(Diselesaikan tanggal 6, September 2006)
Ini artikel favoritnya Amali! Di sebelah dia lagi tertawa, sangat terkesan dengan kata 'mengkonstruksi' katanya!
May Allah make our imaan stronger, our hearts pure with Your love and our mind knowledged in Your deen
Seperti Kincir Menderu
Aku merasa sepi
seperti kincir menderu,
tak ada yang benar-benar kuterbangkan
dan sungguh-sungguh kurapatkan
Di titik semua mimpi,
sungguh
tak pernah kutemukan
wajahku di dalamnya
(Pengirim +628524715*** Diterima
Memiliki kenalan atau dikenal beberapa penyair membuat saya beberapa kali menerima SMS yang berisi kata-kata khas penyair: bersayap dan indah. Isi SMS itu walaupun pendek, menghuni ingatan dalam waktu yang tidak pendek.
Bapak Micky Hidayat, misalnya, sejak esai saya yang berjudul, “Sajak-sajak Bercerita Micky Hidayat” dimuat di Radar Banjarmasin pertengahan 2006 lalu, pada (beberapa kesempatan) hari raya, beliau berkenan mengirimkan sajak-sajaknya melalui SMS ke Hp saya. Tidak itu saja, beliau juga bermurah hati menghadiahkan satu antalogi puisi karya beliau, “Meditasi Rindu” dan bahkan juga ‘mengabadikan’ satu bagian dari esai saya tersebut pada bagian akhir isi antalogi tersebut, diletakkan sejajar dengan komentar penyair dan kritikus tingkat nasional (J). Selain beliau, Bapak Ali Syamsudin Arsy (yang saya kenal saat beliau menjadi panitia dalam lomba penulisan cerpen yang saya ikuti di DKD Banjarbaru) juga pernah pada Hari Raya mengirim sajak silaturrahim. Sajak tersebut kemudian seperti sajak Bapak Micky, saya copy menjadi koleksi untuk kemudian saya gunakan sebagai balasan dari SMS-SMS handai tolan yang masuk ke-Hp saya pada Hari Raya itu.
Berbeda dengan kedua dedengkot penyair Kal-Sel tersebut, seorang teman yang dulu menjadi kakak tingkat saya di PBSID FKIP Unlam: Kak Rahmiyati, tidak mengirimkan sajak-sajaknya pada moment Hari Raya. Sejak sajaknya yang berjudul “Cinta Hari Ini’ (yang diperlihatkannya pada saya di acara Aruh Sastra V Kotabaru tahun 2006) saya kutip dalam cerpen “Tiga Percakapan Tentang Cinta”, sejak itupula beberapa kali dia mengirim sajak-sajaknya melalui SMS pada saya. Sajak-sajak tersebut bernada lirih, sederhana, dengan kata-katanya yang terjalin khas milik
Dan puisi berjudul “Seperti Kincir Menderu” di atas adalah satu dari sajak-sajak yang pernah dikirim Kak Rahmi. “Puisi tntng seorang prempuan yg pnuh dg kgembiraan, smangt dan hura2 tP dbaLik itU dia org pling ksepian sedunia.kd tau apa yg dcri….” Begitu menurutnya isi dari puisinya tersebut.
Menurut saya, keberhasilan Kak Rahmi dalam sajak “Ku Rasa Sepi” terletak pada kuatnya kesan yang ditimbulkan bait pertama. Di baris pertama sajak dia menulis, /Aku merasa sepi/ makna yang ditimbulkannya jelas bahwa ‘aku’ dalam sajak ini merasa sepi. Kemudian pada baris kedua, /seperti kincir menderu/ di sini awal ironi atau kebalikan dimunculkan dengan menyodorkan pencitraan berupa kincir yang sibuk berputar hingga menimbulkan bunyi menderu (kesiuran angin). Pada baris tiga dan empat ironi benar-benar dimunculkan. Pada baris ketiga /tak ada yang benar-benar kuterbangkan/ mengungkapkan bahwa walaupun kincir itu berputar cepat sehingga menghasilkan bunyi yang menderu, sebenarnya tak ada yang diterbangkan oleh kincir itu. Di sini Rahmi ingin menyampaikan ada sesuatu yang bernilai sia-sia (kesia-siaan kincir tanpa menerbangkan sesuatu jelas bila kita bandingkan dengan baling-baling pada helicopter, misalnya) (bersambung…., sudah adzan Zuhur)
Dan pada baris berikutnya kesan kesia-siaan tersebut semakin kuat / dan sungguh-sungguh kurapatkan/. Walau bergerak dengan cepat, seolah saling mengejar, baling-baling kincir itu tidak pernah saling merapat, berdekatan.
Kemudian pada bait kedua, Kak Rahmi menyampaikan isi dari sajaknya tersebut. Bahwa /Di titik semua mimpi/ pada saat semua yang menjadi keinginan dan impian, telah mewujud, sebenarnya jati diri itu, ternyata tetap belum ditemukan.
sungguh
tak pernah kutemukan
wajahku di dalamnya
Jadi, sebenarnya masalah yang menjadi tema dari sajak Seperti Kincir Menderu karya Kak Rahmi di atas adalah masalah JATI DIRI, yaitu terasa kuat pada 2 baris akhir / tak pernah kutemukan/ wajahku di dalamnya//
. Tema yang serupa juga pernah diangkat Dee (Dewi Lestari) dalam Supernova 2: Akar. Dalam novelnya itu
Dengan sudut pandang Islam, An Nabhani mengupas dengan terperinci bahwa pada manusia yang berfikir, secara fitrah akan ada 3 pertanyaan mendasar pada diri manusia yang berfikir tersebut. Tiga pertanyaan tersebut merupakan simpul besar dalam hidup (uqdatul kubro). Jawaban dari 3 pertanyaan itu akan memberikan gambaran tentang jatidiri, arah perjalanan hidup, dan akhir yang menjadi tujuan.
Tiga pertanyaan tersebut, yaitu:
1) Tentang JATI DIRI. Dari mana manusia, alam semesta dan kehidupan di dunia ini berasal?
Jawaban dari pertanyaan pertama ini akan menentukan identitas dirinya, si manusia (asal penciptaan).
2) Tentang MISI HIDUP. Untuk apa manusia., alam semesta, dan kehidupan di dunia ini di ciptakan?
1) Tentang TEMPAT KEMBALI. Akan kemana manusia, alam semesta, dan kehidupan setelah ketiadaan?
Jawaban dari pertanyaan ketiga di atas akan memberikan gambaran akan kemana manusia setelah ketiadaan. Apakah menjadi debu, tanah, atau akan ke surga/neraka (akhirat)
Pertanyaan yang sederhana dan mudah. Cukup beberapa halaman buku saja untuk menguraikan jawaban dari 3 pertanyaan di atas. Namun, tiga pertanyaan tersebut akan memiliki keberpengaruhan apabila dalam menjawabnya benar-benar melibatkan aktivitas akal (berpikir dengan metode rasional) dan disepakati hati (ikhlas).
Metode berpikir rasional adalah metode yang sederhana. Cukup dengan bermodalkan otak yang sehat, diberikan maklumat sabikoh (impormasi awal) dan dihadirkan realitas yang terindra, seseorang telah dapat melakukannya. Bahkan untuk seorang suku Badui Arab di zaman Rasulullah SAW, mengimani Islam cukup hanya dengan melihat argument pada kotoran unta (yang menandakan sebelumnya ada unta yang membuang kotoran di situ) untuk meyakini bahwa keberadaan manusia, alam semesta, dan kehidupan merupakan hasil penciptaan.
Menjawab uqdatul kubro dan menemukan kesejatian dalam hidup, tidak harus terlebih dulu menjadi seorang sarjana, master, atau bergelar professor. Sungguh, walau menciptakan manusia dengan tingkat intelegensia dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda, yang dinilai Allah hanyalah takwa (keselarasan antara akal dan hati yang melahirkan aktivitas mentaati seluruh syariat-Nya).
bersambung, InsyaAllah... :)
Hujan membasahi aspal hitam di depan rumah. Ingatan menemukan waktunya untuk menyeruak, menoleh ke belakang pada hari-hari sebelumnya: sebuah jeda untuk berkaca. Memandang ke dalam diri, menyadari yang masih ada, merelakan yang telah telepas, menerima yang kini terus menjadi.(sore, 07/07/09)
ini esai yang kutulis tahun 2008 lalu. sudah dimuat di Radar Banjarmasin rubrik Cakrawala.
Tentang Laskar Pelangi dan The Kite Runner
(Rismiyana)
PUZZLE 1
Di tengah lalu lalang lalu-lintas Jalan A Yani KM3 Banjarmasin mata saya penangkap tulisan tidak lazim THINGKING. Tulisan itu tercetak besar-besar di kaca depan sebuah truk pengangkut barang. Tidak lazim karena biasanya sebuah truk bertulisan “Kutunggu Jandamu”, “Doa Ibu”, “Titipan Ilahi” dan tulisan-tulisan berisi pesan sejenis. Bagi saya kata ‘thingking’ identik dengan kata ‘thinking’ yang berarti berpikir. Kata ‘thinking” identik dengan sebuah buku karya pemikir cemerlang yang saya kenal. Karena "The Thinking", adalah versi terjemahan dari kitab ‘At Tafkir” atau dalam bahasa Indonesia “Hakekat Berpikir” dari pemikir yang saya kagumi itu, maka truk bertulisan THINGKING tersebut melekat dalam ingatan, disertai sebaris pertanyaan “Mengapa truk itu bertuliskan THINGKING bukan Thinking?”
PUZZLE 2
April 2007, Di Sebuah Toko Buku
Dalam ketenggelaman pikiran pada judul buku-buku yang berderet, dari pengeras suara dipromosikan buku yang sedang bestseller, Laskar Pelangi. Beberapa kali promosi itu diulang. Mata saya langsung menemukan buku itu.
PUZZLE 3
Desember 2007, Kontrakan Sepupu
Berkunjung ke kontrakan sepupu. Teman sekontrakannya yang juga seorang dosen kedatangan seorang tamu. Tamu itu menyebut-nyebut nama Ikal, tokoh dalam buku yang sedang ia ceritakan. Saya terpesona . Bukan pada isi buku yang ia ceritakan, tetapi wajahya yang terlihat sangat bahagia saat menceritakan isi buku tersebut. Samar-samar saya dengar perkataannya, “Laskar Pelangi…., Lintang…, Sang Pemimpi….”
PUZZLE 4
Januari 2008 Perpustakaan Daerah A Yani KM 7
Membaca koran-koran yang terbit hari Minggu. Di salah satu koran itu, Jawa Pos dimuat artikel yang berisi ulasan tentang buku. Ditulisnya bahwa sepanjang 2007 ada 2 buku yang sangat berkesan baginya. Yang seandainya penulis buku itu adalah muridnya, dia pasti akan sangat bahagia. Buku itu, menurutnya seringkali dia promosikan bahkan kadang-kadang ia hadiahkan pada teman-temannya yang berprofesi guru. Buku itu menurutnya memuat kejujuran dan mengajarkan bahwa kebahagiaan dapat ditemukan pada kondisi yang memprihatinkan sekalipun.
Buku itu adalah Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Dan saya yang membaca artikel itu , sungguh, merasa jatuh hati pada buku itu. Buku yang belum saya baca!
PUZZLE 5
Perpustakaan STKIP
Mungkin karena saatnya telah tiba. Dan mungkin pula kerena keberuntungan ada di pihak saya, saat mengunjungi seorang teman yang berprofesi sebagai pustakawan, mata saya terfokus pada buku yang ia pegang. Sang pemimpi, buku kedua Laskar Pelangi.
Kurang lebih seminggu kemudian ketiga novel karya Andrea Hirata; Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor ditambah 1 buku karya TetsukoKuroyanag, Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela, saya barter dengan 1 buku karya Pram, Bumi Manusia.
Ternyata, membaca Laskar Pelangi, apalagi bagi saya yang melewati masa kanak-kanak di lingkungan melayu pedalaman, Sumatera Selatan, seperti kembali ke masa lalu. Pertemanan, permainan, keadaan sekolah yang memprihatinkan, bahkan pigur ayah, membuat kenangan seperti dihadirkan.
Saat membaca Laskar Pelangi saya seolah diajak Andrea untuk turut merasakan keceriaan dan kegembiraan masa kecil anggota Laskar Pelangi, sekaligus merasakan kesedihan dan penyesalan saat Lintang sang jenius harus putus sekolah. Pun membaca Sang Pemimpi, saya seolah berada bersama Arai yang bocah, yatim piatu di tengah belantara ladang tebu tak terurus, merasakan kepiluannya saat menanti ayah Ikal yang akan menjemputnya. Membaca Edensor, menertawakan Arai yang menerima hukuman atas kejahilan masa kecilnya, makin menguatkan saya bahwa sekecil apapun peristiwa yang kita perbuat, lalui, saling memiliki keterkaitan dengan masa depan.
Sebuah kegembiraan harus dibagi! Terutama bagi mereka yang saya ketahiu juga menyukai buku. Saya kirimkan sms yang sama pada mereka. Balasannya macam-macam. Yang telah membaca mengiyakan kalau buku itu bagus (walau tuturannya bukan jenis yang disukainya), yang belum membaca menanyaka penerbit, took yang menjual dan berjanji akan membeli atau minimal meminjamnya.
Dan beberapa hari kemudian saat masuk SMS dari seorang sastrawan dan esais senior yang tinggal di Yogyakarta, yang berisi komentar meninggalnya mantan Presiden Soeharto, kegembiraan itu masih ingin saya bagi. “Saya baru bca Laskar Pelangi, Andrea Hirata, bkin ktawa2, bkn sedh.bhkan bkin nangis saat Lintang sang jenius harus putus skolah. Jd supir truk. Bda bnget nsibx dgn Taiji yg jdi ilmuan dlm Totto-Chan..2 novel yg menggmbarkan prbedaan realitas pndidikn Indonsia-Jepang. Sudah bca bukunya?” Demikianlah isi SMS saya.
Satu bulan sebelumnyaterjadi perdebatan antara kami. Saat itu saya mengatakan bahwa kritik dalam sastra adalah penguat. Beliau membantah pendapat saya itu, menurutnya kritik dalam sastra adalah penyadaran.
Saya terima balasannya, “Anda belom ngerti apa itu seni, apa itu sastra. Semuanya dicampur aduk! Tidak semua yang dinovelkan itu seni Sastra! Kalo gak ngerti gak usah masuk dunia sastra, ikut dunia …..(beliau menyebutkan nama penerbit buku) dkk aja!” (
Kritik untuk Laskar Pelangi
Saya sependapat dengan pernyataan An Nabhani dalam Hakekat Berfikir yang menyatakan bahwa karya sastra berkaitan dengan rasa (taste). Seperti hanya masakan, ia ditentukan oleh selera. Saya bisa berpendapat bahwa sarden, merek apa saja akan terasa lezat bila saat memasaknya ditambahkan satu sendok teh garam dan beberapa potong cabe. Akan tetapi, saya tidak dapat memaksakan selera saya itu kepada seorang teman yang justru memasak sarden dengan menambah satu sendok teh gula dan kecap manis. Karena itulah masakan yang lezat menrutnya.
Jadi, saya tidak marah atau pun kesal (karena diungkapkan dengan cara yang baik) saat seorang teman menyatakan bahwa Laskar Pelangi hanya mampu membuatnya bertahan di Bab 4. Bahwa dia menemukan ada beberapa bagian dalam cerita itu yang tidak bisa diterima logikanya.Bahwa percakapan antara Ikal (panggilan untuk Andrea kecil) dengan teman-temannya anggota Laskar Pelangi, tidak mencerminkan percakapan yang keluar dari mulut kanak-kanak (tetapi lisan Andrea yang jebolan S2). Itu menurutnya sangat berbeda dengan percakapan antara Amir dan Hassan dalam The Kite Runner. Walau begitu. Saya tetap berpendapat justru dari segi bahasa yang digunakannya lah, Andrea mampu menjadikan cerita sehari-hari masa kecil menjadi bermakna dan menarik.
Antara Laskar Pelangi dan The Kite Runner
Novel The Kite Runner yang ditulis Khaled Hossein memang bagus. Dari segi penokohan, di dalam novel ini pembaca akan menemukan tokoh-tokoh utuh. Amir yang ditampilkan dari berbagai sisi; baik dan buruk. Sosok Hassan yang tanpa pamrih dan bernasib memedihkan, Ayah Amir, ayah Hassan dan sosok bocah anak laki-laki Hasan adalah tokoh-tokoh yang mampu ‘dihidupkan’ pengarang.
Dari sisi konflik, novel ini memuat tragedi kemanusian dengan cara yang manis sekaligus pedih. Persahabatan yang dikhianati, ketegangan hubungan ayah-anak, penyesalan, ketakutan yang manusiawi, semuanya tersaji lengkap. Demikian pula bila dilihat dari segi setting cerita, deskripsi pengarang mampu membawa imaji pembaca pada tanah Afganistan dan berbagai konflik di
Penokohan, konflik, setting, dalam novel itu dijalin dengan alur yang menarik. Sepanjang cerita, secara bertahap, rahasia demi rahasia terbuka, membuat keterkejutan pembaca, saat Hassan diberitahukan bersaudara dengan Amir, sama dengan yang dialami tokoh dalam cerita.
Menamatkan The Kite Runner kemungkinan besar menarik pembaca pada cara pandang yang lebih dewasa. Sayangnya, Taliban yang mewakili representasi dari Islam Fundamentalis, dalam novel ini dilihat dari 1 sisi, kekejamannya. Sehingga opini yang terbangun tentang Afganistan dan Taliban sama dengan yang tergambar dalam buku ini. Dan akhirnya, pembumihangusan AS terhadap Afganistan yang dikuasai Taliban menjadi sebuah pemakluman. Mungkin hal ini pula yang menyebabkan penerbitan dan penyebaran buku ini didukung oleh banyak pihak (pihak-pihak yang memiliki kepentingan ideologi dan politik tentunya).
Sedangkan pada Laskar Pelangi, antar tokoh, misalnya kesepuluh Laskar Pelangi, hamper tidak ada konflik yang cukup berarti. Tidak ada penghianatan. Tidak ada alur yang mengejutkan. Kesepuluh anggota Laskar Pelangi, kecuali Ikan dan Bondenga (yang diceritakan sekilas) adalah sosok-sosok yang menjalani masa kecil tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain yang kehidupannya terpinggirkan, melarat, di negeri yang kaya sumber daya alam yang melimpah ini.
Yang, menurut saya istimewa dan membuat saya menikmati buku ini adalah bahasa yang digunakan Andrea Hirata. Andrea (setelah saya uji coba dengan teman-teman saya) mampu mengajak pembaca ikut nyengir, tertawa, meneteskan air mata. Bahkan saat saya sengaja menyodorkan buku kedua Laskar Pelangi, yaitu Sang Pemimi, langsung pada Bab 2 yang berjudul Simpai Keramat, sama seperti saya dia juga meneteskan airmata.
Andrea mampu menjadikan cerita pengalaman masa kecinya, keseharian bersama teman-temannya, dengan alur cerita yang biasa-biasa saja, menjadi bermakna, tak kalah menarik dengan novel The Kite Runner yang ditulis Khaled Hosseini. Kalau Hosseini menampilkan karya yang kompleks, dalam dan lumayan berat sehingga menurut saya hanya cocok untuk dibaca anak SMU ke atas; Andrea justru sebaliknya, cerita Laskar Pelangi ringan, mudah dicerna namun membekas, dan cocok untuk segala usia.
Karena dalam pemahaman saya, sebuah karya sastra adalah tulisan yang menggunakan pilihan bahasa tertentu, yang ditujukan agar mampu mempengaruhi perasaan pembaca, maka The Kite Runner dan Laskar Pelang (termasuk Sang Pemimpi dan Edensor) terkategori dua karya sastra. Karya sastra yang terkategori bagus. Pendapat saya itu tidak akan berubah. Tidak peduli seandainya ada sastrawan tingkat internasional sekalipun menyatakan kedua buku itu jelek atau bukan terkategori karya sastra!
PUZZLE 6
Kira-kira beberapa minggu lalu, di kawasan Kayutangi, truk bertulisan THINGKING yang saya ceritakan di bagian awal saya temui terparkir manis. Kata ‘thingking’ itu mengusik ingatan. Bukan hanya pada buku Thinking karya Syaikh Taqiyuddin An Nabhani yang saya kagumi, tetapi juga pada sosok Lintang salah satu tokoh dalam Laskar Pelangi (yang dibagian akhir diceritakan menjadi supir truk pengangkut pasir). Di benak saya muncul pertanyaan baru, “Mungkinkah Lintang memiliki kaitan dengan truk yang bertulisan THINGKING itu