Minggu, 16 Agustus 2009

Pemimpin Terbaik dari Guru Terbaik

Pemimpin Terbaik dari Guru Terbaik.
(Oleh: Rismiyana)
Guru dan murid adalah dua pihak yang saling membutuhkan. Seseorang baru bisa menjadi guru apabila dia memiliki seorang murid yang menyerap, menimba ilmu, dan belajar tentang sesuatu darinya. Seorang murid pun demikian, dia baru bisa menjadi atau memegang predikat sebagai seorang murid bila memiliki seorang guru yang memberikan ilmu pengetahuan pada dirinya.
Dalam hubungan mereka, guru dan murid saling timbal balik. Harus ada kesediaan memberi dan menerima pada diri kedua belah pihak. Seorang guru terlebih dahulu harus menerima dan menyadari kedudukannya sebagai pentransfer ilmu dan pendidik bagi muridnya. Dia menerima, memahami baik karakter pribadi maupun kondisi murid yang akan didiknya. Dia pun dengan ikhlas mentransfer pengetahuan yang dimilikinya, meluruskan pribadi yang terus tumbuh dalam diri muridnya tersebut.
Seorang murid pun demikian, harus ada kerelaan dalam dirinya untuk menerima ilmu dan didikan dari gurunya. Harus ada kesediaan untuk memberikan pehatian, konsentrasi, kepatuhan pada apa yang diajarkan oleh gurunya. Walau mungkin pada tahap awal, guru lah yang memiliki peran besar untuk membentuk kesediaan menerima dan memberi dalam diri muridnya itu.
Kesuksesan seorang guru dapat diukur dengan melihat kualitas murid yang telah dia didik. Semakin bagus kualitas pribadi yang terbentuk pada seorang murid berarti semakin bagus pula kualitas guru yang mendidik murid tersebut.
Dalam sejarah Islam kita mengenal Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel. Dialah yang membuka jalan masuknya dakwah Islam ke benua Eropa. Bagaimana sosok Al Fatih dan guru yang senantiasa mendidik dan mendampinginya adalah hal yang dapat dipelajari untuk dijadikan teladan dalam membentuk hubungan antara guru dan murid.
Muhammad Al Fatih Penakluk Kota Konstantinopel
Pada masa permulaannya, Islam muncul dan disebarkan di pedalaman Arab di Mekkah, kota gurun yang gersang. Pada saat itu telah berdiri imperium Byzantium yang beribukota Konstantinopel, kota yang pada saat itu dianggap sebagai kota paling strategis di dunia.
Beberapa tahun dari awal kemunculan Islam, setelah melakukan Hijrah ke Madinah, pada saat terjadi Perang Khandak (parit), Rasulullah Saw. mengabarkan sebuah kabar gembira, “Konstantinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik pemimpin (penguasa) dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara.”
Sejak itu hingga berabad-abad kemudian pemimpin kaum muslimin dan pasukannya berlomba untuk merealisasikan kabar gembira tersebut. Mereka ingin mewujudkan diri untuk menjadi sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik tentara yang telah dijanjikan Rasulullah Saw tersebut.
Seiring bergulirnya waktu, kepemimpinan umat Islam terus mengalami pergantian. Setelah Rasulullah Saw. wafat, para khalifah setelahnya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bergantian melanjutkan kepemimpinan terhadap kaum muslimin. Setelah masa Khulafahurrasyidin itu, wilayah kekhilafaan Islam terus berkembang diatas kendali bani Umayah. Kemudian, setelah Kekhilafaan Umayah melemah, muncul bani Abbasiyah yang memegang tampuk kekhilafaan menjadi pusat peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan di dunia. Setelah serangan tentara Tar-Tar yang melemahkan pemerintahan Abbasiyah, muncul bani Utsmani yang menduduki kekhilafaan, memimpin kaum muslimin menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Demikianlah….
Di antara pemimpin-pemimpin kaum muslimin itu, silih berganti membawa maupun mengirim pasukan untuk menaklukkan Konstantinopel. Mereka ingin mewujudkan diri sebagai pemimpin terbaik yang dikabarkan Rasulullah. Dan Muhammad Al Fatih atau dikenal dengan Sultan Mehmed II adalah salah satunya.
Dalam buku “Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmani” disebutkan bahwa Al Fatih adalah pemimpin yag cerdas, pemberani, dan berpendirian teguh. Bagaimanapun kota Konstantinopel pada saat itu adalah kota yang dilihat dari segi pertahanan militer merupakan kota paling strategis di dunia. Pertahanan alami dan benteng-benteng disekelilingnya seolah tidak memungkinkan untuk dikalahkan baik dengan pasukan berkuda lewat darat ataupun armada kapal perang lewat jalan laut.
Dikatakan bahwa, “Kota Konstantinopel dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus, laut Marmarah, dan Tanduk Emas yang dijaga dengan menggunakan rantai yag demikian besar, hingga sangat tidak memungkinkan untuk masuknya kapal ke dalamnya. Disamping itu, dari daratan juga dijaga pagar-pagar yang sangat kokoh yang terbentang dari laut Marmarah hingga Tanduk Emas yang hanya diselingi oleh sungai Likus. Di antara dua pagar, terdapat ruang kosong yang berkisar sekotar 60 kaki, sedangkan bagian dalamnya ada sekitar 40 kaki dan memiliki satu menara dengan ketinggian 60 kaki benteng setinggi 60 kaki. Sedangkan pagar bagian luarnya memiliki ketinggian sekitar 25 kaki, selain tower-tower pemantau yang terpancar dan dipenuhi tentara pengawas”
Namun, Al Fatih yang cerdas benar-benar meneguhkan pendiriannya untuk mewujudkan dirinya sebagai laki-laki terbaik yang pernah diberitakan Rasulullah Saw. Dengan kecemerlangan berfikirnya dia membuat strategi perang yang jenius. Dia memerintahkan pasukannya untuk meratakan tanah pegunungan yang belum terjamah manusia, dengan kayu-kayu yang dilapisi lemak, kapal-kapal armada perang pasukannya ditarik melintasi jarak 3 mil dan dilabuhkan di Tanduk Emas. Dalam satu malam lebih dari 70 kapal berhasil dipindahkan.
Seorang ahli sejarah Byzantium bahkan mengatakan, “Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al Fatih, telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang. Sungguh perbuatannya ini jauh melebihi apa yang dilakukan oleh Iskandar yang Agung.”
Tidak berhenti di situ saja, selain perang urat syaraf saat melakukan pengepungan, dari luar benteng-benteng yang mengelilingi kota, Al Fatih dan pasukannya membuat strategi baru yaitu memerintahkan pasukannya menggali banyak terowongan untuk dapat masuk ke dalam kota.
Akhirnya, Selasa 29 Mei 1453 M bertepatan dengan 20 Jumadil Ula 857 H, 800 tahun lebih setelah kabar yang dijanjikan, Muhammad Al Fatih berhasil menaklukan Konstantinopel. Pada hari penaklukan itu dia berjalan berkeliling untuk menemui pasukannya dan panglima-panglima perangnya yang selalu mengucapkan, “Masyaallah”. Al Fatih menoleh pada mereka dan mengucapkan, “Kalian telah menjadi orang-orang yang mampu menaklukkan kota Konstantinopel yang telah Rasulullah kabarkan.” Dia mengucapkan selamat pada pasukannya, melarang mereka membunuh rakyat sipil, berpesan agar mereka berlaku lembut pada semua manusia dan berbuat baik pada mereka. Kemudian Al Fatih turun dari kudanya dan bersujud kepada Allah sebagai ungkapan syukur dan pujian serta bentuk kerendahan diri di hadapan-Nya.
Sosok Guru Terbaik
Muhammad Al Fatih berhasil mewujudkan dirinya sebagai laki-laki yang dikabarkan Rasulullah sebagai penakluk Konstantinopel dan menjadi pemimpin terbaik di sana. Seperti apakah pendidikan yang diperolehnya sehingga dia menjadi pemimpin yang cerdas, pemberani, tak kenal menyerah dan tawaduk? Siapakah yang membentuk sosoknya sehingga menjadi seperti itu?
Al Fatih adalah anak dari Murad II. Sewaktu bocah, ayahnya telah mendatangkan sejumlah pengajar padanya, namun ia tidak menaati perintah guru-gurunya. Bahkan dia tidak membaca apapun hingga tidak mampu menghatamkan Al Quran. Melihat kelakuan anaknya itu, Sultan Murad II mencari informasi tentang siapa di antara guru yang memiliki kharisma dan sifat tegas. Orang-orang menyebutkan nama Al-Kurani yang bernama lengkap Ahmad bin Ismail Al-Kurani, seorang ulama yang banyak memiliki keutamaan. Maka Murad II mengangkat Al-Kurani menjadi pengajar anaknya dan memberinya tongkat yang bisa dipergunakan, jika anaknya tidak menaati perintahnya..
Menerima mandat demikian maka Al-Kurani pergi menemui murid barunya dengan memegang tongkat di tangannya. “Ayahmu menyuruhku datang menemuimu untuk mengajarimu. Jika kamu tidak menurut apa yang aku katakan, maka kamu akan mendapat pukulan.” Mendengar itu Muhammad Khan (Al Fatih) tertawa dan Al-Kurani memukulnya di majelis itu dengan pukulan yang keras, hingga membuat Muhammad Khan jera. Akibatnya, dalam jangka waktu yang sangat pendek dia mampu mengkhatamkan Al Quran.
Dengan ketegasan yang dimilikinya Al Kurani mampu meluruskan pribadi dalam diri anak didiknya. Al Kurani juga tidak pernah merundukkan kepalanya di hadapan muridnya itu dan hanya memanggil nama tanpa gelar. Setiap bertemu Muhammad Khan selalu mencium tangan gurunya itu tanda hormat.
Kemudian hadir untuk Muhammad Khan seorang guru yang akan sangat berpengaruh dalam hidupnya. Guru tersebut bernama Muhammad bin Hamzah Al-Dimasyiqi Ar-rumi atau yang sering dipanggil Syaikh Aaq Syamsuddin. Dia adalah guru yang mengajar Quran, Sunah Nabawiyah, Fikih, bahasa-bahasa (Arab, Persia dan Turki), Ilmu Hitung, Falak, Sejarah, Seni Perang, Tata Cara Pemerintahan, dan Pokok-Pokok Pemerintahan.
Syaikh Aaq selalu meyakinkan Muhammad Khan kecil, bahwa yang dimaksud dengan hadits Rasulullah yang berbunyi, “Konstantinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik pemimpin (penguasa) dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara,” adalah dirinya. Beliau pula yang mendorong dan memotivasi untuk menaklukkan Konstantinopel.
Pada serangan pertama, tatkala orang-orang Byzantium berhasil memenangkan peperangan dan Al Fatih merasa tidak yakin dan ragu-ragu, Aaq Syamsuddin berkata, “Pasti Allah akan memberikan kemenangan.” Saat Al Fatih masih dilanda keragu-raguan beliau menulis pesan untuk al Fatih, “…. Sesungguhnya masalah yang pasti adalah ahwasanya seorang hamba itu sekadar merancang, sedangkan yang menentukan adalah Allah…. Kita telah berserah pada Allah dan ketentuan kita telah membaca Al Quran. Itu semua tak lebih dari rasa kantuk di dalam tidur setelah ini. Sesungguhnya telah terjadi kelemutan kekuasaan Allah, dan muncullah kabar gembira- kabar gembira tentang kemenangan itu, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Membaca pesan itu Al Fatih dan pasukannya merasa ringan, tenang dan kembali termotivasi. Al Fatih sendiri kemudian pergi ke kemah gurunya itu dan meminta diajari sebuah doa untuk meraih kemenangan.
Saat dilancarkan serangan berikutnya Al Fatih menginginkan guruya berada di sampingnya. Untuk itu dia segera mengutus seseorang untuk menjemputnya. Akan tetapi Syaikh Aaq telah berpesan tidak ada yang boleh memasuki kemahnya. Al Fatih pun marah dia mendatangi kemah gurunya, saat penjaga kemah melarangnya masuk, dengan pedang disobeknya sisi kemah itu. Ternyata yang dilihatnya adalah gurunya tersebut sedang bersujud kepada Allah dalam sebuah sujud yang sangat panjang. Sorbannya terlepas dari kepalanya sehingga membuat rambutnya yag putih memantul sinar laksana cahaya. Kemudian Al Fatih melihat sang Guru bangkit dari sujudnya dengan air mata berlinangan dari kedua pipinya. Dia telah bermunajat pada Tuhan-Nyadan memohon pada-Nya agar kemenangan dikaruniakan dan dia meminta penakluka kota dalam jangka waktu dekat. Al Fatih kembali pada pasukannya. Dia saksikan bagaimana pasukannya telah berhasil melobangi benteng-benteng musuh.
Saat penaklukan terjadi, dalam kegembiraannya Al Fatih berkata, “Kegembiraan saya bukan karena penaklukan kota ini. Namun kegembiraan saya adalah karena adanya laki-laki ini (maksudnya Syaikh Aaq Syamsuddin) di zaman saya.”. Gurunya itu lah yang menasehatinya untuk memberikan hak-hak kaum yang ditaklukkan sebagaimana yang diatur dalam syariat Islam.
Hubungan antara kedua guru dan murid, antara Syaikh Aaq dan Al Fatih tergambar pada percakapan keduanya setelah penaklukan Konstantinopel. Saat itu Al Fatih datang ke kemah gurunya. Al Fatih menghampiri gurunya yang tengah berbarig dan mencium tangan gurunya itu.
“Saya datang menemuimu utuk sebuah keperluan.”
“Keperluan apakah itu?” Tanya Syaikh.
Al Fatih mengatakan keinginannya untuk bercakap-cakap dengan gurunya dalam keadaan berdua saja, sebagaimana halnya percakapan antara guru dan murid, “Bagaimana jika saya masuk bersama dalam keadaan hanya berdua?”
Namun Syaikh menolak dan Al Fatih memaksanya terus menerus. Namun Syaikh selalu berkata, “Tidak!”
Maka Al Fatih pun marah dan berkata, “Sesungguhnya telah datang padamu salah seorang dari orang-orang Turki, dan kau masukkan dia sendirian, namun tatkala saya datang kau menolak melakukan itu.”
Maka Syaikh berkata, “Sesungguhnya jika engkau masuk padaku sendirian, maka kamu akan merasakan satu kenikmatan sehingga kesultanan akan jatuh dalam pandangan kedua matamu dan akan berantakanlah perkaranya, dan Allah akan murka kepada kita semua. Sedangkan maksud dari menyendiri itu adalah agar timbul rasa keadilan. Maka hendaklah engkau melakukan demikian dan demikian…” Syaikh memberikan nasihat padanya.
Al Fatih memberikan pada gurunya uang sebanyak seribu dinar. Namun tidak diterima gurunya. Maka tatkala keluar dari kemah gurunya itu dengan sedih Al Fatih berkata pada pembantunya, “Syaikh tidak berdiri untukku.”
Pembantunya itu berusaha menghiburnya dengan berkata, “Mungkin dia melihat dalam dirimu perasaan sombong karena penaklukan kota ini, yang sebelumnya tidak bisa dilakukan oleh para sultan yang lain. Dengan demikian dia menginginkan untuk menghapus agar rasa sombong itu hilang darimu….”
Aaq Syamsudin adalah guru yang telah membentuk priadi Al Fatih. Dia adalah ulama pertama yang menyampaikan khutbah di Aya Sofia. Dan dialah orang pertama yang mendefinisikan kuman penyakit, pada abad kelima belas Masehi, empat abad sebelum ahli kimia dan biologi dari Perancis, Louis Pasteur melakukan penelitian yang sama.
Demikianlah dua pihak, guru dan murid. Guru terbaik yang menghasilkan murid terbaik, pemimpin terbaik.
Menjadi Guru Terbaik
Untuk menjadi guru terbaik, ‘terbaik’ dalam arti berkedudukan paling baik diantara guru lainnya mungkin akan sangat sulit kita realisasikan pada diri kita. Akan tetapi menjadi guru terbaik, ‘terbaik’ dalam arti memaksimalkan potensi yang ada dalam diri kita serta memaksimalkan usaha kita dalam mentransfer pengetahuan, pemikiran, dan pemahaman yang kita miliki kepada murid kita, walau cukup sulit namun dengan usaha yang sungguh-sungguh tentu dapat kita wujudkan. InsyaAllah!
(Separuh tulisan ini, bagian awal, kutulis di kapal saat mengarungi waduk Riam Kanan ketika berangkat dari Rantau Bujur menuju kembali ke Banjarmasin, 31 Juli-16 Agustus 09))

Bukit Sinyal


Bukit Sinyal

(artikel yang kutulis dan kujadikan bahan mading di SMPN 4 Aranio)

Bukit itu berjarak sekitar 300 M dari SMPN 4 Aranio. Bila diukur dari sungai yang mengalir di bawahnya, tinggi bukit itu tidak kurang 300 M. Saat kau berdiri di puncaknya, arahkan pandanganmu ke sebelah Barat, maka akan terhampar pegunungan Maratus yang hijau tua di kejauhan. Atau arahkan juga pandanganmu ke sebelah Timur, kira-kira 3 Km dari tempatmu berdiri, gunung Pahyangan yang terlihat persegi, berdiri kokoh dengan perwajahan geografisnya yang eksotis.

Pada saat musim tanam, di atas bukit ini akan kau jumpai rumpun-rumpun padi mulai menghijau. Tiga bulan setelah itu, bulir-bulir padi yang menguning, suara gemerisik rumpun-rumpun padi yang telah menjadi jerami coklat, dan bau gabah akan menajamkan panca indramu.

Dua bulan setelah musim panen itu, saat rumput-rumput tumbuh meninggi, tangkai-tangkai bunga liar yang menjulur setinggi 2 M bergoyang diterpa angin, kau bisa berdiri di tengah-tengah bukit itu. Sebaiknya, kau hadapkan tubuhmu ke Barat Laut, agak membelakangi gunung Pahyangan. Setelah itu aktifkan telepon genggammu! Kau dapat mengirim SMS, menelpon, membuka email, chatting, atau mendownload game dari telepon genggammu.

Bila kau merasa udara terlalu panas dan sinar matahari sore membuatmu gerah, kau dapat berteduh di gubuk kecil di tengah puncak bukit itu. Sambil duduk atau rebahan, kau tinggal menempelkan telepon genggammu di dinding gubuk. Bila koordinat telepon genggammu tepat, maka tanda sinyal akan segera muncul. Gunakan telepon genggam seperlumu.

Ya! Di atas bukit itu kau akan menemukan sinyal GSM beberapa operator telepon genggam. Sinyal yang tidak akan kau temukan di tempat lain di Desa Rantau Bujur!

Sabtu, 25 Juli 2009

Mengkonstruksi Kebahagiaan

Mengkonstruksi Kebahagiaan
(Diselesaikan tanggal 6, September 2006)
Siapa di dunia ini yang tidak ingin merasakan kebahagiaan? Jawabnya, tentu kita semua ingin merasakannya. Sayangnya, walau semua orang menginginkan kebahagiaan, pada faktanya tidak semua orang mampu merasakannya.
Mereka yang sedang merasakan kebahagiaan terkadang dengan jelas terlihat pada ekspresi wajah mereka. Ada yang tersenyum, ada yang tertawa, ada pula yang menyambut kebahagiaan dengan berlinangan air mata. Namun, tidak jarang ada orang-orang tertentu yang cukup memendam kebahagiaan tersebut di dalam hati. Yang jelas, mereka yang dilanda kebahagiaan akan merasa senang, tentram, damai, atau suasana hatinya diliputi penerimaan yang ikhlas atas apa yang menimpa mereka.
Terkadang, kebahagiaan dipengaruhi oleh apa yang ditangkap panca indra. Saat membaca dan mendengar cerita lucu kita biasanya tertawa, atau tatkala menyaksikan aksi kocak aktor ‘ekstravaganza’ di Trans TV kita merasa senang dan terhibur. Boleh dikatakan selama membaca, mendengar, atau menonton tersebut kita merasakan suatu bentuk kebahagiaan yang diekspresikan dengan tertawa.
Kebahagiaan terdang juga dipengaruhi oleh kondisi yang melingkupinya. Hal seperti ini pernah saya saksikan bulan lalu.
Siang itu saat menuju kampus guna mengurus skripsi, di antara terik matahari, debu, dan asap knalpot kendaraan yang melintas di jalan Melayu Darat saya temukan momen kebahagiaan yang ditemukan sebuah keluarga. Saat itu yang pertama tertangkap pandangan adalah seorang anak perempuan sekitar 9 tahun, terlihat lusuh, dan kumal. Ia sedang mengangkat sebuah buku tulis dari bak sampah dan membukanya. Kemudian ia mendekap buku itu di dadanya sambil tertawa pada perempuan paruh baya di depannya. Perempuan itu tersenyum (mungkin juga tertawa) memandang anak perempuan di depannya. Demikian pula laki-laki paroh baya yang ada di samping keduanya. Di dekat mereka bertiga tersandar karung plastik hampir penuh, mungkin hasil memulung hari itu. Saya pastikan, ditemukannya buku tulis bekas yang mungkin masih beberapa lembar belum terisi itu dalah sebuah momen membahagiakan bagi keluarga itu.
Bagaimana dengan kita? Apakah saat menemukan atau diberi buku tulis kosong seperti anak perempuan itu kita akan merasakan hal serupa dengannya? Jawabnya, belum tentu kita akan merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan keluarga itu. Kondisi kita dan keluarga kita yang berbeda dengan mereka menyebabkan sebuah peristiwa yang sama atau serupa memiliki makna yang berbeda.
Kebahagiaan yang dipengaruhi oleh panca indra dan kondisi kehidupan seperti di atas memang mempengaruhi makna kebahagiaan bagi kita. Namun, kebahagiaan seperti di atas adalah kebahagiaan yang bersifat alamiah, sifatnya sementara, terjadi kadang-kadang saja.
Apakah bentuk kebahagiaan seperti itu yang menjadi tujuan dalam hidup kita? Kebahagiaan yang dipengaruhi oleh panca indra dan kondisi seperti seperti itu bersifat hanya sebatas memuaskan naluri saja. Padahal, selain dilengkapi dengan naluri, manusia dilengkapi dengan akal. Akal lah yang menyebabkan manusia berbeda dengan hewan.
Sebenarnya apabila kita cermati, pemahaman yang dibentuk oleh akal sangat berperan dalam memaknai sebuah kebahagiaan. Pemahaman yang dimiliki seseorang akan mengkonstruksi makna kebahagiaan bagi dirinya. Hal inilah yang menyebabkan orang yang memiliki pemahaman berbeda akan memiliki perbedaan pula dalam memaknai kebahagiaan.
Seseorang yang menjadikan paham Liberalisme sebagai pemahaman dalam hidupnya, maka ia akan menjadikan kebebasan sebagai standar kebahagiaan bagi dirinya. Ia akan memperjuangkan segala bentuk kebebasan, apakah itu kebebasan berekspresi, kebebasan hak milik, kebebasan beragama, dan kebebasan lainnya. Ia tidak akan merasa bahagia sebelum dirinya dapat dengan bebas melakukan apa yang diinginkannya itu.
Seseorang yang menjadikan paham kapitalime sebagai pemahaman dalam hidupnya, maka ia tidak akan merasa bahagia sebelum keuntungan materi ia dapatkan. Ia akan memeras dan menindas orang lain, untuk mendapatkan keuntungan materi yang sebesar-besarnya bagi dirinya. Semakin banyak keuntungan materi yang didapatkannya, semakin besar pula kebahagiaan yang dirasakannya.
Begitu pula bila seseorang menjadikan akidah Islam sebagai landasan pemahamannya, maka ia hanya akan menjadikan ridho Allah SWT. sebagai satu-satunya standar kebahagiaan bagi dirinya. Ia akan senantiasa berusaha untuk mengikatkan diri pada hukum-hukum Allah. Karena, ia tahu keridhoan Allah terletak pada ketaatannya pada perintah-perintah-Nya.. Ia pun tidak akan benar-benar merasa bahagia selama hukum-hukum Allah belum tegak di muka bumi, menjadi rahmatan lil alamin.
Jadi, pada saat sebuah pemahaman telah terinternalisasi pada diri seseorang, maka pemahaman tersebutlah yang akan mempengaruhi pandangannya terhadap segala sesuatu, tak terkecuali dalam memaknai kebahagiaan. Saat itu, kebahagiaan yang dirasakan bukan lagi sekedar kebahagiaan berupa pemuasan naluri yang bersifat temporal saja, tetapi kebahagiaan tersebut adalah kebahagiaan yang lahir dari sebuah pemahaman. Kebahagiaan seperti itu bersifat kontinyu, tak terwarnai, tak terpengaruh oleh kondisi dan situasi.
Cerita-cerita tentang para Sahabat di zaman Rasulullah Saw. adalah contoh-contoh yang memperlihatkan bagaimana akidah Islam yang telah terinternalisasi pada diri mereka, telah mengubah presfektip pemikiran dan perasaan hati mereka terhadap segala sesuatu. Termasuk dalam memaknai jalan menuju kebahagiaan (yakni meraih ridho Allah) yang mereka pilih dan mereka perjuangkan sampai akhir kehidupan.
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menemukan jalan menuju kebahagiaan seperti mereka? Kalau sudah, seberapa jauh kita telah menempuh jalan itu? Dan seberapa besar perjuangan yang telah kita tempuh untuk meraihnya?

Ini artikel favoritnya Amali! Di sebelah dia lagi tertawa, sangat terkesan dengan kata 'mengkonstruksi' katanya!

Sabtu, 11 Juli 2009

Seperti Kincir Menderu

Seperti Kincir Menderu

Aku merasa sepi

seperti kincir menderu,

tak ada yang benar-benar kuterbangkan

dan sungguh-sungguh kurapatkan

Di titik semua mimpi,

sungguh

tak pernah kutemukan

wajahku di dalamnya

(Pengirim +628524715*** Diterima 20:48:07 07/07/2009)

Memiliki kenalan atau dikenal beberapa penyair membuat saya beberapa kali menerima SMS yang berisi kata-kata khas penyair: bersayap dan indah. Isi SMS itu walaupun pendek, menghuni ingatan dalam waktu yang tidak pendek.

Bapak Micky Hidayat, misalnya, sejak esai saya yang berjudul, “Sajak-sajak Bercerita Micky Hidayat” dimuat di Radar Banjarmasin pertengahan 2006 lalu, pada (beberapa kesempatan) hari raya, beliau berkenan mengirimkan sajak-sajaknya melalui SMS ke Hp saya. Tidak itu saja, beliau juga bermurah hati menghadiahkan satu antalogi puisi karya beliau, “Meditasi Rindu” dan bahkan juga ‘mengabadikan’ satu bagian dari esai saya tersebut pada bagian akhir isi antalogi tersebut, diletakkan sejajar dengan komentar penyair dan kritikus tingkat nasional (J). Selain beliau, Bapak Ali Syamsudin Arsy (yang saya kenal saat beliau menjadi panitia dalam lomba penulisan cerpen yang saya ikuti di DKD Banjarbaru) juga pernah pada Hari Raya mengirim sajak silaturrahim. Sajak tersebut kemudian seperti sajak Bapak Micky, saya copy menjadi koleksi untuk kemudian saya gunakan sebagai balasan dari SMS-SMS handai tolan yang masuk ke-Hp saya pada Hari Raya itu.

Berbeda dengan kedua dedengkot penyair Kal-Sel tersebut, seorang teman yang dulu menjadi kakak tingkat saya di PBSID FKIP Unlam: Kak Rahmiyati, tidak mengirimkan sajak-sajaknya pada moment Hari Raya. Sejak sajaknya yang berjudul “Cinta Hari Ini’ (yang diperlihatkannya pada saya di acara Aruh Sastra V Kotabaru tahun 2006) saya kutip dalam cerpen “Tiga Percakapan Tentang Cinta”, sejak itupula beberapa kali dia mengirim sajak-sajaknya melalui SMS pada saya. Sajak-sajak tersebut bernada lirih, sederhana, dengan kata-katanya yang terjalin khas milik gaya persajakannya..

Dan puisi berjudul “Seperti Kincir Menderu” di atas adalah satu dari sajak-sajak yang pernah dikirim Kak Rahmi. “Puisi tntng seorang prempuan yg pnuh dg kgembiraan, smangt dan hura2 tP dbaLik itU dia org pling ksepian sedunia.kd tau apa yg dcri….” Begitu menurutnya isi dari puisinya tersebut.

Menurut saya, keberhasilan Kak Rahmi dalam sajak “Ku Rasa Sepi” terletak pada kuatnya kesan yang ditimbulkan bait pertama. Di baris pertama sajak dia menulis, /Aku merasa sepi/ makna yang ditimbulkannya jelas bahwa ‘aku’ dalam sajak ini merasa sepi. Kemudian pada baris kedua, /seperti kincir menderu/ di sini awal ironi atau kebalikan dimunculkan dengan menyodorkan pencitraan berupa kincir yang sibuk berputar hingga menimbulkan bunyi menderu (kesiuran angin). Pada baris tiga dan empat ironi benar-benar dimunculkan. Pada baris ketiga /tak ada yang benar-benar kuterbangkan/ mengungkapkan bahwa walaupun kincir itu berputar cepat sehingga menghasilkan bunyi yang menderu, sebenarnya tak ada yang diterbangkan oleh kincir itu. Di sini Rahmi ingin menyampaikan ada sesuatu yang bernilai sia-sia (kesia-siaan kincir tanpa menerbangkan sesuatu jelas bila kita bandingkan dengan baling-baling pada helicopter, misalnya) (bersambung…., sudah adzan Zuhur)


Kalo kak Rahmi, baca esai ini lagi, maaf ya. sebenarnya dari kemarin-kemarin saya sudah beberapa kali berusaha melanjutkan esay ini, tapi seperti biasa permasalahan utamanya ada di mood nulis saya. Saya lagi susah konsentrasi, jadi perasaan dan penalaran saya tumpul. InsyaAllah, kalau moodnya sudah baik esaynya saya lanjutkan lagi menulisnya.


Ini Sambungannya



Dan pada baris berikutnya kesan kesia-siaan tersebut semakin kuat / dan sungguh-sungguh kurapatkan/. Walau bergerak dengan cepat, seolah saling mengejar, baling-baling kincir itu tidak pernah saling merapat, berdekatan.

Kemudian pada bait kedua, Kak Rahmi menyampaikan isi dari sajaknya tersebut. Bahwa /Di titik semua mimpi/ pada saat semua yang menjadi keinginan dan impian, telah mewujud, sebenarnya jati diri itu, ternyata tetap belum ditemukan.

sungguh

tak pernah kutemukan

wajahku di dalamnya

Jadi, sebenarnya masalah yang menjadi tema dari sajak Seperti Kincir Menderu karya Kak Rahmi di atas adalah masalah JATI DIRI, yaitu terasa kuat pada 2 baris akhir / tak pernah kutemukan/ wajahku di dalamnya//

. Tema yang serupa juga pernah diangkat Dee (Dewi Lestari) dalam Supernova 2: Akar. Dalam novelnya itu Dee bercerita tentang Bodhi yang mencari kesejatian. Kesejatian atau kebahagiaan yang hanya akan dapat ditemukannya bila dia terlebih dulu menemukan jati dirinya. Hanya saja buku itu sarat dengan pengaruh ajaran agama Budha.

Dengan sudut pandang Islam, An Nabhani mengupas dengan terperinci bahwa pada manusia yang berfikir, secara fitrah akan ada 3 pertanyaan mendasar pada diri manusia yang berfikir tersebut. Tiga pertanyaan tersebut merupakan simpul besar dalam hidup (uqdatul kubro). Jawaban dari 3 pertanyaan itu akan memberikan gambaran tentang jatidiri, arah perjalanan hidup, dan akhir yang menjadi tujuan.

Tiga pertanyaan tersebut, yaitu:

1) Tentang JATI DIRI. Dari mana manusia, alam semesta dan kehidupan di dunia ini berasal?

Jawaban dari pertanyaan pertama ini akan menentukan identitas dirinya, si manusia (asal penciptaan).

2) Tentang MISI HIDUP. Untuk apa manusia., alam semesta, dan kehidupan di dunia ini di ciptakan?

Jawaban dari pertanyaan kedua di atas akan memberi arah, menentukan jalan yang akan ditempuh dalam hidup. ( memilih jalan yang akan dilewati).

1) Tentang TEMPAT KEMBALI. Akan kemana manusia, alam semesta, dan kehidupan setelah ketiadaan?

Jawaban dari pertanyaan ketiga di atas akan memberikan gambaran akan kemana manusia setelah ketiadaan. Apakah menjadi debu, tanah, atau akan ke surga/neraka (akhirat)

Pertanyaan yang sederhana dan mudah. Cukup beberapa halaman buku saja untuk menguraikan jawaban dari 3 pertanyaan di atas. Namun, tiga pertanyaan tersebut akan memiliki keberpengaruhan apabila dalam menjawabnya benar-benar melibatkan aktivitas akal (berpikir dengan metode rasional) dan disepakati hati (ikhlas).

Metode berpikir rasional adalah metode yang sederhana. Cukup dengan bermodalkan otak yang sehat, diberikan maklumat sabikoh (impormasi awal) dan dihadirkan realitas yang terindra, seseorang telah dapat melakukannya. Bahkan untuk seorang suku Badui Arab di zaman Rasulullah SAW, mengimani Islam cukup hanya dengan melihat argument pada kotoran unta (yang menandakan sebelumnya ada unta yang membuang kotoran di situ) untuk meyakini bahwa keberadaan manusia, alam semesta, dan kehidupan merupakan hasil penciptaan.

Menjawab uqdatul kubro dan menemukan kesejatian dalam hidup, tidak harus terlebih dulu menjadi seorang sarjana, master, atau bergelar professor. Sungguh, walau menciptakan manusia dengan tingkat intelegensia dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda, yang dinilai Allah hanyalah takwa (keselarasan antara akal dan hati yang melahirkan aktivitas mentaati seluruh syariat-Nya).

bersambung, InsyaAllah... :)






Kontemplasi

Hujan membasahi aspal hitam di depan rumah. Ingatan menemukan waktunya untuk menyeruak, menoleh ke belakang pada hari-hari sebelumnya: sebuah jeda untuk berkaca. Memandang ke dalam diri, menyadari yang masih ada, merelakan yang telah telepas, menerima yang kini terus menjadi.(sore, 07/07/09)

Rabu, 24 Juni 2009

Memandang dari Sisi/Sudut Lain

Memandang dari Sisi/Sudut Lain

Pada setiap perjalanan, baik menuju atau pulang mengajar dari desa Rantau Bujur, saat kelotok yang kutumpangi melintasi waduk Riam Kanan, mataku selalu saja mengagumi gugusan pegunungan yang terlihat menghitam, memanjang bagai gelombang raksasa di kaki langit sebelah Barat. Awan atau kabut putih kadang-kadang berkumpul seperti menempel di puncak-puncaknya.

Apalagi saat 3 minggu lalu, kelotok yang kutumpangi bertolak dari dermaga menuju Desa Rantau Bujur mendekati pukul 17.00 Wita. Pada 3/4 perjalanan, dan saat kelotok mendekati anak sungai, aku dengan leluasa menyaksikan langit di sebelah Barat berubah warna dari biru ke biru muda, ke kekuning-kuningan, memerah emas dengan gumpalan-gumpalan awan membentuk gugusan-gugusa menakjubkan. Sementara itu gunung-gunung yang pada sepertiga perjalanan terlihat seperti gelombang tampak terlihat dari sisi berbeda seperti dua gunung memanjang, yang warnanya berubah kelabu dan perlahan menghitam. Indah dan nyata! Sungguah lebih indah dari lukisan-lukisan buatang tangan atau pun foto-foto yang pernah kulihat di komputer.

Nah, Senin kemarin, tanggal 22 Juni 2009 aku mengikuti kegiatan yang di adakan guru-guru dan siswa-siswa SMPN 4 Aranio, mengunjungi Pantai Batakan. Awalnya, setelah menempun perjalanan dari Banjarmasin-Martapura aku berniat bergabung dengan yang lain naik 2 minibus yang disewa, tetapi melihat dua guru lain yang tampak bersemangat dengan sepeda motor mereka, aku merubah rencanaku. Aku memilih pergi ke Pantai Batakan dengan menaiki sepeda motor. Seorang murid kelas 2 yang tidak tahan guncangan mobil ikut membonceng padaku.

Ternyata perjalanan dari Martapura-Pantai Batakan bukan kepalang jauhnya bila di tempuh dengan sepeda motor. Tapi, saat mulai kelelahan, ketika kubuang tatapanku ke sebelah kiriku, aku kaget! Gugusan pegunungan yang biasanya hanya kulihat dari depan dan samping kiri, kini terlihat dari sisi lain, sisi kanan. Ketakjubanku bertambah saat hampir sampai di Pantai Batakan, aku menyaksikan gugusan pegunungan yang biasanya kulihat dari atas waduk Riam Kanan terlihat dikejauhan seperti gelombang raksasa, menghitam dengan awan atau kabut di atasnya, yang biasanya hanya kulihat pangkalnya saja kini begitu dekat, nyata dengan rumput dan pohon-pohon kecil di atasnya. Dan aku berada tepat di ujungnya!

Pengalaman seperti di atas adalah pengalaman yang menakjubkan. Ada hal-hal baru yang dapat di peroleh, diketahui dengan memandang suatu objek dari sisi atau sudut yang berbeda. Kita dapat melihat realita atau fakta dari berbagai sisi, berbagai sudut pandang, untuk menemukan beragam keindahan yang berbeda.

Namun, satu hal yang tidak boleh lupa, melihat atau memandang dari berbagai sisi atau sudut pandang guna memberikan penilaian, hanya digunakan untuk objek terindara atau fakta saja (benda).
Sedangkan untuk penghakiman atau memberi penilaian terhadap suatu perbuatan/tingkah laku manusia, bagi saya yang beragama Islam tentu sudut pandang Islam lah yang menjadi satu-satunya sisi, satu-satunya sudut pandang dalam memberikan penilaian/penghakiman. Karena bukankan bagi setiap Muslim, menentukan nilai baik buruk, terpuji atau tercelanya perbuatan manusia hanyalah hak Allah semata. Kita dapat memberikan penilaian, penghakiman atas perbuatan manusia setelah terlebih dulu merujuk pada dalil-dalil baik itu dari sumber langsung (Al Quran dan As Sunnah) atau Ijma, kias ataupun hasij Ijtihad ulama yang terpercaya.

Keindahan objek suatu benda dapat dilihat, dinikmati dari berbagai sisi, berbagai sudut pandang, namun
keindahan perbuatan manusia, baik dan buruk, terpuji dan tercela, hanya dapat dilihat dari satu sisi, satu sudut pandang, semata-mata Islam saja.

Selasa, 16 Juni 2009

Memaksa Keikhlasan

Memaksa Keikhlasan

Sejak kecil sadar atau tidak kita telah dijejali pemahaman bahwa yang namanya ikhlas adalah suatu perasaan yang tanpa embel-embel apapun. Perbuatan Ikhlas adalah perbuatan yang kita kerjakan tanpa mengharapkan imbalan apapun. Perbuatan ikhlas adalah perbuatan yang dikerjakan dengan senang hati tanpa merasa berat atau terpaksa.
Namun, ternyata dalam pemahaman yang beberapa tahun saya pelajari tidaklah demikian.
Ikhlas adalah perasaan yang dapat ditanam, dipupuk dan dibentuk dalam hati manusia. Caranya dengan menyodorkan pemikiran yang bersumber pada realita/faktais (mantiqul ihsas), kemudian pemikiran tersebut akan memunculkan perasaan dan pemkiran yang tajam ( ihsas al- fikr) pada diri orang tersebut. Setelah itu mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, selama realita dan kaidah berfikirnya benar, maka dia akan menjadi orang yang ikhlas.
Dan dalam Islam, ikhlas adalah pangkal setiap amal perbuatan seorang muslim terkategori ibadah (berpahala). Ikhlas lah yang membedakan status perbuatan seorang muslim dan kafir. Karena IKHLAS ADALAH LILLAHITA'ALA (KARENA DAN BAGI ALLAH).
Jadi, iklas ternyata harus ada embel-embel... yaitu semata-mata motivasinya karena Allah SWT dan tujuannya untuk meraih ridho Allah SWT.
Catatan: Tulisan ini selesai atas bisikan dan komentar dari teman di sebelah: Aemaelei