Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Februari 2010

Pasar Itu Milik Ibuku (cerpen)

ini cerpen pernah dimua di RB dan dimuat juga dalam antalogi penulis perempuan Kal-Sel "Nyanyian Tanpa Nanyian". Cerpen ini kutulis sambil mengenang teman-teman yang pernah dekat, terutama Irma. eman yang pindah rumah dan walau sudah muter-muter nyari, alamatnya belum ketemu juga :(

Pasar Itu Milik Ibuku
Oleh: Rismiyana
Aku sedang bermain dengan Anto di pasar, saat kurasakan sepasang tangan menggoyang-goyangkan kedua tanganku. Dengan malas kubuka kelopak mataku yang masih terasa berat.
”Wan, bangun. Nanti kamu terlambat tiba di sekolah,” ternyata sepasang tangan itu milik ibu. Sekarang, ia berusaha membantuku berdiri.
”Hari ini Jum’at Bu, masuknya jam 8. Jadi tidak apa-apa siangan dikit.” Tapi ibu seperti tidak mendengar penjelasanku. Tangannya kini menuntunku ke ruang bawah, ke kamar mandi. Eh, bukan kamar mandi, tapi lorong kecil antara dinding rumah dan pagar tembok rumah sebelah yang kami jadikan sebagai tempat mandi dan mencuci.
Setelah menyiram badanku dengan beberapa gayung air dan sedikit bilasan sabun, aku bergegas mengenakan seragamku. Tadi aku lupa, sejak Senin lalu aku harus berjalan kaki ke sekolah. Jadi, walaupun hari ini masuk jam 8, tetap saja aku harus berangkat jam 07.15 pagi.
Aku benar-benar tidak menyukai keadaan ini. Seharusnya sepeda motor bapak tidak dijual.
Mengapa sepeda motor bapak dijual? Padahal selain dapat digunakan untuk mengantar dan menjemputku sekolah, sepeda motor itu digunakan oleh bapak untuk mengojek. Bapak kan tukang ojek. Kalau sepeda motornya dijual terus bagaimana bapak bisa mengojek?
Ya... seharusnya bapak tidak menjual sepeda motornya. Kalau sepeda motor itu ada aku tidak harus berangkat begitu pagi seperti ini. Aku juga tidak harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke sekolahku karena bapak lah yang akan mengantar dan menjemputku.
***


Siang ini panas sekali. Walau sudah memasuki bulan September, hujan belum juga turun. Terik matahari siang ini, sama seperti kemarin. Tenggorokanku terasa kering. Lututku ngilu. Aku masih belum terbiasa berjalan jauh seperti ini.
Di depan pintu rumah kulihat dua pasang sepatu bagus berjejer rapi. Siapa yang bertamu ke rumah? Pasti teman sekolah Kak Irni.
”Jadinya bagaimana Ir? Kamu datang atau tidak di acara perpisahan kelulusan SMU kita?”
”Belum tahu, aku masih belum punya uang untuk menyewa baju adat buat perpisahan.”
”Itu bisa kita siasati. Kita bisa ngumpulin duit buat kamu.”
”Ya Ir, kita bisa mengumpulkannya untuk kamu”
Dugaanku tepat dua orang anak perempuan itu adalah teman sekolah Kak Irni. Aku mengucap salam lalu bergegas melewati mereka, langsung ke loteng.
Rumah kami terdiri dari tiga bagian. Ruangan bawah hanya cukup untuk dua sofa tua yang berlobang di sana-sini yang sekarang menjadi tempat Kak Irni menerima tamunya, selebihnya didereti meja dan rak tua lapuk tempat peralatan memasak. Ruang kedua, lorong yang kami fungsikan sebagai kamar mandi. Dan terakhir loteng, tempat kami bersama-sama nonton TV, tempat rak-rak pakaian, dan tempat bagi kami untuk beristirahat tidur.
Setelah teman-temannya pulang, Kak Irni naik ke loteng.
”Kak kenapa sepeda motor bapak dijual. Wawan capek jalan kaki ke sekolah.” Keluhku padanya.
”Wan, sepeda motor bapak dijual digunakan untuk beli beras dan modal ibu jualan.”
”Jualan? Jadi Kak, ibu akan jualan lagi?”
”Ya.”
Perkataan Kak Irni bahwa ibu akan jualan lagi membuatku merasa senang. Ibu akan jualan lagi! Hore...! Itu artinya, aku bisa ketemu Anto lagi. Kami bisa bermain-main bersama lagi. Aku juga bisa bertemu Budi anak penjual beras yang warungnya ada di pojok kanan pasar, bertemu Ima anak penjual sayur yang warungnya dekatan dengan warung mamanya Anto, dan aku juga bisa bertemu dan bermain dengan yang lainnya!
Ibu memang sudah lama tidak jualan. Sudah tiga bulan. Kata Ibu, warung tempat ibu jualan akan diperbaiki. Bahkan bukan hanya warung milik ibu, tapi seluruh pasar.
Nanti, kalau sudah diperbaiki, pasar tempat ibu jualan akan menjadi pasar yang bagus dan megah. Menurut ibu, sebutannya bukan lagi Pasar Banjarmasin, tapi Sentra Banjarmasin. Tempat itu katanya kelak akan menjadi tempat orang-orang berjualan terbesar di Kalimantan!
Membayangkan semua itu aku tidak dapat menahan senyumku. Sebenarnya dengan keadaan pasar yang dulu bagiku tidak masalah. Karena, asal bisa melihat ibu berjualan dengan tenang dan bisa bermain bersama-sama Anto, Budi dan Ima, itu semua sudah membuatku senang. Tapi, bila tempat ibu berjualan menjadi lebih bagus dan tempat kami bermain menjadi lebih luas, tentu itu akan jauh lebih menyenangkan bukan.
Tapi, tiba-tiba muncul pertanyaan di benakku.
”Kak, berarti pasar tempat ibu jualan sudah selesai diperbaiki ya?” Kataku pada Kak Irni yang sedang melipat pakaian.
”Belum,” sahut Kak Irni.
Jawaban itu membuatku bingung.
”Terus ibu jualan dimana?”
”Di pinggir jalan pakai gerobak.”
Mendengar jawaban Kak Irni kegembiraanku tiba-tiba hilang. Aku menjadi ketakutan.
”Kak, kalau ada razia gimana? Kan jualan di pinggir jalan dilarang. Aku pernah melihat petugas-petugas berseragam mengambili gerobak pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan raya. Nanti gerobak jualan ibu bisa diambil oleh mereka.”
”Ibu jualannya sore jam 4 sampai malam. Jadi tidak akan kena razia.”
Perasaanku sekarang tidak tenang. Aku ingin sekali perbaikan pasar tempat ibu jualan dulu segera selesai. Aku ingin melihat ibu jualan di pasar pagi dan siang hari, bukan di gerobak di pinggir jalan malam-malam. Aku juga ingin bertemu dan bermain dengan Anto dan yang lain....
***


Sudah dua bulan ibu berjualan di pinggir jalan. Sekarang, musim hujan telah tiba. Aku tidak menyangka, berubahnya keadaan membuatku tidak lagi menyukai hujan. Aku benci hujan!
Dulu aku menyukai hujan. Setiap hujan tiba, dan baru berbentuk gerimis, aku, Anto, Budi dan Ima akan berloncatan ke tepi pasar. Di sana kami melihat ke langit, berharap hujan dengan tetes air besar-besar jatuh. Biasanya bila hujan lebat itu turun kami akan bergegas ke tanah lapang di dekat mesjid untuk bermain bola. Atau kami juga bisa membuat sungai-sungai di atas tanah berpasir di belakang pasar.
Tapi sekarang... hujan selalu membuatku sedih.
Dua minggu lalu aku melihat wajah ibu sangat khawatir. Saat itu mendung, dan ibu akan berjualan di pinggir jalan dengan gerobaknya. Wajah ibu berubah muram dan sedih saat hujan benar-benar turun deras. Ibu menunda berjualan, menunggu hujan reda. Kata ibu, kalau hujan seperti itu, pembeli hampir tidak ada. Selain itu dagangan ibu akan basah. Aku telah tidur saat ibu berangkat, dan baru terjaga saat ibu dan bapak pulang, waktu itu malam sudah larut sekali.
Sejak itu, aku tahu hujan pada sore hari atau menjelang malam akan membuat ibu susah.
Selain itu, hujan yang turun pagi-pagi membuatku khawatir. Bapak tidak bisa mengantarku lagi. Aku tetap harus berjalan kaki ke sekolah walaupun hujan. Sepatuku dan seragamku selalu lembab dan kotor terkena percikan hujan. Padahal aku sudah memakai payung.
Dan kalau hujan turun siang-siang seperti sekarang ini, aku juga sedih. Aku kangen teman-teman. Sekarang, bila hujan seperti ini, aku hanya memandanginya saja. Tidak ada Anto, Budi, dan Ima yang mengajakku bermain. Mereka sekarang di mana ya...? Apakah ibu dan bapak mereka juga jualan di gerobak seperti ibuku...?
Aku tahu, manusia tidak boleh membenci hujan. Hujan adalah ciptaan Allah. Dengan hujan, Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberi minum hewan, mengairi sungai-sungai. Manusia juga perlu air untuk keperluan hidupnya. Lagi pula membenci hujan, sama saja membenci ketentuan Allah.
Ya Allah, semoga hujan turun pada saat ibuku sedang tidak jualan, tidak saat aku sedang berangkat ke sekolah, dan tidak siang-siang saat ingatan pada teman-teman membuatku menangis. Hujan kan saja saat aku dan orang-orang sedang terlelap beristirahat....
***

Hujan masih berbentuk gerimis saat angkot yang kami tumpangi sampai di GOR. Hari ini, kami anak kelas v belajar berenang. Karena di sekolah tidak ada kolam renang, aku dan teman-teman diajak pak guru ke GOR.
Tapi, tunggu dulu! Rasanya aku mengenal jalan yang kami lewati tadi. Yah! Sekarang aku dapat mengingat dengan jelas. Letak GOR itu tidak jauh dari pasar, tempat ibu jualan dulu. Aku ingin sekali pergi ke sana. Aku ingin memastikan apakah tempat itu sudah hampir selesai? Aku ingin sekali ibu kembali jualan di situ.
Diam-diam, saat pak guru dan teman-teman sibuk berenang, aku pergi menjauh ke luar GOR. Aku tahu, pasar tempat ibu jualan dulu hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Dengan setengah berlari, bergegas aku ke sana.
Lama kelamaan jalan yang kulewati mulai macet. Aku membayangkan, mungkin itu akibat proses perbaikan pasar. Untuk memperbaiki pasar, pasti digunakan banyak pasir dan semen. Pastilah bahan bangunan itu yang membuat jalanan macet.
Tapi..., dua seratus meter di depanku terbentang pemandangan yang membuatku kaget. Mungkinkah aku salah jalan? Jelas-jelas yang kulihat di depanku sekarang bukanlah pasar yang sedang diperbaiki.
Di hadapanku sekarang adalah halaman parkir yang luas dan bangunan besar dan megah. Ada banyak toko dan orang-orang hilir-mudik di sana.
Cepat-cepat aku memutar langkahku. Aku harus kembali ke GOR! Aku ingin cepat pulang dan memberi tahu ibu. Ibu pasti senang kalau tahu tempatnya jualan dulu kini telah selesai diperbaiki.
***


Di rumah aku tidak menemukan ibu. Kata Kak Irni, ibu sudah pergi jualan. Memang sudah seminggu ini Ibu jualan agak siang. Keluarga kami perlu uang untuk bayar uang biaya rumah sakit bapak. Dua minggu lalu bapak masuk rumah sakit. Kata dokter, bapak kena TBC. Uang sekolahku juga sudah 4 bulan belum dibayar. Semoga ibu tidak kena razia, aku berdoa sambil memejamkan mataku.
”Kak, tadi aku diajak pak guru berenang di GOR. Terus aku ke pasar tempat ibu jualan dulu. Ternyata, pasar itu sekarang sudah selesai diperbaiki.” Aku bercerita pada Kak Irni dengan bersemangat. Kak Irni pasti senang mendengar ceritaku.
”Kalau itu kakak sudah tahu.” Jawab Kak Irni. Dan aku kaget sekali mendengarnya.
”Terus kenapa Kakak tidak memberi tahu ibu?”
”Ibu juga sudah tahu.”
”Kalau ibu tahu, kenapa ibu belum kembali berjualan di sana?”
”Wan, ibu tidak bisa lagi berjualan di sana. Kalau ibu mau kembali berjualan di sana, ibu harus membayar puluhan juta ke pihak pengelola pasar. Ibu tidak memiliki uang sebanyak itu.”
”Tapi kan, warung di pasar itu dulu milik ibu. Mereka hanya memperbaikinya saja?”
”Wan, peraturan pemerintah sudah menetapkan seperti itu.”
Perkataan Kak Irni membuatku sedih. Kini aku tahu ibu tidak akan jualan di pasar lagi. Dan entah sampai kapan ibu akan jualan di pinggir jalan dengan gerobak. Aku juga tidak akan bertemu dan bermain dengan Anto, Budi, dan Mia lagi.
Ini semua sungguh tidak adil! Seingatku, dari dulu ibuku sudah berjualan di situ. Warung itu milik ibu. Tetapi mengapa, setelah pasar itu diperbaiki ibu tidak boleh berjualan lagi di situ.
Aku harus ke kamar mandi. Di sana tidak ada yang akan melihat dan menggangguku. Aku bisa menangis di sana diam-diam dan lama.
Untuk: temen-teman lama yang namanya selalu menetap di hati

Laki-laki itu (cerpen)

Ini cerpenku yang dimuat di Serambi Ummah tahun 2007

Lelaki Itu
(Oleh: Rismiyana)
Sore ini aku pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Dan saat bayangan lelaki itu melintas di benakku, kuperiksa uang di sakuku. Ada beberapa lembar uang lima ribuan. Segera aku menyengajakan diri mampir di warung kaki lima yang menjual kue terang bulan.
Saat berada beberapa puluh meter mendekati sosoknya, kuperlambat laju sepeda motorku. Tepat di depannya aku berhenti. Meletakkan bungkusan kue terang bulan dan uang ribuan di hadapannya lalu cepat-cepat beranjak meninggalkan tempat itu.
”Terima kasih!” Suara parau dan datar lelaki itu mengagetkanku. Aneh..., aku merasa ada yang tidak wajar
***

Perempatan itu tinggal beberapa puluh meter di depanku. Dan mataku kembali menangkap sosok laki-laki itu.
Cepat-cepat kupacu sepeda motorku. Sungguh, sangat tidak nyaman melihatnya dalam kondisi seperti itu. Sementara dia dengan kondisinya yang seperti itu, aku dengan bebas melintas di hadapannya, melaju di atas sepeda motorku.
Yah, beberapa bulan ini sosok lelaki itu sering melintas di benakku. Apalagi, dalam beberapa hari setiap minggunya aku selalu lewat di depannya.
Sebenarnya sudah sejak beberapa tahun lalu aku melihatnya. Tetapi tidak setiap senja seperti sekarang. Waktu itu hanya sesekali saja.
Dulu, pertama kali melihatnya ketika aku masih seorang mahasiswa. Ketika itu pulang kuliah. Saat lampu lalu lintas menyala merah di dekat mesjid terbesar di kota ini. Di bawah matahari yang teriknya membakar kulit, kulihat dia merangkak berusaha memungut uang yang dilemparkan padanya. Menyedihkan.... Dan aku tak sempat merongoh lembaran ribuan dalam tasku saat lampu menyala hijau.
Beberapa bulan kemudian aku kembali menjumpainya saat lampu lalu lintas menyala merah satu kilo meter di dekat rumahku. Saat itu, aku sempat menjatuhkan uang kertas padanya. Tapi, itu membuatku agak menyesal. Uang kertas itu sempat tertiup angin, kulihat dia harus bersusah payah memungut uang itu.
Sekarang, hampir setiap sore di perempatan itu, saat melintasi menuju tempat kerjaku, atau saat menunggu lampu lalu lintas menyala hijau, aku hampir selalu melihatnya. Dan itu membuatku merasa tidak nyaman.
***

Lelaki itu masih di sana. Seperti biasa, duduk terpekur memandang jalan beraspal di depannya yang tergenang oleh air hujan. Hujan yang mulai melebat. Sekilas kutangkap air mukanya yang membeku.
Ah, pasti dingin sekali. Apakah tidak ada payung yang bisa diberikan padanya. Dia tidak bisa duduk di tempat itu dengan datang sendiri! Kakinya lumpuh.... Pasti ada seseorang yang meletakkannya di situ. Apakah orang itu tidak berpikir untuk memberinya payung saat gerimis mulai datang. Orang yang meletakannya di situ pastilah jahat sekali! Orang itu mungkin juga telah mengambil seluruh jerih payah lelaki itu.
Aku pernah membaca buku cerita persis seperti kasus yang kupikirkan tadi. Orang-orang cacat, anak-anak jalanan, dan orang tua jompo sebatang kara dipaksa mencari uang dengan mengemis. Dan hasilnya dikumpulkan sebagai harta kekayaan bagi orang yang mengorganisir dan memaksa mereka untuk mengemis itu.
Pernah terpikir olehku untuk menulis di koran opini tentang orang-orang sepertinya. Aku ingin menyampaikan bahwa pemerintah lah yang paling bertanggung jawab untuk mengurusi mereka. Pihak pemerintah yang menjadi pengatur urusan umat, berkewajiban memperhatikan nasib mereka. Memberikan mereka tempat yang layak, pendidikan yang mampu membuat mereka mandiri, dan lapanagn pekerjaan yang sesuai dengan keahlian dan kadar kesanggupan mereka.
Kadang aku ingin mengajaknya berbicara. Ingin kuceritakan padanya apa yang kudengar dari ustadz yang kudengar ceramahnya beberapa waktu lalu. Bahwa, bila dia sabar dan ridha terhadap qadha yang menimpanya, maka balasannya di akhirat kelak adalah surga! Yah, kesabaran dan keridhaan akan kedua kakinya yang tak bisa digunakan untuk berdiri, berjalan itu, akan menggugurkan dosa-dosanya dan diganti dengan surga. Mungkin, bila dia belum mengetahui cerita itu, dia akan gembira atau setidaknya kesedihan yang dirasakannya akan berkurang setelah kuberitahukan hal itu padanya.
Sayangnya, keinginan itu sampai saat ini belum terlaksana. Berpikir untuk berbuat baik memang mudah, namun itu tidak cukup. Harus ada tindakan nyata! Aku tahu untuk melaksanakannya perlu kesungguhan dan kesediaan untuk berkorban. Dan aku belum mampu membuat diriku sampai pada taraf itu.
Tapi sungguh, setiap kali lewat di jalan itu aku merasa sedih. Apalagi bila sempat kutangkap wajah dingin dan kaku itu. Pastilah penderitaan yang menderanya membuatnya begitu. Lelaki malang....
***


”Lia, kam jadikah sholat Ashar di rumahku?”
Aku mengangguk pada Nina sambil cepat-cepat berkemas. Setelah Dzuhur tadi siang, air ledeng mati. Aku dan dia jadi tidak bisa berwudhu dan sholat. Kulihat jam di tanganku, waktu Ashar masih tersisa 30 menit lagi.
Sambil melaju dengan kecepatan yang cukup kencang kulirik jam tanganku, tapi tiba-tiba saat kembali menatap jalan di depanku satu sosok tiba-tiba lewat menyebrang jalan. Hampir saja tertabrak sepeda motorku.
”Oh my God!” aku sudah siap-siap mengomel pada sosok itu. Tapi..., ya Allah! Aku hampir tidak percaya.
Di depanku, sosok itu juga memandangku dengan mata terkejut, kaget dan cepat-cepat berlalu. Itu pasti dia! Mataku sangat mengenal wajah itu, juga baju kumal yang dikenakannya, baju yang selalu ia pakai.
”Lho, Nin! Itu kan orang yang sering duduk di dekat lampu merah?” Kataku pada Nina yang membonceng padaku.
”Iya! Lia, dari dulu aku sudah merasa dia itu pura-pura saja. Kam pernahkan dulu kutanya, percaya tidak dia itu beneran lumpuh kakinya....”
Aku hanya tertawa mendengar omelan Nina. Menyesal juga, mengapa selama ini memikirkan dan merasa kasihan padanya.
”Dasar! Ternyata dia punya kaki!” Teriakku pada Nina.
Walau kecewa karena merasa tertipu oleh lelaki itu, ada sedikit kelegaan dalam hatiku. Yah..., setidaknya kini aku mengetahui. Menjadi lelaki yang kakinya lumpuh, duduk dipinggir jalan, diguyur hujan dan dibakar terik matahari adalah jalan hidup yang sengaja dipilih oleh lelaki itu. Ia sendiri yang melangkahkan kaki ketempat itu. Dan itu bukanlah takdir yang dipaksakan Allah kepadanya. Banjarmasin April-Mei 07

Tiga Percakapan Tentang Cinta

Ini cerpenku yang kutulis tahun 2006. Dimuat di Radar banjarmasin seminggu sebelum aku maju sidang skripsi. Tulisan pertama yang membuka identitas bahwa Rain Fajar adalah nama yang aku gunakan. Sebuah 'pertaruhan', tapi untunglah nilai skripsiku A :)

Tiga Percakapan Tentang Cinta
(Oleh: Rismiyana)

Dianto

Menyayangi seseorang, merasa ia memiliki keserupaan denganmu dalam beberapa hal sudah cukup untuk membuatmu memahami, merasakan yang ia rasakan. Perasaan seperti itu terkadang membuatmu nyaman. Ya! Hanya terkadang saja. Sebab ketidaknyamanan akan lebih sering melandamu. Karena saat sesuatu terjadi padanya, kamu akan ikut merasakan yang ia rasakan, bahkan bisa dua kali lipat dari yang ia rasakan. Ia bahagia, kamu akan lebih merasa bahagia, tapi jika ia merana, kamu akan lebih-lebih lagi.
Aku dan dia tidak begitu akrab. Hanya beberapa kesempatan rutin mempertemukan kami. Interaksi yang biasa, tidak istimewa. Di beberapa kesempatan itu sering kali aku memperhatikannya. Aku terbiasa memperhatikan seseorang yang beberapa kali kujumpai dan mencoba membaca kehidupannya.
Namun, dia berbeda dari yang lainnya. Saat sosoknya kubaca, aku seperti melihat cermin. Entahlah…. Tiba-tiba sosoknya kuyakini telah kubaca lembar demi lembar.
Dia terihat kurus sama sepertiku. Tapi, bukan karena kesamaan itu aku merasa telah membacanya. Sorot matanya, kata-kata pisaunya, pertanyaan-pertanyaannya, dan terkadang langkah gontainya itu yang merebut empatiku sejak 2 tahun lalu.
Bagaimana menerangkannya ya? Oke, kalau ingin tahu apa yang kurasakan saat mendapati sosoknya seperti yang kuceritakan di atas; coba sekarang bayangkan sekarang ada cermin di hadapanmu. Bayangkan saat kau menatap cermin itu kau dapati bayangan dirimu di sana . Tapi, bayangan itu bukan dirimu yang sekarang, melainkan bayangan ketika kau paling merasa tidak nyaman dalam hidupmu.



Ve

Sengaja diperlambatnya laju sepeda motor. Rumahnya yang berada di ujung jalan telah kelihatan. Ia tahu hari ini Raka pasti ke rumah untuk menemuinya.
Dia kembali bertemu dengan Raka, menjadi akrab. Seperti dua tahun lalu. Satu bulan lalu Raka balik lagi ke Banjarmasin , mencari alamat barunya, dan berhasil menemukan dirinya.
“Aku ngak betah di Bandung . Udara di sana terlalu dingin. Lagi pula, lamaran kerjaku diterima di sini.” Sore itu, Raka nampak bahagia saat menemukan alamatnya. Kebetulan saat itu dirinya sedang ada di rumah.
“Tapi, bukankah orang tuamu sudah pindah ke Bandung ?’
“Tante Evi, saudara Mama masih menetap di Banjar Indah. Aku tinggal di rumahnya. Sialan kau Ve! Kenapa kau tak mengabari aku alamat barumu?”
“Alamat rumahmu yang di Bandung hilang.”
“Masih ada Hpku kan ?”
“Kupikir kita tak akan bertemu lagi.’
“Oh, jadi kau berniat melupakan aku, persahabatan kita?’ Raut wajah Raka berubah muram.
“Kalau aku melupakanmu untuk apa barang-barangmu itu masih kusimpan.” Ve mengarahkan matanya pada tumpukan kaset di lemari, majalah-majalah musik di rak buku dan gitar besar di dinding.
Raka terdiam sesaat, lalu mengalihkan topik pembicaraan mereka. Ia bercerita tentang pertemanan mereka dulu, kebingungannya mencari alamat Ve dan rasa senangnya saat berhasil menemukan alamat sahabatnya itu.
Waktu itu Ve hanya terdiam. Hanya ngilu itu, menyeruak.
Aku mencintaimu tanpa rasa iri dan lebih
memilih naif
Karena kau “manusia baik-baik” dan tak boleh mengerti 1


Pelan-pelan Ve memarkir sepeda motor di halaman samping. Terasa ada sesuatu yang memukul dinding sebelah dalam dadanya. Walau sejak tadi ia berharap tak akan menjumpai Raka, namun ia tahu jauh di dalam, entah di bagian mana sudut hatinya teramat sangat rindu pada Raka.
“Ve, dari tadi aku menunggumu. Kemana saja?” Raka muncul dari dalam rumah.
“Toko buku mencari referensi untuk skripsiku.”
“Dari pagi?”
“Tadi mengantar Dianto ke perpus, trus mampir di rumahnya.” Ve tadi sengaja berlama-lama di rumah Dianto untuk menghindari Raka. Ve tahu, hari ini seperti Sabtu-Sabtu sebelumnya Raka akan mengunjunginya
“Dianto? Siapa dia?” Entah mengapa tiba-tiba Ve merasa kalau Raka menatapnya dengan sorot mata aneh.
“Temanku di kampus. Satu jurusan, tapi beda angkatan. Dia kakak kelasku.” Mereka terdiam sesaat.
“Malam ini aku ingin mengajakmu makan. Kemarin aku menerima gaji pertamaku.” Raka mengalihkan pembicaraan.
“Oh ya! Selamat kalau begitu.” Ve menjabat tangan Raka. Sebenarnya Ve capek, capek dengan ekspresi datar yang ditunjukkannya di hadapan Raka.
Raka mengikutinya masuk ke dalam kamar.
“Ve, kita akan makan dimana? Ke resto atau warteg di pinggir jalan.? Kamu kan penyair yang suka suasana romantis, bersahaja.” Raka tertawa sambil menghempaskan tubuhnya di ranjang.
Ve menatap Raka, menikmati suara tawanya. Sudah lama sekali ia tak mendengarnya. Rasanya sia-sia sudah usahanya untuk melupakan perasaannya pada sosok itu.
Ini tentang diam yang sebenarnya menertawakanku
Ini tentang senyum “gila” yang tiap detik kusuguhkan
untuk ingatan tentangmu
Ini tentang “luka” paling jujur pada setiap ingatku
kau ”manusia baik-baik” 2

Mereka telah berteman lama. Sejak Ve kelas 2 di SMU 27, dan Raka semester 2 di Fisip. Mereka berkenalan sewaktu Raka dan teman-temannya mengadakan reuni di SMU 27. Kemudian menjadi akrab di klub bela diri Walet Putih. Tapi, Ve melihat dan terpukau saat pertama kali melihat Raka satu tahun sebelumnya. Ve tidak akan pernah lupa kejadian sore itu.
Waktu itu Ve sedang menunggu di lobi gedung berlantai tiga itu, menunggu gilirannya menghadap kasir. Kemudian sosok putih, tinggi, atletis, berambut cepak dan tampan lewat di depannya.
Hanya Tuhan yang tahu keterpukauannya pada sosok itu, sorot mata itu. Tapi waktu itu Ve sadar, “Pangeran tampan hanya cocok dan pantas untuk puteri cantik”. Dan Ve tidak mungkin menjadi seorang puteri, apalagi puteri cantik.
Mungkin karena mendengar pesimismenya sore itu, untuk memperlihatkan kemahakuasaan-NyaTuhan mempertemukan mereka. Menjadikan mereka dekat di klub bela diri Walet Putih.
Dan perasaan yang tak seharusnya ada itu, setelah pertemuan intensif mereka mulai tumbuh. Berbentuk! Tidak hanya mendiami ruang kosong hatinya, tapi memenuhinya. Dan Ve merasa takut. Ia tahu itu sebuah kesalahan. Hanya, adakah cinta terlebih dulu permisi, mengetuk dan memberikan kesempatan memilih sebelum memutuskan datang padamu?



DIANTO DAN VE

“Aku ingin berterus terang padamu tentang diriku?” Ve berkata sambil menahan helaan napas.
Dianto menurunkan cangkir kopi di bibirnya. Mungkin inilah yang menjadi alasan Ve mengajaknya ke mari. Mendengar pengakuannya di taman kota ini.
“Di...” Suara Ve lirih. Ada keraguan di wajahnya. Kedua tangannya mengusap wajahnya berkali-kali.
“Di,.. kamu masih ingat ceritaku tentang Raka...?”
Dianto memandang sosok di depannya. Dia tidak yakin amanah yang dibebankan di pundaknya dapat diselesaikannya.
“Ya, teman kamu yang dulu pernah pindah ke Bandung itu kan ?”
Ve mengangguk. Walau wajahnya menghadap pada Dianto ia berusaha menghindari matanya.
“Aku tahu ini nggak boleh, dosa... tapi aku nggak punya pilihan lain. Kamu tahu, sejak kecil aku di paksa memanggil ibu pada perempuan yang aku tak pernah lahir dari rahimnya. Semua kakak perempuanku terbiasa berlaku kasar padaku karena kecengenganku, kelemahanku. Dan teman-teman di sekolahku dulu selalu mengolok-olokku, aku mereka juluki banci. Padahal terlahir dengan perasan sensitif dan bertingkah lembut seperti perempuan bukan pilihanku.”
“Dari semua yang kutemui, hanya Raka yang lain. Dia tak pernah mengejekku, mengatakan aku banci. Dia baik. Bahkan karena pertemanan kami lah aku mampu berubah seperti sekarang.”
“Kalau tak mendengar ceritamu aku tak akan mengira dulu kau dijuluki banci.” Dianto menyela ucapan Ve. Berusaha merilekskan suasana.
“Tapi . . , ternyata semua perlakuan orang-orang di sekelilingku terlanjur telah membentukku. Walau Raka berhasil membuatku percaya diri sebagai laki-laki, bertingkahlaku seperti laki-laki, aku tetap dendam dan tidak menyukai semua yang berbau perempuan. Dan parahnya lagi aku menaruh perasaan pada Raka, rasa yang harusnya hanya kutujukan pada lawan jenisku.”
“Maksudmu kamu....?” Dianto menatap Ve. Pengakuan Ve barusan menguatkan dugaannya selama ini.
Mereka berpandangan. Ve mengangguk lalu menunduk, menghindari tatapan Dianto.
“Very..., terlahir dengan bentuk pisik dan karakter bawaan seperti perempuan memang bukanlah sebuah pilihan. Itu adalah garis yang telah ditetapkan-Nya. Sehingga patut kamu ingat, dirimu tidak akan berdosa hanya karena hati kamu lembut dan perasa atau tubuh kamu kemayu seperti perempuan. Dengan catatan, itu memang faktor bawaan bukan hal yang sengaja dibuat-buat.”
“Harus kamu ingat bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan secara sadar dan sengaja, diberikan kesempatan untuk memilih melakukan atau meninggalkan, semua itu kelak akan di hisab, dipertanggungjawabkan pada-Nya.” Dianto menatap sosok di depannya dengan tatapan prihatin.
“Di.., cinta berkaitan dengan hati. Apakah kau bisa memilih pada siapa kau harus jatuh hati?”
“Ve.., Dia telah menciptakan kita dengan selengkap-lengkapnya. Pernah kau membayangkan seandainya kita diciptakan tanpa dilengkapi al-hajat al-‘udhwiyyah 3 yang penampakannya antara lain berupa rasa lapar dan haus. Mungkin banyak manusia yang mati karena mereka keseringan lupa pada jadwal makan dan minum mereka. Rasa lapar dan haus adalah anugerah karena ia semacam alarm yang mengingatkan kapan waktunya kita harus makan, kapan harus minum.”
“Iya, emm benar juga apa yang kau katakan.” Ve hampir tersenyum mendengar penjelasan Dianto. Walau awalnya terdengar konyol, apa yang dikatakannya masuk akal, benar. Tapi ia tak jadi tersenyum saat ingat pokok pembicaraan mereka.
“Tapi Di..., apa fenomena cinta juga bisa diuraikan seperti rasa haus atau lapar.”
Dianto tersenyum, ia mulai bersemangat. Pertanyaan sosok di depannya itu melegakan hatinya.
“Manusia, kita, juga dilengkapi dengan gharizah atau naluri. Naluri ada 3 macam, salah satunya yaitu gharizah an-nau’ 4 yaitu naluri yang menghantarkan pada kelestarian jenis manusia. Penampakannya antara lain rasa cinta atau ketertarikan antara laki-laki dan wanita yang mendorong mereka untuk menikah dan memperoleh keturunan, rasa cinta seorang ibu pada anaknya, dorongan untuk bertanggungjawab seorang laki-laki pada keluarga yang dicintainya. Coba bayangkan bagaimana kalau semua itu gak ada.”
“Tunggu dulu.” Ve memotong ucapan Dianto. Dia terlihat tidak sabaran. “Aku ingin mendengar uraianmu tentang mereka yang memilih menjalani hidup sebagai gay atau lesbi?”
“Ve, aku belajar tentang potensi manusia ini selama dua tahun baru dapat memahaminya benar-benar. Sekarang, kurang 1 jam duduk di sini kau terlihat menyuruhku menjelaskan semuanya.” Dianto tertawa sambil menggaruk kepalanya.
“Salah satu penampakan ghorizah nau adalah dorongan seksual. Dorongan ini meminta pemuasan, tanpa memandang dengan apa ia dipuaskan. Apabila telah dipenuhi manusia akan tenang. Dapat dipuaskan dengan lawan jenis yang telah dinikahi atau belum, sesama jenis, bahkan ada yang memuaskan dorongan ini dengan benda dan hewan.” Dianto menghentikan perkataanya. Di depannya Ve terlihat gugup.
“Ve, maaf kalau kata-kataku menyinggung perasaanmu?”
“Gak apa-apa kok, teruskan aja.”
“Selain melengkapi manusia dengan al-hajat al-‘udhwiyyah dan gharizah, manusia juga dilengkapi dengan akal. Dengan akal manusia dapat memahami peritah dan larangan Penciptanya, memilih mana yang harus ia kerjakan dan mana yang harus ia tinggalkan.”
“Di..., aku menyayanginya. Ia orang yang paling mengerti diriku, menghargaiku.”
“Ve, cinta memiliki perwujudan yang berbeda-beda. Kau masih bisa menyayangi, mencintai dia, tapi, tentu cinta dalam arti saling siap menerima dan memberi. Bukan cinta yang dilandasi dorongan seksual. Misalnya perasaan cinta sebagai saudara seakidah Karena cinta yang tumbuh di atas pondasi kokoh yang tak tergoyahkan lah yang akan mampu mengikat aku, kamu dan Raka dalam persaudaraan hingga Hari Pembalasan kelak”
Ve diam. Matanya kini memandang ke sebelah kanan, ke aliran sungai Martapura yang kecoklatan. Hampir 15 menit mereka hening.
“Di, apa diharuskan perlu waktu 2 tahun agar aku memahami penjelasanmu.” Walau masih terlihat muram, setidaknya Dianto melihat ada kelegaan dalam tatapan Ve.
“Tentu saja tidak. Temanmu bahkan hanya perlu waktu seminggu.” Dianto tertawa, tapi tiba-tiba ia terdiam.
“Temanku..., siapa?” Ve mengernyitkan keningnya.
“Aduh! Ve, aku harus ke kampus sekarang. Aku ada janji dengan adik binaanku di mesjid kampus.” Tanpa menunggu jawaban Ve, Dianto bergegas ke sepeda motornya. Untunglah dia tak harus berdusta. Ia dan Raka telah membuat janji bertemu hari ini. “Eh, Ve! Jadi mentraktirkukan?” Teriaknya sambil menstarter sepeda motornya. Ve mengangguk.


RAKA

Raka duduk termenung di tangga mesjid. Ia dan Dianto minggu lalu berjanji bertemu kembali di sini. Membicarakan tentang keadaan Ve.
Raka akrab dengan Dianto sejak 2 tahun lalu. Dari Dianto, Raka belajar memahami banyak hal. Apa yang dipahaminya dari Dianto lah yang mendorongnya mengikuti kepindahan orang tuanya ke Bandung. Ia berharap dikarenakan jarak yang memisahkan mereka, perasaan Ve padanya akan terhapus. Namun, setelah perpisahan mereka Raka justru khawatir. Walau Ve bisa jadi dapat melupakan dirinya, tidak menutup kemungkinan Ve akan menaruh perasaan pada laki-laki lain. Dan Raka makin khawatir saat mengetahui Ve pindah rumah.
Untunglah minggu kemarin ia berhasil menemukan Dianto. Dua tahun lalu Raka meminta bantuan supaya Dianto mendekati Ve. Dengan begitu Raka berharap tetap dapat memantau keadaanya.
Sebenarnya Raka telah mengetahi perasaan Ve padanya sejak lama. Hanya saja ia tidak tahu harus melakukan apa. Yang Ia tahu, masa kecil Ve yang buruk lah yang membentuk Ve. Kedekatannya dengan Ve memang berhasil mengubah sosok Ve, tapi kedekatan mereka ternyata juga membuat Ve menyukainya.
“Assalamualaikum!” Suara Dianto
“Waalaikum salam.”
“Ada kabar baik untukmu.”
“Tentang Very?”
“Ya. Aku rasa semuanya akan menjadi baik.” Dianto tersenyum. Ia berharap dengan berita yang dibawanya, sosok kurus di depannya dapat seperti dirinya sekarang, dapat tertawa lepas. Sehingga bila ia berhadapan dengannya, yang ia lihat bukan bayangan dirinya di masa lalu, tapi sosok itu sendiri, yang tentunya..., bahagia.
“Di…, terimakasih.” Raka berjabat tangan hangat.


Tanpa sepengetahuan Raka dan Dianto, jauh di seberang jalan di dekat kantin, satu sosok sedari tadi memperhatikan mereka. Pada awalnya ia terperangah memperhatikan keduanya yang tampak akrab. Tapi, beberapa saat kemudian terlihat dia sedang berpikir. Lama. Akhirnya, sebelum beranjak meninggalkan tempat itu dia tersenyum sambil bergumam, “Tidak semua hal dapat diungkapkan menjadi sebuah keterusterangan. Kadang, sesuatu tetap menjadi rahasia dalam kediaman. Walau pada kenyataannya kerahasiaan itu sama-sama telah diketahui dan dimengerti.”

1, 2 : Di kutip dari sajak Cinta Hari Ini karya Rahmiyati
3: Kebutuhan jasmani (organic needs)
4: Naluri melestarikan jenis

*Nama Rain Fajar di KTP

Didedikasikan untuk:
Bpk. Jarkasi yang telah mengenalkan dan membuka jalan agar saya menulis di Cakrawala
Bpk. Sainul Hermawan yang memotivasi dan menempa saya belajar berani
Dan sobatku S. Firly (Redaktur Rubrik Cerpen Radar)


Catatan: Cerpen Tiga Percakapan Tentang Cinta terinspirasi dari puisi teman saya Kak Rahmi. Saat Aruh Sastra di Kotabaru dia memperlihatkan puisi yang berjudul Cinta Hari Ini. Saya katakana puisi itu bagus, lalu dia bercerita bahwa puisi itu ia tulis saat memikirkan perasaan seorang banci yang jatuh cinta pada seorang laki-laki. Dalam percakapan itu saya berjanji, akan membuat cerpen yang mengungkapkan hal yang serupa Pada saat menulis cerpen ini saya hampir menyelesaikan skripsi saya yang membahas Supernova 1, 2,dan 3 (berjudul “Ideologi Tokoh-Tokoh dalam Serial Supernova Karya Dewi Lestari”), sehingga mau tidak mau saya akui cerpen itu terpengaruh karya Dewi tersebut.

Kamis, 07 Mei 2009

Puisi Tentang Laki-laki yang Terluka (Cerpen)

Puisi Tentang Laki-laki yang Terluka
Oleh: Rismiyana
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu (1)
Aku sedang terlelap saat telepon genggam di samping komputer meneriakan lagu itu. Kuangkat wajahku dari meja. Sambil memaksa kedua kelopak mataku menyesuaikan diri dengan cahaya komputer, kuangkat panggilan itu.
Assalamualaikum! Hei, lagi sibuk apa?”
Ternyata telepon dari Nisa. Tetangga kamar kostku.
“Waalaikumsalam. Lagi jawab telepon kamu.” Jawabku malas. Aku merasa agak terganggu dengan telponnya.
“Serius uey!”
“Lagi nyari inspirasi! Tapi malah ketiduran di depan komputer. Kamu sendiri lagi apa? Nelpon jam 3 kayak gini?”
“Lagi nyari ladang buat menyemai pahala! Bangunin elu, biar Sholat Tahajud kayak gua he, he… Emang nyari inspirasi buat apa.” Kadang-kadang Nisa ber-elu gua kalau sedang kumat isengnya.
“Aku sedang tidak sholat. Biasa, buat bikin puisi, cerpen, atau esai.”
“Oh. Fitri, kita main tebak-tebakkan yuk! Coba kamu tebak sekarang hari apa?”
“Cari teman lain saja main tebak-tebakannya ya. Aku ngantuk banget!” Segera kututup telepon. Mengajukan tebak-tebakan. Apalagi tentang nama hari pada saat larut malam seperti ini adalah benar-benar pertanyaan yang tidak serius!
Dia masih berusaha menelpon. Tidak kuangkat. Malah telepon genggam kumatikan.
***
Laki-Laki Itu Sangat Terluka
Tak satu pun kata mampu menggambarkannya (2)
Tanpa sadar aku mengernyitkan keningku kemudian tersenyum saat membaca puisi yang disodorkan Nisa. Puisi yang pendek, hanya terdiri atas satu baris, namun mampu mewakili perasaan.
“Gimana?” Tanya Nisa sambil mengamati ekspresi wajahku.
Sesaat aku berpikir mencari kata-kata untuk mengomentari puisi itu.
“Bila puisi didefinisikan sebagai sebuah wadah, tempat menampung luapan perasaan, maka puisi ini adalah sebuah wadah yang baik.”
“Apa sih maksud elu? Gua nggak ngerti. Jelasin pakai bahasa biasa aja deh!” Nisa anak Fakultas Hukum, jadi wajar kalau bahasa yang dipahaminya seputar bahasa hukum! Bahasa yang jelas tanpa kiasan.
Maksudku, puisi ini bagus. Bagus karena definisi puisi yang kupahami adalah sarana pengungkapan perasaan dengan media bahasa yang indah. Emosi atau perasaan yang diungkapkan cukup dalam dan dapat dipahami. Namun, menurutku jenis puisi seperti ini biasa. Umumnya sastrawan yang sedang tersentuh hatinya atau sedang berduka karena putus cinta bisa menghasilkan puisi yang seperti ini. Jadi walau pun bagus, tetapi biasa, tidak istimewa.”
“Bener tidak istimewa? “ Nisa menatap jahil kepadaku.
“Maksudmu?”
“Kalau kamu tahu siapa laki-laki dalam puisi itu, penilaianmu pasti berubah.” Nisa berkata yakin. Dia sekarang berhenti ber-elu gua, tandanya dia mulai serius.
“Coba tebak siapa laki-laki yang terluka itu?” Sambungnya lagi.
Aku mulai merasa penasaran dengan sikap Nisa. Nisa bukanlah penyuka sastra, apalagi puisi. Jadi kalau tiba-tiba pagi minggu ini dia menyodorkan sebuah puisi dan meminta komentarku tentang puisi itu, kemudian bersikukuh puisi itu istimewa, pasti ada sebab yang melatarinya.
Tidak ada petunjuk apapun yang mengarah pada siapa sosok laki-laki dalam puisi itu. Emm, aku ada ide!
Clark Kent! Saat menyaksikan Lana Lang menikah dengan Lex Luthor!” Jawabku yakin. “ Waktu menyaksikan itu kau menangis untuk Clark dan mengatakan skripwritter dan sutradara Smallvile tidak bisa mengarahkan cerita.” Aku menahan tawa.
“Bukan!” Wajah Nisa memerah, malu. “Puisi ini bukan karyaku. Ani yang bikin. Lagi pula laki-laki dalam puisi ini nyata, real!”
Taktikku berhasil. Nisa memakan pancinganku. Kalau emosinya terpengaruh, dia sering kelepasan bicara.
“Emm, Jadi puisi itu karya Ani.” Setahuku anak itu juga bukan penyuka sastra dan untuk anak seperti dia, patah hati dan menderita karena putus cinta belum ada dalam kamusnya. “Coba beri petunjuk agar akalku bisa menelusuri jejak sosok laki-laki itu.”
Di depanku Nisa senyum-senyum.. Tampaknya dia bersiap-siap akan meninggalkan kamarku.
“Aku, kamu, dan Nisa sama-sama mengenal dan mengaguminya. Sudah ya, aku mau nyuci, nanti aku balik lagi. Kalau bisa jawab, aku kasih buku!” Teriaknya dari luar kamar.
***
Sepeninggal Nisa, aku segera mengangkat kursi ke pinggir jendela. Sambil melepas pandangan ke rerumputan setinggi lutut di seberang halaman, mulai kupikirkan siapa sosok laki-laki yang terluka dalam puisi itu.
Aku tertarik mengetahui sosok laki-laki dalam puisi itu. Bukan karena tergiur buku yang dijanjikan Nisa, tetapi aku memang senang menganalisis tulisan yang berkaitan dengan sastra.
Judulnya, Laki-laki Itu Sangat Terluka, maknanya jelas. Ada seorang laki-laki yang hatinya merasa sangat terluka. Juga isinya, Tak satu kata pun mampu menggambarkannya. Saking terlukanya laki-laki itu, tak ada kata-kata yang dapat menggambarkan, melukiskan rasa kecewanya, pedihnya, sakitnya perasaannya. Dan kami bertiga, aku, Nisa, Ani mengenal dan mengaguminya.
Siapa ya? Memang dari kecil ada beberapa sosok laki-laki yang kukenal dan kuketahui pernah kecewa, terluka perasaannya. Tapi, hanya aku yang mengenalnya. Nisa dan Ani tidak.
Laki-laki itu terluka? Terluka karena apa?
Apakah karena bertepuk sebelah tangan, atau ditolak cintanya? Tapi, bukankah ada begitu banyak wanita lain di dunia ini yang masih pantas untuk dicintai.
Miskin tidak memiliki harta atau jatuh bangkrut? Selama helaan nafasnya masih ada, selama dia yakin rizki Allah luas, dia tak usah terlalu kecewa atau terluka karena pasti akan ada bagian untuknya.
Atau telah dihina, diusik kehormatannya? Dengan mulut, kaki, tangan dan akalnya, laki-laki itu dapat berusaha mempertahankan, mengembalikan kehormatannya. Bahkan sampai tetesan darah penghabisan! Bukankah laki-laki seharusnya begitu?
Atau, mungkinkah luka hatinya itu karena penghianatan? Bisa jadi! Bila kemarahan, sakit hati, dan kekecewaan muncul karena musuh atau orang yang dibenci, perasaan seperti itu justru memunculkan energi. Energi untuk melawan atau mempertahankan diri. Tetapi, bila kemarahan, sakit hati, dan kekecewaan ditorehkan orang yang disayangi dan dipercayai, perasaan seperti itu menghisap energi, bagaikan tusukan pisau belati tepat di ulu hati, menikam diri sendiri.
***
“Gimana?” Nisa tiba-tiba muncul di belakang dan menepuk bahuku. Aku tersedak. Puding dingin rasa jeruk buatanku yang baru saja hendak kutelan hampir keluar dari mulutku.
“Jangan membuatku kaget. Kamu kan tahu aku berpotensi kena serangan jantung.”
“Dari tadi aku memanggilmu, tapi kamunya saja yang asik melamun.” Nisa mengambil tempat duduk di seberangku. Dia lalu mengambil sendok, ikut menyendok puding di depanku.
“Asem banget!” Dia kaget dengan rasa puding buatanku itu.
Aku tertawa menyaksikan ekspresi wajahnya.
“Sudah dapat menebak siapa laki-laki itu?” Dia menanyakan tentang puisi yang dipelihatkannya kemarin.
“Belum.” Jawabku pendek. Dari kemarin hingga tadi saat dia mengagetkanku, aku masih memikirkan siapa sosok laki-laki dalam puisi yang diperlihatkannya itu.
“Tapi biasanya dari beberapa peristiwa atau teori kamu bisa menarik benang merah untuk menghubungkannya, menganalisis, dan menghasilkan sebuah kesimpulan.” Kali ini Nisa berkata dengan bersungguh-sungguh..
“Petunjuk yang kau berikan terlalu umum.” Kilahku. Aku sedang memikirkan cara bagaimana menggali informasi darinya.
Tiba-tiba dia tersenyum. Kutangkap binar usil di matanya.
“Yang jelas sosok laki-laki itu bukan Snape!” Nisa terkekeh.
Dia membalas guyonanku tentang Clark. Dua bulan yang lalu Nisa memergokiku membaca buku terakhir Harry Potter. Bukan hanya jenis bacaanku itu yang membuatnya kaget, tetapi wajahku yang basah karena air mata! Dikiranya aku sedang sedih dan menyembunyikan wajahku di balik buku itu. Dia berusaha menghiburku. Dibujuknya supaya aku bercerita tentang masalah yang membuatku menangis. Akhirnya dengan malu kuceritakan sebab air mataku jatuh.
Namun, setelah kuceritakan tentang nasib Snape, kisah cinta dan akhir hidupnya yang membuat mataku basah, Nisa bukannya ikut bersimpati. Dia terkekeh menertawaiku. Aku yang biasanya membaca novel-novel realis, kok bisa-bisanya membaca Harry Potter dan menagisi Snape yang fiktif, katanya. Waktu itu aku membela diri dengan mengatakan bahwa pendeskripsian dan pengaluran J. K Rowling lah yang kusukai dan kupelajari, bukan pemikiran yang dimuat dalam buku itu.
“Mungkin perkiraanmu salah. Hanya kamu dan Ani yang kagum padanya. Soalnya, setahuku beberapa laki-laki yang kukagumi tidak ada yang menanggung penderitaan seberat itu.” Aku merasa menemukan jalan buntu.
Ada dalam sejarah.” Kata Nisa pendek.
Dalam sejarah. Tokoh yang aku, Nisa, dan Ani kagumi! Siapa?
Sang Uswatun Hasanah kah? Tidak, bukan beliau. Walau di awal dakwah yang dilakukannya berbagai kebencian, permusuhan, dan penindasan melukai hatinya, menjelang masa kehidupan beliau seluruh jazirah Arab telah menerima dakwahnya. Pilar-pilar peradaban telah beliau bangun dengan kokoh, sahabat-sahabat pengikutnya bersedia mengorbankan apa saja untuk membela apa yang beliau bawa.
Umar dan Usman yang terbunuh? Tidak, bukan mereka. Umar menemukan syahid, cita-cita yang telah lama diidamkannya. Sedangkan Usman, beliau tidak hanya syahid, tetapi juga berkesempatan berbuka puasa ditempat-Nya. Akhir yag membahagiakan.
Pemimpin di negeri ini? Walau mereka berakhir tragis, jalan hidup dan pemikiran yang mereka emban bukanlah hal yang sepakat kami kagumi.
“Beri aku petunjuk yang lebih spesifik .” kataku pada Nisa.
Nisa menangkap keseriusan di suaraku. Ekspresi wajahnya kini ikut menampakkan keseriusan.
“1924.” Katanya lirih.
Secepat telingaku mendengar gelombang bunyi suaranya, secepat itu pula bunyi angka-angka itu mengasosiasikannya dengan sosok laki-laki itu. Sosok laki-laki yang perjuangannya, pemikirannya, jalan hidupnya sepakat kami kagumi.
Sosok laki-laki yang dengan segenap pemikiran dan usahanya, berusaha mempertahankan marcusuar peradaban yang pondasi-pondasinya telah dibangun Sang Uswatun Hasanah. Sosok laki-laki yang mengancam Perancis, bersiap akan melaksanakan jihad akbar pada Inggris yang berani mencoba mementaskan teater penghinaan terhadap Sang Uswatun Hasanah. Sosok laki-laki yang tidak tergiur dengan gunungan emas pemberian Zionis, untuk sekedar melepaskan sejengkal tanah Palestina. Laki-laki yang telah dikhianati, laki-laki yang terusir tanpa ada yang membela, laki-laki yang merasa bertanggung jawab membendung kehancuran yang akan dialami umat yang dipimpinnya….
Kami saling menatap. Nisa menangguk. Kegetiran dalam tatapan matanya menyiratkan perasaan yang serupa denganku. Tanpa kukatakan, dia telah paham kalau aku telah mengetahui sosok laki-laki dalam puisi itu.
“Puisi yang bagus dan sangat istimewa.” Kataku lirih. Setelah mengetahui sosok laki-laki dalam puisi itu, kekaguman pada kejelian memilih kata-kata, memadatkan makna ungkapan, dan keuniversalan perasaan yang diwakili puisi itu, membuat sosok Ani tiba-tiba berada sederajat dengan satrawan-sastrawan yang kukenal selama ini.
Ada sesuatu untukmu, tunggu ya.” Nisa masuk ke dalam kamarnya yang ada di seberang kamarku.
Ada kaitannya dengan Khalifah Abdul Hamid II?” Tanyaku.
Dia hanya tersenyum. Beberapa menit kemudian dia membawa plastik hitam dan meletakkannya di atas meja makan, di depanku.
“Untukmu.” Katanya.
Kubuka plastik hitam itu. Sebuah buku hardcover warna biru, setebal 5 cm membuatku tak dapat menyembunyikan senyumku. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, buku yang kuidam-idamkan! Aku memang sangat menginginkannya, tetapi melihat label harganya yang hampir menyentuh seratus ribu, membuatku harus menahan diri.
“Dua bulan lalu, saat kita di toko buku aku melihat kamu menimangnya. Lama sekali kamu tidak beranjak dari tempat itu. Sebenarnya aku ingin menyerahkannya malam kemarin, pas kamu genap 24 tahun. Tapi, saat aku masuk ke kamarmu, kamu sedang terlelap di depan Komputer. Aku tidak ingin mengganggumu. Pukul 3, sambil membangunkanmu untuk sholat Tahajud, aku ingin menyerahkannya lagi. Tapi kamu malah marah-marah dan mematikan Hp-mu.” Dia nampak kesal, tetapi kemudian tersenyum menatapku.
“Terima kasih.” Kataku pelan. Kelopak mataku kurasakan mulai memanas.
1: Lagu Puisi, Jikustik
2: Puisi karya Mariani
Pertengahan April 2009
.

Kamis, 23 April 2009

Cerpen: Franz dan Copu

Franz dan Copu
Oleh: Rismiyana
(cerpen ini sebenarnya sudah aku edit, dan jadi lebih singkat. Endingnya juga berubah. Fokus cerita hanya pada Franz, tapi pas tadi mau aku kirim eh, plashdishnya gak bisa dibuka. sudah deh, aku letakin aja cerpen persi lamanya kesini)
Saat aku memasuki halaman gedung, waktu tepat menunjukkan pukul 08.55 Wita. Beberapa karyawan terlihat sibuk memindahkan kardus-kardus dari dalam gudang ke atas mobil pick up. Sedan merah yang biasa digunakan Mama Franz masih terparkir di garasi, sedang di panaskan. Perlahan kunaiki tangga gedung. Pada belokan kedua aku melepas sepatuku.
“Silakan masuk Bu.” Nenek Franz yang pertama kali menyadari kedatanganku menyambutku hangat sambil tersenyum. Kemudian seperti biasa dia meneriakan nama cucunya. “ Franz! Ini ibu gurunya sudah datang. Ayo belajar!”
Mama Franz yang telah siap dengan tas kerjanya juga melihat kedatanganku. Wanita bersuara lembut itu, seperti biasa menyambutku dengan senyumnya. “Oh, Ibu sudah datang. Frans, ibunya sudah datang.”
“Mbak Mina mana? Mbak Mina!” terdengar teriakan Franz dari dalam kamar.
“Mina, Mina! Kamu temani Franz belajar dulu. Biar nanti Sita yang mengurusi urusan dapur.” Nenek Franz segera memanggil Mbak Mina, pembantu yang bertugas mengasuh Franz.
“Mari Bu, saya pergi dulu.” Pamit mama Franz.
“Ya.” Aku mengangguk sambil tersenyum.
Setelah dibujuk-bujuk dan dipenuhi semua permintaannya oleh Mbak Mina, Franz kini siap belajar. Pagi ini dia memakai t-shirt dan celana kuning yang senada dengan warna kulitnya.
Franz masih duduk di TK nol kecil atau TK A. Umurnya 5 tahun. Neneknya menargetkan sebelum masuk SD dia telah lancar membaca. Maka saat membaca iklan baris di surat kabar yang memuat bimbel tempatku bernaung dia segera menghubungi dan meminta sisa 2 minggu libur semester ini cucunya diberi les membaca selama 1 jam setiap pagi.
Franz sangat sensitif dan pemalu. Selama hampir 2 minggu ini dia tidak pernah berbicara langsung padaku. Setiap menginginkan sesuatu dia akan berbisik pada Mbak Mina, dan Mbak Minalah yang akan mengutarakan bisikannya itu padaku. Selain itu, setiap kali ditegur atau dimarahi Mbak Mina yang memintanya untuk konsen pada bacaan, dia akan merajuk menutup mukanya atau tidur menelungkup. Semua itu baru akan berakhir bila Mbak Mina berulang-ulang minta maaf dan membujuk-bujuknya. Mbak Mina yang tamat SD dan baru memasuki usia 20 tahun itu, tidak diragukan lagi tampak sangat menyayangi Franz.
Franz mengalami kemajuan yang mengembirakan. Dalam rentang 3 bulan ke depan dia kutargetkan mampu lancar membaca dan dikte. Dalam 2 minggu ini kutargetkan dia mampu membaca dan dikte suku kata sederhana, yaitu suku kata tanpa huruf mati atau konsonan di ujung kata. Dan kini dia telah lancar membaca kata seperti itu. Bahkan sejak beberapa hari lalu aku mulai mengajarinya membaca kata yang terdiri atas huruf mati di ujung. Dan hari ini setelah memintanya membaca pelajaran yang kuberi hari sebelumnya, aku mulai menulis kata-kata yang berakhiran konsonan ‘t’.
“Coba baca.” Aku menuliskan suku kata ‘ta ma’ dan ‘se mu’ kemudian meminta Franz membacanya.
“Ta ma, se mu” bacanya lancar.
Aku kemudian menulis ‘ta mat, se mut’ dan meminta Franz membacanya lagi.
“Ta ma..” dia mendongak, menatapku. Tampak sekali kalau dia bingung dengan kehadiran huruf ‘t’ pada suku kata yang dibacanya. Poninya yang agak panjang dan menutupi alis kanan hampir menyentuh kelopak matanya yang sipit.
“M temannya a tetap dibaca ma, nah kalau ada huruf yang seperti pedang ini di ujungnya. Baca ‘ma’ terus lidahmu majukan, digigit sedikit. Jadi, bunyinya mat.” Aku menunjukkan cara mengucapkannya.
“Nah coba sekarang Franz baca yang ini.” Aku menunjuk tulisan ‘pa mit’.
“Pa mi…t” Walau agak pelan dia mengucapkan kata yang kutulis itu sambil menunjukkan ujung lidahnya yang dia gigit. Gigi serinya yang beberapa hari lalu lepas tampak meninggalkan rongga yang lucu.
“Ya, pinter!” aku memujinya sambil tersenyum menahan tawa.
Hari ini mood belajar Franz sedang bagus. Dan wanita tua yang dipanggil Franz dengan sebutan Copu itu tertidur di sofa. Ia tampak kelelahan menyiapkan sarapan sejak pagi tadi.
Hari yang menyenangkan!
***
Beberapa waktu lalu aku membaca buku yang menjelaskan bahwa manusia beraktivitas dalam hidupnya karena didorong oleh kebutuhan jasmani dan naluri-naluri atau gharizah yang ada pada dirinya. Bila kebutuhan jasmani, sepeti rasa lapar adalah dorongan yang harus dipenuhi, karena kalau tidak dipenuhi akan menyebabkan kematian, tidak demikian halnya dengan naluri-naluri. Naluri-naluri dapat dibelokkan, dapat diredam dengan pengaturan oleh akal.
Walau perasaan atau emosi manusia sangat beragam. Namun perasaan-perasaan itu hanya bermuara pada 3 jenis naluri, yaitu nau, baqa, dan tadayyun.
Nah, naluri-naluri itu kadang tidak muncul satu persatu. Misalnya, kadang nau muncul bersamaan dengan baqa. Sehingga yang terlihat adalah kasih sayang sebagai penampakan dari gharizah nau muncul bersamaan dengan kemarahan yang adalah penampakan dari gharizah baqa. Begitulah menurut buku yang pernah kubaca.
Kemunculan naluri nau dan baqa yang bersamaan itulah yang kuhadapi siang tadi pada diri copu.
Saat aku tiba, Franz yang pindah les pada siang hari dan memiliki jadwal les 2 kali seminggu suasana hatinya sedang gembira. Dia memperlihatkan mobil-mobilan hadiah ulang tahun yang baru dia dapatkan dari papanya. Kemudian sambil berteriak dan tertawa-tawa dia mendorong mobil-mobilan itu mengelilingi ruangan.
Teriakan-teriakan Mbak Mina yang memintanya belajar tidak dihiraukannya. Setiap kali digendong dan didudukkan di kursi belajar oleh Mbak Mina, Franz kembali melompat ke lantai. Sambil tertawa-tawa dia kembali mendorong, menabrak-nabrakkan mobil-mobilannya ke sofa, meja, dan berputar di ruang tengah.
Copu yang tadi sibuk memasak di dapur kelelahan dan sedang beristirahat mendengar teriakan mbak mini dan mengetahui Franz tidak mau belajar. Beberapa kali dia meneriakan nama Franz dari dalam kamar, menyuruhnya belajar. Tetapi Franz benar-benar sedang gembira. Dia sudah lupa dengan sakitnya cubitan dan kemarahan Copu yang biasanya selalu membuatnya takut. Selalu berhasil mendorongnya untuk konsen pada pelajaran.
Franz sedang mendorong mobilnya mengelilingi ruangan saat menyadari kedatangan Copunya. Segera dia berlari ke kursi dan duduk, siap belajar. Namun, copu sudah terlanjur marah. Di dekatinyaFranz, kemudian ditepuknya dengan keras pantat cucunya itu beberapa kali.
“Anak ini nakal! Nakal anak ini! Heran lho Bu, saya dengan anak ini. Sama sekali tidak memiliki kesadaran untuk belajar! Mau jadi apa! Kalo kamu tidak mau belajar, kamu akan jadi gelandangan, jadi pengemis! Kamu anak laki-laki! Lihat ibumu banting tulang kerja seharian di toko! Ini anaknya disuruh belajar tidak mau!” Dia sekarang menepuk bahu Franz.
“Kalau tidak mau belajar, keluar saja dari rumah ini! Sana ikut papamu! Dasar! Mamamu itu janda! Kamu anak laki-lakinya yang akan membantunya kerja!” Copu marah sambil menunjuk-nunjuk Franz. Suara serak wanita berumur tujupuluhan itu memenuhi ruangan.
“Mama Franz ini janda lho Bu. Kalau Franz nakal cubit dan pukul saja Bu. Tidak apa-apa.” Copu berkata padaku sambil berjalan menuju sopa di sudut ruanga. Dia kemudian merebahkan diri di sana.
Aku mengangguk sambil memaksa tersenyum. Sebenarnya aku sudah tahu mama dan papa Franz bercerai sewaktu Franz berumur 2 bulan. Mbak Mina yang menceritakan. Akan tetapi, mendengar anak umur lima tahun dimarahi dan dinasehati dengan ucapan seperti itu benar-benar membuatku syok.
Franz menunduk menekuri meja. Matanya basah. Sirna sudah kegembiraannya beberapa menit lalu. Mbak Mina segera memeluk dan menepuk-nepuk pelan punggungnya. Franz terisak.
“Copu jahat! Jahat! Franz benci!” teriak Frans lirih disela tangisnya.
“Makanya Frans belajar. Supaya Copu tidak marah.” Suara Mbak Mina berusaha menenangkan.
“Kalau Franz tidak mau belajar hantam saja Bu!” Teriak copu dari balik sopa.
Biasanya aku memulai belajar dengan menyodorkan beberapa kalimat yang berbentuk cerita sederhana yang harus dia baca dan kemudian kudiktekan padanya. Tetapi aku merasa iba pada Franz. Walau aku tahu kosa kata yang dipahaminya masih sedikit, belum mengenal apa arti kata ‘cerai’ dan ‘janda’, memorinya sangat baik. Suatu saat, tidak lama lagi dia akan mengerti. Dan bagi Franz yang sangat sensitif, kata itu pasti akan sangat menyakitkan baginya.
Kugambar bintang yang ukurannya cukup besar dan sebuah mobil di bawahnya. Sejak beberapa waktu lalu aku tahu Franz sangat suka gambar bintang dan mobil. Kuminta mbak mini menyiapka krayon.
“Sekarang, Frans warnai dulu bintang dan mobilnya. Nanti, kalau sudah selesai kita beri judul dan kita buat cerita tentang bintang dan mobil.” Jari tangannya yang lembut dan kecil menghapus sisa air mata dipipinya. Dari pancaran matanya, aku tahu perhatiannya mulai tersita pada gambar yang kubuat.
Saat dia mulai mewanai bintang dengan warna kuning, aku mengeluarkan pemen rasa jeruk di dalam tasku. Kuulurkan padanya.
“Mau?” Dia memandangku sesaat, lalu mengambil permen itu. Dia tampak kesulitan membuka bungkusnya.
“Sini, Ibu bukakan.” Kataku.
Sambil mengunyah permen yang kuberi dia melanjutkan mewarnai gambar itu.
“Copu itu sayang sama Franz. Copu marah karena copu ingin Franz suka belajar. Kalau Franz gak suka belajar, nanti Franz bodoh. Copu gak ingin Franz bodoh. Kata copu, orang bodoh nanti hidupnya susah, jadi gelandangan gak punya rumah, trus kerjanya gini di jalan.” Aku mengubah raut wajahku menjadi terlihat mengenaskan dan menadahkan tangan, meniru pengemis. “Franz mau?”
Melihatku seperti itu Frans menggeleng, “Gak mau.” Katanya.
Aku tertersenyum mendengar jawaban Frans. Di sopa aku tahu copu mendengar pembicaraan kami.
***
Oh ibu dan ayah selamat pagi
Kupergi belajar sampai siang nanti
…..
Franz menyanyikan lagu itu dengan pelan. Sejak beberapa hari ini dia ditugaskan guru TKnya menghapalkan lagu itu. Dan Franz terlihat sangat menyukai lagu itu.
“Bu, budiman itu apa” Tiba-tiba dia bertanya padaku. Dia kini sudah berani belajar denganku sendiri tanpa ditemani Mbak Mina.
“Budiman itu artinya baik. Murid budiman artinya murid yang baik. Murid budiman itu murid yang disayang teman, disayang guru, dan emm.. disayang kepala sekolah!” Jawabku sekenanya. Aku tahu bagi anak TK atau SD, kepala sekolah adalah jabatan yang sangat agung dan tak tersentuh. Disayang kepala sekolah bagi mereka tentu hal yang menakjubkan.
Franz mengangguk-angguk.
“Nah, kalau Frans mau jadi murid budiman, harus berkata-kata sopan dan rajin belajar. Yuk, kita membaca lagi.”
Aku mengeluarkan buku cerita bergambar dari dalam tasku.
Dia mengambil buku itu membolak-baliknya. Dia tertarik pada satu halaman. Sambil tersenyum ditunjukkannya padaku gambar 2 orang anak perempuan dan laki-laki yang sedang bermain.
“Ini Franz dan Celi lagi main” aku mengumpamakan gambar itu adalah gambar dia dan kakak perempuannya, Celi. Franz tertawa. Tiba-tiba tangannya menunjuk pada dua orang yang duduk menghadap televisi dibelakang kedua anak itu. Aku mulai merasa tidak nyaman.
“Ini mama, lagi nonton TV sambil menjahit baju Franz yang sobek.” Aku ingin mengalihkan perhatian Franz pada hal lain, tapi terlambat dia menunjuk gambar laki-laki yang sedang membaca koran disebelah perempuan itu.
“Ini siapa?” Tanyanya. Aku bingung menjawab apa. Sejak mendengar dia menyanyi lagu tentang murid budiman itu, aku sudah merasa tidak nyaman. Sejak dia bayi kedua orang tuanya telah bercerai. Kata copunya, mama Frans memergoki suaminya itu selingkuh dengan babysitter yang merawat Franz. Laki-laki itu memang sebulan sekali dihari minggu datang, menunggu di halaman untuk mengajak Franz jalan-jalan, tapi laki-laki itu tidak pernah mengantar kepergiannya ke sekolah, tidak pernah dilihatnya duduk menonton TV dengan ibunya dalam satu ruangan bersama mereka.
Melihatku hanya diam akhirnya Franz berkata, “Papa ya?”
Aku mengangguk dan berusaha mengelihkan perhatiannya.
“Franz, coba lihat jam.” Aku menunjuk jam didinding.
Dia tersenyum. Aku tadi datang jam 12.45 Wita, saat jarum jam yang paling panjang menunjuk angka 9 dan Franz tau itu artinya aku akan pulang ketika jarum jam berputar menunjuk angka 9 lagi.
“Bilang ke Mbak Mina atau copu, ibu mau pulang.” Baru selesai aku berkata seperti itu, copu keluar dari dapur.
“Sudah selesai ya, Bu. Franz, sebelum tidur siang minum susu dulu. Mbak Mina, tolong ambilkan susu di kulkas untuk Franz.” Franz berlari masuk ke dalam kamar.
“Bu coba cicipi bubur kacang hijau buatan saya. Enak lho Bu, baik untuk diet ibu. Tunggu sebentar saya ambilkan dulu.” Tergopoh-gopoh wanita tua itu masuk ke dapur.
Aku melihat jam. Jadwalku siang ini tidak terlalu padat. Jam 4 sore nanti, baru aku akan mengajar lagi.
Sejak jadwal belajar Franz dipindah siang, aku merasa sedikit tidak nyaman. Setiap kali baru tiba, copu akan menarik tanganku ke meja makan. Mengambilkan piring dan sendok untukku. Dia berkata dengan meyakinkan kalau makanan dirumah itu halal karena dua pembantunya yang ikut tinggal bersama mereka muslim juga sepertiku. Berbeda dengan daerah yang mengharuskan menolak pada tawaran pertama, aku dibesarkan dalam budaya yang menganggap penolakan terhadap sebuah tawaran (tanpa alas an yang kuat) adalah hal tabu.
Copu senang memasak. Masa tuanya dilaluinya dengan menyiapkan rantang untuk anak-anaknya yang sibuk bekerja, bahkan walaupun mereka telah berkeluarga dan tinggal ditempat lain. Pernah dia marah besar karena mama Franz tidak sempat sarapan di rumah. Berkali-kali dia berkata padaku bahwa masakan yang dijual di luar banyak penyedap rasa dan bahan pengawetnya. Itu tidak sehat. Masakan yang dibuatnya jauh lebih baik, karena terjamin kebersihannya, enak, tidak mengandung bahan pengawet dan penyedap rasa, alami dan sehat.
Setiap aku datang dia memintaku makan atau minimal mencicipi hasil masakannya. Pernah dia menawariku sup bakso ayam yang dicampur kembang tahu. Saat aku bercerita bahwa itu adalah pengalaman pertama aku makan kembang tahu, copu terlihat sangat gembira. Dia menyebutkan tempat-tempat yang menjual kembang tahu tersebut, harganya, cara mengolahnya dan terbuat dari bahan apa saja. Bahkan dia menyempatkan pergi kedapur untuk memperlihatkan kembang tahu yang belum dimasak dan menawariku. Lain waktu saat aku berkata sambal yang dibuatnya enak, copu mengajakku ke dapur memperlihatkan cara memisahkan ampas cabe agar sambal yang dibuat sehat untuk lambung, tidak terlalu pedas. Dia juga mengajari cara merebus ayam dengan baik, cara memasak mie rebus yang sehat, dan lainnya.
Aku sebenarnya yakin masakan yang dibuat copu tidak mengandung daging yang diharamkan. Tapi, saat dia beberapa kali menawariku masakan daging ayam dan sapi yang dicampur rempah-rempah, aku menduga bumbu-bumbu yang digunakannya mengandung arak, bukankah difilm-film kungfu yang kutonton koki-koki memasak daging tersebut dengan campuran arak. Setahuku dalam Islam arak sama dengan khamer dan mengkonsumsi zatnya adalah haram.
Akhirnya, aku menolak tawaran makan siangnya dengan beralasan sedang ingin diet. Maka copu memberikan pendapatnya tentang sayuran apa saja yang baik kukonsumsi. Berkali-kali dia menyarankan agar aku banyak mengkonsumsi kecambah, sangat baik bagi kulit katanya sambil memperlihatkan kulitnya yang tampak awet muda. Dan hampir setiap aku akan pulang copu memasukkan beberapa apel merah besar ke dalam tasku. Supaya tetap tidak kelaparan walau tidak makan nasi, katanya.
Tiga bulan telah berlalu. Franz kini telah lancar membaca dan dikte. Dia juga bisa berhitung sederhana. Namun, copu tetap memintaku untuk melanjutkan memberi pelajaran pada Franz.
Kalau dulu setip aku datang copu selalu meneriakan nama Franz, cucunya untuk siap-siap belajar, sekarang setiap aku tiba copu akan menggiringku kemeja untuk mencicipi kue-kue buatannya. Copu akan menungguku makan sambil bercerita tentang pengalamannya yang berjuang keras sejak kecil untuk mencapai kehidupannya yang nyaman seperti saat ini. Copu juga bercerita tentang kondisi politik yang kacau, tentang pantasnya Amerika bangkrut karena orangnya malas-malas, tentang perekonomian Jepang yang maju, tentang perasaan herannya akan sifat pemimpin negeri ini yang doyan korupsi, tentang banjir dimana-mana, tentang perbaikan jalan yang tak selesai-selesai. Sementara copu bercerita, kulihat Franz berteriak-teriak kesal dimeja belajar.
Dan bila saat belajar, terdengar suaraku meninggi, meminta Franz untuk memperhatikan apa yang kutulis terdengar teriakan dari balik sopa.
“Pukul saja Bu!” Atau
“Cubit saja Bu!” Atau
“Hantam saja Bu!”
Awal April, 2009