May Allah make our imaan stronger, our hearts pure with Your love and our mind knowledged in Your deen
Sabtu, 23 Oktober 2010
Doa Hening
DOA HENING
Ya Allah…
Jadikanlah keheningan ini sebagai wasilah mengingatmu
Jadikanlah kesunyian ini sebagai momen mentafakuri kebesaranmu
Ya Rabb….
Bantulah diri ini agar senantiasa bersyukur atas nikmatMu
Atas anugerahMu yang selalu terlimpah…
Ya Allah….
Penuhilah dada ini dengan keimanan kepadaMu,
Isi lah hati ini dengan kesabaran atas QadlaMu
Tolong jaga hati ini
Agar senantiasa mengingatMu
Agar senantiasa ikhlas menjalani hidup ini
Semata mengharap keridhoanMu
Amin
Riam Kanan, Selasa 06 April 2010, 17:41 Wita
Membicarakan Model Pembelajaran
MEMBICARAKAN MODEL PEMBELAJARAN
DI WARUNG PINGGIR JALAN
Sekitar 10 bulan lalu saat masih mendiami kost di sekitar lingkungan Unlam, kami (saya, kakak sepupu, dan dua orang teman lainnya) kadang-kadang makan bareng di warung tenda pinggir jalan. Makan bareng dalam artian, salah satu dari kami mentraktir yang lainnya. Dan kakak sepupu saya yang paling sering melakukannya, alasannya tentu saja karena pendapatannya yang paling lumayan diantara kami.
Namun, menurut saya ada satu alasan lagi mengapa dia sering mentraktir kami, terutama saya adik sepupunya. Dia pernah berkata setelah mengikuti ritual makan bareng di warung untuk pertama kalinya, “mudah sekali membuat kalian bahagia”. Ya, saat itu ada nasi putih hangat, the es dingin, lele goreng yang masih berasap karena baru diangkat dari penggorengan, dan lalapan. Jenis lauk yang biasanya sama jumlahnya dengan jumlah kami yang melingkarinya dan kami seperti biasa saling berbagi. Sebenarnya, setelah seharian mengajar, kuliah, pengajian dan diskusi, dengan uang pas-pasan yang ada, ditraktir makan tentu hal yang menyenangkan bukan? Atau saat kita memiliki uang lebih, mentraktir teman-teman, memberi uang pada pengamen yang kadang tidak hapal lirik lagu juga segerombolan anak-anak lusuh yang tiba-tiba datang meminta receh adalah hal-hal kecil tapi bila dihayati cukup membahagiakan.
Suatu ketika, di bulan Desember, penghujung 2009 selesai mengikuti diklat guru mata pelajaran yang hamper seminggu saya ikuti, kami bertiga (saya, kakak sepupu saya, dan Amali) mengunjungi salah satu warung di pinggir jalan itu. Di acara makan bareng itu (ini adalah acara makan bareng terakhir kami sebelum pindah), seperti biasa kami berbagi cerita. Dengan bersemangat saya menceritakan pengalaman selama mengikuti diklat sekaligus mengutarakan pemikiran yang muncul dibenak. Saya menceritakan tentang model-model pembelajaran yang sekarang sedang giat digalakkan di sekolah-sekolah. Model-model pembelajaran yang mengkondisikan guru hanya sebagai fasilitator, model-model pembelajaran yang menurut pemikiran saya banyak menghabiskan waktu dan energy siswa untuk melakukan berbagai aktifitas penemuan sendiri.
Saya menceritakan itu, karena Amali yang juga telah berstatus guru, dulu mengambil mata kuliah yang sama dengan saya, Dari beberapa dosen, kami mendapat informasi tentang asal-usul aliran filsafat yang berkembang di dunia, asa-usul pemerolehan bahasa, teori-teori pembelajaran dan kami beberapa kali mendiskusikan tentang itu, membenturkannya dengan pemahaman keislaman yang kami miliki. Walau Kami bukan pakar pendidikan dan masih belajar, kami menemukan kesalahan-kesalahan mendasar.
Saya ceritakan masalah itu pada sepupu saya juga karena saya tahu dia kadang-kadang secara berkala berkunjung ke sekolah-sekolah di daerah yang sedang berusaha menjadi SBI (Sekolah Berstandar Internasional) untuk memberikan pelatihan-pelatihan tentang model pembelajaran. Jadi, pembicaraan itu menurut saya lumayan relevan, walau dibicarakan di warung kaki lima sekalipun, bahkan sambil memandang gelas yang tinggal menyisakan es batu saja.
Menjelang akhir makan bareng itu, saya membuat kesimpulan. Bahwa model-model pembelajaran yang seperti itu jika mendominasi proses belajar mengajar di sekolah, tidak akan membentuk atau menghasilkan anak didik dengan karakter seorang pemikir, seorang ahli sekelas mujtahid-mujtahid di jaman keemasan Islam. Bahkan bila model pembelajaran seperti itu diterapkan sejak dini, yaitu sejak pendidikan dasar, maka karakter seorang anak yang memiliki syaksiyah (pola piker dan pola sikap) Islam tidak akan terbentuk. Model-model pembelajaran yang bila dirunut berasal dari pemikir-pemikir atheis yang mengimani dialektika materialism, pemikir-pemikir sekuler yang hanya mengakui keberadaan Tuhan sebatas sebagai Pencipta bukan sebagai pembuat aturan di dunia. Pemikir-pemikir yang telah salah sejak awal, sejak mendefenisikan apa itu akal. Padahal akal adalah pusat terjadinya proses pembelajaran.
Tiba-tiba seorang ibu-ibu memberikan komentarnya, ibu-ibu itu mungkin berusia sekitar 4o tahun. Dia baru datang dan sedang menunggu makanannya yang sedang disiapkan pelayan warung. Saya tidak ingat redaksi, susunan kata-kata beliau, hanya maknanya kurang lebih bahwa kami salah dalam memahami akal (beliau menyamakan otak dengan akal),, menurutnya manusia memiliki otak kiri dan otak kanan yang memiliki keterkaitan dengan keterampilan motorik, keterampilan bahasa, dan lain-lain. Model-model pembelajaran menyesuaikan dengan itu.
Kami bertiga terdiam mendengarkan perkataan ibu itu. Setengah kaget juga, tidak menyangka akan ada yang tiba-tiba berfartisipasi dalam diskusi kami. Sebelumnya kami hanya mengira pelayan-pelayan warunglah yang menjadi pendengar setia kami . Saya berusaha keluar dari kekakuan itu sambil menganguk-angguk. “Pian ngajar dimana, Bu?” Beliau menyebutkan sebuah Sekolah Menengah Atas di Banjarmasin. Beliau selanjutnya mengatakan bahwa dipraktek mengajar selanjutnya kami akan lebih memahami tentang model-model pembelajaran.
Tanpa dikomando kami bertiga serempak mengangguk dan entah meringgis atau tersenyum berpamitan dengan ibu itu. Di luar tenda, ditempat parkir saya bertanya pada teman saya, Amali, “Ibu itu mengira kita mahasiswa ya?”
“Mahasiswa yang sedang mengambil matakuliah PPL.” Jawabnya sambil tekurihing (tersenyum).
Saat sepeda motor saya bawa melaju meninggalkan tempat itu, sepupu saya yang duduk di belakang berkata, “Ris, nanti-nanti kamu jangan seperti ibu tadi ya.” Saya mengiyakan, sambil memusatkan perhatian ke jalan yang terlihat remang-remang.
“Kalau ada forum yang kamu tidak ikut di dalamnya, atau ketemu orang-orang yang sedang ngobrol jangan langsung berkomentar, itu tidak sopan.” Lagi-lagi saya mengiyakan, Ibu tersebut memang tiba-tiba saja berkomentar, padahal beliau memiliki skemata yang berbeda dengan kami, dan mengira kami mahasiswa yang masih PPL.
DI WARUNG PINGGIR JALAN
Sekitar 10 bulan lalu saat masih mendiami kost di sekitar lingkungan Unlam, kami (saya, kakak sepupu, dan dua orang teman lainnya) kadang-kadang makan bareng di warung tenda pinggir jalan. Makan bareng dalam artian, salah satu dari kami mentraktir yang lainnya. Dan kakak sepupu saya yang paling sering melakukannya, alasannya tentu saja karena pendapatannya yang paling lumayan diantara kami.
Namun, menurut saya ada satu alasan lagi mengapa dia sering mentraktir kami, terutama saya adik sepupunya. Dia pernah berkata setelah mengikuti ritual makan bareng di warung untuk pertama kalinya, “mudah sekali membuat kalian bahagia”. Ya, saat itu ada nasi putih hangat, the es dingin, lele goreng yang masih berasap karena baru diangkat dari penggorengan, dan lalapan. Jenis lauk yang biasanya sama jumlahnya dengan jumlah kami yang melingkarinya dan kami seperti biasa saling berbagi. Sebenarnya, setelah seharian mengajar, kuliah, pengajian dan diskusi, dengan uang pas-pasan yang ada, ditraktir makan tentu hal yang menyenangkan bukan? Atau saat kita memiliki uang lebih, mentraktir teman-teman, memberi uang pada pengamen yang kadang tidak hapal lirik lagu juga segerombolan anak-anak lusuh yang tiba-tiba datang meminta receh adalah hal-hal kecil tapi bila dihayati cukup membahagiakan.
Suatu ketika, di bulan Desember, penghujung 2009 selesai mengikuti diklat guru mata pelajaran yang hamper seminggu saya ikuti, kami bertiga (saya, kakak sepupu saya, dan Amali) mengunjungi salah satu warung di pinggir jalan itu. Di acara makan bareng itu (ini adalah acara makan bareng terakhir kami sebelum pindah), seperti biasa kami berbagi cerita. Dengan bersemangat saya menceritakan pengalaman selama mengikuti diklat sekaligus mengutarakan pemikiran yang muncul dibenak. Saya menceritakan tentang model-model pembelajaran yang sekarang sedang giat digalakkan di sekolah-sekolah. Model-model pembelajaran yang mengkondisikan guru hanya sebagai fasilitator, model-model pembelajaran yang menurut pemikiran saya banyak menghabiskan waktu dan energy siswa untuk melakukan berbagai aktifitas penemuan sendiri.
Saya menceritakan itu, karena Amali yang juga telah berstatus guru, dulu mengambil mata kuliah yang sama dengan saya, Dari beberapa dosen, kami mendapat informasi tentang asal-usul aliran filsafat yang berkembang di dunia, asa-usul pemerolehan bahasa, teori-teori pembelajaran dan kami beberapa kali mendiskusikan tentang itu, membenturkannya dengan pemahaman keislaman yang kami miliki. Walau Kami bukan pakar pendidikan dan masih belajar, kami menemukan kesalahan-kesalahan mendasar.
Saya ceritakan masalah itu pada sepupu saya juga karena saya tahu dia kadang-kadang secara berkala berkunjung ke sekolah-sekolah di daerah yang sedang berusaha menjadi SBI (Sekolah Berstandar Internasional) untuk memberikan pelatihan-pelatihan tentang model pembelajaran. Jadi, pembicaraan itu menurut saya lumayan relevan, walau dibicarakan di warung kaki lima sekalipun, bahkan sambil memandang gelas yang tinggal menyisakan es batu saja.
Menjelang akhir makan bareng itu, saya membuat kesimpulan. Bahwa model-model pembelajaran yang seperti itu jika mendominasi proses belajar mengajar di sekolah, tidak akan membentuk atau menghasilkan anak didik dengan karakter seorang pemikir, seorang ahli sekelas mujtahid-mujtahid di jaman keemasan Islam. Bahkan bila model pembelajaran seperti itu diterapkan sejak dini, yaitu sejak pendidikan dasar, maka karakter seorang anak yang memiliki syaksiyah (pola piker dan pola sikap) Islam tidak akan terbentuk. Model-model pembelajaran yang bila dirunut berasal dari pemikir-pemikir atheis yang mengimani dialektika materialism, pemikir-pemikir sekuler yang hanya mengakui keberadaan Tuhan sebatas sebagai Pencipta bukan sebagai pembuat aturan di dunia. Pemikir-pemikir yang telah salah sejak awal, sejak mendefenisikan apa itu akal. Padahal akal adalah pusat terjadinya proses pembelajaran.
Tiba-tiba seorang ibu-ibu memberikan komentarnya, ibu-ibu itu mungkin berusia sekitar 4o tahun. Dia baru datang dan sedang menunggu makanannya yang sedang disiapkan pelayan warung. Saya tidak ingat redaksi, susunan kata-kata beliau, hanya maknanya kurang lebih bahwa kami salah dalam memahami akal (beliau menyamakan otak dengan akal),, menurutnya manusia memiliki otak kiri dan otak kanan yang memiliki keterkaitan dengan keterampilan motorik, keterampilan bahasa, dan lain-lain. Model-model pembelajaran menyesuaikan dengan itu.
Kami bertiga terdiam mendengarkan perkataan ibu itu. Setengah kaget juga, tidak menyangka akan ada yang tiba-tiba berfartisipasi dalam diskusi kami. Sebelumnya kami hanya mengira pelayan-pelayan warunglah yang menjadi pendengar setia kami . Saya berusaha keluar dari kekakuan itu sambil menganguk-angguk. “Pian ngajar dimana, Bu?” Beliau menyebutkan sebuah Sekolah Menengah Atas di Banjarmasin. Beliau selanjutnya mengatakan bahwa dipraktek mengajar selanjutnya kami akan lebih memahami tentang model-model pembelajaran.
Tanpa dikomando kami bertiga serempak mengangguk dan entah meringgis atau tersenyum berpamitan dengan ibu itu. Di luar tenda, ditempat parkir saya bertanya pada teman saya, Amali, “Ibu itu mengira kita mahasiswa ya?”
“Mahasiswa yang sedang mengambil matakuliah PPL.” Jawabnya sambil tekurihing (tersenyum).
Saat sepeda motor saya bawa melaju meninggalkan tempat itu, sepupu saya yang duduk di belakang berkata, “Ris, nanti-nanti kamu jangan seperti ibu tadi ya.” Saya mengiyakan, sambil memusatkan perhatian ke jalan yang terlihat remang-remang.
“Kalau ada forum yang kamu tidak ikut di dalamnya, atau ketemu orang-orang yang sedang ngobrol jangan langsung berkomentar, itu tidak sopan.” Lagi-lagi saya mengiyakan, Ibu tersebut memang tiba-tiba saja berkomentar, padahal beliau memiliki skemata yang berbeda dengan kami, dan mengira kami mahasiswa yang masih PPL.
Senin, 27 September 2010
Berenang dan Terbang
BERENANG DAN TERBANG
(catatan awal tahun 2010)
Pernah menyaksikan tayangan tentang dunia laut? Seekor, sepasang, atau sekumpulan ikan berenang, melesat dalam kebebasannya.
Pernah memandang burung-burung di langit ? Mereka terbang, menukik, mengembangkan sayap-sayap di angkasa.
Tinggalkan aquarium itu!
Tinggalkan sangkar itu!
Pecahkan dinding-dinding tembus pandang itu dan patahkan jeruji-jeruji yang menghalangi kebebasan.
Ikan diciptakan-Nya untuk berenang di sungai, dilautan, di samudera….
Burung-burung diciptakan-Nya untuk terbang, menjelajah, mengembara ke segala penjuru arah….
Dan Kita?
Demokrasi adalah aquarium! Yang menghalangi kita menerapkan syariat-syariat Allah
Sekularisme adalah sangkar! Mengurung kita dalam kemaksiatan, memisahkan dien kita dengan kehidupan.
Ingatlah.., kita diciptakan untuk tunduk, menghamba hanya pada-Nya
06.30 6 Januari 2010
Tulisan di atas aku tulis hampir 9 bulan lalu. terinspirasi 2 pengalaman.
Pertama, pengalaman kehujanan pada saat berangkat ke Rantau Bujur. Memasuki wilayah Simpang Empat Banjarbaru,titik hujan menyambutku. Waktu itu targetku adalah bagaimana tiba ke dermaga Riam Kanan tanpa kebasahan. Sempat berteduh beberapa kali, namun di Karang Intan hujan deras mengguyur sepanjang jalan, jaket plastik yang kukenakan tidak mampu melindungiku. Targetku waktu itu berubah menjadi bagaimana agar aku tiba di dermaga tanpa mogok. Genangan air hujan memenuhi jalan, bahkan dibeberapa tempat sudah sebatas lutut. Untunglah ada truk pengangkut tanah kosong yang bisa kuikuti. aku melintasi bekas rodanya, berlomba dengan genangan air. di beberapa bukit yang kulewati air hujan membentuk aliran sungai deras. Sepeda motorku seolah-olah sedang membelah aliran sungai, bukan berenang, tapi terbang!
Kedua, pengalaman beberapa kali pulang ke Banjarmasin pada saat sore hari. Di wilayah Aranio dekat Tambela, angin senja kala mendung terasa berbeda. sambil melaju menuruni perbukitan dengan angin menerpa kencang, pandangan sesekali kuedarkan pada pemandangan di bawah. Sensasinya seperti sedang terbang!
(catatan awal tahun 2010)
Pernah menyaksikan tayangan tentang dunia laut? Seekor, sepasang, atau sekumpulan ikan berenang, melesat dalam kebebasannya.
Pernah memandang burung-burung di langit ? Mereka terbang, menukik, mengembangkan sayap-sayap di angkasa.
Tinggalkan aquarium itu!
Tinggalkan sangkar itu!
Pecahkan dinding-dinding tembus pandang itu dan patahkan jeruji-jeruji yang menghalangi kebebasan.
Ikan diciptakan-Nya untuk berenang di sungai, dilautan, di samudera….
Burung-burung diciptakan-Nya untuk terbang, menjelajah, mengembara ke segala penjuru arah….
Dan Kita?
Demokrasi adalah aquarium! Yang menghalangi kita menerapkan syariat-syariat Allah
Sekularisme adalah sangkar! Mengurung kita dalam kemaksiatan, memisahkan dien kita dengan kehidupan.
Ingatlah.., kita diciptakan untuk tunduk, menghamba hanya pada-Nya
06.30 6 Januari 2010
Tulisan di atas aku tulis hampir 9 bulan lalu. terinspirasi 2 pengalaman.
Pertama, pengalaman kehujanan pada saat berangkat ke Rantau Bujur. Memasuki wilayah Simpang Empat Banjarbaru,titik hujan menyambutku. Waktu itu targetku adalah bagaimana tiba ke dermaga Riam Kanan tanpa kebasahan. Sempat berteduh beberapa kali, namun di Karang Intan hujan deras mengguyur sepanjang jalan, jaket plastik yang kukenakan tidak mampu melindungiku. Targetku waktu itu berubah menjadi bagaimana agar aku tiba di dermaga tanpa mogok. Genangan air hujan memenuhi jalan, bahkan dibeberapa tempat sudah sebatas lutut. Untunglah ada truk pengangkut tanah kosong yang bisa kuikuti. aku melintasi bekas rodanya, berlomba dengan genangan air. di beberapa bukit yang kulewati air hujan membentuk aliran sungai deras. Sepeda motorku seolah-olah sedang membelah aliran sungai, bukan berenang, tapi terbang!
Kedua, pengalaman beberapa kali pulang ke Banjarmasin pada saat sore hari. Di wilayah Aranio dekat Tambela, angin senja kala mendung terasa berbeda. sambil melaju menuruni perbukitan dengan angin menerpa kencang, pandangan sesekali kuedarkan pada pemandangan di bawah. Sensasinya seperti sedang terbang!
Sabtu, 18 September 2010
Pertemuan Pagi
Pertemuan Pagi
Awal Ramadhan kemarin, saperti beberapa hari sebelumnya, mendekati pukul 06.30 saat jamaah sholat shubuh di mesjid samping rumah bubaran, saya sudah siap berangkat. Buku setoran bacaan, Iqro merangkap juz amma, pulpen dan kunci serap rumah telah saya pastikan tidak ada yang tertinggal.
“La, aku berangkat!”
“Kemana?”
“Seperti biasa, menuntut ilmu! Assalamualaikum!” Teriak saya berpamitan sambil menuruni tangga rumah. Samar-samar saya dengar jawaban dari dalam kamarnya.
Setelah mengeluarkan sepeda motor, teman yang selalu setia menemani perjalanan dan memastikan pintu tertutup rapat, segera saya melaju membelah kota Banjarmasin. Udara pagi yang lembab dan segar menerpa kerudung hitam yang saya kenakan lengkap dengan slayer gelap menutupi wajah.
Tidak sampai lima belas menit, saya telah tiba di tempat tujuan. Suara santri-santri yang sedang menghafal Quran terdengar di halaman yang lengang. Setelah memarkir sepeda motor, saya merapikan pakaian kemudian masuk ke bangunan itu.
Beberapa santri telah membentuk 3 barisan. Barisan kiri dan tengah di dominasi mereka yang akan menyetor hafalan Quran. Tiga santri yang ada di barisan kanan, sama seperti saya baru mulai memperbaiki pengucapan lafal abjad arab dengan membaca iqro. Segera aku bergabung dengan barisan itu dan duduk di urutan 4. Dan seperti santri lain, sebelum Ummi (panggilan untuk guru kami) datang, saya membuka iqro 5 dan mulai mengulang-ulang membaca.
Tiba-tiba telinga saya menangkap suara yang saya kenal di belakang saya. Saya menoleh.
“Hei!” saya dan sosok itu sama-sama berbarengan mengucapkan seruan itu kemudian tertawa. Waktu SMU kami pernah satu sekolah. Dan beberapa waktu sebelumnya kami pernah beberapa kali kajian dalam halaqah (kelompok) yang sama.
“kamu ngaji di sini juga kah?” tanya saya.
“Iya! Aku ingin tahfiz Quran, siapa tau bisa jadi hafizah. Kalau kamu?”Tanyanya.
“Aku pengen jadi mujtahid.” Jawab saya sambil tersenyum.
“Beh, yang bener aja?” Dia mengerutkan kening, kemudian tertawa. Saya juga.
Pertemuan yang menyenangkan, pagi yang membahagiakan.
Awal Ramadhan kemarin, saperti beberapa hari sebelumnya, mendekati pukul 06.30 saat jamaah sholat shubuh di mesjid samping rumah bubaran, saya sudah siap berangkat. Buku setoran bacaan, Iqro merangkap juz amma, pulpen dan kunci serap rumah telah saya pastikan tidak ada yang tertinggal.
“La, aku berangkat!”
“Kemana?”
“Seperti biasa, menuntut ilmu! Assalamualaikum!” Teriak saya berpamitan sambil menuruni tangga rumah. Samar-samar saya dengar jawaban dari dalam kamarnya.
Setelah mengeluarkan sepeda motor, teman yang selalu setia menemani perjalanan dan memastikan pintu tertutup rapat, segera saya melaju membelah kota Banjarmasin. Udara pagi yang lembab dan segar menerpa kerudung hitam yang saya kenakan lengkap dengan slayer gelap menutupi wajah.
Tidak sampai lima belas menit, saya telah tiba di tempat tujuan. Suara santri-santri yang sedang menghafal Quran terdengar di halaman yang lengang. Setelah memarkir sepeda motor, saya merapikan pakaian kemudian masuk ke bangunan itu.
Beberapa santri telah membentuk 3 barisan. Barisan kiri dan tengah di dominasi mereka yang akan menyetor hafalan Quran. Tiga santri yang ada di barisan kanan, sama seperti saya baru mulai memperbaiki pengucapan lafal abjad arab dengan membaca iqro. Segera aku bergabung dengan barisan itu dan duduk di urutan 4. Dan seperti santri lain, sebelum Ummi (panggilan untuk guru kami) datang, saya membuka iqro 5 dan mulai mengulang-ulang membaca.
Tiba-tiba telinga saya menangkap suara yang saya kenal di belakang saya. Saya menoleh.
“Hei!” saya dan sosok itu sama-sama berbarengan mengucapkan seruan itu kemudian tertawa. Waktu SMU kami pernah satu sekolah. Dan beberapa waktu sebelumnya kami pernah beberapa kali kajian dalam halaqah (kelompok) yang sama.
“kamu ngaji di sini juga kah?” tanya saya.
“Iya! Aku ingin tahfiz Quran, siapa tau bisa jadi hafizah. Kalau kamu?”Tanyanya.
“Aku pengen jadi mujtahid.” Jawab saya sambil tersenyum.
“Beh, yang bener aja?” Dia mengerutkan kening, kemudian tertawa. Saya juga.
Pertemuan yang menyenangkan, pagi yang membahagiakan.
Senin, 08 Februari 2010
Pasar Itu Milik Ibuku (cerpen)
ini cerpen pernah dimua di RB dan dimuat juga dalam antalogi penulis perempuan Kal-Sel "Nyanyian Tanpa Nanyian". Cerpen ini kutulis sambil mengenang teman-teman yang pernah dekat, terutama Irma. eman yang pindah rumah dan walau sudah muter-muter nyari, alamatnya belum ketemu juga :(
Pasar Itu Milik Ibuku
Oleh: Rismiyana
Aku sedang bermain dengan Anto di pasar, saat kurasakan sepasang tangan menggoyang-goyangkan kedua tanganku. Dengan malas kubuka kelopak mataku yang masih terasa berat.
”Wan, bangun. Nanti kamu terlambat tiba di sekolah,” ternyata sepasang tangan itu milik ibu. Sekarang, ia berusaha membantuku berdiri.
”Hari ini Jum’at Bu, masuknya jam 8. Jadi tidak apa-apa siangan dikit.” Tapi ibu seperti tidak mendengar penjelasanku. Tangannya kini menuntunku ke ruang bawah, ke kamar mandi. Eh, bukan kamar mandi, tapi lorong kecil antara dinding rumah dan pagar tembok rumah sebelah yang kami jadikan sebagai tempat mandi dan mencuci.
Setelah menyiram badanku dengan beberapa gayung air dan sedikit bilasan sabun, aku bergegas mengenakan seragamku. Tadi aku lupa, sejak Senin lalu aku harus berjalan kaki ke sekolah. Jadi, walaupun hari ini masuk jam 8, tetap saja aku harus berangkat jam 07.15 pagi.
Aku benar-benar tidak menyukai keadaan ini. Seharusnya sepeda motor bapak tidak dijual.
Mengapa sepeda motor bapak dijual? Padahal selain dapat digunakan untuk mengantar dan menjemputku sekolah, sepeda motor itu digunakan oleh bapak untuk mengojek. Bapak kan tukang ojek. Kalau sepeda motornya dijual terus bagaimana bapak bisa mengojek?
Ya... seharusnya bapak tidak menjual sepeda motornya. Kalau sepeda motor itu ada aku tidak harus berangkat begitu pagi seperti ini. Aku juga tidak harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke sekolahku karena bapak lah yang akan mengantar dan menjemputku.
***
Siang ini panas sekali. Walau sudah memasuki bulan September, hujan belum juga turun. Terik matahari siang ini, sama seperti kemarin. Tenggorokanku terasa kering. Lututku ngilu. Aku masih belum terbiasa berjalan jauh seperti ini.
Di depan pintu rumah kulihat dua pasang sepatu bagus berjejer rapi. Siapa yang bertamu ke rumah? Pasti teman sekolah Kak Irni.
”Jadinya bagaimana Ir? Kamu datang atau tidak di acara perpisahan kelulusan SMU kita?”
”Belum tahu, aku masih belum punya uang untuk menyewa baju adat buat perpisahan.”
”Itu bisa kita siasati. Kita bisa ngumpulin duit buat kamu.”
”Ya Ir, kita bisa mengumpulkannya untuk kamu”
Dugaanku tepat dua orang anak perempuan itu adalah teman sekolah Kak Irni. Aku mengucap salam lalu bergegas melewati mereka, langsung ke loteng.
Rumah kami terdiri dari tiga bagian. Ruangan bawah hanya cukup untuk dua sofa tua yang berlobang di sana-sini yang sekarang menjadi tempat Kak Irni menerima tamunya, selebihnya didereti meja dan rak tua lapuk tempat peralatan memasak. Ruang kedua, lorong yang kami fungsikan sebagai kamar mandi. Dan terakhir loteng, tempat kami bersama-sama nonton TV, tempat rak-rak pakaian, dan tempat bagi kami untuk beristirahat tidur.
Setelah teman-temannya pulang, Kak Irni naik ke loteng.
”Kak kenapa sepeda motor bapak dijual. Wawan capek jalan kaki ke sekolah.” Keluhku padanya.
”Wan, sepeda motor bapak dijual digunakan untuk beli beras dan modal ibu jualan.”
”Jualan? Jadi Kak, ibu akan jualan lagi?”
”Ya.”
Perkataan Kak Irni bahwa ibu akan jualan lagi membuatku merasa senang. Ibu akan jualan lagi! Hore...! Itu artinya, aku bisa ketemu Anto lagi. Kami bisa bermain-main bersama lagi. Aku juga bisa bertemu Budi anak penjual beras yang warungnya ada di pojok kanan pasar, bertemu Ima anak penjual sayur yang warungnya dekatan dengan warung mamanya Anto, dan aku juga bisa bertemu dan bermain dengan yang lainnya!
Ibu memang sudah lama tidak jualan. Sudah tiga bulan. Kata Ibu, warung tempat ibu jualan akan diperbaiki. Bahkan bukan hanya warung milik ibu, tapi seluruh pasar.
Nanti, kalau sudah diperbaiki, pasar tempat ibu jualan akan menjadi pasar yang bagus dan megah. Menurut ibu, sebutannya bukan lagi Pasar Banjarmasin, tapi Sentra Banjarmasin. Tempat itu katanya kelak akan menjadi tempat orang-orang berjualan terbesar di Kalimantan!
Membayangkan semua itu aku tidak dapat menahan senyumku. Sebenarnya dengan keadaan pasar yang dulu bagiku tidak masalah. Karena, asal bisa melihat ibu berjualan dengan tenang dan bisa bermain bersama-sama Anto, Budi dan Ima, itu semua sudah membuatku senang. Tapi, bila tempat ibu berjualan menjadi lebih bagus dan tempat kami bermain menjadi lebih luas, tentu itu akan jauh lebih menyenangkan bukan.
Tapi, tiba-tiba muncul pertanyaan di benakku.
”Kak, berarti pasar tempat ibu jualan sudah selesai diperbaiki ya?” Kataku pada Kak Irni yang sedang melipat pakaian.
”Belum,” sahut Kak Irni.
Jawaban itu membuatku bingung.
”Terus ibu jualan dimana?”
”Di pinggir jalan pakai gerobak.”
Mendengar jawaban Kak Irni kegembiraanku tiba-tiba hilang. Aku menjadi ketakutan.
”Kak, kalau ada razia gimana? Kan jualan di pinggir jalan dilarang. Aku pernah melihat petugas-petugas berseragam mengambili gerobak pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan raya. Nanti gerobak jualan ibu bisa diambil oleh mereka.”
”Ibu jualannya sore jam 4 sampai malam. Jadi tidak akan kena razia.”
Perasaanku sekarang tidak tenang. Aku ingin sekali perbaikan pasar tempat ibu jualan dulu segera selesai. Aku ingin melihat ibu jualan di pasar pagi dan siang hari, bukan di gerobak di pinggir jalan malam-malam. Aku juga ingin bertemu dan bermain dengan Anto dan yang lain....
***
Sudah dua bulan ibu berjualan di pinggir jalan. Sekarang, musim hujan telah tiba. Aku tidak menyangka, berubahnya keadaan membuatku tidak lagi menyukai hujan. Aku benci hujan!
Dulu aku menyukai hujan. Setiap hujan tiba, dan baru berbentuk gerimis, aku, Anto, Budi dan Ima akan berloncatan ke tepi pasar. Di sana kami melihat ke langit, berharap hujan dengan tetes air besar-besar jatuh. Biasanya bila hujan lebat itu turun kami akan bergegas ke tanah lapang di dekat mesjid untuk bermain bola. Atau kami juga bisa membuat sungai-sungai di atas tanah berpasir di belakang pasar.
Tapi sekarang... hujan selalu membuatku sedih.
Dua minggu lalu aku melihat wajah ibu sangat khawatir. Saat itu mendung, dan ibu akan berjualan di pinggir jalan dengan gerobaknya. Wajah ibu berubah muram dan sedih saat hujan benar-benar turun deras. Ibu menunda berjualan, menunggu hujan reda. Kata ibu, kalau hujan seperti itu, pembeli hampir tidak ada. Selain itu dagangan ibu akan basah. Aku telah tidur saat ibu berangkat, dan baru terjaga saat ibu dan bapak pulang, waktu itu malam sudah larut sekali.
Sejak itu, aku tahu hujan pada sore hari atau menjelang malam akan membuat ibu susah.
Selain itu, hujan yang turun pagi-pagi membuatku khawatir. Bapak tidak bisa mengantarku lagi. Aku tetap harus berjalan kaki ke sekolah walaupun hujan. Sepatuku dan seragamku selalu lembab dan kotor terkena percikan hujan. Padahal aku sudah memakai payung.
Dan kalau hujan turun siang-siang seperti sekarang ini, aku juga sedih. Aku kangen teman-teman. Sekarang, bila hujan seperti ini, aku hanya memandanginya saja. Tidak ada Anto, Budi, dan Ima yang mengajakku bermain. Mereka sekarang di mana ya...? Apakah ibu dan bapak mereka juga jualan di gerobak seperti ibuku...?
Aku tahu, manusia tidak boleh membenci hujan. Hujan adalah ciptaan Allah. Dengan hujan, Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberi minum hewan, mengairi sungai-sungai. Manusia juga perlu air untuk keperluan hidupnya. Lagi pula membenci hujan, sama saja membenci ketentuan Allah.
Ya Allah, semoga hujan turun pada saat ibuku sedang tidak jualan, tidak saat aku sedang berangkat ke sekolah, dan tidak siang-siang saat ingatan pada teman-teman membuatku menangis. Hujan kan saja saat aku dan orang-orang sedang terlelap beristirahat....
***
Hujan masih berbentuk gerimis saat angkot yang kami tumpangi sampai di GOR. Hari ini, kami anak kelas v belajar berenang. Karena di sekolah tidak ada kolam renang, aku dan teman-teman diajak pak guru ke GOR.
Tapi, tunggu dulu! Rasanya aku mengenal jalan yang kami lewati tadi. Yah! Sekarang aku dapat mengingat dengan jelas. Letak GOR itu tidak jauh dari pasar, tempat ibu jualan dulu. Aku ingin sekali pergi ke sana. Aku ingin memastikan apakah tempat itu sudah hampir selesai? Aku ingin sekali ibu kembali jualan di situ.
Diam-diam, saat pak guru dan teman-teman sibuk berenang, aku pergi menjauh ke luar GOR. Aku tahu, pasar tempat ibu jualan dulu hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Dengan setengah berlari, bergegas aku ke sana.
Lama kelamaan jalan yang kulewati mulai macet. Aku membayangkan, mungkin itu akibat proses perbaikan pasar. Untuk memperbaiki pasar, pasti digunakan banyak pasir dan semen. Pastilah bahan bangunan itu yang membuat jalanan macet.
Tapi..., dua seratus meter di depanku terbentang pemandangan yang membuatku kaget. Mungkinkah aku salah jalan? Jelas-jelas yang kulihat di depanku sekarang bukanlah pasar yang sedang diperbaiki.
Di hadapanku sekarang adalah halaman parkir yang luas dan bangunan besar dan megah. Ada banyak toko dan orang-orang hilir-mudik di sana.
Cepat-cepat aku memutar langkahku. Aku harus kembali ke GOR! Aku ingin cepat pulang dan memberi tahu ibu. Ibu pasti senang kalau tahu tempatnya jualan dulu kini telah selesai diperbaiki.
***
Di rumah aku tidak menemukan ibu. Kata Kak Irni, ibu sudah pergi jualan. Memang sudah seminggu ini Ibu jualan agak siang. Keluarga kami perlu uang untuk bayar uang biaya rumah sakit bapak. Dua minggu lalu bapak masuk rumah sakit. Kata dokter, bapak kena TBC. Uang sekolahku juga sudah 4 bulan belum dibayar. Semoga ibu tidak kena razia, aku berdoa sambil memejamkan mataku.
”Kak, tadi aku diajak pak guru berenang di GOR. Terus aku ke pasar tempat ibu jualan dulu. Ternyata, pasar itu sekarang sudah selesai diperbaiki.” Aku bercerita pada Kak Irni dengan bersemangat. Kak Irni pasti senang mendengar ceritaku.
”Kalau itu kakak sudah tahu.” Jawab Kak Irni. Dan aku kaget sekali mendengarnya.
”Terus kenapa Kakak tidak memberi tahu ibu?”
”Ibu juga sudah tahu.”
”Kalau ibu tahu, kenapa ibu belum kembali berjualan di sana?”
”Wan, ibu tidak bisa lagi berjualan di sana. Kalau ibu mau kembali berjualan di sana, ibu harus membayar puluhan juta ke pihak pengelola pasar. Ibu tidak memiliki uang sebanyak itu.”
”Tapi kan, warung di pasar itu dulu milik ibu. Mereka hanya memperbaikinya saja?”
”Wan, peraturan pemerintah sudah menetapkan seperti itu.”
Perkataan Kak Irni membuatku sedih. Kini aku tahu ibu tidak akan jualan di pasar lagi. Dan entah sampai kapan ibu akan jualan di pinggir jalan dengan gerobak. Aku juga tidak akan bertemu dan bermain dengan Anto, Budi, dan Mia lagi.
Ini semua sungguh tidak adil! Seingatku, dari dulu ibuku sudah berjualan di situ. Warung itu milik ibu. Tetapi mengapa, setelah pasar itu diperbaiki ibu tidak boleh berjualan lagi di situ.
Aku harus ke kamar mandi. Di sana tidak ada yang akan melihat dan menggangguku. Aku bisa menangis di sana diam-diam dan lama.
Untuk: temen-teman lama yang namanya selalu menetap di hati
Pasar Itu Milik Ibuku
Oleh: Rismiyana
Aku sedang bermain dengan Anto di pasar, saat kurasakan sepasang tangan menggoyang-goyangkan kedua tanganku. Dengan malas kubuka kelopak mataku yang masih terasa berat.
”Wan, bangun. Nanti kamu terlambat tiba di sekolah,” ternyata sepasang tangan itu milik ibu. Sekarang, ia berusaha membantuku berdiri.
”Hari ini Jum’at Bu, masuknya jam 8. Jadi tidak apa-apa siangan dikit.” Tapi ibu seperti tidak mendengar penjelasanku. Tangannya kini menuntunku ke ruang bawah, ke kamar mandi. Eh, bukan kamar mandi, tapi lorong kecil antara dinding rumah dan pagar tembok rumah sebelah yang kami jadikan sebagai tempat mandi dan mencuci.
Setelah menyiram badanku dengan beberapa gayung air dan sedikit bilasan sabun, aku bergegas mengenakan seragamku. Tadi aku lupa, sejak Senin lalu aku harus berjalan kaki ke sekolah. Jadi, walaupun hari ini masuk jam 8, tetap saja aku harus berangkat jam 07.15 pagi.
Aku benar-benar tidak menyukai keadaan ini. Seharusnya sepeda motor bapak tidak dijual.
Mengapa sepeda motor bapak dijual? Padahal selain dapat digunakan untuk mengantar dan menjemputku sekolah, sepeda motor itu digunakan oleh bapak untuk mengojek. Bapak kan tukang ojek. Kalau sepeda motornya dijual terus bagaimana bapak bisa mengojek?
Ya... seharusnya bapak tidak menjual sepeda motornya. Kalau sepeda motor itu ada aku tidak harus berangkat begitu pagi seperti ini. Aku juga tidak harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke sekolahku karena bapak lah yang akan mengantar dan menjemputku.
***
Siang ini panas sekali. Walau sudah memasuki bulan September, hujan belum juga turun. Terik matahari siang ini, sama seperti kemarin. Tenggorokanku terasa kering. Lututku ngilu. Aku masih belum terbiasa berjalan jauh seperti ini.
Di depan pintu rumah kulihat dua pasang sepatu bagus berjejer rapi. Siapa yang bertamu ke rumah? Pasti teman sekolah Kak Irni.
”Jadinya bagaimana Ir? Kamu datang atau tidak di acara perpisahan kelulusan SMU kita?”
”Belum tahu, aku masih belum punya uang untuk menyewa baju adat buat perpisahan.”
”Itu bisa kita siasati. Kita bisa ngumpulin duit buat kamu.”
”Ya Ir, kita bisa mengumpulkannya untuk kamu”
Dugaanku tepat dua orang anak perempuan itu adalah teman sekolah Kak Irni. Aku mengucap salam lalu bergegas melewati mereka, langsung ke loteng.
Rumah kami terdiri dari tiga bagian. Ruangan bawah hanya cukup untuk dua sofa tua yang berlobang di sana-sini yang sekarang menjadi tempat Kak Irni menerima tamunya, selebihnya didereti meja dan rak tua lapuk tempat peralatan memasak. Ruang kedua, lorong yang kami fungsikan sebagai kamar mandi. Dan terakhir loteng, tempat kami bersama-sama nonton TV, tempat rak-rak pakaian, dan tempat bagi kami untuk beristirahat tidur.
Setelah teman-temannya pulang, Kak Irni naik ke loteng.
”Kak kenapa sepeda motor bapak dijual. Wawan capek jalan kaki ke sekolah.” Keluhku padanya.
”Wan, sepeda motor bapak dijual digunakan untuk beli beras dan modal ibu jualan.”
”Jualan? Jadi Kak, ibu akan jualan lagi?”
”Ya.”
Perkataan Kak Irni bahwa ibu akan jualan lagi membuatku merasa senang. Ibu akan jualan lagi! Hore...! Itu artinya, aku bisa ketemu Anto lagi. Kami bisa bermain-main bersama lagi. Aku juga bisa bertemu Budi anak penjual beras yang warungnya ada di pojok kanan pasar, bertemu Ima anak penjual sayur yang warungnya dekatan dengan warung mamanya Anto, dan aku juga bisa bertemu dan bermain dengan yang lainnya!
Ibu memang sudah lama tidak jualan. Sudah tiga bulan. Kata Ibu, warung tempat ibu jualan akan diperbaiki. Bahkan bukan hanya warung milik ibu, tapi seluruh pasar.
Nanti, kalau sudah diperbaiki, pasar tempat ibu jualan akan menjadi pasar yang bagus dan megah. Menurut ibu, sebutannya bukan lagi Pasar Banjarmasin, tapi Sentra Banjarmasin. Tempat itu katanya kelak akan menjadi tempat orang-orang berjualan terbesar di Kalimantan!
Membayangkan semua itu aku tidak dapat menahan senyumku. Sebenarnya dengan keadaan pasar yang dulu bagiku tidak masalah. Karena, asal bisa melihat ibu berjualan dengan tenang dan bisa bermain bersama-sama Anto, Budi dan Ima, itu semua sudah membuatku senang. Tapi, bila tempat ibu berjualan menjadi lebih bagus dan tempat kami bermain menjadi lebih luas, tentu itu akan jauh lebih menyenangkan bukan.
Tapi, tiba-tiba muncul pertanyaan di benakku.
”Kak, berarti pasar tempat ibu jualan sudah selesai diperbaiki ya?” Kataku pada Kak Irni yang sedang melipat pakaian.
”Belum,” sahut Kak Irni.
Jawaban itu membuatku bingung.
”Terus ibu jualan dimana?”
”Di pinggir jalan pakai gerobak.”
Mendengar jawaban Kak Irni kegembiraanku tiba-tiba hilang. Aku menjadi ketakutan.
”Kak, kalau ada razia gimana? Kan jualan di pinggir jalan dilarang. Aku pernah melihat petugas-petugas berseragam mengambili gerobak pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan raya. Nanti gerobak jualan ibu bisa diambil oleh mereka.”
”Ibu jualannya sore jam 4 sampai malam. Jadi tidak akan kena razia.”
Perasaanku sekarang tidak tenang. Aku ingin sekali perbaikan pasar tempat ibu jualan dulu segera selesai. Aku ingin melihat ibu jualan di pasar pagi dan siang hari, bukan di gerobak di pinggir jalan malam-malam. Aku juga ingin bertemu dan bermain dengan Anto dan yang lain....
***
Sudah dua bulan ibu berjualan di pinggir jalan. Sekarang, musim hujan telah tiba. Aku tidak menyangka, berubahnya keadaan membuatku tidak lagi menyukai hujan. Aku benci hujan!
Dulu aku menyukai hujan. Setiap hujan tiba, dan baru berbentuk gerimis, aku, Anto, Budi dan Ima akan berloncatan ke tepi pasar. Di sana kami melihat ke langit, berharap hujan dengan tetes air besar-besar jatuh. Biasanya bila hujan lebat itu turun kami akan bergegas ke tanah lapang di dekat mesjid untuk bermain bola. Atau kami juga bisa membuat sungai-sungai di atas tanah berpasir di belakang pasar.
Tapi sekarang... hujan selalu membuatku sedih.
Dua minggu lalu aku melihat wajah ibu sangat khawatir. Saat itu mendung, dan ibu akan berjualan di pinggir jalan dengan gerobaknya. Wajah ibu berubah muram dan sedih saat hujan benar-benar turun deras. Ibu menunda berjualan, menunggu hujan reda. Kata ibu, kalau hujan seperti itu, pembeli hampir tidak ada. Selain itu dagangan ibu akan basah. Aku telah tidur saat ibu berangkat, dan baru terjaga saat ibu dan bapak pulang, waktu itu malam sudah larut sekali.
Sejak itu, aku tahu hujan pada sore hari atau menjelang malam akan membuat ibu susah.
Selain itu, hujan yang turun pagi-pagi membuatku khawatir. Bapak tidak bisa mengantarku lagi. Aku tetap harus berjalan kaki ke sekolah walaupun hujan. Sepatuku dan seragamku selalu lembab dan kotor terkena percikan hujan. Padahal aku sudah memakai payung.
Dan kalau hujan turun siang-siang seperti sekarang ini, aku juga sedih. Aku kangen teman-teman. Sekarang, bila hujan seperti ini, aku hanya memandanginya saja. Tidak ada Anto, Budi, dan Ima yang mengajakku bermain. Mereka sekarang di mana ya...? Apakah ibu dan bapak mereka juga jualan di gerobak seperti ibuku...?
Aku tahu, manusia tidak boleh membenci hujan. Hujan adalah ciptaan Allah. Dengan hujan, Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberi minum hewan, mengairi sungai-sungai. Manusia juga perlu air untuk keperluan hidupnya. Lagi pula membenci hujan, sama saja membenci ketentuan Allah.
Ya Allah, semoga hujan turun pada saat ibuku sedang tidak jualan, tidak saat aku sedang berangkat ke sekolah, dan tidak siang-siang saat ingatan pada teman-teman membuatku menangis. Hujan kan saja saat aku dan orang-orang sedang terlelap beristirahat....
***
Hujan masih berbentuk gerimis saat angkot yang kami tumpangi sampai di GOR. Hari ini, kami anak kelas v belajar berenang. Karena di sekolah tidak ada kolam renang, aku dan teman-teman diajak pak guru ke GOR.
Tapi, tunggu dulu! Rasanya aku mengenal jalan yang kami lewati tadi. Yah! Sekarang aku dapat mengingat dengan jelas. Letak GOR itu tidak jauh dari pasar, tempat ibu jualan dulu. Aku ingin sekali pergi ke sana. Aku ingin memastikan apakah tempat itu sudah hampir selesai? Aku ingin sekali ibu kembali jualan di situ.
Diam-diam, saat pak guru dan teman-teman sibuk berenang, aku pergi menjauh ke luar GOR. Aku tahu, pasar tempat ibu jualan dulu hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Dengan setengah berlari, bergegas aku ke sana.
Lama kelamaan jalan yang kulewati mulai macet. Aku membayangkan, mungkin itu akibat proses perbaikan pasar. Untuk memperbaiki pasar, pasti digunakan banyak pasir dan semen. Pastilah bahan bangunan itu yang membuat jalanan macet.
Tapi..., dua seratus meter di depanku terbentang pemandangan yang membuatku kaget. Mungkinkah aku salah jalan? Jelas-jelas yang kulihat di depanku sekarang bukanlah pasar yang sedang diperbaiki.
Di hadapanku sekarang adalah halaman parkir yang luas dan bangunan besar dan megah. Ada banyak toko dan orang-orang hilir-mudik di sana.
Cepat-cepat aku memutar langkahku. Aku harus kembali ke GOR! Aku ingin cepat pulang dan memberi tahu ibu. Ibu pasti senang kalau tahu tempatnya jualan dulu kini telah selesai diperbaiki.
***
Di rumah aku tidak menemukan ibu. Kata Kak Irni, ibu sudah pergi jualan. Memang sudah seminggu ini Ibu jualan agak siang. Keluarga kami perlu uang untuk bayar uang biaya rumah sakit bapak. Dua minggu lalu bapak masuk rumah sakit. Kata dokter, bapak kena TBC. Uang sekolahku juga sudah 4 bulan belum dibayar. Semoga ibu tidak kena razia, aku berdoa sambil memejamkan mataku.
”Kak, tadi aku diajak pak guru berenang di GOR. Terus aku ke pasar tempat ibu jualan dulu. Ternyata, pasar itu sekarang sudah selesai diperbaiki.” Aku bercerita pada Kak Irni dengan bersemangat. Kak Irni pasti senang mendengar ceritaku.
”Kalau itu kakak sudah tahu.” Jawab Kak Irni. Dan aku kaget sekali mendengarnya.
”Terus kenapa Kakak tidak memberi tahu ibu?”
”Ibu juga sudah tahu.”
”Kalau ibu tahu, kenapa ibu belum kembali berjualan di sana?”
”Wan, ibu tidak bisa lagi berjualan di sana. Kalau ibu mau kembali berjualan di sana, ibu harus membayar puluhan juta ke pihak pengelola pasar. Ibu tidak memiliki uang sebanyak itu.”
”Tapi kan, warung di pasar itu dulu milik ibu. Mereka hanya memperbaikinya saja?”
”Wan, peraturan pemerintah sudah menetapkan seperti itu.”
Perkataan Kak Irni membuatku sedih. Kini aku tahu ibu tidak akan jualan di pasar lagi. Dan entah sampai kapan ibu akan jualan di pinggir jalan dengan gerobak. Aku juga tidak akan bertemu dan bermain dengan Anto, Budi, dan Mia lagi.
Ini semua sungguh tidak adil! Seingatku, dari dulu ibuku sudah berjualan di situ. Warung itu milik ibu. Tetapi mengapa, setelah pasar itu diperbaiki ibu tidak boleh berjualan lagi di situ.
Aku harus ke kamar mandi. Di sana tidak ada yang akan melihat dan menggangguku. Aku bisa menangis di sana diam-diam dan lama.
Untuk: temen-teman lama yang namanya selalu menetap di hati
Taman Budaya, KCI V, dan Honor Tulisan
ini esai yang kutulis akhir 2007 sudah dimuat di RB. kangen teman-teman kuliah dulu. sekarang aku cuma sering sms-an dengan Ratih dan Fitri
Taman Budaya, KCI V, dan Honor Tulisan
Oleh: Rimiyana
Waktu dulu masih bersekolah di SMUN 7 Banjarmasin, beberapa orang teman yang tergabung dalam teater sekolah (kalau tidak salah Teater Perak) pernah menyebut-nyebut Taman Budaya yang berada di Kayu Tangi. Saat itu saya yang sedang gandrung-gandrungnya dengan sastra khususnya puisi, membayangkan Taman Budaya sebagai tempat berbagai karya sastra digiatkan. Di sana sastrawan-sastrawan berkumpul, berpenampilan nyentrik dengan jeans balel, rambut gondrong, dan pembicaraan mereka selalu bermuatan filosofis dan nyastra (seperti itulah sosok sastrawan dalam cerita fiksi remaja yang saya baca waktu itu).
Beberapa tahun kemudian, saya diterima sebagai mahasiswa PBSID FKIP Unlam. Kampus Unlam ternyata baru saya ketahui berseberangan dengan Taman Budaya. Sering kali saat pulang kuliah, menunggu supir angkot memenuhkan penumpang, saya sempatkan merenungi gedung-gedung di lingkungan Taman Budaya. Membayangkan suatu saat saya berada di dalam lingkungan itu, mendengarkan pemicaraan tentang puisi, cerpen, novel dari sastrawan-sastrawan di daerah ini. Hemm.., pasti seru!
Waktu berjalan, impian saya terwujud! Di salah satu gedung di lingkungan Taman Budaya, saya benar-benar berada dalam forum yang membicarakan sastra. saya dan teman-teman mendapat tugas di perkuliahan menghadiri acara penyair-penyair daerah yang membedah antalogi puisi mereka. Tetapi, ingatan tentang kegiatan itu kabur mungkin karena kesan yang tertangkap di acara itu tidak terlalu kuat, hingga mudah menguap.
Beberapa waktu kemudian, saya juga bertatap muka langsung dengan seorang sastrawan, ia penulis Palas, Aliman Syahrani. Walau telah pernah melihat dia di acara kampus dari kejauhan, bedah novel Palas membuat saya berkesempatan lagi memasuki lingkungan Taman Budaya. Sayangnya acara yang berseting mewah, dihidangkan banyak kue-kue dan minuman hangat itu tidak seperti yang saya bayangkan. Terkesan formal, mirip seminar, dan penampilan baru Aliman yang rapi jali jauh dari kesan eksentik sastrawan yang pernah saya bayangkan.
Status saya waktu itu sebagai mahasiswa PBSID ternyata juga memberikan akses yang mudah untuk masuk Taman Budaya mengikuti kegiatan kesastraan di dalamnya. Silih berganti penyair, cerpenis, esais berhasil saya jumpai di situ. Namun, dalam acara-acara itu selalu ada strata yang berbeda. Pihak pembicara yang posisinya menjadi nara sumber, sastrawan dan intelektual daerah yang menjadi peserta, dan kami mahasiswa yang perannya terkesan hanya bertugas ‘belajar’ dan berfungsi mehibaki (membuat acara terkesan ramai karena banyaknya peserta) saja.
Untunglah di perkuliahan, saat itu saya memiliki teman-teman kuliah yang mencintai sastra. Ada Ka Dewi Alfianti tempat bertanya, Ratih Ayuningrum, Syafiqotul Mahmudah yang menjadi teman berbagi. Ada bapak Jarkasi yang selalu mendorong untuk membaca dan bergiat di Cakrawala RB. Juga kedatangn Pak Sainul yang memancing kreatifitas dan mengasah kecerdasan. Menjadikan kampus layaknya suasana Taman Budaya yang pernah saya bayangkan.
Di luar perkuliahan, di emperan (sufah) mesjid, saya, Amali, Fitri Asad, Ratih dan teman-teman lainnya kadang membuka forum tidak resmi sembari menunggu azan atau sekedar beristirahat. Dari muatan ideologi Supernova, jalinan kata-kata Ayu Utami, Esai-esai sosial Seno, kebijakan pemerintah menaikan BBM, Khilafah sebagai solusi permasalahan umat Islam, sampai ide saya supaya pemerintah membuat perumahan dari plastik untuk rakyat miskin menjadi pengisi waktu senggang yang tak terlupakan.
Suasana diskusi di perkuliahan dan di emperan mesjid yang saya ceritakan di atas lah sebenarnya yang saya rindukan. Suasana seperti itu meliputi Taman Budaya tatkala penggiat sastra di hadirkan di sana .
KCI V
Kadang-kadang timbul di benak saya, manusia harus banyak menginginkan sesuatu (tentu perkara yang baik). Karena dalam menjalani hidup, tunggulah, bahkan cukup dengan kesabaran menjalani, waktu akan digelindingkan Allah, menggiring kita menjumpai keinginan-keinginan itu.
Atas usaha Micky Hidayat, B. Soebely, Y.S. Agus Soeseno, Maman S. Tawie, Sandi Firly, Jamal T. S, Riffani, Zulfaisal, dan Harie yang beramai-ramai menghadiri KCI IV di Riau guna menggolkan penyelenggalaan KCI V di Banjarmasin, akhirnya impian saya terwujud. Bahkan lebih keren dari yang saya bayangkan!
Walau acara KCI V yang dilaksanakan di Taman Budaya pada 26-28 Oktober merupakan pembahasan tentang cerpen, tetapi yang hadir bukan hanya cerpenis. Di sana juga ada novelis, penyair, dan esais tingkat daerah dan nasional. Mereka berseliweran di depan mata. Dari penulis kawakan Ahmad Tohari, Maman S Mahayana, Joni Ariadinata, Ahmadun Y herfanda, Raudal, Isbedy, Saut Situmorang, Agus nor, Gus T.F, Lan Fang, Katrin Bandel, dan yang lainnya. Penampilan mereka yang beraneka ragam, dari yang rapi jali sampai yang gimbal abis. Suasana diskusi yang sejajar, pemateri dan peserta yang saling berganti posisi (pemateri jadi peserta dan peserta ada yang jadi pemateri), rapat sebelum siding pleno yang sersan (serius tapi santai), tetapi menguji kesabaran Agus Noor sebagai ketua rapat menjadi ingatan yang terus tergamar jelas dalam ingatan.
Walau begitu, tetap ada yang disayangkan dalam bagian diskusi KCI V. Pandangan mata sering kali berkabut, pernapasan sesak, dan saya terkena flu mendadak. Asap rokok yang dinyalakan beberapa peserta sungguh sangat mengganggu! Nailiyah yang duduk di samping saya beberapa kali menutup hidung menghindari asap itu.
Terlepas Dari asap rokok yang mengganggu pernapasan dan merusak konsentrasi itu, sungguh KCI V membuat saya melek dan mengerti perkembangan kesusastraan di Indonesia khususnya cerpen dan permasalahan yang melingkupi karya dan penggiatnya. Yah, semoga KCI V memberikan dampak positif bagi perkembangan kesusastraan khususnya cerpen di Kal-sel, walau ternyata di balik layar ada sesuatu yang terjadi antar panitia penyelenggara.
Honor Tulisan
Wacana pra Aruh Sastra IV di Amuntai yang diketengahkan Putik Samira tentang tulisan beberapa waktu lalu sudah selayaknya menjadi perhatian bagi penggiat dan pencinta sastra di banua ini. Karena menciptakan sebuah cerpen tidaklah mudah. Dimulai dengan proses pencerapan fakta di sekeliling, pemaknaan atas fakta itu, kemudian dilanjutkan dengan usaha menceritaan dengan memilih kata-kata yang mengandung kesan, kadang perlu waktu sampai bertahun-tahun sebelum menjadi sebuah wujud berupa cerpen.
Namun, yang perlu diingat jangan sampai masalah honor ini menyeret karya sastra pada sesutu yang tampak gagap-gempita tetapi sebenarnya justru menyeret pada ketakbermaknaan. Jangan sampai kesastraan di Kal-Sel mengalami fenomena seperti penyanyi-penyanyi beberapa waktu lalu dalam AFI, KDI, Indonesia Idol yang menggunakan poling SMS dalam pendanaan.
Penghargaan pada cerpenis, sastrawan di banua ini agaknya memang belum menjanjikan. Tapi setidaknya, dalam situasi seperti ini kita jumpai ada orang-orang yang dengan tulus bekerja keras mengusahakan nafas sastra di banua ini tetap berlanjut. Mereka adalah orang-orang yang dalam beberapa even kesastraan saya perhatikan mengerahkan pikiran, waktu, dan tenaga yang tidak kecil. Karena itu kita patut bersyukur, bernasib baik dengan keberadaan mereka. Mereka-mereka yang sering kali (mungkin karena kerendahan hati) sengaja tidak muncul kepermukaan.
Penggiat dan penyuka sastra
Tinggal di Banjarmasin
Taman Budaya, KCI V, dan Honor Tulisan
Oleh: Rimiyana
Waktu dulu masih bersekolah di SMUN 7 Banjarmasin, beberapa orang teman yang tergabung dalam teater sekolah (kalau tidak salah Teater Perak) pernah menyebut-nyebut Taman Budaya yang berada di Kayu Tangi. Saat itu saya yang sedang gandrung-gandrungnya dengan sastra khususnya puisi, membayangkan Taman Budaya sebagai tempat berbagai karya sastra digiatkan. Di sana sastrawan-sastrawan berkumpul, berpenampilan nyentrik dengan jeans balel, rambut gondrong, dan pembicaraan mereka selalu bermuatan filosofis dan nyastra (seperti itulah sosok sastrawan dalam cerita fiksi remaja yang saya baca waktu itu).
Beberapa tahun kemudian, saya diterima sebagai mahasiswa PBSID FKIP Unlam. Kampus Unlam ternyata baru saya ketahui berseberangan dengan Taman Budaya. Sering kali saat pulang kuliah, menunggu supir angkot memenuhkan penumpang, saya sempatkan merenungi gedung-gedung di lingkungan Taman Budaya. Membayangkan suatu saat saya berada di dalam lingkungan itu, mendengarkan pemicaraan tentang puisi, cerpen, novel dari sastrawan-sastrawan di daerah ini. Hemm.., pasti seru!
Waktu berjalan, impian saya terwujud! Di salah satu gedung di lingkungan Taman Budaya, saya benar-benar berada dalam forum yang membicarakan sastra. saya dan teman-teman mendapat tugas di perkuliahan menghadiri acara penyair-penyair daerah yang membedah antalogi puisi mereka. Tetapi, ingatan tentang kegiatan itu kabur mungkin karena kesan yang tertangkap di acara itu tidak terlalu kuat, hingga mudah menguap.
Beberapa waktu kemudian, saya juga bertatap muka langsung dengan seorang sastrawan, ia penulis Palas, Aliman Syahrani. Walau telah pernah melihat dia di acara kampus dari kejauhan, bedah novel Palas membuat saya berkesempatan lagi memasuki lingkungan Taman Budaya. Sayangnya acara yang berseting mewah, dihidangkan banyak kue-kue dan minuman hangat itu tidak seperti yang saya bayangkan. Terkesan formal, mirip seminar, dan penampilan baru Aliman yang rapi jali jauh dari kesan eksentik sastrawan yang pernah saya bayangkan.
Status saya waktu itu sebagai mahasiswa PBSID ternyata juga memberikan akses yang mudah untuk masuk Taman Budaya mengikuti kegiatan kesastraan di dalamnya. Silih berganti penyair, cerpenis, esais berhasil saya jumpai di situ. Namun, dalam acara-acara itu selalu ada strata yang berbeda. Pihak pembicara yang posisinya menjadi nara sumber, sastrawan dan intelektual daerah yang menjadi peserta, dan kami mahasiswa yang perannya terkesan hanya bertugas ‘belajar’ dan berfungsi mehibaki (membuat acara terkesan ramai karena banyaknya peserta) saja.
Untunglah di perkuliahan, saat itu saya memiliki teman-teman kuliah yang mencintai sastra. Ada Ka Dewi Alfianti tempat bertanya, Ratih Ayuningrum, Syafiqotul Mahmudah yang menjadi teman berbagi. Ada bapak Jarkasi yang selalu mendorong untuk membaca dan bergiat di Cakrawala RB. Juga kedatangn Pak Sainul yang memancing kreatifitas dan mengasah kecerdasan. Menjadikan kampus layaknya suasana Taman Budaya yang pernah saya bayangkan.
Di luar perkuliahan, di emperan (sufah) mesjid, saya, Amali, Fitri Asad, Ratih dan teman-teman lainnya kadang membuka forum tidak resmi sembari menunggu azan atau sekedar beristirahat. Dari muatan ideologi Supernova, jalinan kata-kata Ayu Utami, Esai-esai sosial Seno, kebijakan pemerintah menaikan BBM, Khilafah sebagai solusi permasalahan umat Islam, sampai ide saya supaya pemerintah membuat perumahan dari plastik untuk rakyat miskin menjadi pengisi waktu senggang yang tak terlupakan.
Suasana diskusi di perkuliahan dan di emperan mesjid yang saya ceritakan di atas lah sebenarnya yang saya rindukan. Suasana seperti itu meliputi Taman Budaya tatkala penggiat sastra di hadirkan di sana .
KCI V
Kadang-kadang timbul di benak saya, manusia harus banyak menginginkan sesuatu (tentu perkara yang baik). Karena dalam menjalani hidup, tunggulah, bahkan cukup dengan kesabaran menjalani, waktu akan digelindingkan Allah, menggiring kita menjumpai keinginan-keinginan itu.
Atas usaha Micky Hidayat, B. Soebely, Y.S. Agus Soeseno, Maman S. Tawie, Sandi Firly, Jamal T. S, Riffani, Zulfaisal, dan Harie yang beramai-ramai menghadiri KCI IV di Riau guna menggolkan penyelenggalaan KCI V di Banjarmasin, akhirnya impian saya terwujud. Bahkan lebih keren dari yang saya bayangkan!
Walau acara KCI V yang dilaksanakan di Taman Budaya pada 26-28 Oktober merupakan pembahasan tentang cerpen, tetapi yang hadir bukan hanya cerpenis. Di sana juga ada novelis, penyair, dan esais tingkat daerah dan nasional. Mereka berseliweran di depan mata. Dari penulis kawakan Ahmad Tohari, Maman S Mahayana, Joni Ariadinata, Ahmadun Y herfanda, Raudal, Isbedy, Saut Situmorang, Agus nor, Gus T.F, Lan Fang, Katrin Bandel, dan yang lainnya. Penampilan mereka yang beraneka ragam, dari yang rapi jali sampai yang gimbal abis. Suasana diskusi yang sejajar, pemateri dan peserta yang saling berganti posisi (pemateri jadi peserta dan peserta ada yang jadi pemateri), rapat sebelum siding pleno yang sersan (serius tapi santai), tetapi menguji kesabaran Agus Noor sebagai ketua rapat menjadi ingatan yang terus tergamar jelas dalam ingatan.
Walau begitu, tetap ada yang disayangkan dalam bagian diskusi KCI V. Pandangan mata sering kali berkabut, pernapasan sesak, dan saya terkena flu mendadak. Asap rokok yang dinyalakan beberapa peserta sungguh sangat mengganggu! Nailiyah yang duduk di samping saya beberapa kali menutup hidung menghindari asap itu.
Terlepas Dari asap rokok yang mengganggu pernapasan dan merusak konsentrasi itu, sungguh KCI V membuat saya melek dan mengerti perkembangan kesusastraan di Indonesia khususnya cerpen dan permasalahan yang melingkupi karya dan penggiatnya. Yah, semoga KCI V memberikan dampak positif bagi perkembangan kesusastraan khususnya cerpen di Kal-sel, walau ternyata di balik layar ada sesuatu yang terjadi antar panitia penyelenggara.
Honor Tulisan
Wacana pra Aruh Sastra IV di Amuntai yang diketengahkan Putik Samira tentang tulisan beberapa waktu lalu sudah selayaknya menjadi perhatian bagi penggiat dan pencinta sastra di banua ini. Karena menciptakan sebuah cerpen tidaklah mudah. Dimulai dengan proses pencerapan fakta di sekeliling, pemaknaan atas fakta itu, kemudian dilanjutkan dengan usaha menceritaan dengan memilih kata-kata yang mengandung kesan, kadang perlu waktu sampai bertahun-tahun sebelum menjadi sebuah wujud berupa cerpen.
Namun, yang perlu diingat jangan sampai masalah honor ini menyeret karya sastra pada sesutu yang tampak gagap-gempita tetapi sebenarnya justru menyeret pada ketakbermaknaan. Jangan sampai kesastraan di Kal-Sel mengalami fenomena seperti penyanyi-penyanyi beberapa waktu lalu dalam AFI, KDI, Indonesia Idol yang menggunakan poling SMS dalam pendanaan.
Penghargaan pada cerpenis, sastrawan di banua ini agaknya memang belum menjanjikan. Tapi setidaknya, dalam situasi seperti ini kita jumpai ada orang-orang yang dengan tulus bekerja keras mengusahakan nafas sastra di banua ini tetap berlanjut. Mereka adalah orang-orang yang dalam beberapa even kesastraan saya perhatikan mengerahkan pikiran, waktu, dan tenaga yang tidak kecil. Karena itu kita patut bersyukur, bernasib baik dengan keberadaan mereka. Mereka-mereka yang sering kali (mungkin karena kerendahan hati) sengaja tidak muncul kepermukaan.
Penggiat dan penyuka sastra
Tinggal di Banjarmasin
Laki-laki itu (cerpen)
Ini cerpenku yang dimuat di Serambi Ummah tahun 2007
Lelaki Itu
(Oleh: Rismiyana)
Sore ini aku pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Dan saat bayangan lelaki itu melintas di benakku, kuperiksa uang di sakuku. Ada beberapa lembar uang lima ribuan. Segera aku menyengajakan diri mampir di warung kaki lima yang menjual kue terang bulan.
Saat berada beberapa puluh meter mendekati sosoknya, kuperlambat laju sepeda motorku. Tepat di depannya aku berhenti. Meletakkan bungkusan kue terang bulan dan uang ribuan di hadapannya lalu cepat-cepat beranjak meninggalkan tempat itu.
”Terima kasih!” Suara parau dan datar lelaki itu mengagetkanku. Aneh..., aku merasa ada yang tidak wajar
***
Perempatan itu tinggal beberapa puluh meter di depanku. Dan mataku kembali menangkap sosok laki-laki itu.
Cepat-cepat kupacu sepeda motorku. Sungguh, sangat tidak nyaman melihatnya dalam kondisi seperti itu. Sementara dia dengan kondisinya yang seperti itu, aku dengan bebas melintas di hadapannya, melaju di atas sepeda motorku.
Yah, beberapa bulan ini sosok lelaki itu sering melintas di benakku. Apalagi, dalam beberapa hari setiap minggunya aku selalu lewat di depannya.
Sebenarnya sudah sejak beberapa tahun lalu aku melihatnya. Tetapi tidak setiap senja seperti sekarang. Waktu itu hanya sesekali saja.
Dulu, pertama kali melihatnya ketika aku masih seorang mahasiswa. Ketika itu pulang kuliah. Saat lampu lalu lintas menyala merah di dekat mesjid terbesar di kota ini. Di bawah matahari yang teriknya membakar kulit, kulihat dia merangkak berusaha memungut uang yang dilemparkan padanya. Menyedihkan.... Dan aku tak sempat merongoh lembaran ribuan dalam tasku saat lampu menyala hijau.
Beberapa bulan kemudian aku kembali menjumpainya saat lampu lalu lintas menyala merah satu kilo meter di dekat rumahku. Saat itu, aku sempat menjatuhkan uang kertas padanya. Tapi, itu membuatku agak menyesal. Uang kertas itu sempat tertiup angin, kulihat dia harus bersusah payah memungut uang itu.
Sekarang, hampir setiap sore di perempatan itu, saat melintasi menuju tempat kerjaku, atau saat menunggu lampu lalu lintas menyala hijau, aku hampir selalu melihatnya. Dan itu membuatku merasa tidak nyaman.
***
Lelaki itu masih di sana. Seperti biasa, duduk terpekur memandang jalan beraspal di depannya yang tergenang oleh air hujan. Hujan yang mulai melebat. Sekilas kutangkap air mukanya yang membeku.
Ah, pasti dingin sekali. Apakah tidak ada payung yang bisa diberikan padanya. Dia tidak bisa duduk di tempat itu dengan datang sendiri! Kakinya lumpuh.... Pasti ada seseorang yang meletakkannya di situ. Apakah orang itu tidak berpikir untuk memberinya payung saat gerimis mulai datang. Orang yang meletakannya di situ pastilah jahat sekali! Orang itu mungkin juga telah mengambil seluruh jerih payah lelaki itu.
Aku pernah membaca buku cerita persis seperti kasus yang kupikirkan tadi. Orang-orang cacat, anak-anak jalanan, dan orang tua jompo sebatang kara dipaksa mencari uang dengan mengemis. Dan hasilnya dikumpulkan sebagai harta kekayaan bagi orang yang mengorganisir dan memaksa mereka untuk mengemis itu.
Pernah terpikir olehku untuk menulis di koran opini tentang orang-orang sepertinya. Aku ingin menyampaikan bahwa pemerintah lah yang paling bertanggung jawab untuk mengurusi mereka. Pihak pemerintah yang menjadi pengatur urusan umat, berkewajiban memperhatikan nasib mereka. Memberikan mereka tempat yang layak, pendidikan yang mampu membuat mereka mandiri, dan lapanagn pekerjaan yang sesuai dengan keahlian dan kadar kesanggupan mereka.
Kadang aku ingin mengajaknya berbicara. Ingin kuceritakan padanya apa yang kudengar dari ustadz yang kudengar ceramahnya beberapa waktu lalu. Bahwa, bila dia sabar dan ridha terhadap qadha yang menimpanya, maka balasannya di akhirat kelak adalah surga! Yah, kesabaran dan keridhaan akan kedua kakinya yang tak bisa digunakan untuk berdiri, berjalan itu, akan menggugurkan dosa-dosanya dan diganti dengan surga. Mungkin, bila dia belum mengetahui cerita itu, dia akan gembira atau setidaknya kesedihan yang dirasakannya akan berkurang setelah kuberitahukan hal itu padanya.
Sayangnya, keinginan itu sampai saat ini belum terlaksana. Berpikir untuk berbuat baik memang mudah, namun itu tidak cukup. Harus ada tindakan nyata! Aku tahu untuk melaksanakannya perlu kesungguhan dan kesediaan untuk berkorban. Dan aku belum mampu membuat diriku sampai pada taraf itu.
Tapi sungguh, setiap kali lewat di jalan itu aku merasa sedih. Apalagi bila sempat kutangkap wajah dingin dan kaku itu. Pastilah penderitaan yang menderanya membuatnya begitu. Lelaki malang....
***
”Lia, kam jadikah sholat Ashar di rumahku?”
Aku mengangguk pada Nina sambil cepat-cepat berkemas. Setelah Dzuhur tadi siang, air ledeng mati. Aku dan dia jadi tidak bisa berwudhu dan sholat. Kulihat jam di tanganku, waktu Ashar masih tersisa 30 menit lagi.
Sambil melaju dengan kecepatan yang cukup kencang kulirik jam tanganku, tapi tiba-tiba saat kembali menatap jalan di depanku satu sosok tiba-tiba lewat menyebrang jalan. Hampir saja tertabrak sepeda motorku.
”Oh my God!” aku sudah siap-siap mengomel pada sosok itu. Tapi..., ya Allah! Aku hampir tidak percaya.
Di depanku, sosok itu juga memandangku dengan mata terkejut, kaget dan cepat-cepat berlalu. Itu pasti dia! Mataku sangat mengenal wajah itu, juga baju kumal yang dikenakannya, baju yang selalu ia pakai.
”Lho, Nin! Itu kan orang yang sering duduk di dekat lampu merah?” Kataku pada Nina yang membonceng padaku.
”Iya! Lia, dari dulu aku sudah merasa dia itu pura-pura saja. Kam pernahkan dulu kutanya, percaya tidak dia itu beneran lumpuh kakinya....”
Aku hanya tertawa mendengar omelan Nina. Menyesal juga, mengapa selama ini memikirkan dan merasa kasihan padanya.
”Dasar! Ternyata dia punya kaki!” Teriakku pada Nina.
Walau kecewa karena merasa tertipu oleh lelaki itu, ada sedikit kelegaan dalam hatiku. Yah..., setidaknya kini aku mengetahui. Menjadi lelaki yang kakinya lumpuh, duduk dipinggir jalan, diguyur hujan dan dibakar terik matahari adalah jalan hidup yang sengaja dipilih oleh lelaki itu. Ia sendiri yang melangkahkan kaki ketempat itu. Dan itu bukanlah takdir yang dipaksakan Allah kepadanya. Banjarmasin April-Mei 07
Lelaki Itu
(Oleh: Rismiyana)
Sore ini aku pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Dan saat bayangan lelaki itu melintas di benakku, kuperiksa uang di sakuku. Ada beberapa lembar uang lima ribuan. Segera aku menyengajakan diri mampir di warung kaki lima yang menjual kue terang bulan.
Saat berada beberapa puluh meter mendekati sosoknya, kuperlambat laju sepeda motorku. Tepat di depannya aku berhenti. Meletakkan bungkusan kue terang bulan dan uang ribuan di hadapannya lalu cepat-cepat beranjak meninggalkan tempat itu.
”Terima kasih!” Suara parau dan datar lelaki itu mengagetkanku. Aneh..., aku merasa ada yang tidak wajar
***
Perempatan itu tinggal beberapa puluh meter di depanku. Dan mataku kembali menangkap sosok laki-laki itu.
Cepat-cepat kupacu sepeda motorku. Sungguh, sangat tidak nyaman melihatnya dalam kondisi seperti itu. Sementara dia dengan kondisinya yang seperti itu, aku dengan bebas melintas di hadapannya, melaju di atas sepeda motorku.
Yah, beberapa bulan ini sosok lelaki itu sering melintas di benakku. Apalagi, dalam beberapa hari setiap minggunya aku selalu lewat di depannya.
Sebenarnya sudah sejak beberapa tahun lalu aku melihatnya. Tetapi tidak setiap senja seperti sekarang. Waktu itu hanya sesekali saja.
Dulu, pertama kali melihatnya ketika aku masih seorang mahasiswa. Ketika itu pulang kuliah. Saat lampu lalu lintas menyala merah di dekat mesjid terbesar di kota ini. Di bawah matahari yang teriknya membakar kulit, kulihat dia merangkak berusaha memungut uang yang dilemparkan padanya. Menyedihkan.... Dan aku tak sempat merongoh lembaran ribuan dalam tasku saat lampu menyala hijau.
Beberapa bulan kemudian aku kembali menjumpainya saat lampu lalu lintas menyala merah satu kilo meter di dekat rumahku. Saat itu, aku sempat menjatuhkan uang kertas padanya. Tapi, itu membuatku agak menyesal. Uang kertas itu sempat tertiup angin, kulihat dia harus bersusah payah memungut uang itu.
Sekarang, hampir setiap sore di perempatan itu, saat melintasi menuju tempat kerjaku, atau saat menunggu lampu lalu lintas menyala hijau, aku hampir selalu melihatnya. Dan itu membuatku merasa tidak nyaman.
***
Lelaki itu masih di sana. Seperti biasa, duduk terpekur memandang jalan beraspal di depannya yang tergenang oleh air hujan. Hujan yang mulai melebat. Sekilas kutangkap air mukanya yang membeku.
Ah, pasti dingin sekali. Apakah tidak ada payung yang bisa diberikan padanya. Dia tidak bisa duduk di tempat itu dengan datang sendiri! Kakinya lumpuh.... Pasti ada seseorang yang meletakkannya di situ. Apakah orang itu tidak berpikir untuk memberinya payung saat gerimis mulai datang. Orang yang meletakannya di situ pastilah jahat sekali! Orang itu mungkin juga telah mengambil seluruh jerih payah lelaki itu.
Aku pernah membaca buku cerita persis seperti kasus yang kupikirkan tadi. Orang-orang cacat, anak-anak jalanan, dan orang tua jompo sebatang kara dipaksa mencari uang dengan mengemis. Dan hasilnya dikumpulkan sebagai harta kekayaan bagi orang yang mengorganisir dan memaksa mereka untuk mengemis itu.
Pernah terpikir olehku untuk menulis di koran opini tentang orang-orang sepertinya. Aku ingin menyampaikan bahwa pemerintah lah yang paling bertanggung jawab untuk mengurusi mereka. Pihak pemerintah yang menjadi pengatur urusan umat, berkewajiban memperhatikan nasib mereka. Memberikan mereka tempat yang layak, pendidikan yang mampu membuat mereka mandiri, dan lapanagn pekerjaan yang sesuai dengan keahlian dan kadar kesanggupan mereka.
Kadang aku ingin mengajaknya berbicara. Ingin kuceritakan padanya apa yang kudengar dari ustadz yang kudengar ceramahnya beberapa waktu lalu. Bahwa, bila dia sabar dan ridha terhadap qadha yang menimpanya, maka balasannya di akhirat kelak adalah surga! Yah, kesabaran dan keridhaan akan kedua kakinya yang tak bisa digunakan untuk berdiri, berjalan itu, akan menggugurkan dosa-dosanya dan diganti dengan surga. Mungkin, bila dia belum mengetahui cerita itu, dia akan gembira atau setidaknya kesedihan yang dirasakannya akan berkurang setelah kuberitahukan hal itu padanya.
Sayangnya, keinginan itu sampai saat ini belum terlaksana. Berpikir untuk berbuat baik memang mudah, namun itu tidak cukup. Harus ada tindakan nyata! Aku tahu untuk melaksanakannya perlu kesungguhan dan kesediaan untuk berkorban. Dan aku belum mampu membuat diriku sampai pada taraf itu.
Tapi sungguh, setiap kali lewat di jalan itu aku merasa sedih. Apalagi bila sempat kutangkap wajah dingin dan kaku itu. Pastilah penderitaan yang menderanya membuatnya begitu. Lelaki malang....
***
”Lia, kam jadikah sholat Ashar di rumahku?”
Aku mengangguk pada Nina sambil cepat-cepat berkemas. Setelah Dzuhur tadi siang, air ledeng mati. Aku dan dia jadi tidak bisa berwudhu dan sholat. Kulihat jam di tanganku, waktu Ashar masih tersisa 30 menit lagi.
Sambil melaju dengan kecepatan yang cukup kencang kulirik jam tanganku, tapi tiba-tiba saat kembali menatap jalan di depanku satu sosok tiba-tiba lewat menyebrang jalan. Hampir saja tertabrak sepeda motorku.
”Oh my God!” aku sudah siap-siap mengomel pada sosok itu. Tapi..., ya Allah! Aku hampir tidak percaya.
Di depanku, sosok itu juga memandangku dengan mata terkejut, kaget dan cepat-cepat berlalu. Itu pasti dia! Mataku sangat mengenal wajah itu, juga baju kumal yang dikenakannya, baju yang selalu ia pakai.
”Lho, Nin! Itu kan orang yang sering duduk di dekat lampu merah?” Kataku pada Nina yang membonceng padaku.
”Iya! Lia, dari dulu aku sudah merasa dia itu pura-pura saja. Kam pernahkan dulu kutanya, percaya tidak dia itu beneran lumpuh kakinya....”
Aku hanya tertawa mendengar omelan Nina. Menyesal juga, mengapa selama ini memikirkan dan merasa kasihan padanya.
”Dasar! Ternyata dia punya kaki!” Teriakku pada Nina.
Walau kecewa karena merasa tertipu oleh lelaki itu, ada sedikit kelegaan dalam hatiku. Yah..., setidaknya kini aku mengetahui. Menjadi lelaki yang kakinya lumpuh, duduk dipinggir jalan, diguyur hujan dan dibakar terik matahari adalah jalan hidup yang sengaja dipilih oleh lelaki itu. Ia sendiri yang melangkahkan kaki ketempat itu. Dan itu bukanlah takdir yang dipaksakan Allah kepadanya. Banjarmasin April-Mei 07
Langganan:
Postingan (Atom)