Kamis, 01 Oktober 2009

Sebelum Hujan Reda


Ini cerpenku yang kutulis tahun 2008 kemarin. Dimuat di Cakrawala Radar Banjarmasin satu minggu setelah



Sebelum Hujan Reda

(Oleh: Ana)

Wina, Tepi Sungai Martapura, 2008

Aliran sungai Martapura tampak lebih coklat dari biasanya. Hujan bulan Desember yang jatuh di atas tanah membawa debu-debu jalanan mengalir ke dalam sungai. Senja makin temaram. Sesaat lagi matahari akan tenggelam.

Dia masih duduk di situ. Segelas teh panas yang tadi dia pesan sejak 10 menit lalu telah dihabiskannya. Di luar warung tenda, hujan belum menampakkan tanda-tanda akan reda.

Berada di warung tenda ini sambil memandang derai hujan yang menyapu aliran sungai Martapura membuat ingatannya pada Sari semakin nyata. Delapan tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal dan berteman dengan seseorang. Sari pernah menjadi sahabat, tempat berbagi, dan seseorang yang selalu berusaha memenuhi keinginannya. Sayangnya, tahun-tahun terakhir dari kebersamaan mereka ada banyak luka yang menganga.

Walau begitu, tahun-tahun terakhir kebersamaan itu juga tidak bisa menghapus ingatannya pada tahun-tahun sebelumnya. Mereka begitu dekat. Hanya dengan saling menatap mereka akan tahu isi kepala masing-masing.

Jadi, mengapa harus malu? Mengapa merasa harga diri akan jatuh? Mengapa?

Perlahan dia mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas kerjanya. Beberapa saat dia hanya memandangi benda itu. Matanya terpejam, saat membuka, satu tetes air jatuh dari kelopak matanya.

***

….

Antara kita

Pernah terjalin sebuah ikatan

yang demikian kuat

Seperti halnya klorofil

yang membutuhkan matahari

Seperti halnya air mata

yang membutuhkan kelopak

untuk mengucurkan buliran-bulirannya (1)

Pelajaran Matematika, Suatu Siang, 2000

“Main yuk. SOS.”

“Nanti dimarahi Bapak Hadi. Kitakan duduk paling depan, beliau pasti melihat.”

“Beliau sedang tidak memakai kaca mata, jadi tidak akan melihat.”

“Maksudmu?”

“Aku sudah memperhatikan sejak beberapa minggu lalu. Mata beliau mengidap rabun dekat, hanya mampu mengamati anak-anak yang berada di urutan tiga ke belakang.”

“Tapi, aku belum mengerti hitungan matriks. Seumur-umur kemarin adalah pengalaman pertama aku ulangan dapat nilai nol.”

“Kemaren kamu bilang hanya suka matematika yang bisa dihitung pakai logika. Yang ada contoh realnya!”

“Iya deh. Kamu yang bikin kotak-kotaknya ya. Pakai bukumu. Kemarin sudah pakai bukuku.”

“Beres!” Kau tertawa sambil mengeluarkan kertas yang sedari tadi telah kau gambar. Kau mengajak dia bermain SOS, menyusun gambar dan tanda silang di kertas yang bermotif seperti papan catur itu.

Depan Kelas, Istirahat Kedua, 2001

Suasana mendadak gaduh. Semua berkumpul di depan kelas. Kau melihatnya tertelungkup di atas tanah. Segera kau membantu dia berdiri.

Di depanmu dan yang lainnya dia langsung menangis. Kerudung, baju putih dan rok abu-abunya kotor. Siku tangannya berdarah. Kau langsung mendatangi Edo yang mendorongnya. Tapi, Edo mengaku hanya ingin mengajaknya bercanda dan pura-pura ingin mendorongnya. Saat itu, dia tidak siap dan jatuh. Tentu saja kau tahu sebabnya, pastilah saat itu dia sedang melamun seperti biasa.

Kau perihatin padanya sekaligus ingin tertawa. Jatuh dari ketinggian 30 cm menurutmu bukanlah sebuah petaka yang harus membuatmu menangis sesegukan disaksikan tatapan seisi kelas.

Entahlah, kadang kau berfikir dia sangat kekanak-kanakan. Cengeng! pernah dia memintamu menyanyikan sebuah lagu, dan gilanya selagi kau menyanyikan lagu itu dia menangis di hadapanmu. Alasannya menurutmu sepele, lagu itu sesuai dengan suasana hatinya yang sedang patah hati. Rio teman sekelas kalian yang diam-diam ditaksirnya sejak kelas 1, hari itu resmi jadian dengan adik kelas kalian.

Taman Sekolah, Sehari Sebelum Libur Kenaikan Kelas, 2001

“Aku, Deri dan buhan anggota klub akan pergi besok sore. Kami pergi seminggu. Katamu kamu suka pohon dan rerumputan. Di sana pohonnya besar-besar. Kamu bisa memanjatnya.”

“Aku memang ingin sekali ikut. Dari dulu aku ingin sekali berkemah di pegunungan. Pasti pemandangannya bagus.”

“Memang. Dari atas pohon kau bisa memandang padang rumput berlatar langit kemerahan. Sambil membaca novel kesayanganmu atau menulis puisi. Ikut ya?”

“Orang rumah pasti menganggap itu terlalu berbahaya. Aku tidak akan diizinkan. Lagi pula, katamu kalian akan banyak latihan pernapasan. Aku tidak kuat lari. Suka batuk-batuk.”

“Hmm, kalau tidak jadi ikut tidak apa-apa. Mungkin lain kali kalau acaranya cuma piknik dan tidak nginap kamu bisa ikut. Mau kubawakan apa?”

“Gak ada edelweis ya?”

Kau tertawa mendengar pertanyaannya itu. Pasti dia terpengaruh isi cerpen tentang pendakian yang sering di bacanya.

“Setahuku gak ada. Tempat itu hanya perbukitan yang didominasi padang rumput, berbatasan langsung dengan hutan tropis Meratus. Edelweis perlu ketinggian tertentu, lagi pula emang di Kalimantan ada edelweis?”

“Gak tahu juga. Terserah aja deh. Apa saja, pokoknya harus ada oleh-oleh!”

Jalan A Yani KM 1, 2005

“Sampai di sini saja ya.” Kau hampir tidak tega mengatakan itu. Di hadapanmu matanya tampak berkaca-kaca. Sore itu tidak seperti biasanya di tengah perjalanan kau menepikan sepeda motor. Setelah menetralkan kecepatan kau serahkan stang sepeda motor padanya.

“Nggak bisakah kau mengantarku sampai depan komplek. Nanti kau bisa naik ojek atau angkot. Aku akan mengganti ongkosnya.” Suaranya terdengar memelas.

“Sorry, my mom is back. Aku harus menjemputnya di pelabuhan Trisakti. Sekarang.”

Di hadapanmu dia hanya diam. Matanya menatap kedua ujung sepatunya.

“Kamu sebenarnya bisa. Kamu hanya tidak ingin mencoba.” Selama hampir tiga tahun ini kalian berangkat dan pulang kuliah selalu bersama-sama. Dan itu sebenarnya sangat membantumu. Setidaknya kau tidak harus memusingkan biaya transportasi.

Dia hanya berani mengendarai sepeda motor di sepanjang komplek dan gang menuju rumahmu. Dari rumahmu menuju ke kampus yang memakan waktu 30 menit dan melewati pusat kota, dia tak pernah berani sendirian mengendarai sepeda motornya.

Kau pun sebenarnya selama ini ngeri membayangkan dia mengendarai sepeda motor itu sendirian. Kebiasaanya melamun seperti orang yang sedang trance, gerakannya yang tidak secepat cara berpikirnya membuatmu selama ini tidak yakin dia akan baik-baik saja bila mengendarai sepeda motor sendirian. Akan tetapi, hari ini ibumu kembali setelah 5 tahun kepergiannya menjadi TKI di luar negeri. Kau tidak bisa menunggu lagi, kerinduan yang kau tahan selama ini harus segera tertuntaskan

Dia masih diam saat kau menyeberang jalan. Bahkan saat angkot yang kau tumpangi berjalan dia masih diam di tempat. Hanya matanya yang berkaca-kaca mengikuti ke pergianmu.

***

Sari, Hulu Sungai Selatan, 2008

Hujan belum reda. Kau masih menatap ke luar jendela bis. Hujan membuat sisi jalan dipenuhi Lumpur.

Kau sebenarnya jarang sekali melamun. Menurutmu tidur lebih baik dari pada melamun. Akan tetapi hujan selalu menyeret ingatanmu pada Wina. Bahkan tadi, sebelum gerimis pertama jatuh, ingatanmu telah menghadirkan dirinya.

Entahlah… apakah mungkin karena dalam ingatanmu dia sangat menyukai hujan? Atau mungkin karena dia sering kali merengek meminta jangan berteduh setiap kali hujan turun saat kalian pulang kuliah.

Namun, kau juga tidak akan lupa tahun-tahun terakhir kebersamaan dengannya. Kau masih ingat saat pertama kali melihat perubahannya bukan?

Waktu itu, kira-kira 3 tahun yang lalu kau baru saja turun dari angkot, tepat di depan gerbang kampus. Namun, tiba-tiba kau terpaku. Kau hampir tidak percaya dengan apa yang saat itu kau lihat.

Tepat di tikungan Wina sedang mengendarai sepeda motor. Di belakangnya duduk Intan yang memangku gallon berisi air minum. Dia sendiri selain menyandang tas besar, diantara kedua lututnya mengapit kotak kardus. Sesekali terdengar obrolan yang diselingi derai tawa mereka.

Padahal, kau masih ingat keberanian yang dimilikinya setiap kali kau memintanya mengendarai sepeda motor di jalan raya. Kau masih ingat kejadian tiga bulan sebelumnya saat kau meninggalkannya ditengah jalan karena harus menjemput ibumu yang baru pulang setelah menjadi TKI di luar negeri.. Sejak itu pula selama 3 bulan kau tidak menemuinya karena harus mengurus warisan ayahmu di Kandangan.

Siangnya, beberapa jam setelah kau melihatnya membonceng Intan yang memangku gallon air minum, saat akan masuk ke ruang perkuliahan beberapa menit sebelum jadwal yang ditentukan, kau melihat dia duduk di urutan depan. Dia tampak seperti biasa, tenggelam dalam buku yang dibacanya.

“Masih kosongkan?” kau menyapa sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya.

“Sari, kau sudah pulang! Kok tidak ngasih kabar. Akukan bisa menjemputmu biar kita bisa berangkat ke kampus bareng.” Dia terlihat surprise saat menyadari keberadaanmu.

“Tadi aku tidak berangkat dari rumah. Dari kota Kandangan aku langsung kesini.”

“Oh, nanti pulangnya barengkan?”

“Ya,” kau berkata sambil memutar punggung untuk duduk dikursi di sebelahnya.

“Eemm, itu kursi untuk Intan. Katanya dia akan terlambat berapa menit.”

Kau tertegun. Entahlah, terasa ada sesuatu yang bergemuruh dalam dadamu. Sejak kapan dia lebih mementingkan orang lain dari pada dirimu?!

Dia mengedarkan pandangan, kemudian menunjuk salah satu kursi yang masih kosong di lajur kanan. “Di sebelah sana masih kosong.”

Kau berusaha untuk tersenyum. Lalu kau keluarkan sesuatu dari dalam tasmu.

“Di Kandangan aku sempat bertemu Deri. Dia titip salam padamu.”

Sekilas kau melihat wajahnya merona. Dan perasaan yang selama ini berusaha kau sembunyikan kembali terasa. Seperti ada yang menyayat pelan, perih.

“Dia juga titip ini untukmu.” Kau menyerahkan gelang dari bulatan kayu berukir bunga melati yang dititipkan Deri untuknya.

“Bilang ke dia, terima kasih.” Dia berkata sambil mengamati ukiran melati pada gelang itu.

“Bilang saja sendiri!” Katamu ketus. Kau baru menyadari nada suaramu yang kasar saat melihat raut wajahnya yang tampak kaget. “Untuk sementara aku tidak ikut latihan di Klub. Jadi, mungkin aku tidak akan bertemu dengannya dalam waktu dekat.”

“Maksudku, ya… kapan-kapan kalau kalian bertemu.” Dia nampak tidak nyaman. Ah, dia pasti membaca perasaanmu pada Deri. Dia sangat peka dan selalu sensitive, bahkan pada hal-hal yang sering kali luput dari perhatianmu.

Sorenya saat kuliah usai, seperti biasa kalian pulang bersama-sama. Seperti waktu-waktu sebelumnya, ekspresinya tidak berubah saat kau meminta dia yang memboncengmu. Dia menggeleng, menatapmu dengan mata putus asanya dan berkata bahwa lalu lintas membuatnya ngeri, bahwa dia merasa lebih nyaman ada di belakangmu. Dan seperti waktu-waktu sebelumnya kau memenuhi permintaannya. Namun, sepanjang perjalanan, kilasan peristiwa saat dia membonceng Intan yang membawa gallon air minum memenuhi ingatanmu.

Hari-hari berikutnya, minggu-minggu berikutnya kau mulai seperti tidak mengenalinya. Dia bukan dirinya. Dia berubah!

Biasanya dia hanya akan ikut atau melakukan kegiatan di luar rumah setelah memastikan bahwa kau akan ada bersamanya. Biasanya, setiap perkuliahan akan dimulai dia akan menyediakan 1 kursi kosong di sampingnya untuk kau tempati. Biasanya dia tidak akan pergi ke kampus dan mengendarai sepeda motor sendirian bila kau berhalangan mengikuti perkuliahan. Biasanya dia selalu bersedia menemanimu, menunggumu latihan bela diri di Klub. Dan biasanya setiap ulang tahunmu dia akan mengingat tanggalnya dan memberikan sesuatu sebagai wujud perhatiannya padamu.

Kau tidak tahu apa yang menyebabkan dia berubah. Kau hanya tahu bahwa Intan lah yang menjadi orang yang selalu ingin ditemuinya. Dan yang membuatmu sangat tidak mengerti adalah sikapnya pada intan. Dia mau, bersedia, melakukan hal-hal yang selama ini tak pernah berani dilakukannya ketika bersamamu.

Kau masih ingat pertengkaran yang kian mempertegas jurang diantara kalian bukan? Sore itu di halaman rumahmu saat kau menyerahkan stang sepeda motor dan bersiap-siap akan mengucapkan “Sampai ketemu besok,” dia tiba-tiba memanggil namamu.

“Kau ada mengirim SMS pada Deri?” Dia tampak ragu-ragu bertanya hal itu. Dia pernah mengirim SMS pada Deri dengan menggunakan telpon genggammu. Dan satu bulan kemudian kau juga mengirim SMS pada Deri, tetapi Deri mengira dialah yang menulis SMS itu.

“Ya, ada.”

“Dia mengira aku yang mengirim SMS itu.”

“Dia sempat menanyakan apakah yang mengirim SMS adalah kamu, kujawab bukan.”

Kemarahan tiba-tiba muncul dalam dadamu. Kau merasa tersinggung.

Kemudia pembicaraan itu berlanjut. Kau akhirnya menumpahkan kekesalan yang selama ini kau tahan. Kau mempertanyakan mengapa dia tak pernah mau memboncengmu. Mengapa dia hanya menyediakan kursi kosong saat kuliah untuk Intan, bahwa sikapnya itu sangat menyakitkan hatimu. Kau berterus terang bahwa dia baik sekali bersedia menjemputmu setiap pagi, tapi kau juga sebenarnya sangat kesal tiap kali dia lambat menjemputmu, yang membuat kalian selalu terlambat tiba di kampus. Di sela-sela tumpahan kekesalanmu dia memberikan alasan-alasan yang bukan menenangkanmu, melainkan makin membuatmu ingin menumpahkan kekesalan.

“Sari…,” Akhirnya, saat kau merasa mulai kehabisan kata-kata dan memilih kata yang ingin kau ucapkan, dia menyebut namamu pelan. Dia mendongak menatapmu, tampak ragu dengan apa yang akan dikatakannya.

“Berada di dekatmu membuatku selalu merasa aman. Selama ini setiap ada masalah selalu ada kamu yang akan menyelesaikannya. Saat aku merasa takut, aku tahu kamu pandai bela diri dan akan menjagaku. Saat aku tidak berani mengendarai sepeda motor di jalan raya, ada kamu yang pandai mengendarai sehingga aku dapat duduk tenang di belakangmu. Saat aku gaptek, ada kamu yang pandai mengoprasikan komputer dan mengetik cerpen-cerpenku. Dari dulu, sejak kita SMA kamu mengerti semuanya, semua yang tidak kuketahui, oderdil sepeda motor, kehidupan-kehidupan dan permasalahan orang dewasa, semuanya.” Dia berkata sambil menunduk.

“Tapi, sekarang aku sadar tidak selamanya kamu akan selalu ada untukku. Aku hanya mencari orang lain yang berada di dekatnya aku belajar merasakan eksistensi diriku. Aku merasa bukan apa-apa bila berada di dekatmu.”

Dia menyudahi perkataannya dengan menghembuskan napas pelan. Matanya mengerjap beberapa kali. Kau tahu dia berusaha untuk tidak menangis. Tapi gagal, saat dia akan kembali menunduk kau menangkap kilapan air mata di pipinya. Melihatnya seperti itu, kekesalan di hatimu mulai lenyap.

“Itu hanya perasaanmu. Kau tahu bukan, dari dulu aku merasa seperti dalam terowongan gelap. Aku harus meraba-raba. Tidak ada yang mengatakan ini benar atau itu salah padaku. Kadang aku merasa permasalahanku, tanggung jawabku, tidak seharusnya dibebankan untuk seusiaku. Selama ini cuma ada kamu yang bersedia mengkritikku, mencela atau memuji tindakkanku.”

Ya, selama ini saat kau berusaha bertahan dalam konflik yang melanda keluargamu, hanya dia yang biasanya mengingatkanmu, menegurmu, dan mengungkapkan ketidaksukaannya setiap kali kau melakukan hal-hal yang menurutnya tidak baik. Hanya saja sejak beberapa bulan ini kalian jarang sekali berbicara dari hati ke hati seperti dulu.

Sore itu, di depannya kau dapat menahan untuk tidak menangis. Dan setelah dia pulang kau mengira semuanya akan kembali seperti semula. Bahwa besok-besoknya kalian akan menjadi dua orang teman, sahabat seperti waktu-waktu dulu.

Ternyata, tidak. Dia tetap menjemputmu, memintamu memboncengnya setiap pergi dan pulang kuliah. Akan tetapi, kau tahu sejak sore itu kau kehilangan sosok yang selama ini menjadi temanmu. Dan ini adalah tahun kedua setelah Wisuda kalian. Hampir dua tahun kalian tidak bertemu.

Kau masih menatap ke luar jendela bis. Hujan belum menampakkan tanda-tanda akan reda. Sebentar lagi kau akan tiba di kota Kandangan. Kau memperbaiki posisi dudukmu sambil memejamkan mata. Sekarang kau ingin tidur.

Kau hampir terlelap saat telpon genggammu bergetar. Satu pesan masuk.

Apa kabar? Di Banjarmasin sedang hujan. Aku sekarang berteduh di warung tenda sungai Martapura yang dulu sering kita kunjungi. Aku merindukanmu.

Kau jarang sekali menangis. Menurutmu menangis membuatmu kehilangan kekuatan, lemah. Tapi kali ini, kau membiarkan air matamu jatuh menimpa telpon genggam di tanganmu.

Kau tidak akan menjawab SMS itu. Kau tidak akan menjawab SMS itu sekarang. Kau akan membiarkan Wina menunggu balasan darimu. Karena dengan cara itu kau berharap dia akan memikirkanmu lebih lama.

Ya, besok-besok atau minggu depan kau baru akan membalas SMS itu.

mendadak pada suatu masa

ketika hujan bertaburan

seperti halnya puisi

yang ditebarkan malaikat

di uuudara

bangunkan diri ini dengan cahya (2)

1: Bait puisi dalam musikalisasi puisi “Sahabat” karya anak2 Liberation Youth Bandung

2 : Bait lagu dalam musikalisasi puisi “Sahabat”

Untuk yang pernah sangat dekat: Semoga Allah selalu melimpahkan kebahagian atasmu, selalu.

Oktober-Desember 2008

Kamis, 24 September 2009

Curhat

Tadinya, aku mau menulis pengalaman pulkam pas liburan lebaran kemaren. Tapi, pas datang ke warnet, kata pamannya warnetnya sudah penuh. Padahal kedatanganku ini yang ke dua kalinya! Tadi siang juga datang tapi penuh. Karena males turun ke bawah, capek dan haus banget (lagi puasa, bayar denda Ramadhan kemaren), aku dan temanku duduk saja di depan warnet. Kurang 10 menit, penjaga warnet satunya datang. Kemudian setelah duduk beberapa menit, dia nyuruh masuk. Ternyata, bagian dalam ruangan yang ber AC, tadi sengaja gak di buka, mungkin karena listrik baru saja nyala. Nah, terus paman warnetnya wanti-wanti, "Sampe jam 6 saja ya. Abis itu tutup." :( Padahalkan sudah jam 5 lewat! Jadinya, mood nulisku jadi ilang! Tapi karena sudah niat dari awal mau ngisi tulisan di blog ini yah sudah aku tulis saja tulisan yang ngak perlu waktu lama dan ngak terlalu serius mikirnya. Apa ya...
Tadi sebelum ke sini aku ke toko buku islami, Al Azhar. Ngeliat-liat buku yang mungkin menarik, belum aku baca, aku belum punya, dan teman kostku juga belum punya (kedua teman kostku punya buku banyaaak banget! Sudut-sudut kost penuh dengan buku-buku mereka. Tidak jarang 1 buku ada tiga eksemplar, soalnya kami sama-sama pengen beli). Nah, tanpa sengaja aku melihat bagian VCD, tercantum nama Syaikh Sa'ad Al Ghamidy (penulisan namanya lupa, tadi VCD nya sudah aku taruh di kost) dan ada gambar orangnya. Dia Itukan yang suaranya sering aku putar di winamp komputer di kost. Walau di komputer ada beberapa orang pelantun Al Quran yang sering tersedia di winamp, Syaikh Sa'ad Al Ghamidy ini menurutku yang paling keren, apalagi pas beliau membaca surah An Nisa. Mendengarkannya membuat hati tenang. Dari pada mendengarkan lagu When a blind man cries-nya Deep Purple, kayaknya dengerin suaranya Syaikh ini lebih menenangkan, apalagi mendengarkannya pas lewat tengah malem. Nah, balik lagi ke VCD-nya, akhirnya VCD-nya aku beli. Isinya tentang wawancara dia dan kiat-kiat biar mudah menghapal al Quran beserta doa-doanya.
Sudah jam 6!

Selasa, 01 September 2009

Momen

(Ini esayku memperingati Maulid Nabi SAW. Dimuat di Radar Banjarmasin Agustus 2006)
Ekspresi Cinta Terhadap Rasulullah SAW
Oleh: Rismiyana*
Peradaban adalah sekumpulan pemahaman tentang kehidupan. Artinya peradaban adalah sekumpulan pemikiran yang sangat besar jumlahnya, yang mencakup berbagai aspek kehidupan maupun masyarakat, seperti pemerintahan, perekonomian, sosial, undang-undang, politik, kesenian, dan sebagainya.
Berdasarkan penyelidikan dan pembahasan ahli sejarah, pada suatu peradaban tidak pernah ditemukan periode tertentu yang dapat ditetapkan sebagai permulaan atau tanggal kelahiran peradaban tersebut. Tidak pula dapat ditentukan batas pemisah yang akan membedakan antara satu peradaban yang tenggelam dan yang baru muncul. Melainkan peradaban baru tersebut pasti mengalami keterpengaruhan dengan peradaban sebelumnya. Misalnya antara peradaban Asiria dan Babilonia, termasuk Sumeria begitu juga adanya keterpengaruhan peradaban Romawi terhadap peradaban Yunani, atau keterpengaruhan peradaban Yunani terhadap peradaban Mesir.
Demikian pula halnya akan peradaban Eropa pada abad pertengahan dengan peradaban Barat kontemporer “Liberalisme”. Termasuk pula keterpengaruhan antara peradaban Liberalisme dengan “peradaban terpimpin”-nya Komunisme, yang keterpengaruhan keduanya bersifat saling meniadakan, dalam arti saling bertolak belakang. Keduanya pun muncul setelah mengalami penguatan selama beberapa abad, setelah para filosof dan para pemikir mengonsepkan pandangan mereka satu demi satu.
Namun, untuk uraian di atas ada sebuah pengecualian, sebuah peradaban asing yang untuk tumbuh, berdiri tegak di atas pondasinya memerlukan periode yang sangat singkat dari sejarah manusia. Suatu peradaban yang memiliki bentuk ide maupun pola pemikiran khas (berbeda dengan yang lain), lahir tanpa banyak campur tangan pemikir dan filosof manapun.
Suatu peradaban yang menghimpun berbagai unsur medasar untuk menjelma menjadi sebuah peradaban yang sempurna dan lengkap, memiliki sistem peraturan dan metode tersendiri untuk mengatur hubungan diantara individu satu sama lain dalam sebuah masyarakat. Keberadaannya bukan sebagai hasil mencontoh keindahan peradaban sebelumnya bukan pula muncul dari warisan pemikir-pemikir dan filosof-filosof. Akan tetapi, peradaban ini lahir dari peristiwa sejarah tersendiri, yaitu turunnya al-Qur’an Karim, sebagai kitab yang menjadi dasar-dasar konsep peradaban tersebut.Peradaban tersebut adalah peradaban Islam.

Sebentuk Pertanyaan

Lalu siapakah gerangan manusia yang menjadi pengemban dan penyebar dari konsep-konsep peradaban tersebut? Seperti apakah dia? Bagaimana pengikut-pengikutnya seharusnya meneladaninya?
Sosok Muhammad Saw.
Bagi kaum muslim, Muhammad Saw. Jelas menempati posisi yang sangat istimewa. Beliaulah yang membawa risalah Islam yang diturunkan oleh Allah Swt. Dengan risalah yang diperjuangkan, diemban, dan diterapkan oleh Rasulullah Saw, Islam hadir menjadi sebuah peradaban ditengah-tengah umat manusia.
Rasulullah Saw.adalah pemimpin di segala bidang. Beliau adalah pemimpin umat di mesjid, di dalam pemerintahan, juga di medan pertempuran. Beliau adalah pendidik yang telah mengubah tingkah laku yang biadab dan jahiliy menjadi beradab dan terhormat. Beliau seorang politikus ahli siasat yang berhasil menyatukan suku-suku bangsa hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad. Beliau juga pemimpin ruhani daalam aktivitas peribadahan terhadap Allah yang telah membawa jiwa pengikutnya ke suasana ilahiyah.
Tentang bagaimana akhlak Rasulullah, para sahabat sendiri di zaman Rasulullah sendiri sulit menceritakannya. Seorang Yahudi pernah datang kepada Khalifah Umar bin Khaththab ra untuk bertanya tentang akhlak Rasulullah. Umar tidak mampu menjawabnya dan menyuruh Yahudi itu menemui Bilal ra. Bilal pun sama. Dia menyuruh Yahudi itu mendatangi Ali bin abi Thalib ra. yang sejak kecil sudah mengenal Rasulullah Saw. Bahkan ia sering tidur di rumah beliau. Ali malah balik bertanya kepada Yahudi itu, “Lukiskanlah keindahan dunia ini, akan aku gambarkan kepadamu akhlak Nabi Muhammad Saw.”
Laki-laki itu menyatakan ia tidak sanggup. Ali pun berkata, “Kamu tidak mampu melukiskan keindahan dunia ini, padahal Allah Swt. telah menyaksikan betapa kecilnya dunia ini ketika Dia berkata:Katakanlah: Keindahan dunia ini kecil. (TQS:an-Nisa:77).” Artinya, menggambarkan keindahan dunia yang sebenarnya kecil ini saja sulit, apalagi menggambarkan keluhuran dan kemuliaan Rasulullah Saw.
Bahkan para penulis non-Muslim pun-lepas bagaimana sikap mereka kepada Rasulullah Saw.-mengakui kebesaran Rasulullah sebagai, “Dia datang seperti sepercik sinar dari langit jatuh ke padang pasir yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir debu menjadi mesiu yang membakar angkasa sejak Delhi sampai Granada,” demikian yang ditulis Thomas Carlyle dalam On Heros and Hero Workship. Demikian juga Michael Hart dalam bukunya, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh di Dunia, ia menempatkan Rasulullah pada urutan pertama. “Dia adalah orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan manusia lebih dari Newton dan Yesus atau siapapun di dunia ini,” tulisnya.
Sikap Kita Meneladani Rasulullah Saw.
Bulan Rabiul Awal adalah bulan Rasulullah dilahirkan. Sebagian besar kaum muslimin menunjukkan ekspresi kecintaan mereka terhadap Rasulullah dengan cara memperingati hari lahirnya, yaitu Maulid-an. Di masyarakat kita juga, wujud kecintaan kita kepada Rasulullah dengan upaya meniru akhlak beliau.
Namun, apakah cukup dengan itu saja? Terkadang ada di antara kaum muslim ketika pelanggaran terhadap hukum syara’ terjadi, yang di bawa-bawa untuk melupakan pelanggaran tersebut adalah sifat Rasulullah yang pemaaf.
Demikian pula ketika Rasulullah dihina dengan menggambar karikatur beliau, dan menimbulkan gejolak, penyelesaian yang disodorkan adalah dengan membawa-bawa sifat Rasulullah yang pemaaf. Dan yang paling menyakitkan ketika negeri-negeri muslim seperti Afghanistan, Irak, diluluhlantakkan Amerika, kaum muslimin diserukan untuk hanya berdoa bersama untuk kemenangan saudara mereka yang dihina dan dianiaya sembari berkata, “Islam cinta damai, kita lebih baik memaknai jihad adalah bersungguh-sungguh bukan perang.”
Padahal Rasulullah ketika berada di Madinah menghadapi serangan kafir Qurais dari Mekah demikian serius mempersiapkan strategi perang, beliau meminta pendapat Hubab bin al-Mundzir tentang strategi yang terbaik, menatur pasukan dan mempersiapkan persenjataan yang terbaik. Kemudian setelah itu beliau baru masuk ke bangsalnya meminta pertolongan kepada Allah denan doa yang banyak sekali. Untuk mempertahankan Madinah beliau bekerja keras membangun parit (khandak). Dalam enam hari Rasulullah Saw turun langsung bercucuran keringat, dan bekerja keras; tidak hanya berdoa.
Selain itu, Rasulullah juga menyelesaikan kriminalitas di tengah-tengah masyarakat. Beliau tidak menyandarkan pada doa atau ibadah, apalagi pada seruan moralitas atau akhlak mereka. Rasulullah Saw memberikan sanksi hukum yang tegas atas pelakunya. Saat ada seorang wanita muda yanng cantik dan terhormat mencuri dan oleh peradilan diputuskan untuk dipotong tangannya, salah seorang sahabat mengusulkan agar sanksinya diubah dengan yang lain karena kasihan dan wanita itu adalah kalangan terhormat. Akan tetapi apa yang beliau katakan, bahwa seandainya Fatimah putri Rasulullah yang mencuri niscaya beliau akan tetap akan memotong tangannya. Karena memang ketika Allah telah menentukan suatu hukum baik status mengenai perbuatan atau benda, maka manusia tidak ada yang berhak mengubahnya sedikitpun apalagi membuat hukum baru.

Yang Semestinya

Saat ini di negeri-negeri muslim (bukan negara karena negara Islam saat ini tidak ada), peradaban yang dijalani oleh kaum muslim bukanlah peradaban Islam, melainkan peradaban kufur buah dari penerapan ideologi Kapitalis-Sekuler. Peradaban kufur tersebut (yaitu berupa sistem ekonomi kapitalis, sistem pemerintahan demokrasi, sistem hukum peninggaalan penjajah kolonial, sistem sosial yang liberal, sistem pendidikan yang sekuleristik, dll) yang seolah-olah telah menjadi lumpur keruh yang beracun, yang menggenang dalam sebuah lautan dan kaum muslim menjadi ikan pesakitan di dalamnya.
Untuk itu, tidak kah sebagai Muslim kita ingin kembali hidup dalam peradaban yang konsep-konsepnya diturunkan oleh Allah Swt.dan dibawakan oleh Rasulullah Saw untuk kita? Atau adakah yang lebih baik dari itu? Sesungguhnya seperti ikan yang memang semestinya berhabitat di dalam air sehat, demikian pula halnya kaum Muslim, habitat aslinya adalah Peradaban Islam. Dan kita tentunya memahami bahwa peradaban Islam hanya akan terwujud dalam suatu masyarakat islami dalam bingkai Khilafah Islamiyah.

*Mahasiswa PBSID FKIP Unlam &
SC BK LDK Unlam Korwil Kalimatan

Esay Tentang Sastra

(Ini esay yang aku tulis pas aku lagi suka menggunakan nama Rain Fajar. Waktu itu aku lagi ngebet banget dengan buku Tafkir atau Hakikat Berpikir karyanya Syaikh Taqiyuddin An Nabhani . aku kirim ke Cakrawala Radar Bjm, tanggal 22 Mei 2006 dan kira2 sehari atau seminggu setelahnya dimuat di Cakrawala.)


Sebuah Karya Sastra Saja
(Rain Fajar*)
“Beapaan ke situ, beli buku yang ada manfaatnya!”
Begitulah komentar seorang ibu di toko buku dalam salah satu pusat perbelanjaan di kota ini. Ibu yang saya taksir berusia 45 tahun itu berkata pada remaja putri yang berjalan bersamanya. Remaja putri itu (saya yakin anaknya, karena wajah keduanya mirip) baru saja dengan ekspresi ceria berjalan ke arah saya yang saat itu sedang melihat-lihat novel baru. Sebelum mendengar perkataan ibunya, matanya berbinar saat melihat ke rak-rak novel remaja di hadapan saya.
Saat mendengar perkataan ibu disampingnya itu, serta merta ia menghentikan langkah, memandang kepada saya sesaat. Lalu sambil menunduk ia berbalik mengikuti ibunya.
Tanpa perlu uraian panjang lebar melalui analisis wacana, tentu komentar ibu tersebut dapat kita pahami maksudnya. Bahwa ia beranggapan membeli novel untuk dibaca adalah perbuatan yang tidak ada manfaatnya sama sekali, sia-sia saja.
Komentar ibu tersebut pastilah memiliki latar belakang anggapan. Ada alasan mengapa ia sampai berkata seperti itu. Mungkin ia beranggapan bahwa novel hanyalah buku yang berisi cerita khayalan, fiksi, bukan kenyatan yang sebenarnya. Sehingga membeli novel; buang-buang uang saja. Membaca novel hanya menghabiskan waktu, membuat si pembaca tenggelam dalam khayalan. Novel baginya berbeda dengan buku matematika, IPA, IPS, yang berisi pemahaman ilmiah, yang dengan membacanya seseorang akan bertambah pintar.
Namun, bagi kita yang sering membeli novel, memanfaatkan waktu berjam-jam untuk membaca novel. Atau malah berprofesi/bercita-cita sebagai penulis novel, tidak usah berkecil hati. Cerita tentang ibu dan seorang remaja putri di atas hanya salah satu dari fakta yang ada. Masih ada fakta lain yang memperlihatkan sikap berbeda terhadap novel.
Salah seorang tetangga saya, yang sekarang menjadi teman dekat saya adalah seorang ibu-ibu. Usianya 4 tahun dan memiliki tiga orang anak. Anak pertama, seorang remaja putri, dua adiknya laki-laki.
Berbeda dengan ibu yang saya ceritkan di awal tulisan, ibu yang menjadi teman saya itu begitu antusias; tidak hanya memberikan novel, mendorong anaknya untuk membaca novel Islami, ia juga memdfasilitasi agar anaknya menghasilkan karya apakah puisi atau esai. Memang saat ini ketiga anaknya belum ada yang menulis novel, tapi itu karena mereka masih memiliki kemampuan terbatas dalam menulis. Suatu saat saya yakin ia ingin anak-anaknya itu minimal salah satu dari mereka dapat menulis sebuah karya, berupa novel.
Dari percakapan-percakapan kami, saya ketahui pendapatnya terhadap novel (tentu saja novel yang bersifat mendidik). Bahwa menurutnya, dengan membaca novel seseorang akan belajar tentang kehidupan, mengetahui banyak tentang sifat-sifat manusia, mematangkan emosi, memperluas wawasan. Begitulah….

Peta Perjalanan Hidup

Dalam sebuah esai di majalah favorit saya, diceritakan bahwa penulis esai itu sangat mencintai buku terutama novel: Musashi. Dijelaskannya novel tebal karya Eiji Yoshikawa tersebut dijadikan ‘kitab’ psikologi yang memberikan pencerahan kepada tokoh-tokoh spiritual seperti Gede Prama dan Sindunatha. Dijelaskannya lagi, menamatkan novel Musashi merupakan suatu pencapaian ambisius prestisius. Membaca Musashi seperti halnya memasuki pusaran waktu, seperti masuk ke dalam noktah di penghujung umur alam semesta. Maka setelah menyengajakan diri terserap ke dalam novel tersebut selama beberapa hari (novelnya tebel banget sih!), tiba-tiba saat dia selesai membaca novel tersebut, benar-benar kembali ke alam nyata, kehidupan ini menjadi begitu menakjubkan. Dan saya menyetujui apa yang dia tuliskan karena saat saya menamatkan novel tersebut, saya merasakan hal yang serupa.
Menurut penulis esai tersebut, ia merasa betapa kuatnya pengaruh novel yang ia selesaikan selama tujuh hari itu. Ketika berjalan-jalan menuju sebuah air terjun di Bogor, ia mengkhayalkan keindahan alam berupa makro kosmos (alam semesta) dan keindahan mikro kosmos (petani yang bercocok tanam, rumah-rumah beratap rumbia dan tegalan yang masih basah oleh hujan) seolah-olah memiliki ruang waktu yang sama ketika Tokugawa berkuasa. Padahal dia berada di Indonesia! Abad 21!
Dalam novel Musashi tersebut ia belajar tentang pemetaan kondisi manusia yang dituliskan Yoshikawa, bahwa: jika manusia memiliki keselarasan antara hati dan pikirannya maka ia mejadi individu yang berkarakter, individu yang merdeka. Sehingga setalah menamatkan novel itu ia berani tampil beda, merdeka, bebas dari anggapan orang lain, yaitu dalam hal-hal yang memang tidak bertentangan dengan hukum syara.
Dari fakta yang dialami penulis esai tersebut, si Divan, saya semakin meyakini bahwa dengan membeca novel (tertentu), kita sebagai pembaca dapat memiliki pandangan, wawasan yang lebih luas saat memandang manusia, alam semesta, dan kehidupan yang ada di sekeliling kita.

Karya Sastra Sebagai Hasil Berpikir Serius

An-Nabhani dalam Hakekat Berpikir (Tafkir) menjelaskan bahwa, “Keseriusan (dalam berpikir) adalah adanya maksud, (dan) adanya usaha untuk merealisasikan maksud tersebut, disertai dengan adanya gambaran yang baik tentang fakta yang dipikirkan”. Dengan kata lain, keseriusan dalam berpikir itu ditandai dengan adanya objek yang dipikirkan, tujuan dan usaha yang ‘nyambung’ atau dapat menghantarkan apa yang dipikirkan pada tujuan yang diinginkan (hasil).
Oleh karena itu, ia mengkategorikan, pada sastrawan-sastrawan tertentu terjadi aktivitas berpikir serius. Ini dikarenakan, walaupun objek yang ditulis oleh para sastrawan adalah terkadang sesuatu yang bersifat simbol/perlambang saja, mereka menempuh usaha untuk mewujudkan tujuan yaitu membuat orang yang membaca karyanya terkesan, tergerak hati dan akalnya. Usaha yang mereka tempuh antara lain dengan merenungkan, memilih kata-kata yang indah, yang mampu mengerakkan hati dan akal pembaca. Dan hasil berpikirnya adalah sesuatu yang memiliki fakta: sebuah karya sastra.

Arti Karya Bagi Sastrawan

Sastrawan (dalam tulisan ini adalah orang yang menghasilkan karya sastra) ketika mencari, menemukan inspirasi, memilih kata-kata yang ia anggap mampu mengeluarkan kesan yang sastrawi, mampu membangkitkan perasaan, menggerakkan akal pembaca, semua proses kreatif itu adalah usaha yang mereka tempuh untuk menghasilkan sebuah karya sastra. Karya sastra tersebut dapat berupa novel, cerpen, dan puisi. Bahkan dapat diumpamakan novel, cerpen, dan puisi adalah anak yang telah dengan susah payah dirawat hingga tumbuh menjadi cantik, indah oleh sang sastrawan. Untuk kemudian barulah dapat disaksikan oleh khalayak ramai. Apabila anak yang telah dilepas itu dikritisi oleh orang lain sebagai karya yang jelek, tidak indah, belum sempurna, walaupun dengan rasa kecewa Sang Sastrawan akan berusaha menerima dan berusaha menciptakan karya yang lebih baik lagi. Namun, apabila anak yang dilepasnya itu: dianiaya hingga lebam, berdarah-darah, dipotong-potong, kemudian bagian-bagian yang terpotong-potong itu disambung dengan posisi yang berbeda dengan posisi semula adalah wajar Sang Sastrawan menjadi marah, kecewa, bahkan terluka. Tapi,… bila orang yang ingin mengadakan mutilasi tersebut sebelumnya minta izin terlebih dahulu kepada Sang Sastrawan mungkin akan berbeda (?).
Akhirnya, tidak lain tidak bukan, tulisan ini adalah wujud kecintaan saya pada sastra. Semoga karya-karya yang akan dihasilkan oleh para sastrawan adalah karya sastra yang mampu membangkitkan hati, menggerakkan akal kita, para pembacanya. Sehingga kita senantiasa ingat akan tujuan penciptaan kita oleh Dia, Sang Pencipta.
*Penyuka sastra tinggal di Bajarmasin

Minggu, 16 Agustus 2009

Pemimpin Terbaik dari Guru Terbaik

Pemimpin Terbaik dari Guru Terbaik.
(Oleh: Rismiyana)
Guru dan murid adalah dua pihak yang saling membutuhkan. Seseorang baru bisa menjadi guru apabila dia memiliki seorang murid yang menyerap, menimba ilmu, dan belajar tentang sesuatu darinya. Seorang murid pun demikian, dia baru bisa menjadi atau memegang predikat sebagai seorang murid bila memiliki seorang guru yang memberikan ilmu pengetahuan pada dirinya.
Dalam hubungan mereka, guru dan murid saling timbal balik. Harus ada kesediaan memberi dan menerima pada diri kedua belah pihak. Seorang guru terlebih dahulu harus menerima dan menyadari kedudukannya sebagai pentransfer ilmu dan pendidik bagi muridnya. Dia menerima, memahami baik karakter pribadi maupun kondisi murid yang akan didiknya. Dia pun dengan ikhlas mentransfer pengetahuan yang dimilikinya, meluruskan pribadi yang terus tumbuh dalam diri muridnya tersebut.
Seorang murid pun demikian, harus ada kerelaan dalam dirinya untuk menerima ilmu dan didikan dari gurunya. Harus ada kesediaan untuk memberikan pehatian, konsentrasi, kepatuhan pada apa yang diajarkan oleh gurunya. Walau mungkin pada tahap awal, guru lah yang memiliki peran besar untuk membentuk kesediaan menerima dan memberi dalam diri muridnya itu.
Kesuksesan seorang guru dapat diukur dengan melihat kualitas murid yang telah dia didik. Semakin bagus kualitas pribadi yang terbentuk pada seorang murid berarti semakin bagus pula kualitas guru yang mendidik murid tersebut.
Dalam sejarah Islam kita mengenal Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel. Dialah yang membuka jalan masuknya dakwah Islam ke benua Eropa. Bagaimana sosok Al Fatih dan guru yang senantiasa mendidik dan mendampinginya adalah hal yang dapat dipelajari untuk dijadikan teladan dalam membentuk hubungan antara guru dan murid.
Muhammad Al Fatih Penakluk Kota Konstantinopel
Pada masa permulaannya, Islam muncul dan disebarkan di pedalaman Arab di Mekkah, kota gurun yang gersang. Pada saat itu telah berdiri imperium Byzantium yang beribukota Konstantinopel, kota yang pada saat itu dianggap sebagai kota paling strategis di dunia.
Beberapa tahun dari awal kemunculan Islam, setelah melakukan Hijrah ke Madinah, pada saat terjadi Perang Khandak (parit), Rasulullah Saw. mengabarkan sebuah kabar gembira, “Konstantinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik pemimpin (penguasa) dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara.”
Sejak itu hingga berabad-abad kemudian pemimpin kaum muslimin dan pasukannya berlomba untuk merealisasikan kabar gembira tersebut. Mereka ingin mewujudkan diri untuk menjadi sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik tentara yang telah dijanjikan Rasulullah Saw tersebut.
Seiring bergulirnya waktu, kepemimpinan umat Islam terus mengalami pergantian. Setelah Rasulullah Saw. wafat, para khalifah setelahnya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bergantian melanjutkan kepemimpinan terhadap kaum muslimin. Setelah masa Khulafahurrasyidin itu, wilayah kekhilafaan Islam terus berkembang diatas kendali bani Umayah. Kemudian, setelah Kekhilafaan Umayah melemah, muncul bani Abbasiyah yang memegang tampuk kekhilafaan menjadi pusat peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan di dunia. Setelah serangan tentara Tar-Tar yang melemahkan pemerintahan Abbasiyah, muncul bani Utsmani yang menduduki kekhilafaan, memimpin kaum muslimin menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Demikianlah….
Di antara pemimpin-pemimpin kaum muslimin itu, silih berganti membawa maupun mengirim pasukan untuk menaklukkan Konstantinopel. Mereka ingin mewujudkan diri sebagai pemimpin terbaik yang dikabarkan Rasulullah. Dan Muhammad Al Fatih atau dikenal dengan Sultan Mehmed II adalah salah satunya.
Dalam buku “Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmani” disebutkan bahwa Al Fatih adalah pemimpin yag cerdas, pemberani, dan berpendirian teguh. Bagaimanapun kota Konstantinopel pada saat itu adalah kota yang dilihat dari segi pertahanan militer merupakan kota paling strategis di dunia. Pertahanan alami dan benteng-benteng disekelilingnya seolah tidak memungkinkan untuk dikalahkan baik dengan pasukan berkuda lewat darat ataupun armada kapal perang lewat jalan laut.
Dikatakan bahwa, “Kota Konstantinopel dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus, laut Marmarah, dan Tanduk Emas yang dijaga dengan menggunakan rantai yag demikian besar, hingga sangat tidak memungkinkan untuk masuknya kapal ke dalamnya. Disamping itu, dari daratan juga dijaga pagar-pagar yang sangat kokoh yang terbentang dari laut Marmarah hingga Tanduk Emas yang hanya diselingi oleh sungai Likus. Di antara dua pagar, terdapat ruang kosong yang berkisar sekotar 60 kaki, sedangkan bagian dalamnya ada sekitar 40 kaki dan memiliki satu menara dengan ketinggian 60 kaki benteng setinggi 60 kaki. Sedangkan pagar bagian luarnya memiliki ketinggian sekitar 25 kaki, selain tower-tower pemantau yang terpancar dan dipenuhi tentara pengawas”
Namun, Al Fatih yang cerdas benar-benar meneguhkan pendiriannya untuk mewujudkan dirinya sebagai laki-laki terbaik yang pernah diberitakan Rasulullah Saw. Dengan kecemerlangan berfikirnya dia membuat strategi perang yang jenius. Dia memerintahkan pasukannya untuk meratakan tanah pegunungan yang belum terjamah manusia, dengan kayu-kayu yang dilapisi lemak, kapal-kapal armada perang pasukannya ditarik melintasi jarak 3 mil dan dilabuhkan di Tanduk Emas. Dalam satu malam lebih dari 70 kapal berhasil dipindahkan.
Seorang ahli sejarah Byzantium bahkan mengatakan, “Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al Fatih, telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang. Sungguh perbuatannya ini jauh melebihi apa yang dilakukan oleh Iskandar yang Agung.”
Tidak berhenti di situ saja, selain perang urat syaraf saat melakukan pengepungan, dari luar benteng-benteng yang mengelilingi kota, Al Fatih dan pasukannya membuat strategi baru yaitu memerintahkan pasukannya menggali banyak terowongan untuk dapat masuk ke dalam kota.
Akhirnya, Selasa 29 Mei 1453 M bertepatan dengan 20 Jumadil Ula 857 H, 800 tahun lebih setelah kabar yang dijanjikan, Muhammad Al Fatih berhasil menaklukan Konstantinopel. Pada hari penaklukan itu dia berjalan berkeliling untuk menemui pasukannya dan panglima-panglima perangnya yang selalu mengucapkan, “Masyaallah”. Al Fatih menoleh pada mereka dan mengucapkan, “Kalian telah menjadi orang-orang yang mampu menaklukkan kota Konstantinopel yang telah Rasulullah kabarkan.” Dia mengucapkan selamat pada pasukannya, melarang mereka membunuh rakyat sipil, berpesan agar mereka berlaku lembut pada semua manusia dan berbuat baik pada mereka. Kemudian Al Fatih turun dari kudanya dan bersujud kepada Allah sebagai ungkapan syukur dan pujian serta bentuk kerendahan diri di hadapan-Nya.
Sosok Guru Terbaik
Muhammad Al Fatih berhasil mewujudkan dirinya sebagai laki-laki yang dikabarkan Rasulullah sebagai penakluk Konstantinopel dan menjadi pemimpin terbaik di sana. Seperti apakah pendidikan yang diperolehnya sehingga dia menjadi pemimpin yang cerdas, pemberani, tak kenal menyerah dan tawaduk? Siapakah yang membentuk sosoknya sehingga menjadi seperti itu?
Al Fatih adalah anak dari Murad II. Sewaktu bocah, ayahnya telah mendatangkan sejumlah pengajar padanya, namun ia tidak menaati perintah guru-gurunya. Bahkan dia tidak membaca apapun hingga tidak mampu menghatamkan Al Quran. Melihat kelakuan anaknya itu, Sultan Murad II mencari informasi tentang siapa di antara guru yang memiliki kharisma dan sifat tegas. Orang-orang menyebutkan nama Al-Kurani yang bernama lengkap Ahmad bin Ismail Al-Kurani, seorang ulama yang banyak memiliki keutamaan. Maka Murad II mengangkat Al-Kurani menjadi pengajar anaknya dan memberinya tongkat yang bisa dipergunakan, jika anaknya tidak menaati perintahnya..
Menerima mandat demikian maka Al-Kurani pergi menemui murid barunya dengan memegang tongkat di tangannya. “Ayahmu menyuruhku datang menemuimu untuk mengajarimu. Jika kamu tidak menurut apa yang aku katakan, maka kamu akan mendapat pukulan.” Mendengar itu Muhammad Khan (Al Fatih) tertawa dan Al-Kurani memukulnya di majelis itu dengan pukulan yang keras, hingga membuat Muhammad Khan jera. Akibatnya, dalam jangka waktu yang sangat pendek dia mampu mengkhatamkan Al Quran.
Dengan ketegasan yang dimilikinya Al Kurani mampu meluruskan pribadi dalam diri anak didiknya. Al Kurani juga tidak pernah merundukkan kepalanya di hadapan muridnya itu dan hanya memanggil nama tanpa gelar. Setiap bertemu Muhammad Khan selalu mencium tangan gurunya itu tanda hormat.
Kemudian hadir untuk Muhammad Khan seorang guru yang akan sangat berpengaruh dalam hidupnya. Guru tersebut bernama Muhammad bin Hamzah Al-Dimasyiqi Ar-rumi atau yang sering dipanggil Syaikh Aaq Syamsuddin. Dia adalah guru yang mengajar Quran, Sunah Nabawiyah, Fikih, bahasa-bahasa (Arab, Persia dan Turki), Ilmu Hitung, Falak, Sejarah, Seni Perang, Tata Cara Pemerintahan, dan Pokok-Pokok Pemerintahan.
Syaikh Aaq selalu meyakinkan Muhammad Khan kecil, bahwa yang dimaksud dengan hadits Rasulullah yang berbunyi, “Konstantinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik pemimpin (penguasa) dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara,” adalah dirinya. Beliau pula yang mendorong dan memotivasi untuk menaklukkan Konstantinopel.
Pada serangan pertama, tatkala orang-orang Byzantium berhasil memenangkan peperangan dan Al Fatih merasa tidak yakin dan ragu-ragu, Aaq Syamsuddin berkata, “Pasti Allah akan memberikan kemenangan.” Saat Al Fatih masih dilanda keragu-raguan beliau menulis pesan untuk al Fatih, “…. Sesungguhnya masalah yang pasti adalah ahwasanya seorang hamba itu sekadar merancang, sedangkan yang menentukan adalah Allah…. Kita telah berserah pada Allah dan ketentuan kita telah membaca Al Quran. Itu semua tak lebih dari rasa kantuk di dalam tidur setelah ini. Sesungguhnya telah terjadi kelemutan kekuasaan Allah, dan muncullah kabar gembira- kabar gembira tentang kemenangan itu, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Membaca pesan itu Al Fatih dan pasukannya merasa ringan, tenang dan kembali termotivasi. Al Fatih sendiri kemudian pergi ke kemah gurunya itu dan meminta diajari sebuah doa untuk meraih kemenangan.
Saat dilancarkan serangan berikutnya Al Fatih menginginkan guruya berada di sampingnya. Untuk itu dia segera mengutus seseorang untuk menjemputnya. Akan tetapi Syaikh Aaq telah berpesan tidak ada yang boleh memasuki kemahnya. Al Fatih pun marah dia mendatangi kemah gurunya, saat penjaga kemah melarangnya masuk, dengan pedang disobeknya sisi kemah itu. Ternyata yang dilihatnya adalah gurunya tersebut sedang bersujud kepada Allah dalam sebuah sujud yang sangat panjang. Sorbannya terlepas dari kepalanya sehingga membuat rambutnya yag putih memantul sinar laksana cahaya. Kemudian Al Fatih melihat sang Guru bangkit dari sujudnya dengan air mata berlinangan dari kedua pipinya. Dia telah bermunajat pada Tuhan-Nyadan memohon pada-Nya agar kemenangan dikaruniakan dan dia meminta penakluka kota dalam jangka waktu dekat. Al Fatih kembali pada pasukannya. Dia saksikan bagaimana pasukannya telah berhasil melobangi benteng-benteng musuh.
Saat penaklukan terjadi, dalam kegembiraannya Al Fatih berkata, “Kegembiraan saya bukan karena penaklukan kota ini. Namun kegembiraan saya adalah karena adanya laki-laki ini (maksudnya Syaikh Aaq Syamsuddin) di zaman saya.”. Gurunya itu lah yang menasehatinya untuk memberikan hak-hak kaum yang ditaklukkan sebagaimana yang diatur dalam syariat Islam.
Hubungan antara kedua guru dan murid, antara Syaikh Aaq dan Al Fatih tergambar pada percakapan keduanya setelah penaklukan Konstantinopel. Saat itu Al Fatih datang ke kemah gurunya. Al Fatih menghampiri gurunya yang tengah berbarig dan mencium tangan gurunya itu.
“Saya datang menemuimu utuk sebuah keperluan.”
“Keperluan apakah itu?” Tanya Syaikh.
Al Fatih mengatakan keinginannya untuk bercakap-cakap dengan gurunya dalam keadaan berdua saja, sebagaimana halnya percakapan antara guru dan murid, “Bagaimana jika saya masuk bersama dalam keadaan hanya berdua?”
Namun Syaikh menolak dan Al Fatih memaksanya terus menerus. Namun Syaikh selalu berkata, “Tidak!”
Maka Al Fatih pun marah dan berkata, “Sesungguhnya telah datang padamu salah seorang dari orang-orang Turki, dan kau masukkan dia sendirian, namun tatkala saya datang kau menolak melakukan itu.”
Maka Syaikh berkata, “Sesungguhnya jika engkau masuk padaku sendirian, maka kamu akan merasakan satu kenikmatan sehingga kesultanan akan jatuh dalam pandangan kedua matamu dan akan berantakanlah perkaranya, dan Allah akan murka kepada kita semua. Sedangkan maksud dari menyendiri itu adalah agar timbul rasa keadilan. Maka hendaklah engkau melakukan demikian dan demikian…” Syaikh memberikan nasihat padanya.
Al Fatih memberikan pada gurunya uang sebanyak seribu dinar. Namun tidak diterima gurunya. Maka tatkala keluar dari kemah gurunya itu dengan sedih Al Fatih berkata pada pembantunya, “Syaikh tidak berdiri untukku.”
Pembantunya itu berusaha menghiburnya dengan berkata, “Mungkin dia melihat dalam dirimu perasaan sombong karena penaklukan kota ini, yang sebelumnya tidak bisa dilakukan oleh para sultan yang lain. Dengan demikian dia menginginkan untuk menghapus agar rasa sombong itu hilang darimu….”
Aaq Syamsudin adalah guru yang telah membentuk priadi Al Fatih. Dia adalah ulama pertama yang menyampaikan khutbah di Aya Sofia. Dan dialah orang pertama yang mendefinisikan kuman penyakit, pada abad kelima belas Masehi, empat abad sebelum ahli kimia dan biologi dari Perancis, Louis Pasteur melakukan penelitian yang sama.
Demikianlah dua pihak, guru dan murid. Guru terbaik yang menghasilkan murid terbaik, pemimpin terbaik.
Menjadi Guru Terbaik
Untuk menjadi guru terbaik, ‘terbaik’ dalam arti berkedudukan paling baik diantara guru lainnya mungkin akan sangat sulit kita realisasikan pada diri kita. Akan tetapi menjadi guru terbaik, ‘terbaik’ dalam arti memaksimalkan potensi yang ada dalam diri kita serta memaksimalkan usaha kita dalam mentransfer pengetahuan, pemikiran, dan pemahaman yang kita miliki kepada murid kita, walau cukup sulit namun dengan usaha yang sungguh-sungguh tentu dapat kita wujudkan. InsyaAllah!
(Separuh tulisan ini, bagian awal, kutulis di kapal saat mengarungi waduk Riam Kanan ketika berangkat dari Rantau Bujur menuju kembali ke Banjarmasin, 31 Juli-16 Agustus 09))

Bukit Sinyal


Bukit Sinyal

(artikel yang kutulis dan kujadikan bahan mading di SMPN 4 Aranio)

Bukit itu berjarak sekitar 300 M dari SMPN 4 Aranio. Bila diukur dari sungai yang mengalir di bawahnya, tinggi bukit itu tidak kurang 300 M. Saat kau berdiri di puncaknya, arahkan pandanganmu ke sebelah Barat, maka akan terhampar pegunungan Maratus yang hijau tua di kejauhan. Atau arahkan juga pandanganmu ke sebelah Timur, kira-kira 3 Km dari tempatmu berdiri, gunung Pahyangan yang terlihat persegi, berdiri kokoh dengan perwajahan geografisnya yang eksotis.

Pada saat musim tanam, di atas bukit ini akan kau jumpai rumpun-rumpun padi mulai menghijau. Tiga bulan setelah itu, bulir-bulir padi yang menguning, suara gemerisik rumpun-rumpun padi yang telah menjadi jerami coklat, dan bau gabah akan menajamkan panca indramu.

Dua bulan setelah musim panen itu, saat rumput-rumput tumbuh meninggi, tangkai-tangkai bunga liar yang menjulur setinggi 2 M bergoyang diterpa angin, kau bisa berdiri di tengah-tengah bukit itu. Sebaiknya, kau hadapkan tubuhmu ke Barat Laut, agak membelakangi gunung Pahyangan. Setelah itu aktifkan telepon genggammu! Kau dapat mengirim SMS, menelpon, membuka email, chatting, atau mendownload game dari telepon genggammu.

Bila kau merasa udara terlalu panas dan sinar matahari sore membuatmu gerah, kau dapat berteduh di gubuk kecil di tengah puncak bukit itu. Sambil duduk atau rebahan, kau tinggal menempelkan telepon genggammu di dinding gubuk. Bila koordinat telepon genggammu tepat, maka tanda sinyal akan segera muncul. Gunakan telepon genggam seperlumu.

Ya! Di atas bukit itu kau akan menemukan sinyal GSM beberapa operator telepon genggam. Sinyal yang tidak akan kau temukan di tempat lain di Desa Rantau Bujur!

Sabtu, 25 Juli 2009

Mengkonstruksi Kebahagiaan

Mengkonstruksi Kebahagiaan
(Diselesaikan tanggal 6, September 2006)
Siapa di dunia ini yang tidak ingin merasakan kebahagiaan? Jawabnya, tentu kita semua ingin merasakannya. Sayangnya, walau semua orang menginginkan kebahagiaan, pada faktanya tidak semua orang mampu merasakannya.
Mereka yang sedang merasakan kebahagiaan terkadang dengan jelas terlihat pada ekspresi wajah mereka. Ada yang tersenyum, ada yang tertawa, ada pula yang menyambut kebahagiaan dengan berlinangan air mata. Namun, tidak jarang ada orang-orang tertentu yang cukup memendam kebahagiaan tersebut di dalam hati. Yang jelas, mereka yang dilanda kebahagiaan akan merasa senang, tentram, damai, atau suasana hatinya diliputi penerimaan yang ikhlas atas apa yang menimpa mereka.
Terkadang, kebahagiaan dipengaruhi oleh apa yang ditangkap panca indra. Saat membaca dan mendengar cerita lucu kita biasanya tertawa, atau tatkala menyaksikan aksi kocak aktor ‘ekstravaganza’ di Trans TV kita merasa senang dan terhibur. Boleh dikatakan selama membaca, mendengar, atau menonton tersebut kita merasakan suatu bentuk kebahagiaan yang diekspresikan dengan tertawa.
Kebahagiaan terdang juga dipengaruhi oleh kondisi yang melingkupinya. Hal seperti ini pernah saya saksikan bulan lalu.
Siang itu saat menuju kampus guna mengurus skripsi, di antara terik matahari, debu, dan asap knalpot kendaraan yang melintas di jalan Melayu Darat saya temukan momen kebahagiaan yang ditemukan sebuah keluarga. Saat itu yang pertama tertangkap pandangan adalah seorang anak perempuan sekitar 9 tahun, terlihat lusuh, dan kumal. Ia sedang mengangkat sebuah buku tulis dari bak sampah dan membukanya. Kemudian ia mendekap buku itu di dadanya sambil tertawa pada perempuan paruh baya di depannya. Perempuan itu tersenyum (mungkin juga tertawa) memandang anak perempuan di depannya. Demikian pula laki-laki paroh baya yang ada di samping keduanya. Di dekat mereka bertiga tersandar karung plastik hampir penuh, mungkin hasil memulung hari itu. Saya pastikan, ditemukannya buku tulis bekas yang mungkin masih beberapa lembar belum terisi itu dalah sebuah momen membahagiakan bagi keluarga itu.
Bagaimana dengan kita? Apakah saat menemukan atau diberi buku tulis kosong seperti anak perempuan itu kita akan merasakan hal serupa dengannya? Jawabnya, belum tentu kita akan merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan keluarga itu. Kondisi kita dan keluarga kita yang berbeda dengan mereka menyebabkan sebuah peristiwa yang sama atau serupa memiliki makna yang berbeda.
Kebahagiaan yang dipengaruhi oleh panca indra dan kondisi kehidupan seperti di atas memang mempengaruhi makna kebahagiaan bagi kita. Namun, kebahagiaan seperti di atas adalah kebahagiaan yang bersifat alamiah, sifatnya sementara, terjadi kadang-kadang saja.
Apakah bentuk kebahagiaan seperti itu yang menjadi tujuan dalam hidup kita? Kebahagiaan yang dipengaruhi oleh panca indra dan kondisi seperti seperti itu bersifat hanya sebatas memuaskan naluri saja. Padahal, selain dilengkapi dengan naluri, manusia dilengkapi dengan akal. Akal lah yang menyebabkan manusia berbeda dengan hewan.
Sebenarnya apabila kita cermati, pemahaman yang dibentuk oleh akal sangat berperan dalam memaknai sebuah kebahagiaan. Pemahaman yang dimiliki seseorang akan mengkonstruksi makna kebahagiaan bagi dirinya. Hal inilah yang menyebabkan orang yang memiliki pemahaman berbeda akan memiliki perbedaan pula dalam memaknai kebahagiaan.
Seseorang yang menjadikan paham Liberalisme sebagai pemahaman dalam hidupnya, maka ia akan menjadikan kebebasan sebagai standar kebahagiaan bagi dirinya. Ia akan memperjuangkan segala bentuk kebebasan, apakah itu kebebasan berekspresi, kebebasan hak milik, kebebasan beragama, dan kebebasan lainnya. Ia tidak akan merasa bahagia sebelum dirinya dapat dengan bebas melakukan apa yang diinginkannya itu.
Seseorang yang menjadikan paham kapitalime sebagai pemahaman dalam hidupnya, maka ia tidak akan merasa bahagia sebelum keuntungan materi ia dapatkan. Ia akan memeras dan menindas orang lain, untuk mendapatkan keuntungan materi yang sebesar-besarnya bagi dirinya. Semakin banyak keuntungan materi yang didapatkannya, semakin besar pula kebahagiaan yang dirasakannya.
Begitu pula bila seseorang menjadikan akidah Islam sebagai landasan pemahamannya, maka ia hanya akan menjadikan ridho Allah SWT. sebagai satu-satunya standar kebahagiaan bagi dirinya. Ia akan senantiasa berusaha untuk mengikatkan diri pada hukum-hukum Allah. Karena, ia tahu keridhoan Allah terletak pada ketaatannya pada perintah-perintah-Nya.. Ia pun tidak akan benar-benar merasa bahagia selama hukum-hukum Allah belum tegak di muka bumi, menjadi rahmatan lil alamin.
Jadi, pada saat sebuah pemahaman telah terinternalisasi pada diri seseorang, maka pemahaman tersebutlah yang akan mempengaruhi pandangannya terhadap segala sesuatu, tak terkecuali dalam memaknai kebahagiaan. Saat itu, kebahagiaan yang dirasakan bukan lagi sekedar kebahagiaan berupa pemuasan naluri yang bersifat temporal saja, tetapi kebahagiaan tersebut adalah kebahagiaan yang lahir dari sebuah pemahaman. Kebahagiaan seperti itu bersifat kontinyu, tak terwarnai, tak terpengaruh oleh kondisi dan situasi.
Cerita-cerita tentang para Sahabat di zaman Rasulullah Saw. adalah contoh-contoh yang memperlihatkan bagaimana akidah Islam yang telah terinternalisasi pada diri mereka, telah mengubah presfektip pemikiran dan perasaan hati mereka terhadap segala sesuatu. Termasuk dalam memaknai jalan menuju kebahagiaan (yakni meraih ridho Allah) yang mereka pilih dan mereka perjuangkan sampai akhir kehidupan.
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menemukan jalan menuju kebahagiaan seperti mereka? Kalau sudah, seberapa jauh kita telah menempuh jalan itu? Dan seberapa besar perjuangan yang telah kita tempuh untuk meraihnya?

Ini artikel favoritnya Amali! Di sebelah dia lagi tertawa, sangat terkesan dengan kata 'mengkonstruksi' katanya!