Kamis, 24 September 2009

Curhat

Tadinya, aku mau menulis pengalaman pulkam pas liburan lebaran kemaren. Tapi, pas datang ke warnet, kata pamannya warnetnya sudah penuh. Padahal kedatanganku ini yang ke dua kalinya! Tadi siang juga datang tapi penuh. Karena males turun ke bawah, capek dan haus banget (lagi puasa, bayar denda Ramadhan kemaren), aku dan temanku duduk saja di depan warnet. Kurang 10 menit, penjaga warnet satunya datang. Kemudian setelah duduk beberapa menit, dia nyuruh masuk. Ternyata, bagian dalam ruangan yang ber AC, tadi sengaja gak di buka, mungkin karena listrik baru saja nyala. Nah, terus paman warnetnya wanti-wanti, "Sampe jam 6 saja ya. Abis itu tutup." :( Padahalkan sudah jam 5 lewat! Jadinya, mood nulisku jadi ilang! Tapi karena sudah niat dari awal mau ngisi tulisan di blog ini yah sudah aku tulis saja tulisan yang ngak perlu waktu lama dan ngak terlalu serius mikirnya. Apa ya...
Tadi sebelum ke sini aku ke toko buku islami, Al Azhar. Ngeliat-liat buku yang mungkin menarik, belum aku baca, aku belum punya, dan teman kostku juga belum punya (kedua teman kostku punya buku banyaaak banget! Sudut-sudut kost penuh dengan buku-buku mereka. Tidak jarang 1 buku ada tiga eksemplar, soalnya kami sama-sama pengen beli). Nah, tanpa sengaja aku melihat bagian VCD, tercantum nama Syaikh Sa'ad Al Ghamidy (penulisan namanya lupa, tadi VCD nya sudah aku taruh di kost) dan ada gambar orangnya. Dia Itukan yang suaranya sering aku putar di winamp komputer di kost. Walau di komputer ada beberapa orang pelantun Al Quran yang sering tersedia di winamp, Syaikh Sa'ad Al Ghamidy ini menurutku yang paling keren, apalagi pas beliau membaca surah An Nisa. Mendengarkannya membuat hati tenang. Dari pada mendengarkan lagu When a blind man cries-nya Deep Purple, kayaknya dengerin suaranya Syaikh ini lebih menenangkan, apalagi mendengarkannya pas lewat tengah malem. Nah, balik lagi ke VCD-nya, akhirnya VCD-nya aku beli. Isinya tentang wawancara dia dan kiat-kiat biar mudah menghapal al Quran beserta doa-doanya.
Sudah jam 6!

Selasa, 01 September 2009

Momen

(Ini esayku memperingati Maulid Nabi SAW. Dimuat di Radar Banjarmasin Agustus 2006)
Ekspresi Cinta Terhadap Rasulullah SAW
Oleh: Rismiyana*
Peradaban adalah sekumpulan pemahaman tentang kehidupan. Artinya peradaban adalah sekumpulan pemikiran yang sangat besar jumlahnya, yang mencakup berbagai aspek kehidupan maupun masyarakat, seperti pemerintahan, perekonomian, sosial, undang-undang, politik, kesenian, dan sebagainya.
Berdasarkan penyelidikan dan pembahasan ahli sejarah, pada suatu peradaban tidak pernah ditemukan periode tertentu yang dapat ditetapkan sebagai permulaan atau tanggal kelahiran peradaban tersebut. Tidak pula dapat ditentukan batas pemisah yang akan membedakan antara satu peradaban yang tenggelam dan yang baru muncul. Melainkan peradaban baru tersebut pasti mengalami keterpengaruhan dengan peradaban sebelumnya. Misalnya antara peradaban Asiria dan Babilonia, termasuk Sumeria begitu juga adanya keterpengaruhan peradaban Romawi terhadap peradaban Yunani, atau keterpengaruhan peradaban Yunani terhadap peradaban Mesir.
Demikian pula halnya akan peradaban Eropa pada abad pertengahan dengan peradaban Barat kontemporer “Liberalisme”. Termasuk pula keterpengaruhan antara peradaban Liberalisme dengan “peradaban terpimpin”-nya Komunisme, yang keterpengaruhan keduanya bersifat saling meniadakan, dalam arti saling bertolak belakang. Keduanya pun muncul setelah mengalami penguatan selama beberapa abad, setelah para filosof dan para pemikir mengonsepkan pandangan mereka satu demi satu.
Namun, untuk uraian di atas ada sebuah pengecualian, sebuah peradaban asing yang untuk tumbuh, berdiri tegak di atas pondasinya memerlukan periode yang sangat singkat dari sejarah manusia. Suatu peradaban yang memiliki bentuk ide maupun pola pemikiran khas (berbeda dengan yang lain), lahir tanpa banyak campur tangan pemikir dan filosof manapun.
Suatu peradaban yang menghimpun berbagai unsur medasar untuk menjelma menjadi sebuah peradaban yang sempurna dan lengkap, memiliki sistem peraturan dan metode tersendiri untuk mengatur hubungan diantara individu satu sama lain dalam sebuah masyarakat. Keberadaannya bukan sebagai hasil mencontoh keindahan peradaban sebelumnya bukan pula muncul dari warisan pemikir-pemikir dan filosof-filosof. Akan tetapi, peradaban ini lahir dari peristiwa sejarah tersendiri, yaitu turunnya al-Qur’an Karim, sebagai kitab yang menjadi dasar-dasar konsep peradaban tersebut.Peradaban tersebut adalah peradaban Islam.

Sebentuk Pertanyaan

Lalu siapakah gerangan manusia yang menjadi pengemban dan penyebar dari konsep-konsep peradaban tersebut? Seperti apakah dia? Bagaimana pengikut-pengikutnya seharusnya meneladaninya?
Sosok Muhammad Saw.
Bagi kaum muslim, Muhammad Saw. Jelas menempati posisi yang sangat istimewa. Beliaulah yang membawa risalah Islam yang diturunkan oleh Allah Swt. Dengan risalah yang diperjuangkan, diemban, dan diterapkan oleh Rasulullah Saw, Islam hadir menjadi sebuah peradaban ditengah-tengah umat manusia.
Rasulullah Saw.adalah pemimpin di segala bidang. Beliau adalah pemimpin umat di mesjid, di dalam pemerintahan, juga di medan pertempuran. Beliau adalah pendidik yang telah mengubah tingkah laku yang biadab dan jahiliy menjadi beradab dan terhormat. Beliau seorang politikus ahli siasat yang berhasil menyatukan suku-suku bangsa hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad. Beliau juga pemimpin ruhani daalam aktivitas peribadahan terhadap Allah yang telah membawa jiwa pengikutnya ke suasana ilahiyah.
Tentang bagaimana akhlak Rasulullah, para sahabat sendiri di zaman Rasulullah sendiri sulit menceritakannya. Seorang Yahudi pernah datang kepada Khalifah Umar bin Khaththab ra untuk bertanya tentang akhlak Rasulullah. Umar tidak mampu menjawabnya dan menyuruh Yahudi itu menemui Bilal ra. Bilal pun sama. Dia menyuruh Yahudi itu mendatangi Ali bin abi Thalib ra. yang sejak kecil sudah mengenal Rasulullah Saw. Bahkan ia sering tidur di rumah beliau. Ali malah balik bertanya kepada Yahudi itu, “Lukiskanlah keindahan dunia ini, akan aku gambarkan kepadamu akhlak Nabi Muhammad Saw.”
Laki-laki itu menyatakan ia tidak sanggup. Ali pun berkata, “Kamu tidak mampu melukiskan keindahan dunia ini, padahal Allah Swt. telah menyaksikan betapa kecilnya dunia ini ketika Dia berkata:Katakanlah: Keindahan dunia ini kecil. (TQS:an-Nisa:77).” Artinya, menggambarkan keindahan dunia yang sebenarnya kecil ini saja sulit, apalagi menggambarkan keluhuran dan kemuliaan Rasulullah Saw.
Bahkan para penulis non-Muslim pun-lepas bagaimana sikap mereka kepada Rasulullah Saw.-mengakui kebesaran Rasulullah sebagai, “Dia datang seperti sepercik sinar dari langit jatuh ke padang pasir yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir debu menjadi mesiu yang membakar angkasa sejak Delhi sampai Granada,” demikian yang ditulis Thomas Carlyle dalam On Heros and Hero Workship. Demikian juga Michael Hart dalam bukunya, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh di Dunia, ia menempatkan Rasulullah pada urutan pertama. “Dia adalah orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan manusia lebih dari Newton dan Yesus atau siapapun di dunia ini,” tulisnya.
Sikap Kita Meneladani Rasulullah Saw.
Bulan Rabiul Awal adalah bulan Rasulullah dilahirkan. Sebagian besar kaum muslimin menunjukkan ekspresi kecintaan mereka terhadap Rasulullah dengan cara memperingati hari lahirnya, yaitu Maulid-an. Di masyarakat kita juga, wujud kecintaan kita kepada Rasulullah dengan upaya meniru akhlak beliau.
Namun, apakah cukup dengan itu saja? Terkadang ada di antara kaum muslim ketika pelanggaran terhadap hukum syara’ terjadi, yang di bawa-bawa untuk melupakan pelanggaran tersebut adalah sifat Rasulullah yang pemaaf.
Demikian pula ketika Rasulullah dihina dengan menggambar karikatur beliau, dan menimbulkan gejolak, penyelesaian yang disodorkan adalah dengan membawa-bawa sifat Rasulullah yang pemaaf. Dan yang paling menyakitkan ketika negeri-negeri muslim seperti Afghanistan, Irak, diluluhlantakkan Amerika, kaum muslimin diserukan untuk hanya berdoa bersama untuk kemenangan saudara mereka yang dihina dan dianiaya sembari berkata, “Islam cinta damai, kita lebih baik memaknai jihad adalah bersungguh-sungguh bukan perang.”
Padahal Rasulullah ketika berada di Madinah menghadapi serangan kafir Qurais dari Mekah demikian serius mempersiapkan strategi perang, beliau meminta pendapat Hubab bin al-Mundzir tentang strategi yang terbaik, menatur pasukan dan mempersiapkan persenjataan yang terbaik. Kemudian setelah itu beliau baru masuk ke bangsalnya meminta pertolongan kepada Allah denan doa yang banyak sekali. Untuk mempertahankan Madinah beliau bekerja keras membangun parit (khandak). Dalam enam hari Rasulullah Saw turun langsung bercucuran keringat, dan bekerja keras; tidak hanya berdoa.
Selain itu, Rasulullah juga menyelesaikan kriminalitas di tengah-tengah masyarakat. Beliau tidak menyandarkan pada doa atau ibadah, apalagi pada seruan moralitas atau akhlak mereka. Rasulullah Saw memberikan sanksi hukum yang tegas atas pelakunya. Saat ada seorang wanita muda yanng cantik dan terhormat mencuri dan oleh peradilan diputuskan untuk dipotong tangannya, salah seorang sahabat mengusulkan agar sanksinya diubah dengan yang lain karena kasihan dan wanita itu adalah kalangan terhormat. Akan tetapi apa yang beliau katakan, bahwa seandainya Fatimah putri Rasulullah yang mencuri niscaya beliau akan tetap akan memotong tangannya. Karena memang ketika Allah telah menentukan suatu hukum baik status mengenai perbuatan atau benda, maka manusia tidak ada yang berhak mengubahnya sedikitpun apalagi membuat hukum baru.

Yang Semestinya

Saat ini di negeri-negeri muslim (bukan negara karena negara Islam saat ini tidak ada), peradaban yang dijalani oleh kaum muslim bukanlah peradaban Islam, melainkan peradaban kufur buah dari penerapan ideologi Kapitalis-Sekuler. Peradaban kufur tersebut (yaitu berupa sistem ekonomi kapitalis, sistem pemerintahan demokrasi, sistem hukum peninggaalan penjajah kolonial, sistem sosial yang liberal, sistem pendidikan yang sekuleristik, dll) yang seolah-olah telah menjadi lumpur keruh yang beracun, yang menggenang dalam sebuah lautan dan kaum muslim menjadi ikan pesakitan di dalamnya.
Untuk itu, tidak kah sebagai Muslim kita ingin kembali hidup dalam peradaban yang konsep-konsepnya diturunkan oleh Allah Swt.dan dibawakan oleh Rasulullah Saw untuk kita? Atau adakah yang lebih baik dari itu? Sesungguhnya seperti ikan yang memang semestinya berhabitat di dalam air sehat, demikian pula halnya kaum Muslim, habitat aslinya adalah Peradaban Islam. Dan kita tentunya memahami bahwa peradaban Islam hanya akan terwujud dalam suatu masyarakat islami dalam bingkai Khilafah Islamiyah.

*Mahasiswa PBSID FKIP Unlam &
SC BK LDK Unlam Korwil Kalimatan

Esay Tentang Sastra

(Ini esay yang aku tulis pas aku lagi suka menggunakan nama Rain Fajar. Waktu itu aku lagi ngebet banget dengan buku Tafkir atau Hakikat Berpikir karyanya Syaikh Taqiyuddin An Nabhani . aku kirim ke Cakrawala Radar Bjm, tanggal 22 Mei 2006 dan kira2 sehari atau seminggu setelahnya dimuat di Cakrawala.)


Sebuah Karya Sastra Saja
(Rain Fajar*)
“Beapaan ke situ, beli buku yang ada manfaatnya!”
Begitulah komentar seorang ibu di toko buku dalam salah satu pusat perbelanjaan di kota ini. Ibu yang saya taksir berusia 45 tahun itu berkata pada remaja putri yang berjalan bersamanya. Remaja putri itu (saya yakin anaknya, karena wajah keduanya mirip) baru saja dengan ekspresi ceria berjalan ke arah saya yang saat itu sedang melihat-lihat novel baru. Sebelum mendengar perkataan ibunya, matanya berbinar saat melihat ke rak-rak novel remaja di hadapan saya.
Saat mendengar perkataan ibu disampingnya itu, serta merta ia menghentikan langkah, memandang kepada saya sesaat. Lalu sambil menunduk ia berbalik mengikuti ibunya.
Tanpa perlu uraian panjang lebar melalui analisis wacana, tentu komentar ibu tersebut dapat kita pahami maksudnya. Bahwa ia beranggapan membeli novel untuk dibaca adalah perbuatan yang tidak ada manfaatnya sama sekali, sia-sia saja.
Komentar ibu tersebut pastilah memiliki latar belakang anggapan. Ada alasan mengapa ia sampai berkata seperti itu. Mungkin ia beranggapan bahwa novel hanyalah buku yang berisi cerita khayalan, fiksi, bukan kenyatan yang sebenarnya. Sehingga membeli novel; buang-buang uang saja. Membaca novel hanya menghabiskan waktu, membuat si pembaca tenggelam dalam khayalan. Novel baginya berbeda dengan buku matematika, IPA, IPS, yang berisi pemahaman ilmiah, yang dengan membacanya seseorang akan bertambah pintar.
Namun, bagi kita yang sering membeli novel, memanfaatkan waktu berjam-jam untuk membaca novel. Atau malah berprofesi/bercita-cita sebagai penulis novel, tidak usah berkecil hati. Cerita tentang ibu dan seorang remaja putri di atas hanya salah satu dari fakta yang ada. Masih ada fakta lain yang memperlihatkan sikap berbeda terhadap novel.
Salah seorang tetangga saya, yang sekarang menjadi teman dekat saya adalah seorang ibu-ibu. Usianya 4 tahun dan memiliki tiga orang anak. Anak pertama, seorang remaja putri, dua adiknya laki-laki.
Berbeda dengan ibu yang saya ceritkan di awal tulisan, ibu yang menjadi teman saya itu begitu antusias; tidak hanya memberikan novel, mendorong anaknya untuk membaca novel Islami, ia juga memdfasilitasi agar anaknya menghasilkan karya apakah puisi atau esai. Memang saat ini ketiga anaknya belum ada yang menulis novel, tapi itu karena mereka masih memiliki kemampuan terbatas dalam menulis. Suatu saat saya yakin ia ingin anak-anaknya itu minimal salah satu dari mereka dapat menulis sebuah karya, berupa novel.
Dari percakapan-percakapan kami, saya ketahui pendapatnya terhadap novel (tentu saja novel yang bersifat mendidik). Bahwa menurutnya, dengan membaca novel seseorang akan belajar tentang kehidupan, mengetahui banyak tentang sifat-sifat manusia, mematangkan emosi, memperluas wawasan. Begitulah….

Peta Perjalanan Hidup

Dalam sebuah esai di majalah favorit saya, diceritakan bahwa penulis esai itu sangat mencintai buku terutama novel: Musashi. Dijelaskannya novel tebal karya Eiji Yoshikawa tersebut dijadikan ‘kitab’ psikologi yang memberikan pencerahan kepada tokoh-tokoh spiritual seperti Gede Prama dan Sindunatha. Dijelaskannya lagi, menamatkan novel Musashi merupakan suatu pencapaian ambisius prestisius. Membaca Musashi seperti halnya memasuki pusaran waktu, seperti masuk ke dalam noktah di penghujung umur alam semesta. Maka setelah menyengajakan diri terserap ke dalam novel tersebut selama beberapa hari (novelnya tebel banget sih!), tiba-tiba saat dia selesai membaca novel tersebut, benar-benar kembali ke alam nyata, kehidupan ini menjadi begitu menakjubkan. Dan saya menyetujui apa yang dia tuliskan karena saat saya menamatkan novel tersebut, saya merasakan hal yang serupa.
Menurut penulis esai tersebut, ia merasa betapa kuatnya pengaruh novel yang ia selesaikan selama tujuh hari itu. Ketika berjalan-jalan menuju sebuah air terjun di Bogor, ia mengkhayalkan keindahan alam berupa makro kosmos (alam semesta) dan keindahan mikro kosmos (petani yang bercocok tanam, rumah-rumah beratap rumbia dan tegalan yang masih basah oleh hujan) seolah-olah memiliki ruang waktu yang sama ketika Tokugawa berkuasa. Padahal dia berada di Indonesia! Abad 21!
Dalam novel Musashi tersebut ia belajar tentang pemetaan kondisi manusia yang dituliskan Yoshikawa, bahwa: jika manusia memiliki keselarasan antara hati dan pikirannya maka ia mejadi individu yang berkarakter, individu yang merdeka. Sehingga setalah menamatkan novel itu ia berani tampil beda, merdeka, bebas dari anggapan orang lain, yaitu dalam hal-hal yang memang tidak bertentangan dengan hukum syara.
Dari fakta yang dialami penulis esai tersebut, si Divan, saya semakin meyakini bahwa dengan membeca novel (tertentu), kita sebagai pembaca dapat memiliki pandangan, wawasan yang lebih luas saat memandang manusia, alam semesta, dan kehidupan yang ada di sekeliling kita.

Karya Sastra Sebagai Hasil Berpikir Serius

An-Nabhani dalam Hakekat Berpikir (Tafkir) menjelaskan bahwa, “Keseriusan (dalam berpikir) adalah adanya maksud, (dan) adanya usaha untuk merealisasikan maksud tersebut, disertai dengan adanya gambaran yang baik tentang fakta yang dipikirkan”. Dengan kata lain, keseriusan dalam berpikir itu ditandai dengan adanya objek yang dipikirkan, tujuan dan usaha yang ‘nyambung’ atau dapat menghantarkan apa yang dipikirkan pada tujuan yang diinginkan (hasil).
Oleh karena itu, ia mengkategorikan, pada sastrawan-sastrawan tertentu terjadi aktivitas berpikir serius. Ini dikarenakan, walaupun objek yang ditulis oleh para sastrawan adalah terkadang sesuatu yang bersifat simbol/perlambang saja, mereka menempuh usaha untuk mewujudkan tujuan yaitu membuat orang yang membaca karyanya terkesan, tergerak hati dan akalnya. Usaha yang mereka tempuh antara lain dengan merenungkan, memilih kata-kata yang indah, yang mampu mengerakkan hati dan akal pembaca. Dan hasil berpikirnya adalah sesuatu yang memiliki fakta: sebuah karya sastra.

Arti Karya Bagi Sastrawan

Sastrawan (dalam tulisan ini adalah orang yang menghasilkan karya sastra) ketika mencari, menemukan inspirasi, memilih kata-kata yang ia anggap mampu mengeluarkan kesan yang sastrawi, mampu membangkitkan perasaan, menggerakkan akal pembaca, semua proses kreatif itu adalah usaha yang mereka tempuh untuk menghasilkan sebuah karya sastra. Karya sastra tersebut dapat berupa novel, cerpen, dan puisi. Bahkan dapat diumpamakan novel, cerpen, dan puisi adalah anak yang telah dengan susah payah dirawat hingga tumbuh menjadi cantik, indah oleh sang sastrawan. Untuk kemudian barulah dapat disaksikan oleh khalayak ramai. Apabila anak yang telah dilepas itu dikritisi oleh orang lain sebagai karya yang jelek, tidak indah, belum sempurna, walaupun dengan rasa kecewa Sang Sastrawan akan berusaha menerima dan berusaha menciptakan karya yang lebih baik lagi. Namun, apabila anak yang dilepasnya itu: dianiaya hingga lebam, berdarah-darah, dipotong-potong, kemudian bagian-bagian yang terpotong-potong itu disambung dengan posisi yang berbeda dengan posisi semula adalah wajar Sang Sastrawan menjadi marah, kecewa, bahkan terluka. Tapi,… bila orang yang ingin mengadakan mutilasi tersebut sebelumnya minta izin terlebih dahulu kepada Sang Sastrawan mungkin akan berbeda (?).
Akhirnya, tidak lain tidak bukan, tulisan ini adalah wujud kecintaan saya pada sastra. Semoga karya-karya yang akan dihasilkan oleh para sastrawan adalah karya sastra yang mampu membangkitkan hati, menggerakkan akal kita, para pembacanya. Sehingga kita senantiasa ingat akan tujuan penciptaan kita oleh Dia, Sang Pencipta.
*Penyuka sastra tinggal di Bajarmasin

Minggu, 16 Agustus 2009

Pemimpin Terbaik dari Guru Terbaik

Pemimpin Terbaik dari Guru Terbaik.
(Oleh: Rismiyana)
Guru dan murid adalah dua pihak yang saling membutuhkan. Seseorang baru bisa menjadi guru apabila dia memiliki seorang murid yang menyerap, menimba ilmu, dan belajar tentang sesuatu darinya. Seorang murid pun demikian, dia baru bisa menjadi atau memegang predikat sebagai seorang murid bila memiliki seorang guru yang memberikan ilmu pengetahuan pada dirinya.
Dalam hubungan mereka, guru dan murid saling timbal balik. Harus ada kesediaan memberi dan menerima pada diri kedua belah pihak. Seorang guru terlebih dahulu harus menerima dan menyadari kedudukannya sebagai pentransfer ilmu dan pendidik bagi muridnya. Dia menerima, memahami baik karakter pribadi maupun kondisi murid yang akan didiknya. Dia pun dengan ikhlas mentransfer pengetahuan yang dimilikinya, meluruskan pribadi yang terus tumbuh dalam diri muridnya tersebut.
Seorang murid pun demikian, harus ada kerelaan dalam dirinya untuk menerima ilmu dan didikan dari gurunya. Harus ada kesediaan untuk memberikan pehatian, konsentrasi, kepatuhan pada apa yang diajarkan oleh gurunya. Walau mungkin pada tahap awal, guru lah yang memiliki peran besar untuk membentuk kesediaan menerima dan memberi dalam diri muridnya itu.
Kesuksesan seorang guru dapat diukur dengan melihat kualitas murid yang telah dia didik. Semakin bagus kualitas pribadi yang terbentuk pada seorang murid berarti semakin bagus pula kualitas guru yang mendidik murid tersebut.
Dalam sejarah Islam kita mengenal Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel. Dialah yang membuka jalan masuknya dakwah Islam ke benua Eropa. Bagaimana sosok Al Fatih dan guru yang senantiasa mendidik dan mendampinginya adalah hal yang dapat dipelajari untuk dijadikan teladan dalam membentuk hubungan antara guru dan murid.
Muhammad Al Fatih Penakluk Kota Konstantinopel
Pada masa permulaannya, Islam muncul dan disebarkan di pedalaman Arab di Mekkah, kota gurun yang gersang. Pada saat itu telah berdiri imperium Byzantium yang beribukota Konstantinopel, kota yang pada saat itu dianggap sebagai kota paling strategis di dunia.
Beberapa tahun dari awal kemunculan Islam, setelah melakukan Hijrah ke Madinah, pada saat terjadi Perang Khandak (parit), Rasulullah Saw. mengabarkan sebuah kabar gembira, “Konstantinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik pemimpin (penguasa) dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara.”
Sejak itu hingga berabad-abad kemudian pemimpin kaum muslimin dan pasukannya berlomba untuk merealisasikan kabar gembira tersebut. Mereka ingin mewujudkan diri untuk menjadi sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik tentara yang telah dijanjikan Rasulullah Saw tersebut.
Seiring bergulirnya waktu, kepemimpinan umat Islam terus mengalami pergantian. Setelah Rasulullah Saw. wafat, para khalifah setelahnya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bergantian melanjutkan kepemimpinan terhadap kaum muslimin. Setelah masa Khulafahurrasyidin itu, wilayah kekhilafaan Islam terus berkembang diatas kendali bani Umayah. Kemudian, setelah Kekhilafaan Umayah melemah, muncul bani Abbasiyah yang memegang tampuk kekhilafaan menjadi pusat peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan di dunia. Setelah serangan tentara Tar-Tar yang melemahkan pemerintahan Abbasiyah, muncul bani Utsmani yang menduduki kekhilafaan, memimpin kaum muslimin menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Demikianlah….
Di antara pemimpin-pemimpin kaum muslimin itu, silih berganti membawa maupun mengirim pasukan untuk menaklukkan Konstantinopel. Mereka ingin mewujudkan diri sebagai pemimpin terbaik yang dikabarkan Rasulullah. Dan Muhammad Al Fatih atau dikenal dengan Sultan Mehmed II adalah salah satunya.
Dalam buku “Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmani” disebutkan bahwa Al Fatih adalah pemimpin yag cerdas, pemberani, dan berpendirian teguh. Bagaimanapun kota Konstantinopel pada saat itu adalah kota yang dilihat dari segi pertahanan militer merupakan kota paling strategis di dunia. Pertahanan alami dan benteng-benteng disekelilingnya seolah tidak memungkinkan untuk dikalahkan baik dengan pasukan berkuda lewat darat ataupun armada kapal perang lewat jalan laut.
Dikatakan bahwa, “Kota Konstantinopel dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus, laut Marmarah, dan Tanduk Emas yang dijaga dengan menggunakan rantai yag demikian besar, hingga sangat tidak memungkinkan untuk masuknya kapal ke dalamnya. Disamping itu, dari daratan juga dijaga pagar-pagar yang sangat kokoh yang terbentang dari laut Marmarah hingga Tanduk Emas yang hanya diselingi oleh sungai Likus. Di antara dua pagar, terdapat ruang kosong yang berkisar sekotar 60 kaki, sedangkan bagian dalamnya ada sekitar 40 kaki dan memiliki satu menara dengan ketinggian 60 kaki benteng setinggi 60 kaki. Sedangkan pagar bagian luarnya memiliki ketinggian sekitar 25 kaki, selain tower-tower pemantau yang terpancar dan dipenuhi tentara pengawas”
Namun, Al Fatih yang cerdas benar-benar meneguhkan pendiriannya untuk mewujudkan dirinya sebagai laki-laki terbaik yang pernah diberitakan Rasulullah Saw. Dengan kecemerlangan berfikirnya dia membuat strategi perang yang jenius. Dia memerintahkan pasukannya untuk meratakan tanah pegunungan yang belum terjamah manusia, dengan kayu-kayu yang dilapisi lemak, kapal-kapal armada perang pasukannya ditarik melintasi jarak 3 mil dan dilabuhkan di Tanduk Emas. Dalam satu malam lebih dari 70 kapal berhasil dipindahkan.
Seorang ahli sejarah Byzantium bahkan mengatakan, “Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al Fatih, telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang. Sungguh perbuatannya ini jauh melebihi apa yang dilakukan oleh Iskandar yang Agung.”
Tidak berhenti di situ saja, selain perang urat syaraf saat melakukan pengepungan, dari luar benteng-benteng yang mengelilingi kota, Al Fatih dan pasukannya membuat strategi baru yaitu memerintahkan pasukannya menggali banyak terowongan untuk dapat masuk ke dalam kota.
Akhirnya, Selasa 29 Mei 1453 M bertepatan dengan 20 Jumadil Ula 857 H, 800 tahun lebih setelah kabar yang dijanjikan, Muhammad Al Fatih berhasil menaklukan Konstantinopel. Pada hari penaklukan itu dia berjalan berkeliling untuk menemui pasukannya dan panglima-panglima perangnya yang selalu mengucapkan, “Masyaallah”. Al Fatih menoleh pada mereka dan mengucapkan, “Kalian telah menjadi orang-orang yang mampu menaklukkan kota Konstantinopel yang telah Rasulullah kabarkan.” Dia mengucapkan selamat pada pasukannya, melarang mereka membunuh rakyat sipil, berpesan agar mereka berlaku lembut pada semua manusia dan berbuat baik pada mereka. Kemudian Al Fatih turun dari kudanya dan bersujud kepada Allah sebagai ungkapan syukur dan pujian serta bentuk kerendahan diri di hadapan-Nya.
Sosok Guru Terbaik
Muhammad Al Fatih berhasil mewujudkan dirinya sebagai laki-laki yang dikabarkan Rasulullah sebagai penakluk Konstantinopel dan menjadi pemimpin terbaik di sana. Seperti apakah pendidikan yang diperolehnya sehingga dia menjadi pemimpin yang cerdas, pemberani, tak kenal menyerah dan tawaduk? Siapakah yang membentuk sosoknya sehingga menjadi seperti itu?
Al Fatih adalah anak dari Murad II. Sewaktu bocah, ayahnya telah mendatangkan sejumlah pengajar padanya, namun ia tidak menaati perintah guru-gurunya. Bahkan dia tidak membaca apapun hingga tidak mampu menghatamkan Al Quran. Melihat kelakuan anaknya itu, Sultan Murad II mencari informasi tentang siapa di antara guru yang memiliki kharisma dan sifat tegas. Orang-orang menyebutkan nama Al-Kurani yang bernama lengkap Ahmad bin Ismail Al-Kurani, seorang ulama yang banyak memiliki keutamaan. Maka Murad II mengangkat Al-Kurani menjadi pengajar anaknya dan memberinya tongkat yang bisa dipergunakan, jika anaknya tidak menaati perintahnya..
Menerima mandat demikian maka Al-Kurani pergi menemui murid barunya dengan memegang tongkat di tangannya. “Ayahmu menyuruhku datang menemuimu untuk mengajarimu. Jika kamu tidak menurut apa yang aku katakan, maka kamu akan mendapat pukulan.” Mendengar itu Muhammad Khan (Al Fatih) tertawa dan Al-Kurani memukulnya di majelis itu dengan pukulan yang keras, hingga membuat Muhammad Khan jera. Akibatnya, dalam jangka waktu yang sangat pendek dia mampu mengkhatamkan Al Quran.
Dengan ketegasan yang dimilikinya Al Kurani mampu meluruskan pribadi dalam diri anak didiknya. Al Kurani juga tidak pernah merundukkan kepalanya di hadapan muridnya itu dan hanya memanggil nama tanpa gelar. Setiap bertemu Muhammad Khan selalu mencium tangan gurunya itu tanda hormat.
Kemudian hadir untuk Muhammad Khan seorang guru yang akan sangat berpengaruh dalam hidupnya. Guru tersebut bernama Muhammad bin Hamzah Al-Dimasyiqi Ar-rumi atau yang sering dipanggil Syaikh Aaq Syamsuddin. Dia adalah guru yang mengajar Quran, Sunah Nabawiyah, Fikih, bahasa-bahasa (Arab, Persia dan Turki), Ilmu Hitung, Falak, Sejarah, Seni Perang, Tata Cara Pemerintahan, dan Pokok-Pokok Pemerintahan.
Syaikh Aaq selalu meyakinkan Muhammad Khan kecil, bahwa yang dimaksud dengan hadits Rasulullah yang berbunyi, “Konstantinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik pemimpin (penguasa) dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara,” adalah dirinya. Beliau pula yang mendorong dan memotivasi untuk menaklukkan Konstantinopel.
Pada serangan pertama, tatkala orang-orang Byzantium berhasil memenangkan peperangan dan Al Fatih merasa tidak yakin dan ragu-ragu, Aaq Syamsuddin berkata, “Pasti Allah akan memberikan kemenangan.” Saat Al Fatih masih dilanda keragu-raguan beliau menulis pesan untuk al Fatih, “…. Sesungguhnya masalah yang pasti adalah ahwasanya seorang hamba itu sekadar merancang, sedangkan yang menentukan adalah Allah…. Kita telah berserah pada Allah dan ketentuan kita telah membaca Al Quran. Itu semua tak lebih dari rasa kantuk di dalam tidur setelah ini. Sesungguhnya telah terjadi kelemutan kekuasaan Allah, dan muncullah kabar gembira- kabar gembira tentang kemenangan itu, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Membaca pesan itu Al Fatih dan pasukannya merasa ringan, tenang dan kembali termotivasi. Al Fatih sendiri kemudian pergi ke kemah gurunya itu dan meminta diajari sebuah doa untuk meraih kemenangan.
Saat dilancarkan serangan berikutnya Al Fatih menginginkan guruya berada di sampingnya. Untuk itu dia segera mengutus seseorang untuk menjemputnya. Akan tetapi Syaikh Aaq telah berpesan tidak ada yang boleh memasuki kemahnya. Al Fatih pun marah dia mendatangi kemah gurunya, saat penjaga kemah melarangnya masuk, dengan pedang disobeknya sisi kemah itu. Ternyata yang dilihatnya adalah gurunya tersebut sedang bersujud kepada Allah dalam sebuah sujud yang sangat panjang. Sorbannya terlepas dari kepalanya sehingga membuat rambutnya yag putih memantul sinar laksana cahaya. Kemudian Al Fatih melihat sang Guru bangkit dari sujudnya dengan air mata berlinangan dari kedua pipinya. Dia telah bermunajat pada Tuhan-Nyadan memohon pada-Nya agar kemenangan dikaruniakan dan dia meminta penakluka kota dalam jangka waktu dekat. Al Fatih kembali pada pasukannya. Dia saksikan bagaimana pasukannya telah berhasil melobangi benteng-benteng musuh.
Saat penaklukan terjadi, dalam kegembiraannya Al Fatih berkata, “Kegembiraan saya bukan karena penaklukan kota ini. Namun kegembiraan saya adalah karena adanya laki-laki ini (maksudnya Syaikh Aaq Syamsuddin) di zaman saya.”. Gurunya itu lah yang menasehatinya untuk memberikan hak-hak kaum yang ditaklukkan sebagaimana yang diatur dalam syariat Islam.
Hubungan antara kedua guru dan murid, antara Syaikh Aaq dan Al Fatih tergambar pada percakapan keduanya setelah penaklukan Konstantinopel. Saat itu Al Fatih datang ke kemah gurunya. Al Fatih menghampiri gurunya yang tengah berbarig dan mencium tangan gurunya itu.
“Saya datang menemuimu utuk sebuah keperluan.”
“Keperluan apakah itu?” Tanya Syaikh.
Al Fatih mengatakan keinginannya untuk bercakap-cakap dengan gurunya dalam keadaan berdua saja, sebagaimana halnya percakapan antara guru dan murid, “Bagaimana jika saya masuk bersama dalam keadaan hanya berdua?”
Namun Syaikh menolak dan Al Fatih memaksanya terus menerus. Namun Syaikh selalu berkata, “Tidak!”
Maka Al Fatih pun marah dan berkata, “Sesungguhnya telah datang padamu salah seorang dari orang-orang Turki, dan kau masukkan dia sendirian, namun tatkala saya datang kau menolak melakukan itu.”
Maka Syaikh berkata, “Sesungguhnya jika engkau masuk padaku sendirian, maka kamu akan merasakan satu kenikmatan sehingga kesultanan akan jatuh dalam pandangan kedua matamu dan akan berantakanlah perkaranya, dan Allah akan murka kepada kita semua. Sedangkan maksud dari menyendiri itu adalah agar timbul rasa keadilan. Maka hendaklah engkau melakukan demikian dan demikian…” Syaikh memberikan nasihat padanya.
Al Fatih memberikan pada gurunya uang sebanyak seribu dinar. Namun tidak diterima gurunya. Maka tatkala keluar dari kemah gurunya itu dengan sedih Al Fatih berkata pada pembantunya, “Syaikh tidak berdiri untukku.”
Pembantunya itu berusaha menghiburnya dengan berkata, “Mungkin dia melihat dalam dirimu perasaan sombong karena penaklukan kota ini, yang sebelumnya tidak bisa dilakukan oleh para sultan yang lain. Dengan demikian dia menginginkan untuk menghapus agar rasa sombong itu hilang darimu….”
Aaq Syamsudin adalah guru yang telah membentuk priadi Al Fatih. Dia adalah ulama pertama yang menyampaikan khutbah di Aya Sofia. Dan dialah orang pertama yang mendefinisikan kuman penyakit, pada abad kelima belas Masehi, empat abad sebelum ahli kimia dan biologi dari Perancis, Louis Pasteur melakukan penelitian yang sama.
Demikianlah dua pihak, guru dan murid. Guru terbaik yang menghasilkan murid terbaik, pemimpin terbaik.
Menjadi Guru Terbaik
Untuk menjadi guru terbaik, ‘terbaik’ dalam arti berkedudukan paling baik diantara guru lainnya mungkin akan sangat sulit kita realisasikan pada diri kita. Akan tetapi menjadi guru terbaik, ‘terbaik’ dalam arti memaksimalkan potensi yang ada dalam diri kita serta memaksimalkan usaha kita dalam mentransfer pengetahuan, pemikiran, dan pemahaman yang kita miliki kepada murid kita, walau cukup sulit namun dengan usaha yang sungguh-sungguh tentu dapat kita wujudkan. InsyaAllah!
(Separuh tulisan ini, bagian awal, kutulis di kapal saat mengarungi waduk Riam Kanan ketika berangkat dari Rantau Bujur menuju kembali ke Banjarmasin, 31 Juli-16 Agustus 09))

Bukit Sinyal


Bukit Sinyal

(artikel yang kutulis dan kujadikan bahan mading di SMPN 4 Aranio)

Bukit itu berjarak sekitar 300 M dari SMPN 4 Aranio. Bila diukur dari sungai yang mengalir di bawahnya, tinggi bukit itu tidak kurang 300 M. Saat kau berdiri di puncaknya, arahkan pandanganmu ke sebelah Barat, maka akan terhampar pegunungan Maratus yang hijau tua di kejauhan. Atau arahkan juga pandanganmu ke sebelah Timur, kira-kira 3 Km dari tempatmu berdiri, gunung Pahyangan yang terlihat persegi, berdiri kokoh dengan perwajahan geografisnya yang eksotis.

Pada saat musim tanam, di atas bukit ini akan kau jumpai rumpun-rumpun padi mulai menghijau. Tiga bulan setelah itu, bulir-bulir padi yang menguning, suara gemerisik rumpun-rumpun padi yang telah menjadi jerami coklat, dan bau gabah akan menajamkan panca indramu.

Dua bulan setelah musim panen itu, saat rumput-rumput tumbuh meninggi, tangkai-tangkai bunga liar yang menjulur setinggi 2 M bergoyang diterpa angin, kau bisa berdiri di tengah-tengah bukit itu. Sebaiknya, kau hadapkan tubuhmu ke Barat Laut, agak membelakangi gunung Pahyangan. Setelah itu aktifkan telepon genggammu! Kau dapat mengirim SMS, menelpon, membuka email, chatting, atau mendownload game dari telepon genggammu.

Bila kau merasa udara terlalu panas dan sinar matahari sore membuatmu gerah, kau dapat berteduh di gubuk kecil di tengah puncak bukit itu. Sambil duduk atau rebahan, kau tinggal menempelkan telepon genggammu di dinding gubuk. Bila koordinat telepon genggammu tepat, maka tanda sinyal akan segera muncul. Gunakan telepon genggam seperlumu.

Ya! Di atas bukit itu kau akan menemukan sinyal GSM beberapa operator telepon genggam. Sinyal yang tidak akan kau temukan di tempat lain di Desa Rantau Bujur!

Sabtu, 25 Juli 2009

Mengkonstruksi Kebahagiaan

Mengkonstruksi Kebahagiaan
(Diselesaikan tanggal 6, September 2006)
Siapa di dunia ini yang tidak ingin merasakan kebahagiaan? Jawabnya, tentu kita semua ingin merasakannya. Sayangnya, walau semua orang menginginkan kebahagiaan, pada faktanya tidak semua orang mampu merasakannya.
Mereka yang sedang merasakan kebahagiaan terkadang dengan jelas terlihat pada ekspresi wajah mereka. Ada yang tersenyum, ada yang tertawa, ada pula yang menyambut kebahagiaan dengan berlinangan air mata. Namun, tidak jarang ada orang-orang tertentu yang cukup memendam kebahagiaan tersebut di dalam hati. Yang jelas, mereka yang dilanda kebahagiaan akan merasa senang, tentram, damai, atau suasana hatinya diliputi penerimaan yang ikhlas atas apa yang menimpa mereka.
Terkadang, kebahagiaan dipengaruhi oleh apa yang ditangkap panca indra. Saat membaca dan mendengar cerita lucu kita biasanya tertawa, atau tatkala menyaksikan aksi kocak aktor ‘ekstravaganza’ di Trans TV kita merasa senang dan terhibur. Boleh dikatakan selama membaca, mendengar, atau menonton tersebut kita merasakan suatu bentuk kebahagiaan yang diekspresikan dengan tertawa.
Kebahagiaan terdang juga dipengaruhi oleh kondisi yang melingkupinya. Hal seperti ini pernah saya saksikan bulan lalu.
Siang itu saat menuju kampus guna mengurus skripsi, di antara terik matahari, debu, dan asap knalpot kendaraan yang melintas di jalan Melayu Darat saya temukan momen kebahagiaan yang ditemukan sebuah keluarga. Saat itu yang pertama tertangkap pandangan adalah seorang anak perempuan sekitar 9 tahun, terlihat lusuh, dan kumal. Ia sedang mengangkat sebuah buku tulis dari bak sampah dan membukanya. Kemudian ia mendekap buku itu di dadanya sambil tertawa pada perempuan paruh baya di depannya. Perempuan itu tersenyum (mungkin juga tertawa) memandang anak perempuan di depannya. Demikian pula laki-laki paroh baya yang ada di samping keduanya. Di dekat mereka bertiga tersandar karung plastik hampir penuh, mungkin hasil memulung hari itu. Saya pastikan, ditemukannya buku tulis bekas yang mungkin masih beberapa lembar belum terisi itu dalah sebuah momen membahagiakan bagi keluarga itu.
Bagaimana dengan kita? Apakah saat menemukan atau diberi buku tulis kosong seperti anak perempuan itu kita akan merasakan hal serupa dengannya? Jawabnya, belum tentu kita akan merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan keluarga itu. Kondisi kita dan keluarga kita yang berbeda dengan mereka menyebabkan sebuah peristiwa yang sama atau serupa memiliki makna yang berbeda.
Kebahagiaan yang dipengaruhi oleh panca indra dan kondisi kehidupan seperti di atas memang mempengaruhi makna kebahagiaan bagi kita. Namun, kebahagiaan seperti di atas adalah kebahagiaan yang bersifat alamiah, sifatnya sementara, terjadi kadang-kadang saja.
Apakah bentuk kebahagiaan seperti itu yang menjadi tujuan dalam hidup kita? Kebahagiaan yang dipengaruhi oleh panca indra dan kondisi seperti seperti itu bersifat hanya sebatas memuaskan naluri saja. Padahal, selain dilengkapi dengan naluri, manusia dilengkapi dengan akal. Akal lah yang menyebabkan manusia berbeda dengan hewan.
Sebenarnya apabila kita cermati, pemahaman yang dibentuk oleh akal sangat berperan dalam memaknai sebuah kebahagiaan. Pemahaman yang dimiliki seseorang akan mengkonstruksi makna kebahagiaan bagi dirinya. Hal inilah yang menyebabkan orang yang memiliki pemahaman berbeda akan memiliki perbedaan pula dalam memaknai kebahagiaan.
Seseorang yang menjadikan paham Liberalisme sebagai pemahaman dalam hidupnya, maka ia akan menjadikan kebebasan sebagai standar kebahagiaan bagi dirinya. Ia akan memperjuangkan segala bentuk kebebasan, apakah itu kebebasan berekspresi, kebebasan hak milik, kebebasan beragama, dan kebebasan lainnya. Ia tidak akan merasa bahagia sebelum dirinya dapat dengan bebas melakukan apa yang diinginkannya itu.
Seseorang yang menjadikan paham kapitalime sebagai pemahaman dalam hidupnya, maka ia tidak akan merasa bahagia sebelum keuntungan materi ia dapatkan. Ia akan memeras dan menindas orang lain, untuk mendapatkan keuntungan materi yang sebesar-besarnya bagi dirinya. Semakin banyak keuntungan materi yang didapatkannya, semakin besar pula kebahagiaan yang dirasakannya.
Begitu pula bila seseorang menjadikan akidah Islam sebagai landasan pemahamannya, maka ia hanya akan menjadikan ridho Allah SWT. sebagai satu-satunya standar kebahagiaan bagi dirinya. Ia akan senantiasa berusaha untuk mengikatkan diri pada hukum-hukum Allah. Karena, ia tahu keridhoan Allah terletak pada ketaatannya pada perintah-perintah-Nya.. Ia pun tidak akan benar-benar merasa bahagia selama hukum-hukum Allah belum tegak di muka bumi, menjadi rahmatan lil alamin.
Jadi, pada saat sebuah pemahaman telah terinternalisasi pada diri seseorang, maka pemahaman tersebutlah yang akan mempengaruhi pandangannya terhadap segala sesuatu, tak terkecuali dalam memaknai kebahagiaan. Saat itu, kebahagiaan yang dirasakan bukan lagi sekedar kebahagiaan berupa pemuasan naluri yang bersifat temporal saja, tetapi kebahagiaan tersebut adalah kebahagiaan yang lahir dari sebuah pemahaman. Kebahagiaan seperti itu bersifat kontinyu, tak terwarnai, tak terpengaruh oleh kondisi dan situasi.
Cerita-cerita tentang para Sahabat di zaman Rasulullah Saw. adalah contoh-contoh yang memperlihatkan bagaimana akidah Islam yang telah terinternalisasi pada diri mereka, telah mengubah presfektip pemikiran dan perasaan hati mereka terhadap segala sesuatu. Termasuk dalam memaknai jalan menuju kebahagiaan (yakni meraih ridho Allah) yang mereka pilih dan mereka perjuangkan sampai akhir kehidupan.
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menemukan jalan menuju kebahagiaan seperti mereka? Kalau sudah, seberapa jauh kita telah menempuh jalan itu? Dan seberapa besar perjuangan yang telah kita tempuh untuk meraihnya?

Ini artikel favoritnya Amali! Di sebelah dia lagi tertawa, sangat terkesan dengan kata 'mengkonstruksi' katanya!

Sabtu, 11 Juli 2009

Seperti Kincir Menderu

Seperti Kincir Menderu

Aku merasa sepi

seperti kincir menderu,

tak ada yang benar-benar kuterbangkan

dan sungguh-sungguh kurapatkan

Di titik semua mimpi,

sungguh

tak pernah kutemukan

wajahku di dalamnya

(Pengirim +628524715*** Diterima 20:48:07 07/07/2009)

Memiliki kenalan atau dikenal beberapa penyair membuat saya beberapa kali menerima SMS yang berisi kata-kata khas penyair: bersayap dan indah. Isi SMS itu walaupun pendek, menghuni ingatan dalam waktu yang tidak pendek.

Bapak Micky Hidayat, misalnya, sejak esai saya yang berjudul, “Sajak-sajak Bercerita Micky Hidayat” dimuat di Radar Banjarmasin pertengahan 2006 lalu, pada (beberapa kesempatan) hari raya, beliau berkenan mengirimkan sajak-sajaknya melalui SMS ke Hp saya. Tidak itu saja, beliau juga bermurah hati menghadiahkan satu antalogi puisi karya beliau, “Meditasi Rindu” dan bahkan juga ‘mengabadikan’ satu bagian dari esai saya tersebut pada bagian akhir isi antalogi tersebut, diletakkan sejajar dengan komentar penyair dan kritikus tingkat nasional (J). Selain beliau, Bapak Ali Syamsudin Arsy (yang saya kenal saat beliau menjadi panitia dalam lomba penulisan cerpen yang saya ikuti di DKD Banjarbaru) juga pernah pada Hari Raya mengirim sajak silaturrahim. Sajak tersebut kemudian seperti sajak Bapak Micky, saya copy menjadi koleksi untuk kemudian saya gunakan sebagai balasan dari SMS-SMS handai tolan yang masuk ke-Hp saya pada Hari Raya itu.

Berbeda dengan kedua dedengkot penyair Kal-Sel tersebut, seorang teman yang dulu menjadi kakak tingkat saya di PBSID FKIP Unlam: Kak Rahmiyati, tidak mengirimkan sajak-sajaknya pada moment Hari Raya. Sejak sajaknya yang berjudul “Cinta Hari Ini’ (yang diperlihatkannya pada saya di acara Aruh Sastra V Kotabaru tahun 2006) saya kutip dalam cerpen “Tiga Percakapan Tentang Cinta”, sejak itupula beberapa kali dia mengirim sajak-sajaknya melalui SMS pada saya. Sajak-sajak tersebut bernada lirih, sederhana, dengan kata-katanya yang terjalin khas milik gaya persajakannya..

Dan puisi berjudul “Seperti Kincir Menderu” di atas adalah satu dari sajak-sajak yang pernah dikirim Kak Rahmi. “Puisi tntng seorang prempuan yg pnuh dg kgembiraan, smangt dan hura2 tP dbaLik itU dia org pling ksepian sedunia.kd tau apa yg dcri….” Begitu menurutnya isi dari puisinya tersebut.

Menurut saya, keberhasilan Kak Rahmi dalam sajak “Ku Rasa Sepi” terletak pada kuatnya kesan yang ditimbulkan bait pertama. Di baris pertama sajak dia menulis, /Aku merasa sepi/ makna yang ditimbulkannya jelas bahwa ‘aku’ dalam sajak ini merasa sepi. Kemudian pada baris kedua, /seperti kincir menderu/ di sini awal ironi atau kebalikan dimunculkan dengan menyodorkan pencitraan berupa kincir yang sibuk berputar hingga menimbulkan bunyi menderu (kesiuran angin). Pada baris tiga dan empat ironi benar-benar dimunculkan. Pada baris ketiga /tak ada yang benar-benar kuterbangkan/ mengungkapkan bahwa walaupun kincir itu berputar cepat sehingga menghasilkan bunyi yang menderu, sebenarnya tak ada yang diterbangkan oleh kincir itu. Di sini Rahmi ingin menyampaikan ada sesuatu yang bernilai sia-sia (kesia-siaan kincir tanpa menerbangkan sesuatu jelas bila kita bandingkan dengan baling-baling pada helicopter, misalnya) (bersambung…., sudah adzan Zuhur)


Kalo kak Rahmi, baca esai ini lagi, maaf ya. sebenarnya dari kemarin-kemarin saya sudah beberapa kali berusaha melanjutkan esay ini, tapi seperti biasa permasalahan utamanya ada di mood nulis saya. Saya lagi susah konsentrasi, jadi perasaan dan penalaran saya tumpul. InsyaAllah, kalau moodnya sudah baik esaynya saya lanjutkan lagi menulisnya.


Ini Sambungannya



Dan pada baris berikutnya kesan kesia-siaan tersebut semakin kuat / dan sungguh-sungguh kurapatkan/. Walau bergerak dengan cepat, seolah saling mengejar, baling-baling kincir itu tidak pernah saling merapat, berdekatan.

Kemudian pada bait kedua, Kak Rahmi menyampaikan isi dari sajaknya tersebut. Bahwa /Di titik semua mimpi/ pada saat semua yang menjadi keinginan dan impian, telah mewujud, sebenarnya jati diri itu, ternyata tetap belum ditemukan.

sungguh

tak pernah kutemukan

wajahku di dalamnya

Jadi, sebenarnya masalah yang menjadi tema dari sajak Seperti Kincir Menderu karya Kak Rahmi di atas adalah masalah JATI DIRI, yaitu terasa kuat pada 2 baris akhir / tak pernah kutemukan/ wajahku di dalamnya//

. Tema yang serupa juga pernah diangkat Dee (Dewi Lestari) dalam Supernova 2: Akar. Dalam novelnya itu Dee bercerita tentang Bodhi yang mencari kesejatian. Kesejatian atau kebahagiaan yang hanya akan dapat ditemukannya bila dia terlebih dulu menemukan jati dirinya. Hanya saja buku itu sarat dengan pengaruh ajaran agama Budha.

Dengan sudut pandang Islam, An Nabhani mengupas dengan terperinci bahwa pada manusia yang berfikir, secara fitrah akan ada 3 pertanyaan mendasar pada diri manusia yang berfikir tersebut. Tiga pertanyaan tersebut merupakan simpul besar dalam hidup (uqdatul kubro). Jawaban dari 3 pertanyaan itu akan memberikan gambaran tentang jatidiri, arah perjalanan hidup, dan akhir yang menjadi tujuan.

Tiga pertanyaan tersebut, yaitu:

1) Tentang JATI DIRI. Dari mana manusia, alam semesta dan kehidupan di dunia ini berasal?

Jawaban dari pertanyaan pertama ini akan menentukan identitas dirinya, si manusia (asal penciptaan).

2) Tentang MISI HIDUP. Untuk apa manusia., alam semesta, dan kehidupan di dunia ini di ciptakan?

Jawaban dari pertanyaan kedua di atas akan memberi arah, menentukan jalan yang akan ditempuh dalam hidup. ( memilih jalan yang akan dilewati).

1) Tentang TEMPAT KEMBALI. Akan kemana manusia, alam semesta, dan kehidupan setelah ketiadaan?

Jawaban dari pertanyaan ketiga di atas akan memberikan gambaran akan kemana manusia setelah ketiadaan. Apakah menjadi debu, tanah, atau akan ke surga/neraka (akhirat)

Pertanyaan yang sederhana dan mudah. Cukup beberapa halaman buku saja untuk menguraikan jawaban dari 3 pertanyaan di atas. Namun, tiga pertanyaan tersebut akan memiliki keberpengaruhan apabila dalam menjawabnya benar-benar melibatkan aktivitas akal (berpikir dengan metode rasional) dan disepakati hati (ikhlas).

Metode berpikir rasional adalah metode yang sederhana. Cukup dengan bermodalkan otak yang sehat, diberikan maklumat sabikoh (impormasi awal) dan dihadirkan realitas yang terindra, seseorang telah dapat melakukannya. Bahkan untuk seorang suku Badui Arab di zaman Rasulullah SAW, mengimani Islam cukup hanya dengan melihat argument pada kotoran unta (yang menandakan sebelumnya ada unta yang membuang kotoran di situ) untuk meyakini bahwa keberadaan manusia, alam semesta, dan kehidupan merupakan hasil penciptaan.

Menjawab uqdatul kubro dan menemukan kesejatian dalam hidup, tidak harus terlebih dulu menjadi seorang sarjana, master, atau bergelar professor. Sungguh, walau menciptakan manusia dengan tingkat intelegensia dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda, yang dinilai Allah hanyalah takwa (keselarasan antara akal dan hati yang melahirkan aktivitas mentaati seluruh syariat-Nya).

bersambung, InsyaAllah... :)