Sabtu, 11 Juli 2009

Seperti Kincir Menderu

Seperti Kincir Menderu

Aku merasa sepi

seperti kincir menderu,

tak ada yang benar-benar kuterbangkan

dan sungguh-sungguh kurapatkan

Di titik semua mimpi,

sungguh

tak pernah kutemukan

wajahku di dalamnya

(Pengirim +628524715*** Diterima 20:48:07 07/07/2009)

Memiliki kenalan atau dikenal beberapa penyair membuat saya beberapa kali menerima SMS yang berisi kata-kata khas penyair: bersayap dan indah. Isi SMS itu walaupun pendek, menghuni ingatan dalam waktu yang tidak pendek.

Bapak Micky Hidayat, misalnya, sejak esai saya yang berjudul, “Sajak-sajak Bercerita Micky Hidayat” dimuat di Radar Banjarmasin pertengahan 2006 lalu, pada (beberapa kesempatan) hari raya, beliau berkenan mengirimkan sajak-sajaknya melalui SMS ke Hp saya. Tidak itu saja, beliau juga bermurah hati menghadiahkan satu antalogi puisi karya beliau, “Meditasi Rindu” dan bahkan juga ‘mengabadikan’ satu bagian dari esai saya tersebut pada bagian akhir isi antalogi tersebut, diletakkan sejajar dengan komentar penyair dan kritikus tingkat nasional (J). Selain beliau, Bapak Ali Syamsudin Arsy (yang saya kenal saat beliau menjadi panitia dalam lomba penulisan cerpen yang saya ikuti di DKD Banjarbaru) juga pernah pada Hari Raya mengirim sajak silaturrahim. Sajak tersebut kemudian seperti sajak Bapak Micky, saya copy menjadi koleksi untuk kemudian saya gunakan sebagai balasan dari SMS-SMS handai tolan yang masuk ke-Hp saya pada Hari Raya itu.

Berbeda dengan kedua dedengkot penyair Kal-Sel tersebut, seorang teman yang dulu menjadi kakak tingkat saya di PBSID FKIP Unlam: Kak Rahmiyati, tidak mengirimkan sajak-sajaknya pada moment Hari Raya. Sejak sajaknya yang berjudul “Cinta Hari Ini’ (yang diperlihatkannya pada saya di acara Aruh Sastra V Kotabaru tahun 2006) saya kutip dalam cerpen “Tiga Percakapan Tentang Cinta”, sejak itupula beberapa kali dia mengirim sajak-sajaknya melalui SMS pada saya. Sajak-sajak tersebut bernada lirih, sederhana, dengan kata-katanya yang terjalin khas milik gaya persajakannya..

Dan puisi berjudul “Seperti Kincir Menderu” di atas adalah satu dari sajak-sajak yang pernah dikirim Kak Rahmi. “Puisi tntng seorang prempuan yg pnuh dg kgembiraan, smangt dan hura2 tP dbaLik itU dia org pling ksepian sedunia.kd tau apa yg dcri….” Begitu menurutnya isi dari puisinya tersebut.

Menurut saya, keberhasilan Kak Rahmi dalam sajak “Ku Rasa Sepi” terletak pada kuatnya kesan yang ditimbulkan bait pertama. Di baris pertama sajak dia menulis, /Aku merasa sepi/ makna yang ditimbulkannya jelas bahwa ‘aku’ dalam sajak ini merasa sepi. Kemudian pada baris kedua, /seperti kincir menderu/ di sini awal ironi atau kebalikan dimunculkan dengan menyodorkan pencitraan berupa kincir yang sibuk berputar hingga menimbulkan bunyi menderu (kesiuran angin). Pada baris tiga dan empat ironi benar-benar dimunculkan. Pada baris ketiga /tak ada yang benar-benar kuterbangkan/ mengungkapkan bahwa walaupun kincir itu berputar cepat sehingga menghasilkan bunyi yang menderu, sebenarnya tak ada yang diterbangkan oleh kincir itu. Di sini Rahmi ingin menyampaikan ada sesuatu yang bernilai sia-sia (kesia-siaan kincir tanpa menerbangkan sesuatu jelas bila kita bandingkan dengan baling-baling pada helicopter, misalnya) (bersambung…., sudah adzan Zuhur)


Kalo kak Rahmi, baca esai ini lagi, maaf ya. sebenarnya dari kemarin-kemarin saya sudah beberapa kali berusaha melanjutkan esay ini, tapi seperti biasa permasalahan utamanya ada di mood nulis saya. Saya lagi susah konsentrasi, jadi perasaan dan penalaran saya tumpul. InsyaAllah, kalau moodnya sudah baik esaynya saya lanjutkan lagi menulisnya.


Ini Sambungannya



Dan pada baris berikutnya kesan kesia-siaan tersebut semakin kuat / dan sungguh-sungguh kurapatkan/. Walau bergerak dengan cepat, seolah saling mengejar, baling-baling kincir itu tidak pernah saling merapat, berdekatan.

Kemudian pada bait kedua, Kak Rahmi menyampaikan isi dari sajaknya tersebut. Bahwa /Di titik semua mimpi/ pada saat semua yang menjadi keinginan dan impian, telah mewujud, sebenarnya jati diri itu, ternyata tetap belum ditemukan.

sungguh

tak pernah kutemukan

wajahku di dalamnya

Jadi, sebenarnya masalah yang menjadi tema dari sajak Seperti Kincir Menderu karya Kak Rahmi di atas adalah masalah JATI DIRI, yaitu terasa kuat pada 2 baris akhir / tak pernah kutemukan/ wajahku di dalamnya//

. Tema yang serupa juga pernah diangkat Dee (Dewi Lestari) dalam Supernova 2: Akar. Dalam novelnya itu Dee bercerita tentang Bodhi yang mencari kesejatian. Kesejatian atau kebahagiaan yang hanya akan dapat ditemukannya bila dia terlebih dulu menemukan jati dirinya. Hanya saja buku itu sarat dengan pengaruh ajaran agama Budha.

Dengan sudut pandang Islam, An Nabhani mengupas dengan terperinci bahwa pada manusia yang berfikir, secara fitrah akan ada 3 pertanyaan mendasar pada diri manusia yang berfikir tersebut. Tiga pertanyaan tersebut merupakan simpul besar dalam hidup (uqdatul kubro). Jawaban dari 3 pertanyaan itu akan memberikan gambaran tentang jatidiri, arah perjalanan hidup, dan akhir yang menjadi tujuan.

Tiga pertanyaan tersebut, yaitu:

1) Tentang JATI DIRI. Dari mana manusia, alam semesta dan kehidupan di dunia ini berasal?

Jawaban dari pertanyaan pertama ini akan menentukan identitas dirinya, si manusia (asal penciptaan).

2) Tentang MISI HIDUP. Untuk apa manusia., alam semesta, dan kehidupan di dunia ini di ciptakan?

Jawaban dari pertanyaan kedua di atas akan memberi arah, menentukan jalan yang akan ditempuh dalam hidup. ( memilih jalan yang akan dilewati).

1) Tentang TEMPAT KEMBALI. Akan kemana manusia, alam semesta, dan kehidupan setelah ketiadaan?

Jawaban dari pertanyaan ketiga di atas akan memberikan gambaran akan kemana manusia setelah ketiadaan. Apakah menjadi debu, tanah, atau akan ke surga/neraka (akhirat)

Pertanyaan yang sederhana dan mudah. Cukup beberapa halaman buku saja untuk menguraikan jawaban dari 3 pertanyaan di atas. Namun, tiga pertanyaan tersebut akan memiliki keberpengaruhan apabila dalam menjawabnya benar-benar melibatkan aktivitas akal (berpikir dengan metode rasional) dan disepakati hati (ikhlas).

Metode berpikir rasional adalah metode yang sederhana. Cukup dengan bermodalkan otak yang sehat, diberikan maklumat sabikoh (impormasi awal) dan dihadirkan realitas yang terindra, seseorang telah dapat melakukannya. Bahkan untuk seorang suku Badui Arab di zaman Rasulullah SAW, mengimani Islam cukup hanya dengan melihat argument pada kotoran unta (yang menandakan sebelumnya ada unta yang membuang kotoran di situ) untuk meyakini bahwa keberadaan manusia, alam semesta, dan kehidupan merupakan hasil penciptaan.

Menjawab uqdatul kubro dan menemukan kesejatian dalam hidup, tidak harus terlebih dulu menjadi seorang sarjana, master, atau bergelar professor. Sungguh, walau menciptakan manusia dengan tingkat intelegensia dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda, yang dinilai Allah hanyalah takwa (keselarasan antara akal dan hati yang melahirkan aktivitas mentaati seluruh syariat-Nya).

bersambung, InsyaAllah... :)






Kontemplasi

Hujan membasahi aspal hitam di depan rumah. Ingatan menemukan waktunya untuk menyeruak, menoleh ke belakang pada hari-hari sebelumnya: sebuah jeda untuk berkaca. Memandang ke dalam diri, menyadari yang masih ada, merelakan yang telah telepas, menerima yang kini terus menjadi.(sore, 07/07/09)

Rabu, 24 Juni 2009

Memandang dari Sisi/Sudut Lain

Memandang dari Sisi/Sudut Lain

Pada setiap perjalanan, baik menuju atau pulang mengajar dari desa Rantau Bujur, saat kelotok yang kutumpangi melintasi waduk Riam Kanan, mataku selalu saja mengagumi gugusan pegunungan yang terlihat menghitam, memanjang bagai gelombang raksasa di kaki langit sebelah Barat. Awan atau kabut putih kadang-kadang berkumpul seperti menempel di puncak-puncaknya.

Apalagi saat 3 minggu lalu, kelotok yang kutumpangi bertolak dari dermaga menuju Desa Rantau Bujur mendekati pukul 17.00 Wita. Pada 3/4 perjalanan, dan saat kelotok mendekati anak sungai, aku dengan leluasa menyaksikan langit di sebelah Barat berubah warna dari biru ke biru muda, ke kekuning-kuningan, memerah emas dengan gumpalan-gumpalan awan membentuk gugusan-gugusa menakjubkan. Sementara itu gunung-gunung yang pada sepertiga perjalanan terlihat seperti gelombang tampak terlihat dari sisi berbeda seperti dua gunung memanjang, yang warnanya berubah kelabu dan perlahan menghitam. Indah dan nyata! Sungguah lebih indah dari lukisan-lukisan buatang tangan atau pun foto-foto yang pernah kulihat di komputer.

Nah, Senin kemarin, tanggal 22 Juni 2009 aku mengikuti kegiatan yang di adakan guru-guru dan siswa-siswa SMPN 4 Aranio, mengunjungi Pantai Batakan. Awalnya, setelah menempun perjalanan dari Banjarmasin-Martapura aku berniat bergabung dengan yang lain naik 2 minibus yang disewa, tetapi melihat dua guru lain yang tampak bersemangat dengan sepeda motor mereka, aku merubah rencanaku. Aku memilih pergi ke Pantai Batakan dengan menaiki sepeda motor. Seorang murid kelas 2 yang tidak tahan guncangan mobil ikut membonceng padaku.

Ternyata perjalanan dari Martapura-Pantai Batakan bukan kepalang jauhnya bila di tempuh dengan sepeda motor. Tapi, saat mulai kelelahan, ketika kubuang tatapanku ke sebelah kiriku, aku kaget! Gugusan pegunungan yang biasanya hanya kulihat dari depan dan samping kiri, kini terlihat dari sisi lain, sisi kanan. Ketakjubanku bertambah saat hampir sampai di Pantai Batakan, aku menyaksikan gugusan pegunungan yang biasanya kulihat dari atas waduk Riam Kanan terlihat dikejauhan seperti gelombang raksasa, menghitam dengan awan atau kabut di atasnya, yang biasanya hanya kulihat pangkalnya saja kini begitu dekat, nyata dengan rumput dan pohon-pohon kecil di atasnya. Dan aku berada tepat di ujungnya!

Pengalaman seperti di atas adalah pengalaman yang menakjubkan. Ada hal-hal baru yang dapat di peroleh, diketahui dengan memandang suatu objek dari sisi atau sudut yang berbeda. Kita dapat melihat realita atau fakta dari berbagai sisi, berbagai sudut pandang, untuk menemukan beragam keindahan yang berbeda.

Namun, satu hal yang tidak boleh lupa, melihat atau memandang dari berbagai sisi atau sudut pandang guna memberikan penilaian, hanya digunakan untuk objek terindara atau fakta saja (benda).
Sedangkan untuk penghakiman atau memberi penilaian terhadap suatu perbuatan/tingkah laku manusia, bagi saya yang beragama Islam tentu sudut pandang Islam lah yang menjadi satu-satunya sisi, satu-satunya sudut pandang dalam memberikan penilaian/penghakiman. Karena bukankan bagi setiap Muslim, menentukan nilai baik buruk, terpuji atau tercelanya perbuatan manusia hanyalah hak Allah semata. Kita dapat memberikan penilaian, penghakiman atas perbuatan manusia setelah terlebih dulu merujuk pada dalil-dalil baik itu dari sumber langsung (Al Quran dan As Sunnah) atau Ijma, kias ataupun hasij Ijtihad ulama yang terpercaya.

Keindahan objek suatu benda dapat dilihat, dinikmati dari berbagai sisi, berbagai sudut pandang, namun
keindahan perbuatan manusia, baik dan buruk, terpuji dan tercela, hanya dapat dilihat dari satu sisi, satu sudut pandang, semata-mata Islam saja.

Selasa, 16 Juni 2009

Memaksa Keikhlasan

Memaksa Keikhlasan

Sejak kecil sadar atau tidak kita telah dijejali pemahaman bahwa yang namanya ikhlas adalah suatu perasaan yang tanpa embel-embel apapun. Perbuatan Ikhlas adalah perbuatan yang kita kerjakan tanpa mengharapkan imbalan apapun. Perbuatan ikhlas adalah perbuatan yang dikerjakan dengan senang hati tanpa merasa berat atau terpaksa.
Namun, ternyata dalam pemahaman yang beberapa tahun saya pelajari tidaklah demikian.
Ikhlas adalah perasaan yang dapat ditanam, dipupuk dan dibentuk dalam hati manusia. Caranya dengan menyodorkan pemikiran yang bersumber pada realita/faktais (mantiqul ihsas), kemudian pemikiran tersebut akan memunculkan perasaan dan pemkiran yang tajam ( ihsas al- fikr) pada diri orang tersebut. Setelah itu mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, selama realita dan kaidah berfikirnya benar, maka dia akan menjadi orang yang ikhlas.
Dan dalam Islam, ikhlas adalah pangkal setiap amal perbuatan seorang muslim terkategori ibadah (berpahala). Ikhlas lah yang membedakan status perbuatan seorang muslim dan kafir. Karena IKHLAS ADALAH LILLAHITA'ALA (KARENA DAN BAGI ALLAH).
Jadi, iklas ternyata harus ada embel-embel... yaitu semata-mata motivasinya karena Allah SWT dan tujuannya untuk meraih ridho Allah SWT.
Catatan: Tulisan ini selesai atas bisikan dan komentar dari teman di sebelah: Aemaelei

Kamis, 11 Juni 2009

Seorang Bocah dan Harimau (Life of Pi)

Sampul buku itu langsung membuat saya tergugah...
Seorang bocah laki-laki berada di dalam sebuah perahu kecil, di tengah samudera luas. Di sisi perahu yang berbentuk bulat itu, tepat di seberangnya, duduk seekor harimau  berukuran 5 kali lipat tubuhnya. Bocah laki-laki dan harimau itu masing-masing mengamati air laut di bawah perahu.
Namun, saya langsung kecewa saat membukan lembar pertama halaman buku itu. Buku itu ditulis dalam bahasa Inggris!
Saya sodorkan buku itu pada pemiliknya, Kak Sarah, sepupu saya. Meminta dia menceritakan isinya.
Buku itu katanya bercerita tentang pengibaratan... sebuah filosofi...
Entahlah saya kurang mengerti. Yang saya tangkap hanyalah bahwa buku itu menceritakan tentang seorang bocah laki-laki yang terperangkap di tengah samudera dalam sebuah perahu kecil bersama seekor harimau Bengali buas yang sangat besar.
Si bocah menyadari akan ada hari-hari yang panjang sebelum perahu itu mendapat pertolongan atau tiba di tepian. Sementara itu harimau yang ada bersamanya dalam perahu itu, tentu lambat laun akan lapar.
Si bocah berpikir bagaimana dapat bertahan, survive!
Dia menemukan satu-satunya cara untuk bertahan....
Sebuah pilihan dari dua kemungkinan....
Ya! Si bocah menemukan satu-satunya cara: Berusaha bagaimana membuat harimau besar dan buas itu lebih merasa terancam dan takut pada dirinya (dari pada perasaannya pada harimau itu....).

Selasa, 26 Mei 2009

Tentang Laskar Pelangi dan The Kite Runner


ini esai yang kutulis tahun 2008 lalu. sudah dimuat di Radar Banjarmasin rubrik Cakrawala.


Tentang Laskar Pelangi dan The Kite Runner

(Rismiyana)

PUZZLE 1

Di tengah lalu lalang lalu-lintas Jalan A Yani KM3 Banjarmasin mata saya penangkap tulisan tidak lazim THINGKING. Tulisan itu tercetak besar-besar di kaca depan sebuah truk pengangkut barang. Tidak lazim karena biasanya sebuah truk bertulisan “Kutunggu Jandamu”, “Doa Ibu”, “Titipan Ilahi” dan tulisan-tulisan berisi pesan sejenis. Bagi saya kata ‘thingking’ identik dengan kata ‘thinking’ yang berarti berpikir. Kata ‘thinking” identik dengan sebuah buku karya pemikir cemerlang yang saya kenal. Karena "The Thinking", adalah versi terjemahan dari kitab ‘At Tafkir” atau dalam bahasa Indonesia “Hakekat Berpikir” dari pemikir yang saya kagumi itu, maka truk bertulisan THINGKING tersebut melekat dalam ingatan, disertai sebaris pertanyaan “Mengapa truk itu bertuliskan THINGKING bukan Thinking?”

PUZZLE 2

April 2007, Di Sebuah Toko Buku

Dalam ketenggelaman pikiran pada judul buku-buku yang berderet, dari pengeras suara dipromosikan buku yang sedang bestseller, Laskar Pelangi. Beberapa kali promosi itu diulang. Mata saya langsung menemukan buku itu. Ada beberapa seri. Saya baca ringkasan di sampul belakang buku. Tak lama, saya alihkan pandangan pada buku lain. Diantaranya, Winnetou II Si Pencari jejak, Karl May yang kemudian saya bawa pulang.

PUZZLE 3

Desember 2007, Kontrakan Sepupu

Berkunjung ke kontrakan sepupu. Teman sekontrakannya yang juga seorang dosen kedatangan seorang tamu. Tamu itu menyebut-nyebut nama Ikal, tokoh dalam buku yang sedang ia ceritakan. Saya terpesona . Bukan pada isi buku yang ia ceritakan, tetapi wajahya yang terlihat sangat bahagia saat menceritakan isi buku tersebut. Samar-samar saya dengar perkataannya, “Laskar Pelangi…., Lintang…, Sang Pemimpi….”

PUZZLE 4

Januari 2008 Perpustakaan Daerah A Yani KM 7

Membaca koran-koran yang terbit hari Minggu. Di salah satu koran itu, Jawa Pos dimuat artikel yang berisi ulasan tentang buku. Ditulisnya bahwa sepanjang 2007 ada 2 buku yang sangat berkesan baginya. Yang seandainya penulis buku itu adalah muridnya, dia pasti akan sangat bahagia. Buku itu, menurutnya seringkali dia promosikan bahkan kadang-kadang ia hadiahkan pada teman-temannya yang berprofesi guru. Buku itu menurutnya memuat kejujuran dan mengajarkan bahwa kebahagiaan dapat ditemukan pada kondisi yang memprihatinkan sekalipun.

Buku itu adalah Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Dan saya yang membaca artikel itu , sungguh, merasa jatuh hati pada buku itu. Buku yang belum saya baca!

PUZZLE 5

Perpustakaan STKIP

Mungkin karena saatnya telah tiba. Dan mungkin pula kerena keberuntungan ada di pihak saya, saat mengunjungi seorang teman yang berprofesi sebagai pustakawan, mata saya terfokus pada buku yang ia pegang. Sang pemimpi, buku kedua Laskar Pelangi.

Kurang lebih seminggu kemudian ketiga novel karya Andrea Hirata; Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor ditambah 1 buku karya TetsukoKuroyanag, Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela, saya barter dengan 1 buku karya Pram, Bumi Manusia.

Ternyata, membaca Laskar Pelangi, apalagi bagi saya yang melewati masa kanak-kanak di lingkungan melayu pedalaman, Sumatera Selatan, seperti kembali ke masa lalu. Pertemanan, permainan, keadaan sekolah yang memprihatinkan, bahkan pigur ayah, membuat kenangan seperti dihadirkan.

Saat membaca Laskar Pelangi saya seolah diajak Andrea untuk turut merasakan keceriaan dan kegembiraan masa kecil anggota Laskar Pelangi, sekaligus merasakan kesedihan dan penyesalan saat Lintang sang jenius harus putus sekolah. Pun membaca Sang Pemimpi, saya seolah berada bersama Arai yang bocah, yatim piatu di tengah belantara ladang tebu tak terurus, merasakan kepiluannya saat menanti ayah Ikal yang akan menjemputnya. Membaca Edensor, menertawakan Arai yang menerima hukuman atas kejahilan masa kecilnya, makin menguatkan saya bahwa sekecil apapun peristiwa yang kita perbuat, lalui, saling memiliki keterkaitan dengan masa depan.

Sebuah kegembiraan harus dibagi! Terutama bagi mereka yang saya ketahiu juga menyukai buku. Saya kirimkan sms yang sama pada mereka. Balasannya macam-macam. Yang telah membaca mengiyakan kalau buku itu bagus (walau tuturannya bukan jenis yang disukainya), yang belum membaca menanyaka penerbit, took yang menjual dan berjanji akan membeli atau minimal meminjamnya.

Dan beberapa hari kemudian saat masuk SMS dari seorang sastrawan dan esais senior yang tinggal di Yogyakarta, yang berisi komentar meninggalnya mantan Presiden Soeharto, kegembiraan itu masih ingin saya bagi. “Saya baru bca Laskar Pelangi, Andrea Hirata, bkin ktawa2, bkn sedh.bhkan bkin nangis saat Lintang sang jenius harus putus skolah. Jd supir truk. Bda bnget nsibx dgn Taiji yg jdi ilmuan dlm Totto-Chan..2 novel yg menggmbarkan prbedaan realitas pndidikn Indonsia-Jepang. Sudah bca bukunya?” Demikianlah isi SMS saya.

Satu bulan sebelumnyaterjadi perdebatan antara kami. Saat itu saya mengatakan bahwa kritik dalam sastra adalah penguat. Beliau membantah pendapat saya itu, menurutnya kritik dalam sastra adalah penyadaran.

Saya terima balasannya, “Anda belom ngerti apa itu seni, apa itu sastra. Semuanya dicampur aduk! Tidak semua yang dinovelkan itu seni Sastra! Kalo gak ngerti gak usah masuk dunia sastra, ikut dunia …..(beliau menyebutkan nama penerbit buku) dkk aja!” (16:17:29)

Kritik untuk Laskar Pelangi

Saya sependapat dengan pernyataan An Nabhani dalam Hakekat Berfikir yang menyatakan bahwa karya sastra berkaitan dengan rasa (taste). Seperti hanya masakan, ia ditentukan oleh selera. Saya bisa berpendapat bahwa sarden, merek apa saja akan terasa lezat bila saat memasaknya ditambahkan satu sendok teh garam dan beberapa potong cabe. Akan tetapi, saya tidak dapat memaksakan selera saya itu kepada seorang teman yang justru memasak sarden dengan menambah satu sendok teh gula dan kecap manis. Karena itulah masakan yang lezat menrutnya.

Jadi, saya tidak marah atau pun kesal (karena diungkapkan dengan cara yang baik) saat seorang teman menyatakan bahwa Laskar Pelangi hanya mampu membuatnya bertahan di Bab 4. Bahwa dia menemukan ada beberapa bagian dalam cerita itu yang tidak bisa diterima logikanya.Bahwa percakapan antara Ikal (panggilan untuk Andrea kecil) dengan teman-temannya anggota Laskar Pelangi, tidak mencerminkan percakapan yang keluar dari mulut kanak-kanak (tetapi lisan Andrea yang jebolan S2). Itu menurutnya sangat berbeda dengan percakapan antara Amir dan Hassan dalam The Kite Runner. Walau begitu. Saya tetap berpendapat justru dari segi bahasa yang digunakannya lah, Andrea mampu menjadikan cerita sehari-hari masa kecil menjadi bermakna dan menarik.

Antara Laskar Pelangi dan The Kite Runner

Novel The Kite Runner yang ditulis Khaled Hossein memang bagus. Dari segi penokohan, di dalam novel ini pembaca akan menemukan tokoh-tokoh utuh. Amir yang ditampilkan dari berbagai sisi; baik dan buruk. Sosok Hassan yang tanpa pamrih dan bernasib memedihkan, Ayah Amir, ayah Hassan dan sosok bocah anak laki-laki Hasan adalah tokoh-tokoh yang mampu ‘dihidupkan’ pengarang.

Dari sisi konflik, novel ini memuat tragedi kemanusian dengan cara yang manis sekaligus pedih. Persahabatan yang dikhianati, ketegangan hubungan ayah-anak, penyesalan, ketakutan yang manusiawi, semuanya tersaji lengkap. Demikian pula bila dilihat dari segi setting cerita, deskripsi pengarang mampu membawa imaji pembaca pada tanah Afganistan dan berbagai konflik di sana. Pembaca seolah menyaksikan bukit kecil yang biasa dikunjungi oleh Amir dan Hassan, layang-layang yang di mainkan Amir, dan menyaksikan Amir yang ketakutan di persembunyian saat Hassan di Sodomi.

Penokohan, konflik, setting, dalam novel itu dijalin dengan alur yang menarik. Sepanjang cerita, secara bertahap, rahasia demi rahasia terbuka, membuat keterkejutan pembaca, saat Hassan diberitahukan bersaudara dengan Amir, sama dengan yang dialami tokoh dalam cerita.

Menamatkan The Kite Runner kemungkinan besar menarik pembaca pada cara pandang yang lebih dewasa. Sayangnya, Taliban yang mewakili representasi dari Islam Fundamentalis, dalam novel ini dilihat dari 1 sisi, kekejamannya. Sehingga opini yang terbangun tentang Afganistan dan Taliban sama dengan yang tergambar dalam buku ini. Dan akhirnya, pembumihangusan AS terhadap Afganistan yang dikuasai Taliban menjadi sebuah pemakluman. Mungkin hal ini pula yang menyebabkan penerbitan dan penyebaran buku ini didukung oleh banyak pihak (pihak-pihak yang memiliki kepentingan ideologi dan politik tentunya).

Sedangkan pada Laskar Pelangi, antar tokoh, misalnya kesepuluh Laskar Pelangi, hamper tidak ada konflik yang cukup berarti. Tidak ada penghianatan. Tidak ada alur yang mengejutkan. Kesepuluh anggota Laskar Pelangi, kecuali Ikan dan Bondenga (yang diceritakan sekilas) adalah sosok-sosok yang menjalani masa kecil tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain yang kehidupannya terpinggirkan, melarat, di negeri yang kaya sumber daya alam yang melimpah ini.

Yang, menurut saya istimewa dan membuat saya menikmati buku ini adalah bahasa yang digunakan Andrea Hirata. Andrea (setelah saya uji coba dengan teman-teman saya) mampu mengajak pembaca ikut nyengir, tertawa, meneteskan air mata. Bahkan saat saya sengaja menyodorkan buku kedua Laskar Pelangi, yaitu Sang Pemimi, langsung pada Bab 2 yang berjudul Simpai Keramat, sama seperti saya dia juga meneteskan airmata.

Andrea mampu menjadikan cerita pengalaman masa kecinya, keseharian bersama teman-temannya, dengan alur cerita yang biasa-biasa saja, menjadi bermakna, tak kalah menarik dengan novel The Kite Runner yang ditulis Khaled Hosseini. Kalau Hosseini menampilkan karya yang kompleks, dalam dan lumayan berat sehingga menurut saya hanya cocok untuk dibaca anak SMU ke atas; Andrea justru sebaliknya, cerita Laskar Pelangi ringan, mudah dicerna namun membekas, dan cocok untuk segala usia.

Karena dalam pemahaman saya, sebuah karya sastra adalah tulisan yang menggunakan pilihan bahasa tertentu, yang ditujukan agar mampu mempengaruhi perasaan pembaca, maka The Kite Runner dan Laskar Pelang (termasuk Sang Pemimpi dan Edensor) terkategori dua karya sastra. Karya sastra yang terkategori bagus. Pendapat saya itu tidak akan berubah. Tidak peduli seandainya ada sastrawan tingkat internasional sekalipun menyatakan kedua buku itu jelek atau bukan terkategori karya sastra!

PUZZLE 6

Kira-kira beberapa minggu lalu, di kawasan Kayutangi, truk bertulisan THINGKING yang saya ceritakan di bagian awal saya temui terparkir manis. Kata ‘thingking’ itu mengusik ingatan. Bukan hanya pada buku Thinking karya Syaikh Taqiyuddin An Nabhani yang saya kagumi, tetapi juga pada sosok Lintang salah satu tokoh dalam Laskar Pelangi (yang dibagian akhir diceritakan menjadi supir truk pengangkut pasir). Di benak saya muncul pertanyaan baru, “Mungkinkah Lintang memiliki kaitan dengan truk yang bertulisan THINGKING itu

Senin, 18 Mei 2009

Mungkin akan Menjadi Ingatan

(Tulisan yang mungkin akan menjadi ‘ingatan’ di kemudian hari)

Minggu Pertama Mengajar Di SMPN 4 Aranio

Minggu siang, 10 Mei 2009, pekan lalu setelah memastikan temanku menyanggupi mengeposkan novel untuk kuikutkan ke sayembara penulisan buku pengayaan untuk guru, dengan mengendarai sepeda motor aku berangkat dengan tujuan menuju SMPN 4 Aranio. Rencananya bersama tiga guru lain yang juga ditugaskan mengajar di SMPN 4 Aranio, untuk pertama kalinya aku akan mengunjungi sekolah itu, sekolah yang beralamat di Desa Rantau Bujur. Sesuai kesepakatan hari Kamis sebelumnya, kami akan berkumpul di rumah kepsek yang rumahnya ada di dekat Simpang Empat Banjarbaru.

Aku berangkat dari Banjarmasin pukul 11.45 Wita dengan membawa ransel dan tas berisi perbekalan selama beberapa hari. Sekitar pukul 12.30 Wita aku sampai di Banjarbaru dekat daerah Bandara mampir di rumah sepupuku, Kak Sarah untuk sholat Zuhur.

Sekitar jam 13 Wita melanjutkan ke rumah kepsek. Di sana teman-teman sesama guru sudah menunggu. Bersama kami akan berangkat 2 orang guru lama, yaitu Ibu Fatmi dan Ibu Maya. Ibu Fatmi kemudian membonceng padaku. Ibu Maya diantar oleh suaminya.

Tidak sampai 10 menit berjalan hujan dengan lebat mengguyur. Sempat mampir beberapa kali akhirnya aku dengan jaket seadaanya memilih menerobos hujan. Menurut infomasi dai Bu Fatmi, Pak Sadi pemilik kelotok yang akan kami tumpangi sebentar lagi akan bertolak.

Medan jalan dari rumah kepsek menuju bendungan PLTA Riam Kanan baru pertama kali itu kutempuh.Aku masih belum hapal arah jalan dan letak belokan dan tempat yang rusak. Jadinya aku mengendarai sepeda motor sekenanya. Genangan air hujan yang membentuk lumpur membuat lobang-lobang di atas jalan tidak terlihat. Jalan yang terus menanjak dan berkelok-kelok menjadi tantangan cukup berat.

Setelah mengendarai sepeda motor hampir satu jam, kami tiba di tempat penyeberangan yang ada di samping bendungan PLTA Riam Kanan. Sepeda motor kami titipkan di tempat parkir khusus penitipan selama beberapa hari. Kemudian satu-persatu kami menaiki kelotok Pak Sadi. Ternyata penumpang kelotok itu hanya berdelapan. Pak Sadi sendiri, keempat kami guru baru, dua guru pemandu, dan satu orang pemuda yang kuduga semacam karnet kelotok.

Dari Bu Fatmi juga kudapatkan informasi kalau kelotok yang mengangkut penumpang ke Desa Rantau Bujur hanya ada satu, rutenyapun hanya sekali, yaitu antara pukul 14.00 dan pukul 16.00 Wita. Begitu pula dari Desa Rantau Bujur ke daerah Bendungan PLTA Riam Kanan hanya ada satu kali, yaitu pada pagi hari sekitar pukul 06.00 Wita.

Kira-kira pukul 14.30 Wita kami bertolak ke Rantau Bujur. Pemandangan pada sore hari, setelah hujan di atas waduk Riam Kanan sangat eksotis. Air waduk sangat jernih dan berwarna kehijauan. Lebar waduk, kira-kira 1 Km, membuat waduk seperti sebuah danau. Pohon-pohon rindang tumbuh rimbun di sepanjang pinggir waduk, di belakang pohon-pohon itu, bukit-bukit dari gugusan pegunungan Maratus yang berwarna hijau tua menjadi latar yang sangat indah. Di atas bukit-bukit itu kabut putih tipis tampak melayang-layang.

Dari beberapa cerita yang kudengar, waduk itu dulunya adalah 12 desa yang ditenggelamkan karena pembuatan bendungan. Dalam waduk mencapai hampir 90 M. Dengan kata lain, sepanjang tepi waduk yang kami lihat ditumbuhi pepohonan tersebut sebenarnya adalah puncak-puncak bukit yang tidak tenggelam. Kelotok tidak berani berjalan terlalu laju. Kelotok juga hanya berjalan di tengah waduk karena batang-batang pohon menyembul di sepanjang tepi waduk. Walau telah mati, pohon-pohon itu masih terlihat belum rapuh, sangat mungkin untuk melobangi bagian bawah lambung kelotok.

Satu jam pertama setelah puas menyaksikan pemandangan di sepanjang tepi waduk, aku teringat niatku menulis sebuah artikel tentang sastra islami. Kukeluarkan buku Hakekat Berpikir karya Syaikh Taqiyuddin an Nabhani, dan mulai serius membaca. Udara sejuk dan sepoi angin yang bertiup kuharapkan mampu menjernihkan pikiran sehingga isi buku itu benar-benar kupahami. Walau beberapa kali menamatkan buku itu, terkadang aku perlu mengulangi membacanya pada bagian-bagian tertentu untuk mendapatkan pemahaman yang mengkristal.

Baru kira-kira setengah jam membaca, udara di atas waduk menjadi sangat dingin. Angin bertiup juga lebih kencang. Gerimis kecil yang menyertai laju kelotok sejak dari bendungan PLTA Riam Kanan beubah menjadi hujan lebat. Jendela kelotok pun segera ditutup mengindari air yang merembes masuk.

Tiga orang temanku yang tadinya tampak cerah ceria, sama sepertiku tampak mulai bosan berada di dalam kelotok. Pak Badrun dan Pak Rifani yang duduk di dekat mesin kelotok seperti tak terganggu dengan nyaringnya bunyi mesin yang ada di dekat mereka. Mereka tampak mulai terlelap. Pak Firdaus yang duduk berseberangan denganku sejak sebelumnya sibuk dengan radio di Hp-nya beberapa kali merubah tempat duduk, tampak gelisah. Dua guru pemandu kami masih ramai dengan celotehannya. Mereka berdua dan Pak Sadi terlibat obrolan di dekat kemudi, sesekali gelak tawa mereka bersaing dengan bunyi mesin kelotok. Di pojok paling belakang, pemuda yang kukira karnet kelotok tampak melamun. Sejak setengah jam lalu sinyal operator Hp telah hilang sama sekali. Kelotok melaju agak melambat karena hujan dan angin kencang.

Setengah jam kemudia aku merasa makin bosan, walau hujan masih lebat angin tidak lagi bertiup kencang. Setelah meminta pesetujuan teman-temanku itu, kubuka terpal yang menutupi sisi kiri kelotok. Pemandangan eksotis sepanjang tepi waduk tersaji lengkap dengan jarum-jarum tabir air hujan, titik-titik air yang membentuk ribuan lobang di atas arus waduk. Pemandangan dan suasana yang sejak lama kusenangi.

Kuusir kebosanan dengan mendengarkan lagu Padi yang kurekam dan kujadikan nada dering Hp-ku. Suara mesin dan air hujan yang jatuh menyentuh bagian atas kelotok yang terbuat dari seng, membuat Hp harus kuletakkan dibelik teliga seperti sedang menelpon.

Kira-kira pukul 17.00 WITA, sepetinya kami telah sampai di ujung waduk, kelotok yang kami tumpangi masuk ke sebuah anak sungai. Sepuluh menit kemudian, kelotok merapat ke sebuah dermaga sederhaa tempat beberapa perahu di tambatkan. Kami telah sampai di Desa Rantau Bujur. Tempat yang (selama paling tidak dalam kurun 5 tahun) akan kami akrabi, kami kunjungi, dan kami tinggali.

Setelah membayar ongkos masing-masing Rp 10.000, kami bergantian naik ke tepian sungai. Kami kemudian diajak berjalan kaki. Tanah merah yang baru saja disiram air hujan membentuk lumpur di telapak alas kaki yang kami pakai. Jalan terus menanjak ke atas. Sekolah dan rumah yang menjadi pondokan kami ada di atas bukit perkampungan desa Rantau Bujur.

Untuk sebuah desa, Rantau Bujur memiliki insfrastruktur yang cukup baik. Rumah-rumah terbuat dari papan kayu hampir berbentuk seragam, tampak sederhana dan nyaman. Jalan utama desa cukup lebar, kira-kira 4 M. Yang mengagumkan, walau rumah-rumah mereka sederhana, mesjid yang dibangun di tengah kampung cukup besar dan sangat indah, lantai dan dindingnya terbuat dari semacam batu marmer (mungkin). Di dekat mesjid berdiri madrasah yang beroperasi pada siang hari, setelah selesai menimba ilmu di sekolah umum, anak-anak kampung ini akan bersekolah di sekolah agama Islam ini. Di belakang perkampungan penduduk, berbagai pohon buah-buahan menjulang, tumbuh subur membentuk hutan. Dilihat sekilas saja, tanah di desa ini sangat subur.

Pukul 17.30 Wita, kami tiba di komplek sekolah. Dinding bangunan sekolah tebuat dari papan kayu sedangkan lantainya ubin dari keramik. Untuk sementara kami menempati rumah (atau tepatnya pondok) dinas. Sebuah rumah panggung terbuat dari kayu. Rumah itu dibagi dua, dengan sekat diniding di tengahnya sehingga seolah menjadi dua rumah kembar. Aku, Bu fatmi, dan Bu Maya menempati rumah bagian kiri yang memang biasanya diperuntukkan untuk guru perempuan. Sedangkan ketiga temanku yang lain menempati rumah bagian kanan yang biasanya ditempati kepala sekolah dan isterinya.

Sesaat setelah kami tiba, listrik dinyalakan. Di sini listrik hanya beropeasi pada malam hari. Perjalanan yang cukup melelahkan dari Banjarmasin ke Rantau Bujur membuat malam cepat belalu.

Besoknya pukul 08.00 sekolah baru dimulai. SMPN 4 Aranio adalah sekolah satu atap, artinya memiliki bangunan satu komplek dengan SD dan kepala sekolahnya hanya satu orang saja. Pagi itu murid-murid SD sedang libur karena anak-anak kelas 6 sedang menghadapi UAN di sekolah SD yang berada di dekat Bendungan PLTA Riam Kanan, selama beberapa hari mereka menginap di sana.

Bekas hujan pada hari sebelumnya membuat lapangan di halaman sekolah tanahnya mejadi gembur. Sepatu yang kukenakan tebal dengan tanah kemerahan itu. Dan ternyata siswa-siswa di sekolah tempatku ditugaskan mengajar ini tidak memakai sepatu, semuanya menggunakan sandal jepit. Kelas VII bejumlah 9 orang. Kelas VIII berjumlah sekitar 12 orang. Kelas IX libur karena telah menghadapi UAN, mereka membantu keluarganya yang sekarang sedang panen padi di sawah tadah hujan yang tersebar di lereng dan atas bukit.

Ada perbedaan yang kontras dalam menghadapi siswa-siswa yang tinggal di perkotaan dengan siswa-siswa di pedesaan seperti yang sedang kuhadapi ini. Murid-murid yang pernah kuhadapi diperkotaan, dalam hal ini Banjarmasin, terbiasa hidup dalam persaingan dan ritme yang cepat, sumber dan arus informasi yang tersedia lancar, rasa percaya diri yang cukup dan media belajar yang mendukung. Kendala utama yang dihadapi guru perkotaan adalah mensuasanakan kondisi belajar yang tenang dan kondusif. Ini dikarenakan siswa diperkotaan memiliki kecenderungan untuk sibuk dengan ‘gossip’ mereka masing-masing.

Sedangkan siswa-siswa yang kuhadapi di Desa Rantau Bujur ini adalah siswa-siswa yang tinggal di alam pedesaan yang sunyi. Ritme hidup agak monoton, lambat, dan tenang. Arus informasi (dikarenakan listrik yang ada hanya malam hari dan letaknya yang terisolir) lambat. Di dalam kelas, mereka dengan kepolosan, keluguan, menyiapkan diri menerima informasi-informasi dari guru mereka. Masalah yang dihadapi guru sebagai pengajar adalah membiasakan siswa-siswa ini berfikir cepat. Karena informasi yang mereka terima terbatas, kosa kata yang mereka kuasai juga terbatas.

Padahal kemampuan berfikir siswa sangat ditentukan oleh penguasaan kosa kata yang dipahami siswa tersebut.. Ini dikarenakan bahasa adalah alat yang digunakan dalam berfikir. Keterbatasan mereka itu menuntut guru agar menggambarkan dengan gamblang realitas dari informasi-informasi (bahasa) sebagai maklumat awal untuk proses berfikir yang akan mereka lakukan.

Demikianlah, selain mengajar di sekolah, pergi ke puncak bukit yang lebih tinggi untuk mendapat sinyal Hp, melapor pada kepala desa, dan melakukan kegiatan lainnya, hari Rabu kami kembali ke Banjarmasin. Untuk sementara kami akan bergantian mengajar di sana, tiap orang memiliki kewajiban 3 hari mengajar, sisanya yang tidak kena tugas mengajar dibolehkan kembali ke Martapura atau Banjarmasin.