Sebuah Karya Sastra Saja
May Allah make our imaan stronger, our hearts pure with Your love and our mind knowledged in Your deen
Selasa, 01 September 2009
Esay Tentang Sastra
Sebuah Karya Sastra Saja
Minggu, 16 Agustus 2009
Pemimpin Terbaik dari Guru Terbaik
Bukit Sinyal
Bukit Sinyal
(artikel yang kutulis dan kujadikan bahan mading di SMPN 4 Aranio)
Bukit itu berjarak sekitar 300 M dari SMPN 4 Aranio. Bila diukur dari sungai yang mengalir di bawahnya, tinggi bukit itu tidak kurang 300 M. Saat kau berdiri di puncaknya, arahkan pandanganmu ke sebelah Barat, maka akan terhampar pegunungan Maratus yang hijau tua di kejauhan. Atau arahkan juga pandanganmu ke sebelah Timur, kira-kira 3 Km dari tempatmu berdiri, gunung Pahyangan yang terlihat persegi, berdiri kokoh dengan perwajahan geografisnya yang eksotis.
Pada saat musim tanam, di atas bukit ini akan kau jumpai rumpun-rumpun padi mulai menghijau. Tiga bulan setelah itu, bulir-bulir padi yang menguning, suara gemerisik rumpun-rumpun padi yang telah menjadi jerami coklat, dan bau gabah akan menajamkan panca indramu.
Dua bulan setelah musim panen itu, saat rumput-rumput tumbuh meninggi, tangkai-tangkai bunga liar yang menjulur setinggi 2 M bergoyang diterpa angin, kau bisa berdiri di tengah-tengah bukit itu. Sebaiknya, kau hadapkan tubuhmu ke Barat Laut, agak membelakangi gunung Pahyangan. Setelah itu aktifkan telepon genggammu! Kau dapat mengirim SMS, menelpon, membuka email, chatting, atau mendownload game dari telepon genggammu.
Bila kau merasa udara terlalu panas dan sinar matahari sore membuatmu gerah, kau dapat berteduh di gubuk kecil di tengah puncak bukit itu. Sambil duduk atau rebahan, kau tinggal menempelkan telepon genggammu di dinding gubuk. Bila koordinat telepon genggammu tepat, maka tanda sinyal akan segera muncul. Gunakan telepon genggam seperlumu.
Sabtu, 25 Juli 2009
Mengkonstruksi Kebahagiaan
(Diselesaikan tanggal 6, September 2006)
Ini artikel favoritnya Amali! Di sebelah dia lagi tertawa, sangat terkesan dengan kata 'mengkonstruksi' katanya!
Sabtu, 11 Juli 2009
Seperti Kincir Menderu
Seperti Kincir Menderu
Aku merasa sepi
seperti kincir menderu,
tak ada yang benar-benar kuterbangkan
dan sungguh-sungguh kurapatkan
Di titik semua mimpi,
sungguh
tak pernah kutemukan
wajahku di dalamnya
(Pengirim +628524715*** Diterima
Memiliki kenalan atau dikenal beberapa penyair membuat saya beberapa kali menerima SMS yang berisi kata-kata khas penyair: bersayap dan indah. Isi SMS itu walaupun pendek, menghuni ingatan dalam waktu yang tidak pendek.
Bapak Micky Hidayat, misalnya, sejak esai saya yang berjudul, “Sajak-sajak Bercerita Micky Hidayat” dimuat di Radar Banjarmasin pertengahan 2006 lalu, pada (beberapa kesempatan) hari raya, beliau berkenan mengirimkan sajak-sajaknya melalui SMS ke Hp saya. Tidak itu saja, beliau juga bermurah hati menghadiahkan satu antalogi puisi karya beliau, “Meditasi Rindu” dan bahkan juga ‘mengabadikan’ satu bagian dari esai saya tersebut pada bagian akhir isi antalogi tersebut, diletakkan sejajar dengan komentar penyair dan kritikus tingkat nasional (J). Selain beliau, Bapak Ali Syamsudin Arsy (yang saya kenal saat beliau menjadi panitia dalam lomba penulisan cerpen yang saya ikuti di DKD Banjarbaru) juga pernah pada Hari Raya mengirim sajak silaturrahim. Sajak tersebut kemudian seperti sajak Bapak Micky, saya copy menjadi koleksi untuk kemudian saya gunakan sebagai balasan dari SMS-SMS handai tolan yang masuk ke-Hp saya pada Hari Raya itu.
Berbeda dengan kedua dedengkot penyair Kal-Sel tersebut, seorang teman yang dulu menjadi kakak tingkat saya di PBSID FKIP Unlam: Kak Rahmiyati, tidak mengirimkan sajak-sajaknya pada moment Hari Raya. Sejak sajaknya yang berjudul “Cinta Hari Ini’ (yang diperlihatkannya pada saya di acara Aruh Sastra V Kotabaru tahun 2006) saya kutip dalam cerpen “Tiga Percakapan Tentang Cinta”, sejak itupula beberapa kali dia mengirim sajak-sajaknya melalui SMS pada saya. Sajak-sajak tersebut bernada lirih, sederhana, dengan kata-katanya yang terjalin khas milik
Dan puisi berjudul “Seperti Kincir Menderu” di atas adalah satu dari sajak-sajak yang pernah dikirim Kak Rahmi. “Puisi tntng seorang prempuan yg pnuh dg kgembiraan, smangt dan hura2 tP dbaLik itU dia org pling ksepian sedunia.kd tau apa yg dcri….” Begitu menurutnya isi dari puisinya tersebut.
Menurut saya, keberhasilan Kak Rahmi dalam sajak “Ku Rasa Sepi” terletak pada kuatnya kesan yang ditimbulkan bait pertama. Di baris pertama sajak dia menulis, /Aku merasa sepi/ makna yang ditimbulkannya jelas bahwa ‘aku’ dalam sajak ini merasa sepi. Kemudian pada baris kedua, /seperti kincir menderu/ di sini awal ironi atau kebalikan dimunculkan dengan menyodorkan pencitraan berupa kincir yang sibuk berputar hingga menimbulkan bunyi menderu (kesiuran angin). Pada baris tiga dan empat ironi benar-benar dimunculkan. Pada baris ketiga /tak ada yang benar-benar kuterbangkan/ mengungkapkan bahwa walaupun kincir itu berputar cepat sehingga menghasilkan bunyi yang menderu, sebenarnya tak ada yang diterbangkan oleh kincir itu. Di sini Rahmi ingin menyampaikan ada sesuatu yang bernilai sia-sia (kesia-siaan kincir tanpa menerbangkan sesuatu jelas bila kita bandingkan dengan baling-baling pada helicopter, misalnya) (bersambung…., sudah adzan Zuhur)
Ini Sambungannya
Dan pada baris berikutnya kesan kesia-siaan tersebut semakin kuat / dan sungguh-sungguh kurapatkan/. Walau bergerak dengan cepat, seolah saling mengejar, baling-baling kincir itu tidak pernah saling merapat, berdekatan.
Kemudian pada bait kedua, Kak Rahmi menyampaikan isi dari sajaknya tersebut. Bahwa /Di titik semua mimpi/ pada saat semua yang menjadi keinginan dan impian, telah mewujud, sebenarnya jati diri itu, ternyata tetap belum ditemukan.
sungguh
tak pernah kutemukan
wajahku di dalamnya
Jadi, sebenarnya masalah yang menjadi tema dari sajak Seperti Kincir Menderu karya Kak Rahmi di atas adalah masalah JATI DIRI, yaitu terasa kuat pada 2 baris akhir / tak pernah kutemukan/ wajahku di dalamnya//
. Tema yang serupa juga pernah diangkat Dee (Dewi Lestari) dalam Supernova 2: Akar. Dalam novelnya itu
Dengan sudut pandang Islam, An Nabhani mengupas dengan terperinci bahwa pada manusia yang berfikir, secara fitrah akan ada 3 pertanyaan mendasar pada diri manusia yang berfikir tersebut. Tiga pertanyaan tersebut merupakan simpul besar dalam hidup (uqdatul kubro). Jawaban dari 3 pertanyaan itu akan memberikan gambaran tentang jatidiri, arah perjalanan hidup, dan akhir yang menjadi tujuan.
Tiga pertanyaan tersebut, yaitu:
1) Tentang JATI DIRI. Dari mana manusia, alam semesta dan kehidupan di dunia ini berasal?
Jawaban dari pertanyaan pertama ini akan menentukan identitas dirinya, si manusia (asal penciptaan).
2) Tentang MISI HIDUP. Untuk apa manusia., alam semesta, dan kehidupan di dunia ini di ciptakan?
1) Tentang TEMPAT KEMBALI. Akan kemana manusia, alam semesta, dan kehidupan setelah ketiadaan?
Jawaban dari pertanyaan ketiga di atas akan memberikan gambaran akan kemana manusia setelah ketiadaan. Apakah menjadi debu, tanah, atau akan ke surga/neraka (akhirat)
Pertanyaan yang sederhana dan mudah. Cukup beberapa halaman buku saja untuk menguraikan jawaban dari 3 pertanyaan di atas. Namun, tiga pertanyaan tersebut akan memiliki keberpengaruhan apabila dalam menjawabnya benar-benar melibatkan aktivitas akal (berpikir dengan metode rasional) dan disepakati hati (ikhlas).
Metode berpikir rasional adalah metode yang sederhana. Cukup dengan bermodalkan otak yang sehat, diberikan maklumat sabikoh (impormasi awal) dan dihadirkan realitas yang terindra, seseorang telah dapat melakukannya. Bahkan untuk seorang suku Badui Arab di zaman Rasulullah SAW, mengimani Islam cukup hanya dengan melihat argument pada kotoran unta (yang menandakan sebelumnya ada unta yang membuang kotoran di situ) untuk meyakini bahwa keberadaan manusia, alam semesta, dan kehidupan merupakan hasil penciptaan.
Menjawab uqdatul kubro dan menemukan kesejatian dalam hidup, tidak harus terlebih dulu menjadi seorang sarjana, master, atau bergelar professor. Sungguh, walau menciptakan manusia dengan tingkat intelegensia dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda, yang dinilai Allah hanyalah takwa (keselarasan antara akal dan hati yang melahirkan aktivitas mentaati seluruh syariat-Nya).
bersambung, InsyaAllah... :)
Kontemplasi
Hujan membasahi aspal hitam di depan rumah. Ingatan menemukan waktunya untuk menyeruak, menoleh ke belakang pada hari-hari sebelumnya: sebuah jeda untuk berkaca. Memandang ke dalam diri, menyadari yang masih ada, merelakan yang telah telepas, menerima yang kini terus menjadi.(sore, 07/07/09)
Rabu, 24 Juni 2009
Memandang dari Sisi/Sudut Lain
Pada setiap perjalanan, baik menuju atau pulang mengajar dari desa Rantau Bujur, saat kelotok yang kutumpangi melintasi waduk Riam Kanan, mataku selalu saja mengagumi gugusan pegunungan yang terlihat menghitam, memanjang bagai gelombang raksasa di kaki langit sebelah Barat. Awan atau kabut putih kadang-kadang berkumpul seperti menempel di puncak-puncaknya.
Apalagi saat 3 minggu lalu, kelotok yang kutumpangi bertolak dari dermaga menuju Desa Rantau Bujur mendekati pukul 17.00 Wita. Pada 3/4 perjalanan, dan saat kelotok mendekati anak sungai, aku dengan leluasa menyaksikan langit di sebelah Barat berubah warna dari biru ke biru muda, ke kekuning-kuningan, memerah emas dengan gumpalan-gumpalan awan membentuk gugusan-gugusa menakjubkan. Sementara itu gunung-gunung yang pada sepertiga perjalanan terlihat seperti gelombang tampak terlihat dari sisi berbeda seperti dua gunung memanjang, yang warnanya berubah kelabu dan perlahan menghitam. Indah dan nyata! Sungguah lebih indah dari lukisan-lukisan buatang tangan atau pun foto-foto yang pernah kulihat di komputer.
Nah, Senin kemarin, tanggal 22 Juni 2009 aku mengikuti kegiatan yang di adakan guru-guru dan siswa-siswa SMPN 4 Aranio, mengunjungi Pantai Batakan. Awalnya, setelah menempun perjalanan dari Banjarmasin-Martapura aku berniat bergabung dengan yang lain naik 2 minibus yang disewa, tetapi melihat dua guru lain yang tampak bersemangat dengan sepeda motor mereka, aku merubah rencanaku. Aku memilih pergi ke Pantai Batakan dengan menaiki sepeda motor. Seorang murid kelas 2 yang tidak tahan guncangan mobil ikut membonceng padaku.
Ternyata perjalanan dari Martapura-Pantai Batakan bukan kepalang jauhnya bila di tempuh dengan sepeda motor. Tapi, saat mulai kelelahan, ketika kubuang tatapanku ke sebelah kiriku, aku kaget! Gugusan pegunungan yang biasanya hanya kulihat dari depan dan samping kiri, kini terlihat dari sisi lain, sisi kanan. Ketakjubanku bertambah saat hampir sampai di Pantai Batakan, aku menyaksikan gugusan pegunungan yang biasanya kulihat dari atas waduk Riam Kanan terlihat dikejauhan seperti gelombang raksasa, menghitam dengan awan atau kabut di atasnya, yang biasanya hanya kulihat pangkalnya saja kini begitu dekat, nyata dengan rumput dan pohon-pohon kecil di atasnya. Dan aku berada tepat di ujungnya!
Pengalaman seperti di atas adalah pengalaman yang menakjubkan. Ada hal-hal baru yang dapat di peroleh, diketahui dengan memandang suatu objek dari sisi atau sudut yang berbeda. Kita dapat melihat realita atau fakta dari berbagai sisi, berbagai sudut pandang, untuk menemukan beragam keindahan yang berbeda.
Namun, satu hal yang tidak boleh lupa, melihat atau memandang dari berbagai sisi atau sudut pandang guna memberikan penilaian, hanya digunakan untuk objek terindara atau fakta saja (benda).
Sedangkan untuk penghakiman atau memberi penilaian terhadap suatu perbuatan/tingkah laku manusia, bagi saya yang beragama Islam tentu sudut pandang Islam lah yang menjadi satu-satunya sisi, satu-satunya sudut pandang dalam memberikan penilaian/penghakiman. Karena bukankan bagi setiap Muslim, menentukan nilai baik buruk, terpuji atau tercelanya perbuatan manusia hanyalah hak Allah semata. Kita dapat memberikan penilaian, penghakiman atas perbuatan manusia setelah terlebih dulu merujuk pada dalil-dalil baik itu dari sumber langsung (Al Quran dan As Sunnah) atau Ijma, kias ataupun hasij Ijtihad ulama yang terpercaya.
Keindahan objek suatu benda dapat dilihat, dinikmati dari berbagai sisi, berbagai sudut pandang, namun
keindahan perbuatan manusia, baik dan buruk, terpuji dan tercela, hanya dapat dilihat dari satu sisi, satu sudut pandang, semata-mata Islam saja.