Jumat, 15 Januari 2010

Kitab Keren


Ini foto diambil pagi-pagi dari kameranya Amali liburan kemaren. Sebelum pulang ke Barabai, Amali kuajak ke Desa Rantau Bujur. Gara-garanya ada yang nyeritain setting film Twilight, terus aku bilang Suasana di Rantau Bujur mirip setting di film itu. Karena mendengar ceritaku itu dia jadi mau kuajak kesana.

Foto-foto di Riam Kanan

Ini foto yang kuambil dari kamera netbook. Fotonya agak buram, kesan gambar yang dihasilkan mirip lukisan. Foto ini kuambil siang hari saat aku, Bu Nani dan Bu Fitri menumpang kapal guru-guru di daerah Bunglai pulang ke Banjar. Dari Rantau Bujur ke Bunglai kami menaiki perahu kecil bermesin (jukung. Tapi karena ombak akhir musim kemarau agak besar, kami berganti menumpang ke kapal guru-guru Bunglai.



Nah, kalau foto ini kuambil sore hari dari atas kapal Paman Sadi menuju ke Rantau Bujur. Masih tampak kabur karena ngambilnya dari netbookku. Foto ini kuambil awal musim penghujan. Rumput-rumput yang tadinya coklat kekeringan tampak mulai menghijau.

Foto ini kuambil pada sore yang sama, dari atas kapal. Rantau Bujur ada di samping kiri gunug yang terlihat persegi panjang itu.

Minggu, 20 Desember 2009

Home Sweet Home

Lebaran Idul Adha 1430 H kemarin aku ikut Amali Pulkam ke Barabai. Aku bela-belain ikut lebaran di rumahnya, soalnya dia berencana pulkam ‘selamanya’ ke Barabai mulai Januari tahun depan. Aku ingin tahu rumahnya, supaya nanti kalau aku kangen, sesekali aku bisa mengunjunginya ke sana. Begitulah..., kebersamaan selalu berpangkal dari perjumpaan dan pasti berujung pada perpisahan. Hanya kita tidak tahu, kapan tepatnya saat itu tiba. Kita hanya bisa berusaha jeli, mencermati siapa yang datang, menghayati yang sedang dijalani, dan mempersiapkan keberangkatan yang akan pergi.
Sebagai kenang-kenangan aku tulis saja esai tentang kost kami itu.


HOME SWEET HOME

Tidak ada yang istimewa dari rumah kecil itu. Selain bagian-bagian jendelanya yang tidak seperti pada umumnya sebuah rumah, rumah kecil itu terlalu dekat dengan jalan yang di lalui mahasiswa. Bising dan debu menjadi polusi dari pukul 07.00 pagi hingga sekitar pukul 21.00 malam. Dan saat matahari mulai tergelincir ke sebelah barat, cahanyanya membuat suasana panas dan gerah hampir seisi rumah kecil itu.

Akan tetapi, setelah melakukan survey, membandingkan beberapa tempat kost, teman saya telah memutuskan rumah kecil itu adalah rumah terbaik untuk ditinggali. Dia memerlukan tempat tinggal yang memiliki akses mudah. Dan rumah kecil itu memang salah satu rumah paling strategis di lingkungan anak-anak kampus Unlam.

Maka mulai akhir 2006 bersama teman yang satunya, teman saya menjadikan rumah kecil itu sebagai tempat tinggal baru. Mereka berdua menempati salah satu dari 2 kamar yang dimiliki rumah kecil itu. Rumah yang ia pilih sebagai tempat beristirahat, berkumpul dan menjadi sirkulasi kegiatan-kegiatan aktivis kampus.

Saat teman satunya lulus dan pulang kampung, teman saya yang satunya lagi (yang berkaca mata) bersegera menggantikan posisinya, menempati rumah kecil itu menemani teman saya. Padahal dilihat sekilas saja, kamar kostnya yang lama dan berjarak beberapa meter dari rumah kecil itu jauh lebih ‘manusiawi’ dan sehat.

Pada akhir 2007 saat melihat saya mulai dewasa, mandiri, memerlukan banyak waktu dan ruang untu beraktivitas, dan mungkin berdasarkan pertimbangan-pertimbangan lain, paman saya mengajukan sebuah tawaran. Apakah saya ingin kost? Tawaran itu tidak perlu mengulang dua kali, saya langsung menyambutnya gembira.

Bergegas saya ceritakan rencana saya untuk mencari kost, sebagai tempat tinggal baru pada teman saya yang menempati rumah kecil itu. Sebenarnya, di dalam hati saat itu terlintas keinginan untuk ikut serta menempati rumah kecil itu, tetapi rumahkecil itu hanya memiliki 2 kamar. Satu kamar yang ditempati teman saya dan teman yang satunya, sedangkan kamar lainnya ditempati 2 orang mahasiswa lain. Saat itu tidak ada kemungkinan untuk ikut serta meninggali rumah kecil itu.

Setelah beberapa hari mencari informasi ke teman-teman lain, akhirnya saya menemukan sebuah rumah untuk ditinggali. Sekitar dua hari sebelum pindah kerumah kost-kostan itu, saya sempatkan diri mengunjungi teman saya di rumah kecil itu. Namun, saya kaget! Kamar kost mereka kosong sama sekali. Semua buku dan barang-barang tampaknya baru saja dipindah. Saat saya masih dalam keadaan terbengong, teman saya muncul dari kamar satunya. Dia kemudian menceritakan bahwa dia bersama teman yang satunya pindah kamar. Dua mahasiswa yang menempati kamar lainnya tiba-tiba pindah dari rumah kecil itu.

Sungguh, saya gembira mendengar ceritanya. Saya memintanya untuk mengatakan pada ibu kost, bahwa saya berencana menempati kamar yang kosong itu, secepatnya!

Rumah itu memang kecil dan bagian belakangnya sudah sangat ‘tua’ terutama kamar mandinya. Selain itu bising, debu tebal, dan panas sinar matahari membuat gerah di dalamnya. Belum lagi hamper setiap setelah hujan lebat, sekeliling rumah akan banjir, tak terkecuali halaman depan. Jadi wajar, beberapa minggu lalu saat menerima tawaran saya untuk ikut tinggal di rumah kecil itu, di minggu-minggu awal sepupu saya merasa stress. Selain merasa kurang nyaman dengan mahasiswanya yang melihatnya keluar masuk dari rumah kecil itu (kadang-kadang dengan tatapan kurang percaya), debu dari jalan membuat penyakit sesak nafasnya kambuh (mungkin karena masa penyesuaian saja, buktinya setelah saya ‘menasehatinya’ sambil meniru Ustadz Dhanu di acara bengkel hati, memintanya mengikhlaskan keadaan rumah kecil itu, akhirnya dia sembuh! J). Belum lagi, saat teman-temannya sesame dosen menjemputnya untuk keluar kota, menyaksikannya harus berjuang melewati banjir selutut yang menggenangi halaman rumah itu. Walau ikut bersimpati dan merasa prihatin, saya dan teman saya (yang pada saat kejadian sedang keluar kota) mendengarkannya bercerita, tidak dapat menahan tawa kami. Saat itu sambil bercanda saya katakan, “Itulah harga yang harus dibayar untuk memiliki tetangga sebaik kami” J. Sebelum pindah ke rumah kecil kami, dia memiliki pengalaman tidak menyenangkan dengan tetangga di kompleks perumahan yang ditempatinya. Dia sempat meminta saya mencarikan informasi tentang tempat tinggal yang para tetangganya teman sepengajian saya, atau kalau ada sebuah komplek yang dihuni oleh mereka. Sayangnya saya belum menemukan rumah seperti itu.

Rumah kecil itu sangat sederhana. Akan tetapi, rumah itu sangat indah, ‘luas’, dan menentramkan bagi kami yang menghuninya. Sepanjang 2008-2009, kecuali ketika sedang berkumpul dengan keluarga di kampung halaman, rumah itu seperti magnet yang menarik saya, kami para penghuninya. Menjadi tempat berkumpul, bercerita setelah seharian disibukkan dengan perkuliahan, pekerjaan, pengajian, dll. Bahkan setelah mengajar di Desa Rantau Bujur, Aranio pun, perjalanan menuju pulang ke rumah kecil itu selalu menyenangkan. Selalu menyenangkan karena di dalamnya saya akan berkumpul dengan orang-orang yang saya sayangi. Kisah-kisah di dalamnya, akan selalu menempati ruang berbingkai ingatan “sweet memory”.

Aranio, 04. 45 Wita, 8 Desember 2009

Jumat, 06 November 2009

Menimbang Sejarah Dari An-Nabhani Hingga Pramodya

Ini esay yang kedua yang kutulis tentang Pram (Pramodya Ananta Toer). Esay yang pertama dimuat di Radar Banjarmasin bulan November 2006, judulnya "Cerita Dua Dosenku Tentang Pram".
Esay kedua ini walau sudah kukirim tanggal 5 Maret 2007, tapi mungkin karena tidak memenuhi syarat, oleh Kak Sandi Firly (yang saat itu jadi editor di Cakrawala Radar Banjarmasin) tidak dimuat.
Sekarang esay itu aku letakin disini saja.



Menimbang Sejarah, Dari An-Nabhani Hingga Pramodya

(Oleh: Rismiyana)

Peradaban suatu bangsa setidaknya dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu filsafat, sejarah dan sastra. Dari filsafat lahirlah pemikiran-pemikiran yang berkembang di masyarakat. Baik pemikiran politik, ekonomi, pendidikan dan aspek lainnya. Dengan sejarah, suatu bangsa memandang fakta masa lalu, yang dengan itu mereka beranjak untuk mengambil tindakan di masa kini dan depan. Dan dengan sastra dapat diketahui sudut pandang perasaan mereka terhadap kehidupan.

Firsafat dan sejarah biasanya dimuat informasinya dalam buku yang menggunakan pengungkapan yang menggunakan bahasa pemikiran. Dalam buku yang menggunakan pengungkapan gaya bahasa pemikiran, penekanan terletak pada kejelasan informasi yang disampaikan, kesesuaian data-data yang disajikan dengan fakta-fakta yang ada.

Karakter buku yang menggunakan pengungkapan dengan gaya pemikiran akan berbeda dengan buku yang menggunakan gaya pengungkapan sastra. Buku yang menggunakan gaya pengungkapan sastra, penekanan terletak pada tujuan yang akan disampaikan, yaitu mempengaruhi perasaan pembaca. Yang terjadi saat membaca buku sastra adalah transfer emosi, yaitu pada diksi-diksi yang mengandung kesan tertentu.

Pertanyaan yang sekarang muncul, apakah dalam suatu buku dapat mengandung filsapat, sejarah dan sastra sekaligus? Jawabnya, tentu saja ada. Hanya saja dalam buku-buku itu dominasi satu gaya akan tampak menonjol, apakah pengungkapan bahasa pemikiran atau gaya pengungkapan sastra.

Perbandingan ini akan nampak jelas bila kita membaca satu buku yang membicarakan topik yang sama atau minimal bersinggungan. Misalnya, antara buku Pembentukan Partai Politik Islam karya Taqiyuddin An Nabhani dengan buku-buku Pramoedya Ananta Toer yang termuat dalam Tetralogi Pulau Buru.

Pada bagian awal, buku Pembentukan Partai Politik, An Nabhani memaparkan kondisi yang terjad pada abad ke 19 Masehi. Yaitu pasca perang dunia I, yang pengaruh terbesarnya adalah runtuhnya institusi Daulah Khilafah. Luas wilayahnya yang semula mencapai dua pertiga bumi berbentuk kesatuan, terpecah-pecah dibawa jajahan bangsa Eropa, yang setelah itu kemudian menjadi puluhan nation state/ negara bangsa, Di situ dipaparkan bahwa dinegeri-negeri Muslim, berbagai gerakan yang muncul pada saat itu bertujuan untuk membangkitkan masyarakat, namun mengalami kegagalan, keterpurukan, dominasi dan penjajahan Asing pengemban ideologi sekular-kapitalis. Di buku itu dijelaskan pula penyebab utama kegagalan gerakan yang mengupayakan kebangkitan itu.

Dalam buku itu An Nabhani menjelaskan bahwa kelompok-kelompok yang muncul sekitar abad 19 M mengalami kegagalan disebabkan metode pembentukan yang tidak dilandasi pemahaman hakiki terhadap sebuah ideologi. Selain itu tsaqofah Asing mempunyai pengaruh besar terhadap menguatnya kekufuran dan penjajahan, serta tidak berhasilnya kebangkitan dan gagalnya gerakan-gerakan terorganisasi baik gerakan sosial maupun gerakan politik. Ini berlangsung melalui jalur pendidikan/pemikiran. Pemuda-pemuda terdidik dari negeri jajahan mempelajari kepribadian (pola pikir dan pola sikap) penjajah Barat sebagai sumber tsaqofah*. Mereka belajar sejarah, filsafat dan sastra dengan memakai standar dari bekas penjajah mereka (Barat).

Buku An Nabhani tersebut secara mendalam menyampaikan transfer pemikiran melalui pemaparan informasi berdasarkan fakta-fakta sejarah yang terjadi abad ke 19 M.

Adapun bagaimana perasaan-perasaan, situasi-situasi yang terjadi pada sekitar abad 19 dapat kitaketahui dan rasakan dalam buku sastra Pram, Tetralogi Pulau Buru. Dalam buku-buku itu, Pram menjadikan peristiwa sejarah sebagai setting cerita, pemikiran dan perasaan orang-orangnya sebagai isi cerita, dan membingkai semua itu dengan pengungkapan bahasa sastra.

Dalam Bumi Manusia yang adalah buku pertama dari serangkaian roman empat jilidnya (tetralogi), Pram mengisahkan masa kejadian tahun 1898 sampai 1918, masa periode kebangkitan Nasional, masa awal masuknya organisasi-organisasi modern yang juga berarti awal kelahiran demokrasi pola revolusiPrancis.

Pada Anak Semua Bangsa, Pram berkisah tentang pengenalan si tokoh (Minke) pada lingkungan sendiri dan dunia sejauh fikirannya dapat menjangkau. Di buku ini Pram menggambarkan kekagumanMinke pada Revolusi Perancis. Bagaimana perasaan Minke terhadap kejadian-kejadian pada masa itu, serta pandangannya terhadap bangsa kolonial tergambar secara gambling dalam buku ini.

Adapun Jejak Langkah berkisah tentang kelahiran organisasi-organisasi modern pribumi pertama. Dan Rumah Kaca berkisah tentang usaha pemerintah kolonial Hindia-Belanda menjadikan Hindia sebagai rumah kaca yang setiap gerak-gerik penduduk di dalamnya dapat mereka lihat dengan jelas dan hak exorbitant dapat berbuat sekehendak hatinya terhadap para penghuni rumah.

Membaca buku Pembentukan Partai Politik Islam karya an Nabhani, pembaca disodorkan sebuah ‘peta pemikiran’. Di peta itu pembaca akan mengetahui letak, posisi, pelaku peristiwa sejarah dan kondisi yang melingkupinya, untuk kemudian melihatnya dari berbagai sisi (berpikir terbang/politik). Sedangkan membaca Tetralogi Pulau Buru karya Pram, pemikiran dan perasaan pembaca dibawa bertamasya, masuk langsung ke dalam penggambaran peristiwa sejarah dengan mengunakan sudut pandang Minke (tokoh utama, yang merupakan korban tsaqofah Barat).

An Nabhani menyampaikan isi benaknya dengan pengungkapan gaya bahasa pemikiran. Sehingga saat membaca buku yang ditulisnya, yang terjadi adalah transfer pemikiran. Untuk memahami buku-buku dengan gaya seperti itu, pembaca harus memiliki tingkat pemikiran yang setaraf dengan pembahasan buku. Inilah yang menyebabkan, banyak kitab-kitab berbahasa Arab yang dibaca dengan model kajian, pembahasan dipimpin oleh salah seorang yang telah paham. Ini juga berlaku pada buku-buku pemikiran lain, misalnya buku-buku teks perkuliahan tertentu.

Pram, walau yang disampaikan dalam bukunya menggunakan setting sejarah dan memuat pemikiran-pemikiran, pengungkapan yang digunakannya adalah gaya bahasa sastra.Yang dominant terjadi adalah transfer perasaan atau emosi.

Bagi pembaca yang akan atau telah mengkaji Pembentukan Partai Politik Islam-nya An Nabhani, tidak ada salahnya membaca buku Pram. Agar dapat merasakan situasi-situasi, perasaan-perasaan orang-orang pada masa itu. Atau sekedar menengok bagaimana pandangan dan perasaan seorang Pram terhadap situai perpolitikan pada masa itu, tak terkecuali tanggapannya terhadap Islam (keberislaman priyayi Jawa yang terindra olehnya). Bagi pembaca yang telah menamatkan Tetralogi Pulau Buru-nya Pram, buku An Nabhani sangat layak untuk dikaji.

*tsaqofah: pengetahuan yang menilai

sesuatu menggunakan sudut pandang tertentu

(bersifat non eksakta/humaniora)

mybooks