Sejak tiga bulan terakhir anak-anak Haqo (Haraqah el-Qalam) cabang STKIP Banjarmasin beberapa kali memintaku menjadi pemateri dalam pertemuan mereka. Semangat mereka untuk menulis berbagai jenis tulisan berupa esai populer, cerpen, artikel opini mengingatkan bagaimana dulu bersemangatnya aku membuat berbagai tulisan dengan karakter yang berbeda-beda. Tulisan-tulisan yang bila kubaca sekarang membuatku menyadari bahwa aku dulu 'sesemangat itu'. Tulisan-tulisan yang kadang membuatku mengingat kembali masa-masa yang hanya bisa ditelusuri jejaknya dalam rentetan huruf-huruf yang tereja....
salah satunya esai ini yang kukirim ke Radar Banjarmasin tanggal 25 November 2006 dan dimuat di RB (kalau tidak salah) keesokan harinya.
Cerita Dua Dosenku Tentang Pram
(Satu Dari Beberapa Esai Tentang Pramodya Ananta Toer)
Dalam sebuah perkuliahan, seorang dosen dalam paparannya menceritakan tentang Pram; karya-karyanya, nasib karya-karyanya tersebut, dan ketidakadilan yang diterimanya baik dari pihak sesama sastrawan maupun rezim yang berkuasa.
Entah disadari atau tidak oleh dosen tersebut (selanjutnya ditulis sebagai Sang Dosen), seorang mahasiswa (selanjutnya ditulis sebagai Si Mahasiswa) yang berada di barisan depan dan baru beberapa bulan menyandang predikat mahasiswa, menangkap dengan jelas pancaran kekaguman Sang Dosen pada sosok Pram dan karya yang dihasilkannya. Di awal perkuliahan Si Mahasiswa telah mendengar sepak terjang dan keeksentrikan dosen yang hobi berjins ria ini. Dan minggu-minggu di awal perkuliahan, ego usia mudanya dan semangat untuk menunjukkan eksistensi diri mendorongnya untuk duduk di urutan depan, dan saat Sang Dosen menjelaskan materi perkuliahan, dengan berani ia tentang mata Sang Dosen, dalam dan lama. Setelah mencoba beberapa kali, ia akhirnya berkesimpulan: walau tak mampu membuat mata itu menunduk, mata itupun tak membuatnya gentar. Dan setelah menangkap kekaguman Sang Dosen pada sosok Pram, ia kembali berkesimpulan, untuk mengetahui kualitas pemahaman Sang Dosen terhadap sastra dan kehidupan, ia akan melihat pada kualitas karya-karya yang dihasilkan sastrawan yang dikagumi dosen tersebut, yaitu Pram.
Sayangnya, seiring bergulirnya waktu dan menginjak tahun ketiga perkuliahan, tetralogi Pulau Buru karya Pram yang pernah diceritakan Sang Dosen belum juga ia baca. Termasuk karya-karya Pram yang lain. Ia malah disibukkan dengan kajian intensif yang mentransfer pemikiran dalam kitab-kitab terjemahan karya An Nabhani. Dari kitab-kitab itu, ia belajar bagaimana membangun landasan berfikir dan berbuat dengan pondasi akidah, juga bagaimana membentuk kerangka berfikir dalam memandang manusia, alam semesta dan kehidupan, sekaligus cara memetakan ketiga realitas tersebut. Ia pun mulai belajar mencermati konstelasi politik dunia sejak zaman Rasulullah Saw. hingga George W Bush berkuasa. Dasar-dasar pemikiran ideologi-ideologi yang pernah dan sedang mendominasi dunia mulai tercakup di benaknya.
Pemahaman yang mulai tumbuh tentang ideologi itu pula yang kemudian mengilhami Si Mahasiswa itu dan teman-temannya untuk memanfaatkan kedatangan seorang aktivis LSM yang berskala nasional dan memiliki jalan hidup cukup fenomenal, menjadi pembicara dalam semacam seminar yang mereka adakan. Seminar tersebut, tentu saja bertemakan tentang pengaruh ideologi terhadap karya sastra. Dan sebagai pembicara tandingan, Sang Dosen, pengagum Pram lah yang dipilih.
Sebelum seminar dimulai, Si Mahasiswa telah mereka-reka dan berharap, pastilah Sang Dosen akan mengutip pikiran-pikiran politik dalam karya-karya Pram sebagai bahan presentasi. Si Mahasiswa berkeinginan membandingkan pikiran-pikiran Pram tersebut dengan pikiran-pikiran sastrawan dunia yang telah ia baca dan dikaguminya, seperti John Steinback, Yoshikawa, C Neither, dan yang lainnya. Karena, bukankah Sang Dosen pernah menceritakan bahwa penghargaan bertarap internasional telah dianugerahkan pada karya-karya Pram. Pemikiran-pemikiran besar telah tergambar di benaknya.
Akan tetapi, entah atas pertimbangan apa, Sang Dosen yang menggunakan makalah dan LCD, dalam presentasinya sama sekali tidak membahas Pram dan karya-karyanya. Saat membahas tentang karya sastra yang bersifat sosial dan humanis, beliau hanya mengutip beberapa bagian dari isi sebuah buku kumpulan cerpen yang masih fresh, baru terbit dan ditulis oleh pengarang-pengarang yang telah dikenal oleh Si Mahasiswa.
Mendekati akhir seminar itu, di depan Sang Dosen, di urutan belakang barisan peserta seminar, Si Mahasisa tampak kecewa. Ia kini merasa telah mengetahui kualitas pengarang yang dikagumi Sang Dosen. Terbentuklah asumsi di kepalanya; “Karya-karya Pram hanya selevel karya pengarang-pengarang dalam kumpulan cerpen yang dikutip Sang Dosen. Pram bukan apa-apa, hanya pengarang biasa. Bahkan, kalau aku menghasilkan karya sasta, mungkin karyaku itu akan lebih baik darinya.”
Mendekati akhir perkuliahan, Si Mahasiswa mulai bingung. Ia akan menulis skripsi, tapi tentang apa? Ia pun mendatangi seorang dosen lain, yang rajin mengkritisi tulisan-tulisan sastrawan di daerah ini. Walau menurut Si Mahasiswa, dosen muda itu (selanjutnya disebut sebagai Dosen Muda) tampak sering kali berusaha mematahkan pendapat dan pemikiran yang diutarakannya, tokh beliau selalu bersedia berdiskusi dengannya, bahkan ketika Si Mahasiswa mengutarakan ide-idenya yang ekstrim tentang sastra sekalipun.
Entah mengapa, ketika ditemui di ruang dosen, Dosen Muda menyebut-nyebut Pram. Ia menceritakan tentang karya-karya Pram yang sangat terkenal dan banyak mendapat penghargaan di luar negeri, tetapi tidak dikenal dan diasingkan di negeri sendiri. Namun, Si Mahasiswa tidak tertarik mendengar uraian tentang Pram, apalagi untuk menelitinya. Untuk apa meneliti karya Pram, tokh ia pengarang biasa-biasa saja, pikir Si Mahasiswa. Beberapa waktu kemudian, Si Mahasiswa mengutarakan niat untuk membahas pengaruh pemikiran pengarang terhadap karya yang dihasilkannya, setelah mendebat keinginan Si Mahasiswa habis-habisan, Dosen Muda itu kemudian meminjamkan tesis seorang akademisi Malaysia yang meneliti karya-karya Pram. Walau membuat buku yang dipinjamkan itu lecek, Si Mahasiswa hanya membaca di bagian kerangka teori dan sedikit paparan riwayat hidup Pram.
Akhirnya, tibalah saat bagi Si Mahasiswa, diberi hak untuk mengikuti yudisium. Ia pun telah menghasilkan beberapa karya sastra. Ada yang memenangkan lomba. Ada pula yang sekadar dimuat di media massa lokal.
Beberapa minggu setelah pelaksanaan yudisium, ia berkunjung ke salah satu kost seorang kawan. Keluar dari kost itu, tas yang dijinjingnya terasa lebih berat karena dimuati oleh buku setebal 412 halaman.
Dan malamnya, saat membuka dua halaman pertama buku setebal 412 halaman itu, Si Mahasiswa terpukau. Malam itu, dia hanya mencukupkan untuk membaca dua halaman pembuka. Pembuka yang memukau, pikir si mahasiswa, bahasanya sederhana, indah dan memiliki kedalaman makna.
Malam-malam berikutnya, saat membaca lembar demi lembar isi buku tersebut tampak kening Si Mahasiswa berkerut-kerut, bibirnya menahan senyum, dan di beberapa bagian isi buku itu ia tak dapat menahan tawa terkekehnya. Ya! Buku cetakan ke-6, yang sampulnya didominasi warna biru, berjudul Anak Semua Bangsa bagian kedua tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer tersebut, benar-benar membuatnya menyadari bahwa betapa naifnya asumsi yang tertanam di benaknya terhadap Pram selama ini. Munculnya rasa kagum saat menemukan bagian-bagian memukau dalam buku Pram itu, juga dibarengi dengan munculnya kesadaran diri bahwa karya-karya yang dihasilkannya selama ini bila dihadapkan dengan karya Pram laksana kacang Ijo VS raksasa Buto Ijo. Dirinya dan karya yang dihasilkannya masih bau kencur di hadapan Sang Master sastra itu.
Saat itu rasanya ingin sekali diketiknya pesan untuk Sang Dosen, “Pak…! Karya Pram, Anak Semua Bangsa, Bagus!” Juga kepada Dosen muda, “Pak, saya mau menulis esai tentang Pram!” Tapi, itu tak dilakukannya. Selain tidak sopan, kedua dosen itu mungkin akan kaget dan tidak mengerti duduk permasalahan.
Akhirnya, Si Mahasiswa yang adalah penulis esai ini mengakui, di bidang teks sastra, Pram adalah The Master. Tidak percaya? Jangan berasumsi! Baca saja sendiri.
.
May Allah make our imaan stronger, our hearts pure with Your love and our mind knowledged in Your deen
Minggu, 13 Februari 2011
Kamis, 06 Januari 2011
Menemukan kata-kata
Menemukan Kata-Kata
"Kasihan sekali seorang mukmin yang tidak hafal Al-Qur'an. Dengan apa ia akan berdendang dan dengan apa ia dapat merasakan kebahagiaan" (Sahl bin Abdillah)
"Surga dan tamanku (kebahagiaanku) ada di dalam hatiku. Kemana pun aku pergi, ia bersamaku." (Ibnu Taimiyyah)
Hari Senin kemarin aku ke toko buku dan disana membeli 2 buku, salah satunya berjudul Nikmatnya Membaca Al-Qur'an (Manfaat dan Cara Menghayati Bacaan Al Quran Sepenuh Hati). Kata-kata yang kukutip di atas kuambil dari buku itu. Kata-kata yang bagus untuk direnungi.
Dulu sambil melaju di atas sepeda motor biasanya aku memilih sebuah lagu pop dan menyenandungkannya berulang kali sampai ketempat tujuan. namun, akhir-akhir ini kebiasaan itu berubah. Setelah berusaha memantapkan hati untuk lebih mengkaji Al Quran, sepanjang perjalanan biasanya saya gunakan untuk mengulang-ulang surah tertentu. Dan dari semua surah, Al A'La yang saat ini menjadi favorit untuk di dendangkan sepanjang perjalanan....{sebenarnya agak malu juga menggunakan kata-kata yang melankolis, tapi sudahlah... :D }
"Kasihan sekali seorang mukmin yang tidak hafal Al-Qur'an. Dengan apa ia akan berdendang dan dengan apa ia dapat merasakan kebahagiaan" (Sahl bin Abdillah)
"Surga dan tamanku (kebahagiaanku) ada di dalam hatiku. Kemana pun aku pergi, ia bersamaku." (Ibnu Taimiyyah)
Hari Senin kemarin aku ke toko buku dan disana membeli 2 buku, salah satunya berjudul Nikmatnya Membaca Al-Qur'an (Manfaat dan Cara Menghayati Bacaan Al Quran Sepenuh Hati). Kata-kata yang kukutip di atas kuambil dari buku itu. Kata-kata yang bagus untuk direnungi.
Dulu sambil melaju di atas sepeda motor biasanya aku memilih sebuah lagu pop dan menyenandungkannya berulang kali sampai ketempat tujuan. namun, akhir-akhir ini kebiasaan itu berubah. Setelah berusaha memantapkan hati untuk lebih mengkaji Al Quran, sepanjang perjalanan biasanya saya gunakan untuk mengulang-ulang surah tertentu. Dan dari semua surah, Al A'La yang saat ini menjadi favorit untuk di dendangkan sepanjang perjalanan....{sebenarnya agak malu juga menggunakan kata-kata yang melankolis, tapi sudahlah... :D }
Mereka Berdua Sedang Merenung
ini foto Ibu Fitri guru SD Rantau Bujur
kalau yang ini foto Dani,siswa SD Rantau Bujur.
Kedua foto ini kuambil akhir tahun 2009. Fotonya kuambil waktu akan ke Rantau Bujur, sore hari. Saat itu kapal penuh oleh penumpang dan bahan bangunan, jadi kami ikut bersama beberapa penumpang yang lain di atas atap kapal.
kalau yang ini foto Dani,siswa SD Rantau Bujur.
Kedua foto ini kuambil akhir tahun 2009. Fotonya kuambil waktu akan ke Rantau Bujur, sore hari. Saat itu kapal penuh oleh penumpang dan bahan bangunan, jadi kami ikut bersama beberapa penumpang yang lain di atas atap kapal.
Senin, 15 November 2010
Rumah Di Atas Bukit
Rumah Di Atas Bukit
Beberapa tahun yang lalu, saya ke Palangkaraya bersama paman dan keempat sepupu. Kami sempatkan mampir di satu-satunya mall di kota itu. Saya lupa nama mallnya, namun ada toko buku di dalamnya, dan di atas salah satu rak buku saya menemukan beberapa judul buku yang menarik. Buku-buku yang tidak pernah saya lihat di Gramedia atau Kharisma di Banjarmasin.
Buku-buku tersebut sepertinya menceritakan kisah nyata perjalanan sebuah keluarga yang membuka lahan pertanian di Amerika Selatan. Judul buku-buku tersebut antara lain: Rumah Kecil Di Padang Besar, Rumah Kecil Di Padang Rumput, Dalam Perjalanan Pulang, dll. Sebenarnya saya tertarik membeli beberapa buku itu, tapi karena keuangan saya terbatas, saya membeli satu buku saja berjudul “Perjalanan Pulang”, buku yang paling tipis dan paling murah diantara yang lainnya.
Dan benar saja, walau pun gaya dan alur penceritaan atau pemplotan dalam buku itu biasa saja, tetapi bahasa dan deskripsi yang di gunakan pengarang membuat saya benar-benar menikmati membaca di setiap detil penceritaannya.
Saat membaca buku itu saya membayangkan (saya lupa nama tokoh anak kecil dalam cerita itu, buku itu bersama beberapa novel remaja terjemahan yang saya koleksi ikut terbakar pada peristiwa kebakaran rumah kontrakan kami di samping sekolah dulu.) tokoh kecil itu menyertai perjalanan kedua orang tuanya mencari kehidupan di Selatan Benua Amerika. Menyaksikan padang rumput,kereta tempat menginap ia dan keluarganya, merasakan kesedihan saat uang orang tuanya yang akan digunakan membeli lahan pertanian hilang dan dia menjadi yang tertuduh, berusaha merasakan apa yang dialami sebuah keluarga yang sedang berjuang meraih harapan.
Namun, dari semuanya bagian terakhirlah yang benar-benar berkesan. Bagian dimana diceritakan saat keluarga itu menempati pondok kecil mereka. Pondok yang terbuat dari kayu dan terletak di pinggir hutan. Pondok yang kemudian di sekitarnya di bangun beberapa kandang hewan ternak dan di bawah lerengnya mengalir anak sungai kecil. Entahlah.., saat itu saya membayangkan pastilah tenang dan indah tinggal di tempat seperti itu. Hemmm.
Dan beberapa tahun setelah membaca buku itu, setelah buku itu hangus terbakar, dan setelah beberapa bulan tinggal dirumah yang tak memiliki jendela dan beratap seng (berada di dalam rumah itu antara pukul 12-16 Wita seperti sedang didalam sauna, panas banget) yang air untuk MCK kadang ada kadang tidak, takdir itu pun tiba.
Sebuah rumah dinas yang diperuntukkan untuk guru-guru SMPN 4 Aranio di bangun tepat di belakang gedung SD. Sebuah rumah kayu yang nyaman. Dan di pilih sebagai tempat tinggal guru-guru perempuan.
Pada pagi hari dari jendela kamar yang menghadap ke sebelah kiri rumah, kami penghuninya dapat memandang Gunung Pahyangan yang kadang-kadang diselimuti kabut. Sementara dari bagian belakang rumah, dari jendela dapur sambil memasak kami dapat memandang matahari yang baru terbit membias di atas pucuk-pucuk pepohonan yang menutupi lereng bukit. Dan dari jendela-jendela di ruang tengah kami dapat mengedarkan pandangan ke samping kanan, ke arah lereng bukit terbuka yang pada musim tanam tumbuh subur rumpun-rumpun padi di atasnya.
Saat siang hari setelah lelah mengajar, jendela-jendela dapat di buka dan angin masuk dengan leluasa. Membaca buku atau tidur siang setelah sholat Zuhur adalah dua pilihan yang sama-sama menyenangkan.
Dan tatkala matahari mulai meredup, setelah sholat ashar kami dapat memilih alat pertanian yang ingin kami gunakan. Ada cangkul untuk menggemburkan tanah, arit untuk memotong rumput-rumput yang mulai meninggi, atau parang pendek untuk memotong kayu yang akan dijadikan pagar tanaman tertentu agar aman dari serangan babi liar.
Di sekeliling rumah ada lahan yang cukup luas untuk kami bisa bercocok tanam di atasnya. Bagian samping kiri rumah telah penuh dengan tanaman sayur yang kami tanam sebelum libur Ramadhan kemarin. Ada terung yang telah beberapa kali kami panen, kangkung berwarna putih, pare, dan bunga kenikir yang daunnya kami jadikan sayur. Sementara dibagian depan rumah tampak rimbun, labu kuning yang saya tanam bulan Agustus lalu tumbuh subur. Sayangnya, kami hanya bisa memanen pucuknya, putik-putik buahnya selalu berakhir busuk. Minggu kemarin ada 2 putik yang terlihat tidak akan busuk itu karena beberapa guru yang lain memberikan semacam tongkat penyanggah sehingga buahnya tidak terkena lembabnya tanah. Di samping kanan rumah, tanah yang beberapa waktu lalu kami cangkul telah di semai beberapa bibit di atasnya. Sementara agak kebelakang rumah beberapa batang pisang di tanam dalam kandang-kandang papan.
Minggu lalu, saya dan ibu Arbainah membuat kandang dari papan bekas bangunan SD dan bambu-bambu tua bekas pagar yang tidak terpakai. Kandang atau lebih tepatnya lagi pagar berguna untuk melindungi bibit pohon pisang yang masih kecil dan beberapa rumpun singkong yang kami tanam. Babi hutan pada malam hari banyak berkeliaran di samping rumah. Beberapa kali kami melihatnya datang berkelompok membongkar pohon singkong yang kami tanam.
Sementara saya dan ibu arbainah memaku kandang pisang, ibu fitri mengumpulkan daun-daun kering dan membakarnya. Setelah pembuatan kandang selesai ibu arbainah mencangkul beberapa lubang untuk menanam singkong. Sementara saya mengumpulkan beberapa kayu panjang yang kemudian saya jadikan tempat merambat tanaman labu saya. Semoga saja dengan dirambatkan pada tunggul kayu buahnya yang menggantung di udara akan berada pada suhu yang kering sehingga tidak busuk.
Tidak jauh dari kami bekerja, sekitar 50 M ke dalam hutan di belakang rumah terdengar perkelahian antara beberapa hirangan (sejenis monyet yang mirip orang utan tetapi memiliki ekor dan berbulu hitam). Ibu Arbainah sempat melompat ketakutan, tetapi setelah dijelaskan Ibu Ifit kalau itu suara perkelahian antara hirangan jantan yang sedang berebut pengaruh dia menjadi tenang. Pada sore tertentu segerombolan hirangan memang sering datang. Mereka memakan pucuk-pucuk dan buah pohon randu yang masih muda. Kadang-kadang mereka juga memunguti buah pohon karet yang berada di samping rumah. Saat memperbaiki selang air dari sumur di lereng bukit dekat aliran sungai, kami pernah melihat bayi hirangan sedang digendong induknya. Bayi hirangan itu bulunya berwarna kuning keemasan, dari jauh seperti bekantan.
Selain hirangan yang suaranya sempat mengagetkan Ibu Arbainah, segerombolan lebah yang lewat kira-kira 10 M di atas kami juga sempat membuat kami kaget. Jumlahnya ribuan. Kemungkinan besar lebah-lebah itu sedang mencari tempat tinggal baru.
Sebelum kami jadikan lahan pertanian tanah di samping rumah ditumbuhi alang-alang yang kerap di kunjungi burung-burung kecil yang memangsa belalang. Sekarang burung-burung itu jarang terlihat, hanya beberapa ekor burung murai yang terlihat pada pagi hari. Dan beberapa ekor tupai yang kerap melintas menuju pohon randu di samping bangunan SD. Tupai-tupai itu seperti hirangan juga menyukai pucuk dan buah pohon randu.
Mendekati adzan Magrib kami menyudahi kegiatan berkebun. Listrik dari mesin desa mendekati pukul 6 telah dinyalakan. Salah seorang diantara kami menghidupkan mesin air dan memegangi selang air untuk mengisi ember-ember di dapur dan di kamar mandi. Setelah mengalami beberapa waktu kesulitan mendapatkan air, tinggal di rumah yang berlimpah air seperti ini membuat kami merasa kayaaa sekali.
Sebenarnya, bukan hanya di sekitar rumah yang dikunjungi hewan-hewan. Di dalam rumah juga kerap dikunjungi beberapa jenis hewan. Tokek yang bersuara nyaring malah menjadikan rumah kami sebagai sarangnya. Sedangkan semut hitam besar atau disebut salimbada yang gigitannya terasa membakar beberapa kali mengadakan ekspansi mendadak ke lantai rumah.
Seekor tokek sebesar lengan anak SD berdiam di samping meja bersembunyi di balik tumpukan buku. Hampir tiap jeda beberapa jam tokek itu meneriakan suaranya. Suaranya biasanya kami jadikan gurauan di antara kami. Suara tokek itu biasanya berulang sampai 5 kali. Setelah bunyi pertama atau kedua, kami cepat-cepat meneriakan nama salah satu di antara kami, misalnya Ibu Ifit meneriakan, “Ibu Rismi…!” selanjutnya disahut oleh tokek itu dengan teriakan, “Tokek!”. Jadi kalo disambung menjadi, “Ibu Rismi…, tokek!” Tetapi pernah juga saat Ibu Arbaina meneriakan, “Kita akan menggoreng….!” Baru pada hitungan ke tiga, tokek itu terdiam, tak bersuara lagi. Padahal kalau dilanjutkan menjadi, “Kita akan menggoreng…, tokek!”Entahlah apakah tokek itu mengerti makna gurauan kami.
Bila keberadaan tokek di dalam rumah kadang-kadang kami jadikan bahan gurauan tidak demikian salimbada. Pernah suatu malam saat kami sedang berkumpul dan bersama menyelesaikan game Lian2kan dari netbook saya, tiba-tiba saat menengok keruangan tengah, kami dikagetkan dengan ribuan semut hitam itu. Sekoloni salimbada memenuhi lantai dapur dan ruang tengah, mereka bermunculan dari celah lantai papan. Gerakannya yang cepat dan membabi buta seolah mustahil untuk dihentikan. Salah seoreng diantara kami sebenarnya berniat mengambil garam di dapur, tetapi semut-semut itu terlalu banyak untuk dilewati. Padahal, satu gigitan saja dari semut itu sama sakitnya digigit seekor lebah, lebih sakit dari ditusuk jarum suntik. Hampr satu jam malam itu kami lalui dengan suasana menegangkan, rencana kami untuk kabur lewat jendela kami batalkan. Karena tiba-tiba semut itu menjadi tenang dan berangsur meninggalkan lantai rumah. Saat ibu-ibu yang lain mengusir semut-semut itu dengan sapu atau lembaran buku, saya sibuk menyetel murotal Quran surat An Naba, karena mengingat cerita nabi Sulaiman yang berpapasan dengan semut. Siapa tahu mendengar ayat itu mereka jadi pergi, pikir saya. Di kemudian hari saya baru sadar kalau cerita tentang semut betina (ratu semut) yang ada di dalam al Quran bukan di An Naba, tapi ada di surah An Naml. Pengalaman beberapa kali mendapat mimpi buruk di rumah itu membuat saya terbiasa menghidupkan murotal Quran dari selepas Isya sampai mendekati adzan Subuh. Dan tentu saja surah pavorit yang saya setel adalah Al Jin, Yaasiin dan Ar Rahman.
Sabtu, 23 Oktober 2010
Doa Hening
DOA HENING
Ya Allah…
Jadikanlah keheningan ini sebagai wasilah mengingatmu
Jadikanlah kesunyian ini sebagai momen mentafakuri kebesaranmu
Ya Rabb….
Bantulah diri ini agar senantiasa bersyukur atas nikmatMu
Atas anugerahMu yang selalu terlimpah…
Ya Allah….
Penuhilah dada ini dengan keimanan kepadaMu,
Isi lah hati ini dengan kesabaran atas QadlaMu
Tolong jaga hati ini
Agar senantiasa mengingatMu
Agar senantiasa ikhlas menjalani hidup ini
Semata mengharap keridhoanMu
Amin
Riam Kanan, Selasa 06 April 2010, 17:41 Wita
Membicarakan Model Pembelajaran
MEMBICARAKAN MODEL PEMBELAJARAN
DI WARUNG PINGGIR JALAN
Sekitar 10 bulan lalu saat masih mendiami kost di sekitar lingkungan Unlam, kami (saya, kakak sepupu, dan dua orang teman lainnya) kadang-kadang makan bareng di warung tenda pinggir jalan. Makan bareng dalam artian, salah satu dari kami mentraktir yang lainnya. Dan kakak sepupu saya yang paling sering melakukannya, alasannya tentu saja karena pendapatannya yang paling lumayan diantara kami.
Namun, menurut saya ada satu alasan lagi mengapa dia sering mentraktir kami, terutama saya adik sepupunya. Dia pernah berkata setelah mengikuti ritual makan bareng di warung untuk pertama kalinya, “mudah sekali membuat kalian bahagia”. Ya, saat itu ada nasi putih hangat, the es dingin, lele goreng yang masih berasap karena baru diangkat dari penggorengan, dan lalapan. Jenis lauk yang biasanya sama jumlahnya dengan jumlah kami yang melingkarinya dan kami seperti biasa saling berbagi. Sebenarnya, setelah seharian mengajar, kuliah, pengajian dan diskusi, dengan uang pas-pasan yang ada, ditraktir makan tentu hal yang menyenangkan bukan? Atau saat kita memiliki uang lebih, mentraktir teman-teman, memberi uang pada pengamen yang kadang tidak hapal lirik lagu juga segerombolan anak-anak lusuh yang tiba-tiba datang meminta receh adalah hal-hal kecil tapi bila dihayati cukup membahagiakan.
Suatu ketika, di bulan Desember, penghujung 2009 selesai mengikuti diklat guru mata pelajaran yang hamper seminggu saya ikuti, kami bertiga (saya, kakak sepupu saya, dan Amali) mengunjungi salah satu warung di pinggir jalan itu. Di acara makan bareng itu (ini adalah acara makan bareng terakhir kami sebelum pindah), seperti biasa kami berbagi cerita. Dengan bersemangat saya menceritakan pengalaman selama mengikuti diklat sekaligus mengutarakan pemikiran yang muncul dibenak. Saya menceritakan tentang model-model pembelajaran yang sekarang sedang giat digalakkan di sekolah-sekolah. Model-model pembelajaran yang mengkondisikan guru hanya sebagai fasilitator, model-model pembelajaran yang menurut pemikiran saya banyak menghabiskan waktu dan energy siswa untuk melakukan berbagai aktifitas penemuan sendiri.
Saya menceritakan itu, karena Amali yang juga telah berstatus guru, dulu mengambil mata kuliah yang sama dengan saya, Dari beberapa dosen, kami mendapat informasi tentang asal-usul aliran filsafat yang berkembang di dunia, asa-usul pemerolehan bahasa, teori-teori pembelajaran dan kami beberapa kali mendiskusikan tentang itu, membenturkannya dengan pemahaman keislaman yang kami miliki. Walau Kami bukan pakar pendidikan dan masih belajar, kami menemukan kesalahan-kesalahan mendasar.
Saya ceritakan masalah itu pada sepupu saya juga karena saya tahu dia kadang-kadang secara berkala berkunjung ke sekolah-sekolah di daerah yang sedang berusaha menjadi SBI (Sekolah Berstandar Internasional) untuk memberikan pelatihan-pelatihan tentang model pembelajaran. Jadi, pembicaraan itu menurut saya lumayan relevan, walau dibicarakan di warung kaki lima sekalipun, bahkan sambil memandang gelas yang tinggal menyisakan es batu saja.
Menjelang akhir makan bareng itu, saya membuat kesimpulan. Bahwa model-model pembelajaran yang seperti itu jika mendominasi proses belajar mengajar di sekolah, tidak akan membentuk atau menghasilkan anak didik dengan karakter seorang pemikir, seorang ahli sekelas mujtahid-mujtahid di jaman keemasan Islam. Bahkan bila model pembelajaran seperti itu diterapkan sejak dini, yaitu sejak pendidikan dasar, maka karakter seorang anak yang memiliki syaksiyah (pola piker dan pola sikap) Islam tidak akan terbentuk. Model-model pembelajaran yang bila dirunut berasal dari pemikir-pemikir atheis yang mengimani dialektika materialism, pemikir-pemikir sekuler yang hanya mengakui keberadaan Tuhan sebatas sebagai Pencipta bukan sebagai pembuat aturan di dunia. Pemikir-pemikir yang telah salah sejak awal, sejak mendefenisikan apa itu akal. Padahal akal adalah pusat terjadinya proses pembelajaran.
Tiba-tiba seorang ibu-ibu memberikan komentarnya, ibu-ibu itu mungkin berusia sekitar 4o tahun. Dia baru datang dan sedang menunggu makanannya yang sedang disiapkan pelayan warung. Saya tidak ingat redaksi, susunan kata-kata beliau, hanya maknanya kurang lebih bahwa kami salah dalam memahami akal (beliau menyamakan otak dengan akal),, menurutnya manusia memiliki otak kiri dan otak kanan yang memiliki keterkaitan dengan keterampilan motorik, keterampilan bahasa, dan lain-lain. Model-model pembelajaran menyesuaikan dengan itu.
Kami bertiga terdiam mendengarkan perkataan ibu itu. Setengah kaget juga, tidak menyangka akan ada yang tiba-tiba berfartisipasi dalam diskusi kami. Sebelumnya kami hanya mengira pelayan-pelayan warunglah yang menjadi pendengar setia kami . Saya berusaha keluar dari kekakuan itu sambil menganguk-angguk. “Pian ngajar dimana, Bu?” Beliau menyebutkan sebuah Sekolah Menengah Atas di Banjarmasin. Beliau selanjutnya mengatakan bahwa dipraktek mengajar selanjutnya kami akan lebih memahami tentang model-model pembelajaran.
Tanpa dikomando kami bertiga serempak mengangguk dan entah meringgis atau tersenyum berpamitan dengan ibu itu. Di luar tenda, ditempat parkir saya bertanya pada teman saya, Amali, “Ibu itu mengira kita mahasiswa ya?”
“Mahasiswa yang sedang mengambil matakuliah PPL.” Jawabnya sambil tekurihing (tersenyum).
Saat sepeda motor saya bawa melaju meninggalkan tempat itu, sepupu saya yang duduk di belakang berkata, “Ris, nanti-nanti kamu jangan seperti ibu tadi ya.” Saya mengiyakan, sambil memusatkan perhatian ke jalan yang terlihat remang-remang.
“Kalau ada forum yang kamu tidak ikut di dalamnya, atau ketemu orang-orang yang sedang ngobrol jangan langsung berkomentar, itu tidak sopan.” Lagi-lagi saya mengiyakan, Ibu tersebut memang tiba-tiba saja berkomentar, padahal beliau memiliki skemata yang berbeda dengan kami, dan mengira kami mahasiswa yang masih PPL.
DI WARUNG PINGGIR JALAN
Sekitar 10 bulan lalu saat masih mendiami kost di sekitar lingkungan Unlam, kami (saya, kakak sepupu, dan dua orang teman lainnya) kadang-kadang makan bareng di warung tenda pinggir jalan. Makan bareng dalam artian, salah satu dari kami mentraktir yang lainnya. Dan kakak sepupu saya yang paling sering melakukannya, alasannya tentu saja karena pendapatannya yang paling lumayan diantara kami.
Namun, menurut saya ada satu alasan lagi mengapa dia sering mentraktir kami, terutama saya adik sepupunya. Dia pernah berkata setelah mengikuti ritual makan bareng di warung untuk pertama kalinya, “mudah sekali membuat kalian bahagia”. Ya, saat itu ada nasi putih hangat, the es dingin, lele goreng yang masih berasap karena baru diangkat dari penggorengan, dan lalapan. Jenis lauk yang biasanya sama jumlahnya dengan jumlah kami yang melingkarinya dan kami seperti biasa saling berbagi. Sebenarnya, setelah seharian mengajar, kuliah, pengajian dan diskusi, dengan uang pas-pasan yang ada, ditraktir makan tentu hal yang menyenangkan bukan? Atau saat kita memiliki uang lebih, mentraktir teman-teman, memberi uang pada pengamen yang kadang tidak hapal lirik lagu juga segerombolan anak-anak lusuh yang tiba-tiba datang meminta receh adalah hal-hal kecil tapi bila dihayati cukup membahagiakan.
Suatu ketika, di bulan Desember, penghujung 2009 selesai mengikuti diklat guru mata pelajaran yang hamper seminggu saya ikuti, kami bertiga (saya, kakak sepupu saya, dan Amali) mengunjungi salah satu warung di pinggir jalan itu. Di acara makan bareng itu (ini adalah acara makan bareng terakhir kami sebelum pindah), seperti biasa kami berbagi cerita. Dengan bersemangat saya menceritakan pengalaman selama mengikuti diklat sekaligus mengutarakan pemikiran yang muncul dibenak. Saya menceritakan tentang model-model pembelajaran yang sekarang sedang giat digalakkan di sekolah-sekolah. Model-model pembelajaran yang mengkondisikan guru hanya sebagai fasilitator, model-model pembelajaran yang menurut pemikiran saya banyak menghabiskan waktu dan energy siswa untuk melakukan berbagai aktifitas penemuan sendiri.
Saya menceritakan itu, karena Amali yang juga telah berstatus guru, dulu mengambil mata kuliah yang sama dengan saya, Dari beberapa dosen, kami mendapat informasi tentang asal-usul aliran filsafat yang berkembang di dunia, asa-usul pemerolehan bahasa, teori-teori pembelajaran dan kami beberapa kali mendiskusikan tentang itu, membenturkannya dengan pemahaman keislaman yang kami miliki. Walau Kami bukan pakar pendidikan dan masih belajar, kami menemukan kesalahan-kesalahan mendasar.
Saya ceritakan masalah itu pada sepupu saya juga karena saya tahu dia kadang-kadang secara berkala berkunjung ke sekolah-sekolah di daerah yang sedang berusaha menjadi SBI (Sekolah Berstandar Internasional) untuk memberikan pelatihan-pelatihan tentang model pembelajaran. Jadi, pembicaraan itu menurut saya lumayan relevan, walau dibicarakan di warung kaki lima sekalipun, bahkan sambil memandang gelas yang tinggal menyisakan es batu saja.
Menjelang akhir makan bareng itu, saya membuat kesimpulan. Bahwa model-model pembelajaran yang seperti itu jika mendominasi proses belajar mengajar di sekolah, tidak akan membentuk atau menghasilkan anak didik dengan karakter seorang pemikir, seorang ahli sekelas mujtahid-mujtahid di jaman keemasan Islam. Bahkan bila model pembelajaran seperti itu diterapkan sejak dini, yaitu sejak pendidikan dasar, maka karakter seorang anak yang memiliki syaksiyah (pola piker dan pola sikap) Islam tidak akan terbentuk. Model-model pembelajaran yang bila dirunut berasal dari pemikir-pemikir atheis yang mengimani dialektika materialism, pemikir-pemikir sekuler yang hanya mengakui keberadaan Tuhan sebatas sebagai Pencipta bukan sebagai pembuat aturan di dunia. Pemikir-pemikir yang telah salah sejak awal, sejak mendefenisikan apa itu akal. Padahal akal adalah pusat terjadinya proses pembelajaran.
Tiba-tiba seorang ibu-ibu memberikan komentarnya, ibu-ibu itu mungkin berusia sekitar 4o tahun. Dia baru datang dan sedang menunggu makanannya yang sedang disiapkan pelayan warung. Saya tidak ingat redaksi, susunan kata-kata beliau, hanya maknanya kurang lebih bahwa kami salah dalam memahami akal (beliau menyamakan otak dengan akal),, menurutnya manusia memiliki otak kiri dan otak kanan yang memiliki keterkaitan dengan keterampilan motorik, keterampilan bahasa, dan lain-lain. Model-model pembelajaran menyesuaikan dengan itu.
Kami bertiga terdiam mendengarkan perkataan ibu itu. Setengah kaget juga, tidak menyangka akan ada yang tiba-tiba berfartisipasi dalam diskusi kami. Sebelumnya kami hanya mengira pelayan-pelayan warunglah yang menjadi pendengar setia kami . Saya berusaha keluar dari kekakuan itu sambil menganguk-angguk. “Pian ngajar dimana, Bu?” Beliau menyebutkan sebuah Sekolah Menengah Atas di Banjarmasin. Beliau selanjutnya mengatakan bahwa dipraktek mengajar selanjutnya kami akan lebih memahami tentang model-model pembelajaran.
Tanpa dikomando kami bertiga serempak mengangguk dan entah meringgis atau tersenyum berpamitan dengan ibu itu. Di luar tenda, ditempat parkir saya bertanya pada teman saya, Amali, “Ibu itu mengira kita mahasiswa ya?”
“Mahasiswa yang sedang mengambil matakuliah PPL.” Jawabnya sambil tekurihing (tersenyum).
Saat sepeda motor saya bawa melaju meninggalkan tempat itu, sepupu saya yang duduk di belakang berkata, “Ris, nanti-nanti kamu jangan seperti ibu tadi ya.” Saya mengiyakan, sambil memusatkan perhatian ke jalan yang terlihat remang-remang.
“Kalau ada forum yang kamu tidak ikut di dalamnya, atau ketemu orang-orang yang sedang ngobrol jangan langsung berkomentar, itu tidak sopan.” Lagi-lagi saya mengiyakan, Ibu tersebut memang tiba-tiba saja berkomentar, padahal beliau memiliki skemata yang berbeda dengan kami, dan mengira kami mahasiswa yang masih PPL.
Langganan:
Postingan (Atom)


