saya lihat kembali merumput, seperti tidak terjadi apa-apa. Sementara keponakan perempuan saya menangis ketakutan. Tiba-tiba saya baru menyadari sesuatu, ada yang berubah dengan kondisi kaki kiri saya. Saya bisa berjalan tanpa terpincang-pincang lagi. Sentakan di lutut pada saat melompat dan lari dikejar sapi membuat kaki kiri saya normal kembali.
Empat pelajaran saya dapatkan dari peristiwa kecelakaan itu,
1.       Saya telah sombong dengan meremehkan peran anggota tubuh sebelah kiri. Walau bagaimana kuat dan sempurnanya bagian tubuh sebelah kanan, bagian kiri ada penstabil, penyeimbang.
2.       Allah memberi tahu kesanggupan dan tingkat kesabaran, ketabahan yang saya miliki. 
3.       Bila saatnya tiba, entah dengan cara seperti apa, yang telah digariskan-Nya pasti terjadi. Buktinya, walau tapa diurut, melalui sapi ‘gila’ itu kaki saya sembuh!
4.       Kalau memang berjodoh pasti bertemu dan sebaliknya :D.

Selasa, 05 April 2011

Teman

Baru saja menemukan teman baru yang perasaannya nyambung dan pas.
Sudah lama sekali tidak menemukan teman baru seperti dia.
Cukup satu hari untuk menemukan kecocokan, saling mengerti, dan bepercaya membagi cerita.

kubuka dengan satu pertanyaan sambil melirik cincin di jari manisnya, "Mengapa sosok sesupel, ceria, ramah, dan modis seperti kamu belum menikah?"

Dia menjawab dengan sebuah cerita. Cerita yang cukup panjang....
Dan aku menyimaknya....

Mereka sebelumnya telah saling mengenal....
Kemudian, tahun 2003 dia menerima pengakuan dan ajakan untuk menikah.
Tahun 2005 mereka mereka merayakan pertunangan dan bersepakat menikah setelah dia lulus kuliah.
Tahun 2006 dia meraih gelar sarjana dan diberi pilihan. Mereka menikah atau dia ingin menikmati dulu dunia kerja. Dan dia memilih pilihan kedua.
Tahun 2008 mereka mempersiapkan pernikahan dan memutuskan Desember bulan pernikahan.
Semua telah disiapkan.
Tiba-tiba, dibulan-bulan ketika hujan berderai.... kanker usus diketahui menyerang.
Sebulan sebelum pesta pernikahan, setelah operasi kedua yang gagal dilewati, hari demi hari, di depan matanya, calon mempelainya perlahan pergi untuk selama-lamanya.
2009 berlalu, kesadaran mengabur, seperti bayangan yang kabur...
Dia mengakhiri cerita memperlihatkan foto di blackberrynya dan cicin yang masih melekat di jari manisnya.

Hari-hari yang singkat....
Menjadi fotografer dadakan dan dia sebagai modelnya, berlarian menyebrangi jalan, menghabiskan mie ayam Subur sambil melewati pinggir jalan 'mengerikan', datang di aula kegiatan  dan cafetaria paling duluan,  melewatkan hari penghabisan di gramedia, matahari, dan texas, setelah sebelumnya merasakan angin disepanjang perjalanan ke Bjm...
Semoga Allah mengilhamkan, membuka pintu hidayah, sehingga kita bisa menjadi Saudara..... Amiin.. 
(kenang-kenangan dengan teman sekamar, Bintek Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Tingkat SMP se-Provinsi Kalimantan Selatan di BPKB-FKPI Bjb, 1-6 April 2011: Yovanka)

Senin, 28 Maret 2011

Keindahan Bunga

Ada jenis bunga yang keindahannya muncul ketika bunga tersebut berada di antara kerumunan bunga lainnya.
Namun, ada juga bunga yang justru akan tampak indah ketika bunga tersebut terpisah dari yang lain. Indah dalam kesendiriannya. (kata-kata yang beberapa waktu lalu terlontar ketika membicarakan tentang bunga dengan seorang teman)

Senin, 21 Maret 2011

momentum

Momentum

mungkin
waktunya telah tiba
mungkin
segala yang membias kan pelangi
menjanjikan bayang2 indah tapi tak nyata
segera harus diakhiri

seketika, luka itu menganga
mengucurkan kebencian dan bara
dan seketika pula sederet tanya itu hadir
"Ya Allah....bagaimana menghapusnya?"

Dan Engkau seketika menjawabnya!
Di tempat yang Kau pilih
di saksikan hujan lembut yang merinai
semua pelan terurai

Betapa mudah bagi-Mu
merubahnya
Bukan lagi pelangi semu
Bukan pula purnama menipu
Tetapi,
Matahari dengan cahayanya yang nyata

Jumat, 18 Maret 2011

Status Perbuatan

Status Perbuatan



Status perbuatan manusia adalah netral.

Jujur, memberi, menolong, membunuh, perang, memiliki status yang sama, yaitu perbuatan yang netral.

Jujur, memberi, menolong, membunuh, perang, memiliki nilai/ derajat/status yang berbeda ditentukan oleh motif dan cara saat perbuatan itu dilakukan.

Membunuh bisa berstatus perbuatan tercela/salah/dosa bila motif membunuh adalah untuk menindas, merampok,.... Namun, membunuh menjadi baik ketika motifnya adalah untuk membela diri, perang di jalan Allah (jihad)....

Bagi seorang Muslim, tidak susah untuk mengetahui status suatu perbuatan. Status (predikat) suatu perbuatan telah ditentukan oleh Allah. Perbuatan yang diperintahkan (baik yang wajib ataupun yang sunnah) adalah perbuatan yang terpuji, baik, benar. Sebaliknya perbuatan yang diharamkan adalah perbuatan yang tercela, buruk, salah.

Jadi, ketika kita mengerjakan segala sesuatu dengan motif melaksanakan apa saja yang diperintahkan oleh Allah SWT baik perintah yang ada dalam Al Quran maupun Hadits Rasulullah SAW,serta dilakukan sesuai cara-cara yang ditentukan syariat Islam, maka perbuatannya berstatus terpuji, baik, dan benar dalam sudut pandang akidah Islam.

Dan bagi seorang Muslim yang merasa meyakini, mengimani kebenaran Islam secara bulat, tanpa celah keraguan sedikit pun (100 %), wajib untuk menilai, memandang segala sesuatu hanya dari sudut pandang, kaca mata Islam saja.
July 31, 2009 at 5:32pm

Belajar Menjadi Dewasa

ini adalah esai yang kutulis akhir 2007. Esai ini waktu itu kutulis dalam rangka mengikuti lomba menulis esai tentang pengalaman menuls, tetapi tidak menang. Dulu judulnya adalah "Menulis Untuk Berbagi", sekarang judulnya aku ganti jadi, "Belajar Dewasa" :D

Belajar Dewasa

Waktu itu kami masih menempati rumah yang lama. Di kampung kami listrik belum ada. Dan bapak saya masih petani tulen.
Pada malam-malam gelap hening, ketiga kakak saya seperti biasa memenuhi permintaan bapak. Mencari posisi yang paling setrategis. Dua yang paling besar memilih memijat kaki sementara kakak perempuan yang usianya paling dekat dengan saya memilih lengan bapak. Setelah mereka mendapat jatah mengurut, memijat, atau sekedar memukul-mukul dengan kepalan tangan kecil mereka, mengalirlah cerita, dongeng dari bapak yang semasa mudanya pernah menjadi pemain dermuluk (teater khas melayu).
Saya waktu itu memang lebih sering bersikap seperti ketiduran. Supaya dimaklumi ketidak ikut sertaan saya di ‘forum’ itu. Selain karena tenaga saya yang masih sangat lemah, sebenarnya ada satu lagi sebab yang membuat saya tak berani ikut serta. Setiap bapak menceritakan dongengnya dan tiba pada konflik cerita, dimana tokoh protogonis selalu dianiaya, saya selalu tak dapat menahan jatuhnya air dari pelupuk mata. Pada hal di keluarga kami dilarang cengeng (kesimpulan saya saat itu terbentuk karena setiap ada perkelahian di antara kami, yang menangis atau yang membuat menangis sama-sama harus bertanggung jawab). Saya akan malu sekali kalau sampai kakak-kakak atau bapak mengetahui itu. Oleh sebab itu setiap melihat gelagak bapak akan mendongeng saya memilih menjauh atau bersikap seolah telah pulas tertidur. Barulah saat cerita telah dimulai dengan seksama saya mendengarkan dari balik kamar, tentu dengan linangan air di mata!
Pada saat itu, mendengarkan orang-orang bercerita adalah hal yang menyenangkan bagi saya. Cerita tentang apa saja. Cerita tentang raja dan keluarganya, tentang hutan belantara dan bangsa jin yang menghuninya, atau tentang anak durhaka yang ditimpa azab tak terkira. Bahkan cerita tentang angin, hujan, sawah, kebun, pohon-pohon, dan para tetangga bagi saya sama menariknya! Tetapi bapak tak membolehkan anggota keluarganya ikut bergerombol di pelataran rumah tetangga, “Bergunjing, menghabiskan pahala.” Katanya.
Tahun-tahun berikutnya bapak bukan petani tulen lagi. Dia mulai berdagang. Rumah lama pun di robohkan. Walau listrik belum masuk, tetapi cahaya lampu straungking yang dipantulkan jendela-jendela kaca membuat rumah terang benderang. Sesekali kami tetap memijat bapak, namun dia terlalu kelelahan. Tak ada cerita lagi. Ibu memang sesekali mendongeng, tetapi tidak seseru bapak. Bapak bercerita dengan suara yang diubah-ubah. Bapak juga kadang bersyair.
Namun, kesepian itu segera berganti. Bapak memang tak lagi mendongeng, tetapi ada buku, televisi dan radio. Bapak juga sering membeli buku. Diantara buku-buku itu ada cerita bergambar. Akan tetapi di usia saya saat itu, melihat gambar-gambar itu tak mampu membuat saya tersentuh. Cerita-cerita di radio sebenarnya juga seru, tetapi jalinan cerita selalu terputus, itu terkadang membuat saya kesal setengah mati.
Akhirnya saya pun bisa membaca. Saat itu saya kelas tiga SD. Kata pertama yang tidak saya eja adalah kata “bibi”. Entah judulnya apa, yang saya ingat buku cerita yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah itu banyak terdapat kata “bibi”.
Kemampuan membaca yang saya miliki ternyata membuat saya kembali menemukan momen-momen yang sama seperti saat mendengar bapak mendongeng. Namun, saya tak perlu malu saat mata berkaca-kaca karena buku yang saya baca dapat digunakan untuk menutupi wajah.
Awalnya dalam buku-buku itu, saya menemukan banyak pelajaran dan ketenangan. Suatu kejahatan pasti akan mendapat balasan. Kebenaran pasti akan terungkap. Tokoh-tokoh jahat akan menyadari kesalahan, meminta maaf, bertobat dan menjadi orang baik lagi. Sedangkan tokoh-tokoh yang teraniaya pasti akan mendapat keadailan dan bahagia selamanya di akhir cerita.
Namun, semakin bertambahnya usia, meningkatnya pendidikan, dan beraneka ragamnya buku yang saya baca, membuat saya menemukan hal-hal yang baru dan berbeda. Mau atau tiadk mau, siap atau tidak siap saya harus menghadapi bahwa tidak selamanya keadilan ditemukan di akhir cerita. Ada banyak kelicikan, penghianatan, penindasan, ketamakan, dan penderitaan yang tak berkesudahan sampai cerita dalam buku-buku itu ditamatkan. Dan yang lebih mengerikan, semua itu bukan hanya ada dalam buku-buku yang saya baca! Semuanya ada dalam realitas; kadang melintas di hadapan, atau melalui pergunjingan tetangga, pemberitaan di radio dan televise.
Menghadapi semua itu, saya merasa seperti burung kecil yang harus keluar sarang, belajar terbang. Berusaha mengenali udara, angin, yang menjatuhkan, menghempaskan, tetapi harus dikendalikan agar dapat di manfaatkan untuk melesat, mengepakkan sayap, dan terbang.
Menuliskan perumpamaan burung kecil yang sedang belajar terbang di atas mengingatkan saya pada persahabatan antara Doraemon dan Nobita dalam komik Jepang. Nobita yang merasa bodoh, lemah, malas, dan selalu tertindas, memiliki Doraemon. Doraemon dengan kantong ajaibnya selalu siap membantu dan menyelesaikan masalah, tetapi sekaligus membuat Nobita bergantung dan tak pernah mampu bersikap dewasa. Untunglah, manusia dengan kemampuan seperti Doraemon tidak pernah ada!
Saya, mungkin juga kita semua, selain memiliki keluarga tempat berlindung yang telah kita akrabi sejak lahir, juga memiliki teman, sahabat, guru, dosen dan masyarakat di sekitar. Dari interaksi dengan mereka, ada banyak pelajaran yang dapat diresapi. Dikasihi membuat kita belajar menyayangi, dilukai membuat kita belajar mengobati, disakiti membuat kita belajar memaafkan, dibenci membuat kita belajar bertahan, dan bahkan sebuah penghianatan mungkin membuat kita mampu belajar memahami makna sebuah kepercayaan dan ketulusan. Ya! Ada tawa, ada tangisan, ada kemarahan, dan ada ketidakadilan! Semua itu harus kita lalui untuk mencapai tingkat kedewasaan, bukan?
Di luar lingkungan keluarga, sekolah, kampus, dan masyarakat sekitar kita, ada dunia yang lebih luas membentang, bergejolak dan saling berkaitan. Ada hegemoni sistem yang mencengkram setiap sendi kehidupan. Ada revolusi yang mungkin hanya terjadi sehari, tetapi perlu waktu puluhan tahun untuk dimatangkan. Ada ideologi yang harus digenggam, dicengkram dengan gigi geraham untuk dipertahankan dan diperjuangkan.
Kehidupan memang begitu berwarna. Dalam interaksinya, manusia memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda, dan kadang tak terduga. Belum lagi alam semesta ini yang entah di mana batas luasnya? Ya! Manusia dan alam semesta adalah realitas yang begitu tak terjangkau kerumitan dan keluasannya Terutama di hadapan manusia seperti kita yang memiliki kemampuan serba terbatas. Oleh karena itulah mungkin mengapa tulisan menjadi sangat memiliki peran dalam kehidupan.
Tulisan, terutama yang telah berbentuk buku bagi saya bukan sekedar deret angka-angka, bukan sekedar jalinan kata-kata, atau lembaran kertas yang dijilid. Tulisan, terutama yang telah berbentuk buku bagi saya adalah peta kehidupan! Peta kehidupan yang menceritakan pengalaman kehidupan atau tentang kerangka ilmu pengetahuan!
Aktivitas menulis bagi saya adalah usaha untuk membuka diri. Bahkan sering kali untuk mengaca diri. Menulis didorong keinginan untuk berbagi. Berbagi tentang hal-hal mengharukan, menyakitkan, dan membahagiakan yang pernah didengar, disaksikan atau dialami sendiri. Menulis bagi saya juga didorong keinginan untuk membagi beberapa hal yang telah saya pelajari.
Banjarmasin, November-Desember 2007

Rabu, 09 Maret 2011

Standar Hidup

STANDAR HIDUP

Dalam hidup ini kita tidak lepas dari nilai-nilai. Nilai-nilai yang kita yakini dan diyakini orang lain. Nilai-nilai tersebut digunakan untuk menilai perbuatan kita sendiri dan untuk menilai orang lain.
Nilai-nilai tersebut antara lain baik atau buruk, benar atau salah, terpuji atau tercela. Sesuatu atau perbuatan yang diyakini sebagai hal yang baik, benar dan terpuji adalah perbuatan yang boleh dikerjakan, disukai, dan pelakunya mendapat pujian. Sedangkan perbuatan yang buruk, salah, dan tercela adalah perbuatan yang tidak boleh dilakukan, dibenci dan pelakunya mendapat celaan.
Manusia terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Usia yang berbeda. Tingkat pendidikan yang berbeda. Bangsa dan adat istiadat yang berbeda. Sehingga kita dapati dalam masyarakat sering nilai suatu perbuatan berbeda karena factor perbedaan usia, tingkatan pendidikan, dan adat istiadata. Sesuatu yang dianggap baik pada masyarakat tertentu, kadang-kadang dianggap tidak baik dan tercela di masyarakat yang lain.
Oleh karena itulah diperlukan timbangan atau standar yang sama dalam menilai benar dan salah, baik dan buruk, terpuji dan tercela. Kita sebagai muslim, ummatnya Nabi Muhammad Saw tidak mempunyai pilihan lain. Sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya untuk dikerjakan adalah hal yang benar, baik, dan tepuji. Sedangkan Sesutu yang oleh Allah dan nabi dilarang, tidak boleh dikrjakan adalah sesuatu yang salah, buruk dan tercela.
Bagi seorang muslim, ummatnya Nabi Muhammad Saw tidak ada timbangan atau standar hidup yang lain. Hanya timbangan Islam saja. Apabila kita ingin melakukan apa-apa yang diperintahkan Allah dan Nabi-Nya, maka lakukanlah! Jangan dipedulikan pendapat orang lain. Karena yang menghisab perbuatan kita dan membalasnya dengan surga atau neraka hanya Allah swt saja.